Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
RSV



Keesokan harinya.


Geffie bangun dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Suasana rumah tentu saja sepi, dan biasanya di jam segini Geffie akan membantu Gienka untuk memandikan Lexia serta mengajak Lexia untuk bermain. Tetapi semalam Lexia dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Bahkan Geffie dan Garviil juga tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah kembali dari rumah sakit karena terus terpikirkan keadaan Lexia.


Geffie sibuk di dapur membuat sarapan untuk Garviil. Seharusnya saat ini Garviil akan kembali ke Boston tetapi tidak jadi. Garviil khawatir karena Geffie pasti akan sendirian di rumah. Selain itu, Vicky sendiri sudah dalam perjalanan le Boston setelah dari Singapura sebelumnya. Sehingga mungkin besok Vicky sudah bisa kembali beraktifitas di kantor.


Garviil turun dan menghampiri Geffie di dapur. Dia sudah terlihat segar setelah mandi. "Pagi sayang!" sapa Garviil.


Geffie menoleh. "Pagi! Aku membuat sandwich untuk kita sarapan."


"Tidak masalah, apapun yang kau buat aku akan memakannya."


"Kita sarapan dulu setelah itu aku akan mandi dan kita ke rumah sakit, kakak meminta di antarkan pakaian. Bu Linda sudah datang dan sedang membersihkan rumah, aku sudah memberitahunya jika Lexia di rumah sakit, dia akan menjaga rumah selagi kita pergi."


"Ya sudah kalau begitu, kita sarapan dulu."


Geffie menganggukkan kepala dan membawara piring berisikan beberapa sandwich dan menyajikannya di meja makan. Kemudian duduk dan sarapan bersama dengan Garviil.


****


Garviil dan Geffie sampai lagi di rumah sakit, Kyros dan Gienka sudah menunggu mereka. Dan ternyata hasil lab dari pemeriksaan Lexia sudah keluar. Ternyata benar Lexia terserang virus dan sepertinya tertular dari seseorang. Minggu kemarin Kyros dan Gienka memang sempat mengajak Lexia pergi keluar untuk berbelanja di supermarket dan ke beberapa tempat. Dimana memang ada seseorang di dekat mereka yang terus batuk, sehingga kemungkinan Lexia tertular dari orang itu. Dan virus ini cukup berbahaya, di tambah kondisi Lexia juga lemah. Lexia terkena Respiratory syncytial virus atau RSV adalah jenis virus yang menginfeksi saluran pernapasan. Lexia harus di tangani secara intensif dan tidak boleh di jenguk oleh banyak orang. Bahkan jika kondisi Lexia sudah membaik, dokter menyarankan agar hanya satu orang saja yang menunggui Lexia di rumah sakit. Ya, tidak ada pilihan lain selain Gienka mengingat Lexia juga masih meminum asi Gienka. Dan Lexia harus berada di ruang khusus atau harus di isolasi, mengingat Lexia membutuhkan penanganan khusus serta banyaknya beberapa alat kesehatan yang harus menempel pada tubuhnya. Tetapi untuk saat ini Lexia masih harus berada di ruang PICU sampai kondisinya stabil dan tidak boleh di jenguk tanpa seijin dokter.


Untuk hari ini Kyros tidak bekerja dan mengambil cuti satu hari. Kondisi Lexia belum stabil membuat Kyros tidak tenang.Setelah stabil nanti memang hanya Gienka yang nanti akan menemani Lexia. Dan berharap kondisi Lexia segera stabil agar bisa di pindah ke ruangan isolasi.


Geffie benar-benar merasa sedih sekali dengan apa yang terjadi sekarang. Keponakannya sakit dan butuh perawatan yang intensif dan steril. Mungkin karena Lexia masih di bawah satu tahun sehingga sangat rentan sekali terserang virus. Padahal Gienka dan Kyros juga cukup protektif selama ini, nyatanya masih kecolongan. Ya, semua orang di rumah ketika dari luar, tidak boleh langsung menggendong Lexia, dan harus mandi serta ganti baju lebih dulu. Dan itu berlaku sejak awal, baik Kyros, Geffie ataupun Garviil ketika dari luar pasti akan memilih menghindari Lexia sampai mereka memastikan bahwa mereka sudah steril setelah mandi dan ganti pakaian. Hanya saja kali ini, Gienka dan Kyros kecolongan saat mengajak Lexia jalan-jalan keluar rumah.


Gienka beranjak untuk mandi dan mengganti pakaiannya dia sendiri semalam panik dan hanya mengenakan piyama tetapi semalam Geffie juga sudah membawakan pakaian untuk Gienka dan Kyros saat Garviil akan kembali untuk mengantarkan ponsel mereka tetapi tentunya sekarang Gienka harus berganti pakaian lagi dan mandi. Itulah kenapa Geffie kembali membawa pakaian kakaknya itu tetapi langkah Gienka terhenti ketika melihat ponselnya berdering. Gienka mengernyit mengetahui siapa yang saat ini menghubunginya. "Amam, dia video call," ucap Gienka.


"Amam??" tanya Kyrs seolah tidak percaya.


Gienka menganggukkan kepalanya, ya Ibu mertuanya ternyata menghubunginya melalui panggilan video. "Bagaimana ini sayang, aku takut nanti yang ada malah terjadi kepanikan di sana kalau kita mengatakan apa yang terjadi pada lexia."


"Katakan saja kalau Amam bertanya di mana Lexia tapi jangan katakan tentang kondisinya, maksudku kau sedang memeriksakan Lexia di rumah sakit dan leksia nya demam saja."


Gienka melakukan kepalanya dan mengerti maksud dari suaminya itu. Gienka mengangkat panggilan video ibu mertuanya itu. "Hai mam?" sapa Gienka.


"Hai sayang, selamat pagi. Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Cahya.


"Tidak sedang melakukan apapun mam."


"Pasti kau sudah sarapan dan suamimu juga pergi ke kantor ya? Dimana cucu Amam? Kangen sekali."


Gienka melirik ke arah Kyros. Suaminya itu menganggukkan kepalanya. "Eh sekarang kami sedang di rumah sakit Mam, memeriksakan Lexia, Akan tahu kan beberapa hari ini Lexia sedang flu dan batuk, jadi kami kembali memeriksakannya di rumah sakit karena tidak ada perubahan dengan kondisi Lexia."


"Di rumah sakit???"


"Iya Mam, hanya periksa saja."


"Kalau begitu dimana Lexia? Kau ada bersamanya?"


"Dia ada bersama Ky di dalam."


"Lexia rewel dan ingin bersama Ky sejak semalam. Jadi Ky juga meminta cuti hari ini, dia tidak ke kantor." Gienka memejamkan matanya memohon ampun kepada Tuhan karena terpaksa membohongi mertuanya agar mertuanya tidak panik. Gienka tahu bagaimana keluarganya dan mertuanya. Jika mengetahui Lexia opname tentu mereka akan panik dan bisa-bisa semuanya akan datang kesini karena khawatir.


"Baiklah kalau begitu, kabari Amam kalau Lexia selesai di periksa. Semoga cucu Amam baik-baik saja."


"Iya Mam, nanti aku akan memberitahu Amam mengenai kondisi Lexia."


"Ya sudah, kau fokus saja dulu ke Lexia ya? Salam untuk suamimu." Cahya kemudian mengakhiri panggilan videonya.


Gienka mengernyit, dan perasaan bersalah muncul di benaknya. Dia membohongi mertuanya. Dan Gienka tidak tahu sampai kapan akan berbohong mengenai kondisi Lexia. "Sampai kapan???" gumamnya dengan sedih.


Kyros mendekati istrinya. "Kita pasti akan memberitahu mereka yang sebenarnya tetapi tidak untuk sekarang. Kita pastikan kondisi Lexia stabil dulu supaya mereka tidak terlalu panik." Kyros menghela Gienka ke dalam pelukannya. Saat ini dia sendiri masih merasa bingung dan mencoba menerka apa yang terjadi pada Lexia. Kyros sendiri butuh waktu untuk bisa memberitahu yang sebenarnya kepada orang tua dan juga mertuanya.


****


Keesokan harinya.


Vicky bangun tidur. Dia semalam.baru sampai di Boston setelah penerbangannya yang hampir 24 jam dari Singapura. Vicky pun langsung ke kamarnya untuk tidur. Dan sekarang sudah jam 9 pagi. Dia terlambat tetapi tentu tidak masalah. Dan besok baru akan kembali beraktifitas di kantor. Pertunangannya dengan Ciara sudah di lakukan, dan bahkan tanggal pernikahannya juga sudah di tentukan. Vicky sudah tidak sabar menantikan hari itu.


Setelah mandi, Vicky turun untuk sarapan di ruang makan yang ada di lantai satu rumahnya. Tampak rumahnya lengang, mungkin kakaknya sudah pergi ke kantor. Vicky sendiri belum menghubungi Garviil sejak dia berada di Singapura hingga semalam. Vicky tahu suasana hati kakaknya sedang tidak baik karena Kakaknya terus menolak dengan rencanannya u ntuk menikahi Ciara. Tetapi tentu Vicky sudah memikirkan semuanya dengan baik. Dan seharusnya Garviil bisa mendukungnya untuk rencana ini sayangnya Kakaknya masih tidak setuju. Tetapi Vicky sudah tidak lagi bisa mundur. Semua harus dia jalankan sesuai dengan rencananya.


"Kakak sudah berangkat ke kantor ya??? Apa dia menanyakan ku?" Tanya Vicky pada salah seorang asisten rumah tangganya yang kebetulan memang berasal dari Indonesia.


"Mas Garviil belum pulang," jawabnya.


Vicky mengernyit. "Belum pulang??? Maksudmu dia menginap di cafe?" tanya Vicky.


"Bukan mas, tapi mas Garviil belum pulang dari Washington dc."


"Belum pulang dari Dc? Kenapa? Bukankah dia hanya disana saat weekend saja?"


"Kurang tahu mas, mas Garviil juga tidak menghubungi kami. Mungkin memang akan disana selama beberapa hari."


"Aneh? Tidak biasanya. Ya sudah nanti aku akan menghubunginya, buatkan aku jus stroberi, aku sedang menginginkannya." Vicky mengambil ponselnya dan mencari kontak kakaknya lalu menghubunginya. Dalam beberapa kali deringan, panggilan Vicky di angkat.


"Ya," ucap Garviil dengan suara ketus.


Vicky mengernyit dan terkekeh, Kakaknya masih marah dengannya. "Aku sudah sampai di rumah semalam dan ternyata kau tidak ada disini. Kau masih di Dc ya? Masih belum puas menikmati harimu dengan Geffie sampai kau malas pulang ke Boston?"


"Kembalilah ke kantor dan gantikan aku disana untuk beberapa hari. Lexia sedang sakit dan di rawat di rumah sakit, aku harus menemani Geffie di rumah, tidak tega meninggalkannya sendirian."


"Lexia sakit??? Sakit apa??? Dan sejak kapan di rumah sakit?" tanya Vicky.


"Lexia terkena RSV, sudah kemarin lusa malam kami membawanya ke rumah sakit, itulah kenapa aku membatalkan niatku kembali ke Boston. Besok ada meeting dengan klien, kau ke kantor dan wakili aku, minta materinya pada sekretaris ku dan pelajari dengan baik, tanyakan apa yang tidak kau mengerti sehingga besok bisa lancar meeting nya."


"RSV? Kasihan sekali Lexia. Baiklah aku akan datang besok ke kantor. Aku pikir kau kenapa-kenapa sampai tidak pulang. Ya sudah, salam untuk Geffie, kak Kyros dan kak Gienka, semoga Lexia cepat pulih."


"Ya, aku akan menyampaikannya."


Panggilan itu langsung di akhiri oleh Garviil meninggalkan senyum kecut Vicky. Terdengar jelas suara kakaknya yang ketis, dan mematikan telepon begitu saja. Mungkin Garviil tidak inginendengarkan ceria Vicky saat di Singapura. Tapi tidak apa, Vicky mencoba memahami kakaknya dan membiarkan Kakaknya itu marah kepadanya. Kakaknya terlalu mengkhawatirkammya padahal Vicky sendiri tidak perlu u ntuk di khawatirkan dan tahu apa yang harus di lakukannya. Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk memantik api di tengah rumput kering yang akan menimbulkan kebakaran hebat antara Ciara dan juga Bianca. Vicky tersenyum jahat dan mulai memainkan ponselnya untuk memulai rencananya. Vicky yakin hanya dalam waktu kurang dari satu jam, kobaran itu akan membesar.