
Aire berhasil menyelesaikan bab terakhir itu dengan gemilang. Dia tinggal menunjukkannya kepada dosen nya dan selanjutnya tinggal memperbaiki jika ada kesalahan ataupun hal yang perlu di revisi. Aire memundurkan tubuhnya di kursi yang nyaman itu dan membaca ulang tugas akhirnya lembar demi lembar sambil lalu. Tiffany pasti akan sangat senang kalau mengetahui dia berhasil menyelesaikan ini. Kaena ternyata Tiffany sudah menyelesaikannya tugas akhir nya lebih dulu di banding Aire, karena Aire sempat menglami kesulitan setelah bermasalah dengan Mike beberapa waktu yang lalu.
"Dan akhirnya kau muncul di sini!!!" Suara maskulin yang dalam itu menyapa Aire. Suara yang membuat jantung Aire langsung berpacu dengan kencang, dia menoleh dan sosok yang di bayangkannya berdiri di sana. Lelaki itu tampak lelah, dengan jas yang sudah dilepas dan disampirkan di pundaknya dan kancing kemeja atasnya yang dibuka.
"Hai." Gumam Aire tiba-tiba merasa malu ketika ingatan akan ciuman mereka hari itu menyeruak di benaknya.
Victor tampaknya memahami, lelaki itu mengangkat sebelah alisnya lembut. "Dari kejauhan kau tampaknya senang. Apakah kau berhasil menyelesaikan tugas akhirmu???" Tanya Victor.
Aire mengangguk. "Sudah, besok tinggal membereskan semuanya, mengecek dan merevisi ulang takut ada yang salah, baru setelah itu aku akan melaporkannya ke dosen.."
"Kita harus merayakannya." Victor terkekeh, penampilannya yang formal dan sedikit berbeda dengan biasaya tampak melembut ketika dia tertawa. "Tunggu sebentar ya aku mandi dulu, aku akan segera menyusulmu kembali." Ucapnya.
Ketika Victor pergi, Aire membaca ulang tugas nya. Aire membaca sembari tersenyum, entah kenapa hatinya berbunga-bunga ketika dia akhirnya melihat Victor lagi setelah beberapa hairi tidak bertemu dengan laki-laki itu.
Berbunga-bunga????
Aire tiba-tiba menyadari sesuatu, selama ini dia selalu mendeskripsi perasaan dalam bentuk bayangan dan imajinasi nya. Tetapi ketika menelaah perasaannya sendiri dia benar-benar kebingungan. Apakah dia sedang merasakan berbunga-bunga ketika bertemu Victor???? Aire menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin sebuah perasaan begitu kuat muncul kepada seseorang yang tidak begitu dia kenal???
Victor akhirnya turun lagi hampir dua puluh menit kemudian. Rambutnya basah dan dia mengenakan baju santai, celana jeans, dan kaos berkerah yang semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang bagus. Seolah sudah biasa, lelaki itu langsung mengambil tempat duduk di seberang Aire. Dia memberi isyarat kepada pelayan untuk membawakannya minuman.
Dan dalam waktu singkat, pelayan itu meletakkan secangkir kopi hitam pekat di depan mereka berdua.
"Where is Andro???" Tanya Victor. Dia mengernyit, karena tidak melihat Andro biasanya dia melihat Andro dimana-mana, lelaki itu sangat bahagia jika bisa berada di lingkungan operasional cafe dan berhubungan dengan para pelanggan. Sangat bertolak belakang dengan dirinya yang memilih menggerakkan segala sesuatunya di balik layar, melindungi dirinya dengan menampilkan kesan misterius.
"Mr. Andro is resting upstairs, sir. He came down for a while, but then complained of dizziness again and wanted to rest..." Jawab pelayan itu menjelaskan kepada Victor jika Andro beristirahat di atas. Dan tadi sempat turun sebentar, tetapi kemudian mengeluh pusing lagi dan ingin beristirahat.
"Andro??? Dizzy???" Victor mengernyitkan keningnya. Meskipun sudah setengah baya, Andro selalu penuh vitalitas dan Victor lah yang paling tahu betapa jarangnya Andro sakit. Mungkin kali ini Andro benar-benar sakit. Victor mendessah dalam hati, memberi isyarat kepada pelayan itu untuk menjauh.
Suasana cafe cukup ramai saat ini, padahal waktu sudah hampir beranjak tengah malam. Sekelompok pemuda tampaknya memilih menikmati malam sambil mengobrol di tempat yang paling ujung sebelah sana, dan beberapa yang lain memilih untuk mencicipi hidangan dan minum-minum di bar.
"Mau makan sesuatu???" Victor melirik ke arah buku menu dan tersenyum kepada Aire.
"Aku sudah makan tadi sore." Aire tersenyum. "But a cup of coffee I won't refuse.." Gumamnya dalam senyum. Aire tidak menolak untuk secangkir kopi kaena perutnya masih kenyang.
Setelah pelayan pergi, Victor memajukan tubuhnya dan menopang dagunya dengan kedua siku di meja, tatapannya tajam dan intens. "Kau tidak kemari lama sekali.???"
Apakah Victor setiap hari menunggunya??? Aire melirik gelisah ke arah Victor, bingung harus bersikap bagaimana.
"Apakah karena kejadian waktu itu??? Ciuman waktu itu???" sambung Victor lagi, dengan tatapan penuh tanya.
Aire membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kalimat yang keluar. Suaranya seakan tertelan di tenggorokannya.
Victor mengamati Aire, lalu tertawa. "Kenapa diam??? Kau tinggal menjawabnya saja, YA atau TIDAK???"
Pipi Aire memerah, dan dia memalingkan muka, tidak tahan ditatap setajam itu. Tetapi kemudian pertanyaan di hatinya mendesaknya. "Why did you kiss me last time???" Tanya Aire pada Victor kenapa waktu itu Victor menciumnya.
Victor langsung tersenyum lembut. "Because I feel something more for you..." Gumamnya. Victor mengatakan jika dia merasakan sesuatu pada Aire dan itulah alasannya mencium Aire saat itu. "Aku tidak pernah bermaksud merendahkanmu dengan menciummu, itu terjadi begitu saja." Victor mendessah.
"Setelah itu kau bahkan tidak mau muncul di cafe, aku panik.... dan berpikir kau mungkin marah kepadaku." Tatapan Victor melembut. "Aire, mungkin ini memang terlalu cepat, kita baru bertemu beberapa kali, belum mengenal satu sama lain. Tetapi ada perasaan nyaman yang kurasakan ketika bersamamu, bahkan ketika pertama kali kau menyapaku. Perasaan nyaman yang membuatku meyakini bahwa aku harus mencoba untuk lebih dekat bersamamu.." Ujarb Victor.
"Oh." Aire bergumam pelan membuat
Victor tergelak. "Oh????" Lelaki itu mengulangi gumaman Aire "Aku berusaha setengah mati menjelaskan perasaanku ini kepadamu dan tanggapanmu hanya Oh ???" Lalu jemari lelaki itu meraih jemari Aire dari seberang meja dan menggenggamnya lembut.
"Aire, aku tahu ini terlalu cepat, kau masih sakit karena perbuatan Mike dan berusaha menyembuhkan dirimu, tapi aku hanya ingin bersamamu, ada di dekatmu, dan berusaha lebih mengenalmu. Aku berharap kau juga bisa mengenalku lebih dekat dan mungkin kita bisa melihat bersama-sama akan di bawa kemana perasaan ini..."
Semua ini terlalu cepat, Aire membatin dalam hati, dia bahkan tidak tahu apapun tentang Victor dan begitu juga sebaliknya. Tetapi ajakan Victor untuk berjalan bersama dan menelaah arti dari kebersamaan mereka terasa begitu menggoda.
"Aire????" Victor memanggil lagi, mulai tidak sabar dengan kediaman Aire, dia butuh jawaban, segera. Setelah itu dia bisa bertindak cepat, meluruskan semua rencananya.
Aire menatap Victor, melihat kesungguhannya di situ. Victor memang luar biasa tampan, tetapi lelaki itu tampaknya tidak pernah sadar menebarkan pesonanya ke orang-orang, tidak seperti Mike. Dan Victor juga baik, lembut, serta menghormatinya, mungkin Aire bisa mencobanya. Dengan lebih sering bersama Victor, mencoba mengenalnya lebih dekat dan kemudian memutuskan apakah akan membuka hatinya ke dalam hubungan yang lebih serius dengan Victor atau tidak.
Aire menganggukkan kepalanya. "Aku bersedia mencobanya, Victor. Tetapi hanya itu, kita bersama-sama berusaha untuk lebih saling mengenal. Dan mengenai hasil akhirnya mungkin bisa kita lihat nanti." Gumam Aire.
Sinar kemenangan muncul di mata Victor, tetapi lelaki itu dengan cepat menutupinya, membuat wajahnya tampak lembut. "Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan ini. Thanks Aire.."