Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Aku sangat Mencintai Vicky



"Ciara, kau menerima lamaran Vicky, lalu bagaimana dengan Bianca???" Tanya Papa Ciara akhirnya. Mereka saat ini baru saja sampai di hotel. Dan Ciara belum.masuk ke kamarnya sendiri, dia masih berada di kamar kedua orang tua nya.


"Papa, aku tidak peduli dengan hal itu, aku sangat menyukai dan mencintai Vicky. Lagipula aku tidak merebut Vicky dari Bianca kan??? Dan perasaan kami berdua itu tulus dan murni. Papa bisa melihat cinta Vicky untukku. Permasalahan Bianca dan kakak Vicky juga bukan urusan kita, itu salah Bianca sendiri. Dia saja sudah merusak nama keluarga karena kejahatannya menipu keluarga Vicky, menipu Garviil. Lalu apa peduli ku???"


"Iya, Papa tahu kau dan Vicky saling mencintai. Tetapi masalahnya bagaimana kalau keluarga Vicky tahu bahwa kita ada hubungan saudara dengan Bianca. Apa mereka masih akan mau menerima mu."


"Yang jahat Bianca, yang menipu Bianca, yang merusak nama keluarga juga Bianca. Aku, dan kita tidak melakukan apapun, meski kita ada hubungan keluarga dengan Bianca bukan berarti kita atau aku akan melakukan hal yang sama pada Vicky dan keluarga nya. Ada perbedaan mendasar dari masalah itu. Aku juga tidak mengkhianati Vicky seperti yang dulu sudah Bianca lakukan. Dan aku yakin Vicky sangat baik sekali."


"Kau harusberitahu mengenai hal itu sayang." Sahut Mama Ciara.


"Iya Ma, aku pasti akan memberitahu Vicky mengenai hal itu nanti, jadi kalian jangan khawatir oke??? Sekarang aku hanya ingin berbahagia saja dengan Vicky. Dia adalah laki-laki yang sangat baik dan aku mencintainya. Jadi kalian jangan khawatirkan apapun." Ciara memeluk Papa dan Mama nya. Dia sangat yakin Vicky tidak akan masalah jika dia adalah keluarga Bianca dan dia sangat mencintai Vicky.


★★★


Garviil sudah selesai mengganti pakaiannya dan dia juga sudah mencuci wajah serta menggosok gigi nya sebelum pergi tidur. Garviil menghampiri Geffie yang sedang duduk di depan meja rias. Istrinya itu sedang sibuk memakai skincare malam nya. Garviil mbungkuk danemeluk Geffie dari belakang dan menciumi Ieher istri nya. "Seharian ini, aku belum memelukmu, sejak datang pagi tadi kau langsung sibuk sendiri." Bisik Garviol di telinga Geffie.


"Aku membantu Mama, berbelanja dengan Mama dan mengobrol dengan Mama. Memangnya ada yang salah dengan itu????" Tanya geffie.


"Tidak ada yang salah, tetapi seharusnya sedikit saja kau meluangkan waktu untukku, kau tahu kan kalau kita baru saja bertemu setelah beberapa hari berpisah. Aku sangat merindukanmu, terutama merindukan ini." Jemari Garviil mulai menggerayaai dua gundukan lembut di dada Geffie dengan gerakan lembut, membuat Geffie menggeIiat karena geIi.


"Hmmmpppttt..." Desah Geffie sambil memejamkan matanya merasakan pijatan lembut garviil di dadanya. Aku juga merindukanmu." Geffie berbalik badan dan memegang kedua rahang Garviil lalu mereka mulai berciuman. Geffie membuka sedikit mulutnya dan Iidah Garviil masuk ke dalam dan berjalinan dengan Iidah istrinya itu. Lama sampai kemudian Garviil mengangkat Geffie dan mendudukkannya di atas tempat tidur. Garviil duduk berlutut di lantai. Kedua mata mereka sejajar, Garviil yang berlutut dan Geffie yang duduk di atas ranjang, lalu mereka berciuman dengan lembutnya. Bibir Garviil meIumat bibir Geffie dengan penuh perasaaan, membuatnya terlena. Iidahnya menelusur pelan kemudian, mencecap rasa yang sudah lama dirindukannya, rasa yang sangat dikenalnya. Geffie mendessah ketika Garviil mendorongnya terbaring di ranjang, dengan kaki menjuntai di bawah dan Garviil yang berdiri membungkuk di atasnya,


"Kita bisa melakukannya sekarang." Garviil berbisik dalam napasnya yang sedikit tersenggaI.


"Ya... Aku merindukanmu."


Garviil mencummbu leher Geffie yang menyimpan aroma khasnya yang manis, "Aku setiap hari merindukanmu."


Jemari Garviil membuka gaun tidur Geffie dan menurunkannya, dia menarik gaun itu melewati pingguI Geffie dan membuangnya ke lantai. Pakaian dalamnya menyusul kemudian, hingga Geffie berbaring teIanjang dan pasrah di bawahnya.


Garviil tidak terburu-buru, lelaki itu dengan pelan membuka kancing piyama nya dan melepasnya, memamerkan tubuh indah dan kerasnya yang bahkan masih membuat Geffie merasa kagum setiap melihatnya, bahkan setelah berkali-kali jemarinya menyentuhnya di sana, menikmati kehalusannya.


Lalu Garviil menurunkan ceIananya dan kemudian teIanjang sepenuhnya di depan Geffie, miliknya mengeras dan sudah siap. Lelaki ini amat bergairah.


Dengan lembut lelaki itu menunduk di atas Geffie, jemarinya bergerak menelusuri tubuh Geffie dan menemukan milik Geffie yang sudah hangat dan basah.


Dengan lembut Garviil mengangkat kedua kaki Geffie dan menyandarkan masing-masing di pundaknya, membuat posisi Geffie begitu pas untuk dia masuki.


Lelaki itu melakukan penettrasi dan mengerang parau. "Astaga... kau begitu sempit sayang, begitu sempit dan nikmat..."


Geffie mengikuti semua ritme yang dibawa oleh Garviil. Posisi ini membuat titik-titik sensitif yang tidak disadarinya ada tersentuh dan bangun, membuat seluruh tubuh Geffie menggelenyar dalam kenikmatan yang luar biasa. Jemari Garviil bergerak dan menyentuh


tItik nikmat di atas miliknya, memainkannya. Membuat Geffie seakan dihantam oleh dua kenikmatan bertub-tubi.


"Garviil..." Geffie mengerang, menyebut nama suaminya, karena sudah tidak bisa menahan diri.


"Ya sayang, ya...." Garviil membalas erangan Geffie dengan suara parau tertahan, ritmenya semakin cepat, semakin tak tertahankan membuat Geffie tidak mampu lagi, sehingga akhirnya membiarkan dirinya dibawa oleh arus deras kenikmatan yang memenuhi seluruh sarafnya. Garviil mengerang di sana dan mereka mencapai puncak kenikmatan itu secara bersamaan.


***


"Thank you sayang?" Mereka masih berbaring teIanjang dan puas di atas ranjang. Geffie meringkuk membelakangi Garviil dan Garviil memeluknya dengan posesif dari belakang, kaki mereka saling bertautan. Kulit mereka saling menghangatkan,


"Sama-sama. Aku juga berterima kasih padamu." Geffie menjawab pelan, setengah mengantuk.


Sesaat hening, dan Geffie merasakan jantung Garviil berdebar, lelaki itu menghela napas sebelum bertanya,


"Aku sangat mencintai mu Geffie sayang.."


Geffie tertegun dengan pernyataan itu. Jauh di dalam hatinya dia sudah tahu jawabannya. Ya. Dia juga tentu saja mencintai Garviil, dia sangat mencintai suaminya ini. Dan Garviil sudah berkali-kali menyatakan mencintai Geffie.


"Ya..." Geffie menjawab pelan, jantungnya berdebar, "Ya.. Aku juga selalu mencintaimu, Garviil..."


Garviil mendesah pelan, menyebut nama Geffie dengan khidmad, "Geffie...." Lalu lelaki itu memalingkan muka Geffie supaya menoleh menghadapnya, dan menciumnya dengan sangat bergaiirah.


Geffie merasakan milik Garviil mengeras lagi di sana, menyentuh bagian belakang tubuhnya, Jemari lelaki itu sudah menangkup ghndukan kembar di dada Geffie dan memainkannya dengan lembut, menggoda putingnya, merayunya, jemarinya lalu turun dan memainkan titik sensitiif di pusat milik Geffie, dengan lembut dan menggoda.


Geffie meracau menikmati setiap gerakan dari Garviil. Ini terlalu nikmat dan terlalu luar biasa hingga dia tidak bisa lagi mengungkapkan rasanya dengan kata-kata selain hanya bisa mendesis penuh kenikmatan. Sampai akhirnya mereka berdua kembali mencapai puncak kenikmatan itu bersama-sama.