
"Ciara....!!!!"
Ciara dan Vicky menoleh ke belakang bersamaan, dan lagi-lagi itu adalah Devan. Refleks Vicky melindungi Ciara. Dan dia memandang tajam ke arah lelaki itu. Lagi-lagi Vicky di hadapkan dengan wajah menyebalkan Devan yang seolah mengejeknya dan juga Ciara.
"So you're not alone. ????" Tanya Devan dengan nada mengejek, tahu bahwa ternyata Ciara tidak sendirian melainkan bersama Vicky, laki-laki yang tempo hari sudah memukulnya di cafe itu. "I was thinking that it seems like this stupid man is your lover??? He's always there with you and is also like a hero who takes care of you." Devan berpikir bahwa sepertinya lelaki bodoh ini adalah kekasih Ciara karena selalu ada bersama Ciara dan juga seperti pahlawan yang menjaga Ciara.
"If I'm Ciara's boyfriend, so what? And what's your business??? Can't you stop bothering her and also stop chasing her??? I already know what you did to Ciara back then, and how you treated a girl so badly, you're so disgusting." Ejek Vicky pada Devan. Dia mencoba menggertak Devan dan jika dia memang kekasih Ciara memangnya kenapa??? Dan apa urusan Devan. Tidak bisakah Devan berhenti mengganggu Ciara dan juga berhenti mengejarnya. Vicky sudah tahu apa yang Devan lakukan pada Ciara dulu, dan bagaimana Devan memperlakukan seorang perempuan dengan sangat buruk, Devan sangat menjijikkan.
"Shut up and shut up, this has nothing to do with you...!!!" Teriak Devan meminta Vicky diam dan menutup mulutnya, karena ini tidak ada urusannya dengan Vicky.
"Why is it none of your business?? Ciara is my girlfriend, and I have to intervene to deal with bullies like you who make her uncomfortable, and earlier you even chased her, scaring her to death, so do you think I should just stand by and watch Ciara like that???" Vicky mulai terpantik emosinya. Vicky pun mengatakan pada Devan jika adalah Ciara kekasihnya dan dia harus turun tangan menghadapi pengganggu seperti Devan yang membuat Ciara tidak nyaman, dan tadi bahkan Devan mengejar Ciara, membuat Ciara ketakutan setengah mati, lalu menurut Devan apa dia harus diam saja melihat Ciara seperti itu??
"I have to repay you, since you hit me before." Ancam Devan, dia harus membalas Vicky, karena sebelumnya Vicky sudah memukulnya.
"Just go for it if you can." Vicky menatap Devan dengan tatapan membuunuh. Don't try to threaten me or dare to approach Ciara, or you will regret it for the rest of your life." Ucap Vicky, Devan jangan coba mengancam nya ataupun berani mendekati Ciara, atau Vicky akan menyesal seumur hidupnya.
"You'll regret it for the rest of your life, you don't know who you're dealing with right now." Ancam Devan balik pada Vicky, karena Vicky lah yang akan menyesal seumur hidupnya karena Vicky tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang.
"Vicky, lebih baik kita pergi saja dan jangan berurusan dengannya." Bisik Ciara.
"Aku hanya ingin menikmati liburanku dengan Ciara, rasanya jika aku terlalu meladenimu, liburan kami berdua akan gagal dan berantakan." Vicky berbalik badan dan menggenggam jemari Ciara lalu meninggalkan Devan begitu saja. Vicky ingin sekali meladeni Devan tetapi dia menahan diri dan tidak ingin semakin merusak liburannya dengan Ciara, sudah cukup mereka gagal melihat sunset di pantai, dan tidak ingin gagal untuk hal lainnya selama disini.
"Dasar pelacur keciI yang sok suci....!!!" Teriak Devan pada Ciara. "Aku sanggup membayarmu mahal daripada kau memberikan tubuh kecilmu itu untuk bajingan itu secara gratis."
Sampai kemudian di tengah keheningan, Vicky tiba-tiba mendengar suara isakan yang tidak lain berasal dari Ciara. Vicky menunduk dan mendapati Ciara memang sedang menangis sambil terisak. "Ciara???" Langkah Vicky terhenti dan dia berdiri di depan Ciara. "Kau menangis????" Tanya nya. Vicky tidak perlu jawaban karena dia tahu bahwa Ciara menangis pasti karena ucapan dari Devan. Lelaki itu benar-benar kurang ajar, dan untuk kesekian kalinya dia membuat Ciara menangis. Trauma Ciara pasti begitu dalam, bahkan setelah bertahun-tahun, Ciara masih merasa ketakutan setiap melihat dan bertemu dengan Devan.
Ciara hanya diam dan terus terisak. Spontan Vicky pun memeluk perempuan itu untuk menenangkannya. "Jangan pedulikan ucapannya, dia hanya ingin mempermainkan emosimu saja, dia suka melakukannya karena dia tidak mendapatkan apa yang di inginkannya yaitu dirimu. Dia tidak akan berhenti melakukannya karena dia hanya bajingan busuk yang tidak tahu malu."
"Kenapa dia selalu saja merendahkanku??? Apa kesalahan yang aku perbuat???"
"Tidak perlu ada kesalahan untuk bisa membuat orang sepertinya bisa diam. Yang bisa dia lakukan hanya menggertak dan membuat orang lain takut dengan ucapannya. Kau jangan sampai termakan dengan ucapannya. Kalau kau terlihat takut dengannya yang ada kau pasti akan selalu di tindas oleh nya, kau harus berani menggertak nya agar dia bisa sadar dengan kesalahannya. Sekarang tenanglah, kita kembali ke tenda dan beristirahat, sebentar lagi gelap."
Vicky kembali menggandeng Ciara dan mereka melanjutkan perjalanan menuju tenda mereka, masih terdengar isakan dari Ciara tetapi perempuan itu sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Mereka terus berjalan menyusuri hutan yang memang tidak terlalu lebat. Tempat ini memang di buat senyaman mungkin untuk para pengunjungnya. Dan suasana nya juga tidak mencekam dan justru terkesan nyaman.
Sesekali Vicky menengok ke belakang. Dia merasa seperti ada yang mengikutinya sejak tadi tetapi setiap menengok ke belakang, Vicky tidak mendapati siapapun sedang mengikutinya dan juga Ciara.
"Ciara, kita jalannya lebih cepat lagi ya???" Ucap Vicky. Dia lalu mempercepat langkahnya karena tiba-tiba perasaan nya tidak enak. Meski bingung, Ciara tetap mengikuti Vicky.
"Ciara....!!!!" Teriak seseorang dari belakang.
Ciara dan Vicky menoleh ke belakang dan mendapati Devan berlari denagn cepat ke arah mereka membawa pisau. Dalam sepersekian detik, Vicky langsung mendorong Ciara dengan keras ke samping membuat Ciara langsung terjatuh, sedangkan pisau yang di bawa oleh Devan itu menusuk perut Vicky. Vicky terperangah untuk beberapa saat dan menatap wajah terkejut Devan, lalu beberapa saat kemudian, Vicky terjatuh di tanah. Devan melepaskan pegangannya pada pisau itu, terkejut bukan kepalang karena targetnya adalah Ciara tetapi malah terkena Vicky. Devan pun langsung berlari menjauh dari tempat itu, membuat Ciara masih terkejut dan belum menyadari apa yang sedang terjadi. Baru setelah melihat Vicky terjatuh di tanah dan melihat ada pisau menancap di perut lelaki itu, Ciara berteriak dan berusaha bangkit mendekati Vicky.
"Vicky....!!!!" Teriak Ciara, dia langsung mengangkat kepala Vicky dan menjadikan paha nya sebagai tumpuan kepala Vicky. "Help...... Please, anyone who hears me help me please.... Help.....!!!" Teriak Ciara meminta bantuan siapapun yang mendengarnya. "Vicky, bertahanlah......!!!!" Vicky sudah berlumuran darah membuat Ciara semakin panik.