
Garviil ke cafe setelah mengantar Geffie pulang dan mampir sebentar disana. Dia langsung naik ke kamarnya yang saat ini di gunakan oleh Vicky. Dan saat masuk ternyata Adiknya itu sudah berada di kamar. Vicky sedang duduk di di depan kanvas nya dan sibuk melukis.
"Vic... Kau sudah lama sampai???" Tanya Garviil.
"Sekitar setengah jam yang lalu, kau sendiri??? Dimana Geffie???"
"Aku tadi mengantarnya dan mampir sebentar lalu kesini."
"Oh...."
"Kau membuat lukisan untuk siapa???"
"Hanya iseng saja, gabut."
"Owh...." Garviiil duduk di sofa dan menghela napasnya panjang. Tak lama Andro datang membawa minuman untuk Garviol dan Vicky kemudian duduk di sofa bersama Garviil.
Vicky menoleh dan memandang kakaknya. "Kenapa kak???"
"Ah tidak.. Aku hanya sedang memikirkan cara menghadapi kedua orang tua Geffie nanti. Aku akan bertemu dengan mereka."
"Orang tua Geffie??? Kau akan ke Indonesia dan menemui mereka???" Tanya Vicky sembari meletakkan palletnya di kursi lalu berdiri dan mengambil minuman yang tadi di bawa oleh Andro. Vicky juga duduk bersama mereka berdua.
"Ah tidak, aku akan ke Washington dc untuk mengantar Geffie, dan kebetulan orang tua nya juga sedang berada disana. Jadi pasti aku akan menemui mereka juga."
"Lalu apa yang membuatmu bingung???" Tanya Vicky.
"Bagaimana aku berhadapan dengan mereka. Aku takut Papa nya Geffie galak."
Vicky tertawa. "Galak???? Hahaha... Biasanya Ayah itu akan galak sekali kalau punya anak perempuan nya cantik. Hehehehe."
"Itu dia, aku jadi sedikit takut."
"Tapi apa iya hanya itu saja ketakutan mu???" Tanya Vicky menelisik.
"Entah kenapa setiap hari aku semakin merasa takut jauh dari Geffie, dia sebentar lagi pergi dari sini dan aku tidak bisa memantau nya, bagaimana kalau di kampus barunya nanti dia di dekati oleh laki-laki lain???? Aku tidak bisa melihatnya bersama laki-laki lain." Gumam Garviil.
Vicky dan Andro saling melempar pandangan. "Oh karena itu, hahahaha.... Kalau kau takut kehilangan dia, ya caranya tentu saja kau nikahi saja dia, bilang pada Papa nya atau Mama nya kalau kau ingin menikahi Geffie, supaya dia tidak jatuh ke pelukan laki-laki lain. Benarkan Ndro???"
Andro pun terkekeh. "Geffie masih terlalu muda Vic, masa harus di ajak menikah??? Tapi mengajaknya bertunangan sih masih mendingan." Ujar Andro. Sedangkan Garviil terdiam.
"Lebih baik pikirkan itu nanti saja kak, lebih penting menyiapkan diri menghadapi Papa Geffie. Kau harus tunjukkan keseriusan mu pada putrinya, dan biat dia percaya bahwa kau adalah laki-laki baik yang akan menjaga Geffie dan tidak menyakiti Geffie. Itu saja yang perlu kau lakukan. Seorang ayah akan luluh ketika da melihat ketulusan dari laki-laki yang mencintai putrinya." Sahut Vicky.
"Ya, Vicky benar." Sela Andro. "Kau lebih baik fokus membuktikan saja pada mereka bahwa kau benar-benar serius pada Geffie. "Kau pantas dengannya. Keseriusan mu harus di buktikan."
"True..." Celetuk Vicky. Garviil hanya diam saja. Dan membenarkan perkataan adik nya serta Andro. Menunjukkan keseriusan pada orang tua Geffie adalah hal utama supaya orang tua Geffie bisa percaya padanya.
*****
Beberapa hari kemudian......
Geffie dan Garviil sedang dalam perjalanan menuju rumah Kyros dan Gienka dengan taksi. Mereka dari bandara langsung mencari taksi untuk membawa mereka. Geffie sengaja tidak meminta di jemput, tahu bahwa keluarga kakaknya sedang mengurus Aditya yang sakit. Tetapi Geffie mendapat kabar dari Gienka jika hari ini mertua kakaknya itu akan pulang dari rumah sakit. Selain itu Geffie juga ingin bertemu Papa dan Mama nya yang juga ada disini. Tetapi lusa mereka sudah harus kembali ke Indonesia. Sehingga Geffie harus segera ke Washington dan bertemu dengan kedua orang tua nya.
Sementara itu Garviil sudah menyiapkan diri untuk bertemu dengan kedua orang tua Geffie. Garviil juga sudah memutuskan hal yang sangat besar sekali mengenai keseriusannya pada Geffie. Garviil benar-benar menginginkan resti kedua orang tua Geffie untuk hubungan mereka. Dia harus bisa membuktikan hal itu nanti nya. Garviil juga berharap dia bisa.akrab dengan keluarga Geffie terutama Papa Geffie.
Geffie menyenggol lengan Garviil. "Kenapa??? Kok diam saja????" Protesnya pada Garviol.
"Kau kenapa tegang sekali???" Tanya Geffie lagi.
"Aku hanya nervous saja. Aku akan bertemu dengan orang tua mu, sedikit takut."
"Takut???? Kenapa takut??? Memangnya Papa akan memakanmu??? Kan tidak... Lagipula ada banyak orang disana, ada mertua kak Gienka juga kan??? Kau sebelumnya sudah bertemu dengan mereka. Papa dan Mama baik sekali kok, kenapa musti takut."
Garviol takut. "Ya nervous saja. Tapi bagaimana menurutmu jika aku nanti mengatakan kepada mereka kalau akh ingin serius denganmu???"
Geffie tersenyum. "Ya tidak apa-apa, kau buktikan saja ucapanmu itu dengan tindakan, buat Papa dan Mama percaya dengan keseriusanku, jadi pasti tidak akan ada masalah, mereka akan menerima mu, intinya jangan Nervous karena kalau kau nervous yang ada malah salah bicara. Santai saja, rilex." Geffie menggenggam jemari Garviil untuk memberikan semangat kepada kekasihnya itu. Geffie juga berharap Kedua orang tua nya senang dengan Garviil dan mau menerima Garviil.
***
Sementara itu di rumah Gienka dan Kyros.
Aditya sudah di ijinkan pulang oleh dokter. Dia di jemput oleh Kyros dan Adri di rumah sakit. Sedagkan yang lainnya menunggu di rumah. Ariel dan Randy serta Danist juga sudah selesai mengurus mengenai deportai Camilla, tentu nya Kyros juga bagian penting dari masalah ini karena Kyros punya hak yang tinggi sebagai warga negara ini. Mereka juga meminta bantuan dari beberapa pihak dan berkonsultasi dengan mereka mengenai hal ini. Sebelum akhinya mengambil tindakan dan mereka harus menunggu untuk peninjauan mengenai hal tersebut sebelum nanti permintaan mereka di kabulkan. Beruntungnya beberapa kolega penting Ariel dan Aditya tersebar di negara ini sehingga mereka bisa memanfaatkannya dengan baik. Bisa di bilang sedikit licik tetapi mereka melakukan itu untuk kebaikan keluarga anak mereka dengan menghindarkan orang-orang jahat seperti Camilla itu.
Sementara itu, keluarga Aditya juga sudah tahu mengenai apa yang terjadi disini tentang Aditya dan Camilla. Mereka sempat panik dan berniat datang tetapi Cahya, Aditya dan Kyros berhasil menenangkan mereka dngan mengatakan jika kondisi Aditya sangat baik serta tidak perlu ada yang di khawatirkan. Mereka juga melarang Kyra ataupun Axel datang kesini karena memang tidak ada yang perlu di cemaskan. Aditya baik-baik saja.
Dan besok lusa, Danist, Adri dan Randy akan kembali lebih dulu ke Indonesia. Mereka tidak bisa lama-lama berada disini karena pekerjaan di kantor sudah menunggu mereka. Adri harus membantu Kyra mengurus kantor selama Aditya ada disini. Begitu juga dengan Danist yang harus menggantikan Ariel yang juga akan memilih tinggal untuk beberapa hari sampai permasalahn yang terjadi disini bisa di bereskan. Sedangkan Randy juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan kantornya, Louis putranya masih butuh banyak pedampingan untuk mengurus beberapa hal. Selain mereka bertiga, Elea dan Maysa juga akan ikut pulang. Sama seperti yang lain, Elea harus menggantikan Cahya di kantor sedangkan Maysa harus menghadiri peresmian hotel terbaru. Harusnya dia bersama Ariel, tetapi Ariel masih harus tinggal disini.
Sampai di rumah, Kyros meminta agar Apap nya beristirahat di kamar saja dan tidak banyak bergerak. Kyros juga harus kembali ke kantornya karena dia meminta ijin selama beberapa jam untuk bisa menjemput Apapnya di rumah. Cahya mengajak Aditya beristirahat di kamar. Sementara Ariel sedang membuai baby Lexia, cucu nya yang sangat cantik dan menggemaskan itu. Setiap Ariel menngendong cucu nya itu, dia selalu teringat wajah Gienka saat masih bayi, sanagt persis dengan Baby Lexia. Tetapi perbedaannya ada di mata, mata nya beby Lexia sangat mirip dengan Kyros. Ariel duduk di sofa yang ada di ruang tamu bersama dengan Maysa, Danist dan Elea. Sedangkan Randy sedang ada di kamar tamu, begitu juga dengan Adri. Gienka pergi ke dapur untuk mengambilkan Aditya minuman dan mengantarnya ke kamar mertua nya itu.
Ada bunyi bel di luar. Maysa berdiri untuk membuka pintu. Saat pintu di buka, Maysa tersenyum karena ada putrinya yang sudah datang. Geffie akhirnya datang juga, mereka sudah menunggu nya sejak tadi. "Mama....!!!" Geffie memeluk Maysa.
"Datang juga...!!! Ayo masuk....!!! Uncle Aditya juga baru saja datang."
Geffie menganggukkan kepala nya. "Tunggu Ma..!" Ucapnya. Kemudian tidak lama ada seorang laki-laki berjalan ke arah mereka, laki-laki itu membawa dua koper.
"Siapa dia???" Tanya Maysa.
Geffie tersenyum. "Temanku...!!!" Jawab Geffie. "Garviil, ini Mama ku..!" Ucap Geffie memperkenalkan Garviil pada Mama nya.
Lelaki itu menyalami Maysa dengan sopan. "Selamat siang tante..!"
"Siang..." Jawab Maysa. Dia memandangi lelaki itu. Dan merasa bahwa ini pasti bukanlah teman biasa Geffie. "Ayo masuklah...!!" Ajak Maysa.
Geffie mengeajak Garviil masuk. Dan di ruang tamu sudah ada Ariel dan yang lainnya. Melihat putrinya datang bersama seorang laki-laki. Ariel pun langsung menatap tajam ke arah laki-laki yang bersama Geffie.
"Papa...!!" Geffie memeluk Ariel yang sedang menggendong keponakannya.
"Bagaimana perjalananmu??" Tanya Ariel.
"Lancar...!!" Jawab Geffie. Kemdian dia menyalami Elea dan Danist bergantian. "Oh iya, aku membawa teman.." Ucap Geffie lagi. "Garviil, ini Papa ku, ini Tante Elea Mama nya kak Gienka, lalu ini Uncle Danist, kakaknya Papa."
Garviil pun mengangguk lalu menyalami Ariel. Sayangnya Ariel tidak langsung menyambutnya dan Ariel justru menatap tajam Garviil. "Siapa namamu???" Tanya Ariel langsung.
Garviil tersenyum. "Garviil om" Jawabnya.
"Nama lengkap!!"
"Victor Garviil Ivander, Om bisa memanggilku Garviil atau Victor juga boleh. Eeehh saya temannya Aire, eh maksud saya Geffie." Jawab Garviil sedikit terbata karena tatapan Ariel yang begitu tajam ke arahnya. Seolah Papa Geffie itu ingin menelannya bulat-bulat.
Tatapan Ariel semakin tajam, dan dia ingat cerita Aditya mengenai teman laki-laki yang dulu pernah datang kesini bersama Geffie, dan nama laki-laki itu adalah Garviil. Dan akhirnya Ariel melihatnya dan bertemu langsung. 36y