
"Saya ingin segera menikahi Geffie Om. Karena saya sudah yakin bahwa Geffie adalah perempuan yang cocok dan yang saya cari selama ini. Mengenai kuliahnya, saya tetap akan mengijinkannya, dan tidak menghalangi mya untuk melanjutkan pendidikannya sampai dia lulus." Garviil tersenyum. "Saya sangat mencintai Geffie, dan sangat menyayangi nya, saya ingin dia menjadi istri saya dan menemani saya."
Tatapan Ariel menajam. "Kau tahu apa yang sedang kau bicarakan????" Tanya Ariel.
Garviil menganggukkan kepala nya. "Tahu Om, dan saya kesini untuk menemui Om dan ingin meminta ijin dari Om secara langsung, meminta restu, sebagai bukti bahwa saya memang sangat serius dengan Geffie." Ujar Garviil. Sebenarnya beberapa hari terakhir sebelum dia dan Geffie datang ke Washington Dc, Garviil sudah memikirkan semua nya dengan baik. Dia tidak ingin berpisah dengan Geffie, dan ingin mengikat Geffie dengannya acara Geffie tidak di incar oleh laki-laki lain. Dan perkataan Vicky waktu itu mengenai menyuruhnya untuk menikahi Geffie, tidak bisa Garviil abaikan begitu saja. Meski nanti Geffie akan tinggal disini, setidaknya jika dia dan Geffie sudah menikah, Geffie akan terikat dengannya. Lagipula hanya sekitar dua tahun saja dan jika Geffie sudah menyelesaikan kuliahnya, Geffie bisa bersama dengannya. Garviil juga berniat akan mengajak Geffie pulang ke Indonesia jika Vicky sudah mampu mengendalikan perusahaan yang ada di Boston. Garviil akan membantu Papa nya di Indonesia.
"Kau pikir dengan hal itu aku akan memberikan restuku untuk hubungan kalian berdua???? Usia Geffie baru akan 23 tahun dan berani sekali kau sudah berniat untuk menikahi nya???? Kalau kau hanya ingin enaknya saja, lebih baik akhiri saja hubungan kalian berdua."
"Tidak Om, sama sekali tidak, saya hanya tidak ingin kehilangan Geffie, dia akan jauh dari saya, dan itulah sebabnya saya ingin mengikatnya."
"Berani sekali kau ingin segera mengikat dan menikahi putriku. Aku tidak bisa menerima nya. Memangnya kau sudah menanyakan ini kepadanya???"
"Belum Om. Jika Om sudah memberi restu tentu saya dan Geffie akan membicarakannya."
"Simpanlah kekonyolanmu itu" Ariel beranjak dari sofa. "Sudah malam, tidurlah... Besok kau pergilah dari sini dan kembali ke Boston, masalah Geffie dan kuliahnya aku sendiri yang akan mengurusnya." Ariel naik ke tempat tidur dan berbaring menarik selimut lalu memjamkan mata untuk tidur. Meninggalkan Garviil yang hanya terpaku melihat ke arahnya.
Garviil tidak tahu harus melakukan apa, Ariel terlihat tersinggung dengan pembicaraan mereka tadi akan tetapi Garvill memang benar-benar serius dengan ucapannya. Dia ingin menikah dengan Geffie karena mencintai gadis itu dan tidak ingin kehilangan nya. Karena Ariel sudah tidur, Garviil pun memilih berbaring di Sofa dan tidur. Walau dia masih bingung bagaimana bisa meyakinkan Ariel besok. Garviil berbaring nya ang menatap langit-langit kamar sambil berpikir hingga kemudian tidur dengan sendiri nya.
****
Keesokan harinya.....
Garviil bangun dan membuka matanya, terkejut ketika melihat Ariel berdiri di depannya sedang menatap dirinya yang tidur. Menatap tajam ke arahnya. Garviil terlonjak dan langsung bangun dari sofa. "Eehh Pagi Om.... Maaf.."
"Matahari sebentar lagi terbit, kau tahu apa yang harus kau lakukan???"
Garviil menganggukkan kepala nya. Dia tahu apa yang di maksud oleh Ariel. Dimana ini adalah waktu untuk menjalankan kewajibannya sebelum matahari mulai terbit. Dan di luar sepertinya juga masih gelap. "Iya, Om, kalau begitu saya ke kamar mandi dulu mengambil wudhu." Garviil pun bergegas pergi ke kamar mandi. Ariel hanya diam mengamati pemuda itu. Ariel kemudian duduk di kursi kerjanya dan akan mengecek oekerjaannya lagi.
Beberapa saat kemudian. Ariel memutar kursi kerja nya dan terlihat Garviil sudah selesai sholat subuh. Garviil berdiri dan tersenyum pada Ariel tetapi Ariel hanya memasang wajah datar memandang ke arahnya. Ariel kemudian berdiri dan menghampiri Garviil. "Kemasi barangmu lalu pergilah pagi ini juga dari rumah ini, aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Aku harap hubunganmu dengan Geffie juga bisa segera kalian akhiri." Ucap Ariel.
Garviil terperanjat. "Om serius mengusir saya??? Tapi Om, kenapa???? Apa saya salah sudah mengatakan keinginan saya tadi malam??? Saya benar-benar serius dengan Geffie Om, saya sangat mencintai nya dan saya ingin menjadikan Geffie istri saya???? Apa ada yang salah dengan keinginan saya itu Om????"
"Pergilah dari rumah ini pagi ini juga. Dan cam kan apa yang aku katakan tadi." Ariel berbalik badan dan meninggalkan Garviil yang memaku. Ariel masuk ke dalam kamar mandi. Garviil kemudian duduk di kursi dengan sedih. Dia harus bisa meyakinkan Ariel. Garviil akan menunggu Ariel keluar dari kamar mandi dan bucara lagi dengannya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Ariel keluar dari kamar mandi. Garviil pun menghampiri Ariel kagi. "Jadi kau belum juga pergi???" Tanya Ariel.
"Om setidaknya beri saya keempatan untuk membuktikan???"
"Sekali aku bilang perh\=gi, maka kau harus pergi, aku todak akan merubah keputusanku dan jangan sampai aku semakin marah kepadamu, atau endingnya akan buruk. Pergilah...!!!"
Gienka di bantu Cahya menyiapkan sarapan untuk orang yang ada di rumah ini. Gienka tadi sudah memandikan Baby Lexia dan sekarang sedang bersama dengan Geffie dan Aditya di belakang. Kyros sedang bersiap untuk ke knator, Gienka juga sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya itu. Sementara Ariel tidak ada tanda-tanda keluar dari kamarnya, begitu juga dengan Garviil. Entah mereka berdua mengobrol sampai larut atau bagaimana sampai belum bangun. Gienka membuat waffle untuk sarapan pagi ini, sedangkan Cahya membersihkan aneka berries untuk pelengkapnya nanti.
Setelah semua waffle nya sudah matang, Gienka meletakkan nya di beberapa piring sehingga nanti bisa di tambahkan buah dan juga syrup maple nya sebagai pelengkap. Cahya meminta Gienka untuk membangunkan Ariel dan Garviil, dan dia yang akan mengurus sarapannya. Supaya Ariel dan Garviil bisa bersih-bersih badan dan kemudian sarapan bersama agar tidak menunggu terlalu lama.
Gienka meninggalkan dapur dan naik untuk membangunkan Ariel dan Garviil. Saat sampai di depan kamar, Gienka hendak mengetuk pintu tetapi bersamaan dengan itu Garviil keluar. Membuat kedua nya terkejut. Gienka mencoba melempar senyum tetapi justru dia mendapati wajah Garviil yang tidak seceria sebelumnya. Hingga beberapa detik kemudian Garviil membalas senyum Gienka. "Pagi kak???" Sapa Grviil.
"Pagi Vill... Kau baru bangun???" Tanya Gienka.
"Sudah sejak tadi kak, tapi mengobrol sebentar dengan Om Ariel."
Gienka melihat ada yang tidak beres dengan Garviil. "Are you okay???" Tanya Gienka curiga.
"I'm good kak, aku ke kamar dulu ya untuk mandi??? Permisi...!!" Garviil meninggalkan Gienka dan menuju kamarnya. Sikap Garviil membuat Gienka curiga sekali dan dia harus berbicara dengan Papa nya mengenai apa yang terjadi, kenapa Grviil bersikap seperti itu. Gienka masuk ke kamar Papa nya dan dia mendapati Papa nya sedang berdiri di depan lemari.
"Papa..!!!" Panggil Gienka.
Ariel menoleh. "Hai sayang?? Selamat pagi. Mana cucu Papa???" Tanya Ariel.
"Lexia sedang bermain dengan Apap." Jawab Gienka. "Papa??? Apa telah terjadi sesuatu antara Apap dan Garviil, kenapa dia murung dan sedih seperti itu, beda dari biasanya. Apa Papa melakukan sesuatu yang membuatnya ketakutan???" Tanya Gienka menelisik.
Ariel tersenyum. "Tidak ada apa-apa, kami hanya mengobrol saja."
"Mengobrol tentang apa???"
"Tentang hubungannya dengan Geffie."
"Lalu??? Papa memarahi nya??? Dia terlihat sedih sekali, Papa tidak menyetujui hubungan mereka ya???" Tanya Gienka lagi.
"Papa tidak suka dengan ucapannya saja, jadi Papa sedikit marah dengannya."
"Memangnya Garviil mengatakan apa pada Papa sampai Papa harus marah kepadanya???"
Gienka menahan Ariel yang hendak pergi ke kamar mandi. "Papa memarahi nya kenapa??? Jawab dulu pertanyaan Gienka Pa???"
"Gienka sayang??? Kan tadi Papa bilang Papa hanya tidak suka saja dengan ucapannya jadi Papa sedikit marah dan menyuruh dia untuk pergi dari rumah ini, Papa menyuruhnya untuk kembali ke Boston."
Gienka terperanjat. "Apa???? Papa menyuruh Garviil pulang ke Boston!!!???"
"Iya.." Jawab Ariel kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Gienka dalam kebingungan.
Gienka benar-benar dibuat pusing karena Papanya justru mengusir Garviil dari sini. Gienka bingung sekali kenapa Papanya bisa melakukan hal itu. Dan pembicaraan apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan sampai Papanya merasa tersinggung dan mengusir Garvliil. Gienka kemudian keluar dari kamar itu dan dia bergegas menuju kamarnya untuk berbicara dengan Kyros.
Gienka masuk ke kamarnya dan dia mencari suaminya yang ternyata ada di kamar dan sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Aku sudah siap dan aku baru saja mau keluar tapi kau malah ke sini.??" Ucap Kyros sembari merapikan dasinya.
Gienka menghampirinya kemudian membantu suaminya itu. "Aku baru saja dari kamar Papa Iel dan aku benar-benar kesal sekali dengannya." Ujar Gienka.
"Kesal kenapa??? Masa pagi-pagi sudah kesal???"
"Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Papa dan juga Garviil tadi malam ataupun pagi ini, tiba-tiba tadi saat Aku ingin membangunkan mereka. Garviil keluar dengan wajah bingung, murung sekaligus terlihat sedih, aku bertanya tetapi sepertinya dia menjawab pertanyaanku secara tidak jujur lalu aku masuk dan menemui Papa Iel, aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi tetapi Papa menjawab dengan enteng bahwa dia tidak suka dengan cara Garviil berbicara kepadanya, lalu dia menyuruh Garviil pergi dari rumah ini."
Kyros terlonjak. "Pergi dari rumah ini???" Tanyanya heran.
"Iya. Papa menyuruh Garviil pergi dari rumah ini. Garviil disuruh kembali ke Boston, hanya karena dia tidak suka dengan cara bicara Garviil. Aku tidak mengerti apa sebenarnya yang mereka obrolkan sampai Papa merasa seperti itu."
"Lah kok bisa sih??? Apa Garviil mungkin salah bicara kali, sampai Papa Iel harus menyuruhnya pergi.??"
"Ya tapi apa masalahnya, pembicaraan seperti apa??? Aku hanya takut Papa menggertak Garviil sehingga Garviil jadi grogi dan berucap yang tidak Papa sukai."
"Aduh bagaimana ya??? Ya tapi apa kau tidak bertanya masalahnya apa pada Papa Iel???" Tanya Kyros.
"Aku sudah bertanya tapi Papa Iel hanya menjawab itu dan tidak memberikan alasan yang jelas dan malah Papa pergi begitu saja meninggalkan aku ke kamar mandi. Ini bagaimana dong Geffie pasti sedih sekali kalau tahu Garviil diusir oleh Papa Iel???"
"Ya gimana??? Kau beritahu saja Geffie mungkin dia bisa mengajak Papa Iel berbicara dan tahan dulu Garviil jangan sampai dia pulang dengan perasaan marah atau sedih."
"Ya aku akan memberitahu Geffie nanti tapi coba dulu kau temui Garviil dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi mungkin dia lebih merasa nyaman bicara denganmu. Cari dulu akar masalahnya baru setelah itu kita britahu Geffie. Masih jam segini kau tidak akan terlambat jika berbicara sebentar dengan Garviil setelah itu baru sarapan."
Kyros menganggukkan kepalanya dan mengecup kening Gienka. "Oke tenang saja, aku akan bicara dengannya dulu."
"Inilah yang aku dan Geffie takutkan, Papa Iel akan terlalu banyak bertanya sehingga membuat Garviil jadi grogi. Untung saja dulu kau tidak diperlakukan seperti ini oleh Papa Iel, bisa-bisa aku kawin lari saja denganmu"
Kyros tertawa melihat ekspresi kesal dari Gienka. "Tidak akan seperti itu karena ceritanya kan beda sayang??? Papa Iel sudah mengenalku sejak aku kecil jadi dia sudah tahu banyak tentang aku dan tidak akan mungkin banyak bertanya padaku, tapi sepertinya memang mungkin pembicaraan mereka agak terlalu serius jadinya Papa Iel merasa tersinggung. Ya sudah, aku akan menemui Garviil dulu di kamarnya. Kau Pergilah ke atas ambil bayi kita dan juga ajak Geffie serta Apap turun untuk sarapan. Jangan bahas dulu masalah ini dengan Geffie." Kyros kembali mengecup kening istrinya itu. Gienka menganggukkan kepalanya kemudian meninggalkan Kyros di kamar.
Setelah selesai bersiap Kyros pun keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar tamu yang ditempati oleh Garviil. Kyros menegtuk ke pintunya terlebih dulu dan baru dia masuk ketika Garviil menyahut dari dalam dan tak lama Garviil membuka pintu kamar itu. Garviil melempar senyum pada Kyros.
"Boleh aku masuk???" Tanya Kyros.
Tentu saja boleh Kak, silakan, aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian."
Kyros masuk ke dalam kamar itu dan dia melihat koper Garviil ada di atas tempat tidur serta Ada beberapa pakaian Garviil yang diletakkan di atas tempat tidur itu. "Viil, kau berkemas??? Kau ingin ke mana??? Bukankah kau akan berada di sini beberapa hari lagi dan akan kembali bersama Geffie???Kok sekarang sudah berkemas???" Tanya Kyros.
"Aah itu Kak, tiba-tiba aku mendapat telepon dan aku harus segera kembali ke Boston karena ada pekerjaan mendadak yang harus aku kerjakan dan juga ada meeting dengan klien dari luar, jadi aku sepertinya akan kembali lebih dulu karena Geffie masih harus mengurus beberapa hal untuk kuliahnya di sini."
"Kok mendadak sekali sih Viil, kemarin kau tidak mengatakan apapun kepada kami atau jangan-jangan ini hanya alasan mu saja ya??? Hmm pasti telah terjadi sesuatu karena tadi Gienka bilang bahwa Papa Iel menyuruhmu untuk pergi dari sini, memangnya ada masalah apa???"
"Ah tidak sama sekali Kak, aku memang aja pekerjaan dan harus Aku selesaikan dan ada meeting mendadak jadi aku harus pergi hari ini juga, aku juga akan berpamitan pada Geffie."
"Jangan berbohong Viil, tadi Papa Iel sendiri yang memberitahu Gienka kalau dia tersinggung dengan ucapanmu lalu menyuruhmu pergi dari rumah ini. Kalau boleh tahu memangnya pembicaraan Apa sih yang kalian berdua bicarakan tadi malam??? Sampai Papa Iel tampak marah sekali kepadamu, aku sudah menjadi menantunya selama bertahun-tahun dan aku juga sudah mengenalnya sejak kecil sehingga sifat dan karakternya aku sangat mengerti sekali. Papa Iel memang orang yang keras. Tetapi dia memiliki hati yang lembut dan aku juga terkejut kalau dia menyuruhmu pergi dari sini hanya karena ucapanmu, memangnya apa yang kalian bicarakan sampai Papa Iel tidak menyukainya???" Tanya Kyros. "Kau Ceritalah padaku mungkin aku bisa membantumu dan juga menghindarkan kesalahpahaman di antara kau, Geffie dan juga Papa Iel, jadi Coba ceritakan apa yang terjadi???"
Garviil menunduk dengan sedih. Dia kemudian bercerita kepada Kyros mengenai pembicaraannya malam tadi juga pagi tadi dengan Ariel. Garviil menceritakan semuanya dari awal sampai akhir serta alasan kenapa Ariel marah kepadanya yaitu diakibatkan oleh pembicaraan mengenai hubungannya dengan Gevvie, di mana Garviil ingin hubungannya dengan Geffie itu tidak hanya hubungan biasa saja melainkan hubungan yang serius dan Garviil juga mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Geffie dalam waktu dekat karena Garviil ingin bisa segera memiliki Geffie.
Hal itulah yang akhirnya memantik kemarahan dari Ariel karena Ariel merasa bahwa pembicaraan mengenai pernikahan Geffie tidak seharusnya diucapkan atau dikatakan oleh Garviil, mengingat usia Geffie saat ini masih terlalu muda dan Geffie juga akan melanjutkan kuliah s2-nya, jadi rasanya tidak elok jika Garviil meminta izin untuk menikahi Geffie. Memuncaklah emosi Ariel sehingga Ariel meminta Garviil untuk mengakhiri hubungannya dengan Geffie dan tidak akan pernah mau merestui hubungan itu. Apalagi sampai mengizinkan Geffie menikah mudah dengan Garviil. Geffie masih terlalu muda untuk usianya saat ini sedangkan Garviil mungkin saja memang sudah cukup umur untuk menikah sehingga Ariel merasa bahwa Garviil hanya akan memanfaatkan Geffie saja untuk kesenangannya.
Tetapi Garviil mencoba untuk meyakinkan Ariel bahwa dia tidak memiliki maksud apapun dan memang benar-benar serius dengan Geffie. Tidak ada niatnya untuk memanfaatkan Geffie atau hal lainnya. Garviil hanya benar-benar ingin menikahi Geffie karena dia mencintai gadis itu dan sudah merasa yakin. Garviil juga tidak mempermasalahkan jika Geffie melanjutkan kuliahnya .Garviil tidak akan melarangnya dan tetap akan mendukung Geffie setiap waktu meskipun mungkin mereka nanti menikah karena Garviil sudah memikirkannya dengan matang sekali.
***Mampir yuk di karya terbaruku***