
)))((((
Keesokan harinya, Victor yang sedang duduk di ruangannya di kantor pusat kedatangan tamu. Tamu yang sudah sangat di tunggunya. Seorang lelaki yang sangat tampan, dan juga sahabatnya.
"What did you call me here Viil????" Tanya seorang laki-laki pada Victor, tetapi dia memanggil Victor dengan panggilan Garviil. Menanyakan kenapa sahabatnya itu memanggilnya kesini.
"It's been a while since we've met, and I wanted to ask for your help." Ucap Victor. Sudah lama mereka tidak bertemu, Victor juga ingin meminta bantuan sahabatnya itu.
"What kind of help?" Tanya laki-laki bernama Paul itu.
"You must know that I'm engaged to Bianca." Ucap Victor. Paul pasti tahu bahwa dia sudah bertunangan dengan Bianca.
"Aah yeah, that girlfriend of yours who can't walk now, huh????" Tanya Paul. Mempejelas bahwa apa yang di maksud kekasih Victor adalah yang sekarang tidak bisa berjalan itu.
"Yes, I want to do something for her and I want you to help me. I want you to seduce her." Victor menjelaskan jika dia ingin melakukan sesuatu pada Bianca dan dia ingin Paul membantunya. Victor ingin Paul untuk merayu Bianca.
Paul mangernyit. "I seduced Bianca??? How do you mean???" Tanyanya pada Victor.
"Yes, I want you to approach her, flirt with her, seduce her, basically I want her to turn away from me and then leave me but what I mean is that after you succeed in doing that, you can also leave her right away. I want you to seduce her, something like that." Victor ingin Paul mendekatinya, menggodanya, merayunya, intinya Victor ingin Bianca berpaling darinya lalu meninggalkannya tapi maksudnya adalah setelah Paul berhasil melakukan itu, Paul juga bisa langsung meninggalkannya.
"So you're going to ask me to seduce her later????" Paul menatap Victor sambil tersenyum manis.
Victor menganggukkan kepala nya. "You're the only one I trust to do it." Victor percaya bahwa Paul satu-satunya orang yang dia percaya bisa melakukannya.
Paul tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "You're probably the only person in the world who asks her best friend to woo her fiancé." Ujar Paul. Mungkin di dunia ini, hanya Victor lah satu-satunya orang yang meminta sahabatnya untuk merayu tunangannya.
Tatapan Paul berubah serius. "Are you sure this will work? Bianca seems to love you very much and she's already going to marry you. It's possible that she's very loyal to you and hard to seduce???" Paul bertanya pada Victor apakah Vicor yakin ini akan berhasil karena Bianca kelihatannya sangat mencintai Victor dan dia sudah akan menikah dengan Victor. Paul berpikir mungkin saja Bianca sangat setia kepada Victor dan akan susah dirayu.
Mata Victor bersinar dingin dan kejam."Bianca already betrayed me once because I didn't pay her enough attention. I'm sure he'll do it again if she gets the chance." Bianca sudah pernah mengkhianati Victor sekali karena Victor kurang memberinya perhatian. Victor yakin Bianca akan melakukannya lagi kalau ada kesempatan.
"I don't understand. How is your way of thinking Viil, you're telling me that kind of thing???" Paul tidak mengerti Bagaimana jalan pikiran Victor, dan sahabatnya itu memberitahu semacam itu kepadanya.
"I have to do this. You must know that my love for Bianca is completely non-existent, it was all lost when she betrayed me. Then how can I still live with her let alone in a marriage, it won't be possible?" Victor menjelaskan jika dia harus melakukan ini. Dan Paul pasti tahu bahwa cinta Victor untuk Bianca sudah benar-benar tidak ada sama sekali, semuanya pupus dan hilang begitu saja ketika dulu Bianca menghianati nya. Lalu bagaimana bisa dia tetap hidup bersama Bianca apalagi dalam sebuah pernikahan, itu tidak akan bisa.
"You were wrong too Viil, I mean. Why did you make such a big decision to continue your engagement. Even though she's paralyzed but it's not entirely your fault and I think she's wrong for saying that at the wrong time first, when you were driving a car and the atmosphere was also raining at that time then the accident happened. You should have thought about every decision you were going to make, whether it was bad or good, instead you decided something because you felt responsible for what happened to Bianca, everyone was against you but you didn't care about them." Ujar Paul. Paul menyalahkan Victor kenapa dulu sahabatnya itu mengambil keputusan yang besar seperti itu untuk tetap melanjutkan pertunangannya dengan Bianca. Walaupun Bianca lumpuh tetapi tidak sepenuhnya itu adalah kesalahan Victor dan Paul rasa Victor salah karena telah mengatakan itu di saat yang tidak tepat, di saat Victor sedang mengendarai mobil dan suasananya juga sedang hujan lalu kecelakaan itu terjadi. Victor dulu juga harusnya memikirkan Setiap keputusan yang akan dia ambil dipikirkan baik-baik entah itu buruknya entah itu baiknya, bukan malah memutuskan sesuatu karena Victor merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Bianca, semua orang sudah menentangnya tetapi Victor tidak mempedulikan mereka.
"I also regret why I could make such a decision, but the rice has become porridge, I of course regret it very much but isn't regret always behind and now I feel that I can't continue all this, so I really hope that you can help me break away from Bianca. You just need to seduce her and I want to prove whether she can really betray me again or not. if it has been proven then we will both leave her together and I will no longer take full responsibility for her, I can also have a strong reason to stop this marriage." Victor menyesal kenapa dia bisa mengambil keputusan seperti itu, akan tetapi nasi sudah menjadi bubur, dia tentu saja sangat menyesalinya tetapi Bukankah Penyesalan selalu ada di belakang dan sekarang Victor merasa bahwa dia tidak bisa melanjutkan semua ini, jadi dia berharap sekali pada Paul untuk bisa membantunya melepaskan diri dari Bianca. Paul hanya perlu merayunya dan Victor ingin membuktikan Apakah Bianca benar-benar bisa menghianatinya lagi atau tidak, jika itu sudah terbukti maka mereka berdua akan sama-sama meninggalkannya dan Victor tidak akan mengambil tanggung jawab lagi sepenuhnya kepada Bianca. Dia juga punya alasan yang kuat untuk menghentikan pernikahan ini.
Paul terdiam sesaat memandang wajah Victor. Ia juga merasa kasihan kepada sahabatnya itu karena Victor
"Okay. Well, I'll give it a try." Gumam Paul, dia akan mencoba nya besok.
Victor pun mengucapkan terima kasih kepada Paul. Dan besok dia memang akan pergi ke Washington DC, dia akan menemani Aire untuk mengunjungi kakaknya dan itu akan jadi kesempatan untuknya bisa menghindari Bianca yang mengajaknya ke butik untuk mengukur gaun pernikahan yang akan digunakan Bianca nanti saat mereka menikah. Tentu saja Victor ingin menghindari Bianca dan dia ingin fokus kepada Aire saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
)))((((
Keesokan harinya
Bianca sedang duduk di dalam mobil, dalam perjalanan menuju butik langganannya, dan merenung. Ini semakin lama semakin menakutkan. Keluarganya sudah mulai mempersiapkan semuanya terutama menyangkut gaun pengantinnya. Karena selain hal itu, untuk masalah persiapan pesta seperti dekorasi, gedung, catering, dan lain-lain mereka tidak akan perlu mencemaskannya. Keluarga Victor memiliki beberapa jaringan di perusahaannya seperti restoran dan cafe. Lelaki itu tinggal menjentikkan jarinya dan sebuah pesta yang megah pasti akan disiapkan dengan mudah.
Tetapi perasaan Bianca terasa semakin tidak nyaman. Hari demi hari hubungan mereka merenggang, dan semakin dekat ke hari pernikahan mereka, Victor semakin jarang muncul. Lelaki itu kadang hanya membalas pesan singkatnya sekenanya, tidak pernah mengangkat telepon ketika dia mencoba meneleponnya. Dan lelaki itu tidak datang ke rumahnya lagi minggu kemarin.
Kedua orangtuanya juga sering menanyakan kenapa Victor tidak pernah muncul dan dengan senyum palsunya Bianca menjelaskan bahwa semua baik-baik saja, hanya saja Victor memang sedang sangat sibuk. Tetapi Victor tidak pernah seperti ini sebelumnya, dulu meskipun sibuk, lelaki itu selalu menyempatkan menemuinya meskipun sebentar di akhir pekan.
Bianca tahu bahwa Victor mungkin tidak mencintainya lagi. Sejak dia mengaku pengkhianatannya yang dilakukannya dengan John karena begitu haus perhatian dari Victor, yang membuatnya terjerumus terlalu jauh lalu hamil, cinta itu sudah musnah di mata Victor. Tatapan Victor kepanya sudah berbeda, datar dan tanpa perasaan meskipun laki-laki itu selalu bersikap lembut kepadanya.
Tetapi Bianca bisa dibilang sangat mensyukuri kecelakaan itu, kecelakaan yang membuatnya di diagnosa tidak akan bisa berjalan lagi. Yang membuat Victor sangat menyesal dan pada akhirnya memutuskan untuk bertanggung jawab kepada Bianca.
Ya, Bianca tahu dia memanfaatkan rasa bersalah Victor, tetapi dia mencintai Victor dan tidak bisa membayangkan kalau harus ditinggalkan oleh lelaki itu. Pengkhianatan yang dilakukannya dengan Jhon semata-mata karena pelarian, dia membutuhkan kekasih yang hangat dan penuh kasih sayang, yang selalu ada di dekatnya. Tetapi Victor tidak bisa melakukannya, lelaki itu waktu itu sedang sibuk membangun bisnisnya, sehingga hanya punya waktu sedikit bersamanya. Dan dalam kondisi emosi yang labil, John datang dan semua hal buruk itu pun terjadi. Semua yang Bianca lakukan adalah untuk mengikat Victor supaya bersamanya. Dia bahkan rela bertingkah seperti orang invalid, hanya agar Victor bertahan bersamanya. Kelumpuhan ini adalah satu-satunya pengikatnya dengan Victor, dan Bianca rela kesulitan seperti ini, hanya bisa berjalan ketika dia berada di dalam rumah dan hanya di depan orang-orang yang dipercayanya, semua demi memiliki Victor.
Dia mereemas kedua jemarinya kuat-kuat, Sebentar lagi... desahnya dalam hati. Dia hanya perlu bersabar sebentar lagi dan Victor akan menjadi miliknya sepenuhnya. Dia akan menjadi istri Victor dan lelaki itu tidak akan punya alasan untuk tidak memperhatikannya.
⧫⧫⧫
Butik itu cukup ramai, milik seorang desainer baju pernikahan yang sangat terkenal. Supir Bianca mendorong kursi rodanya memasuki butik itu. Bianca sudah membuat janji dengan Michael atau sering meminta namanya di ubah menjadi Michele, sang perancang sekaligus pemilik butik itu.
"Hi beauty...???" Michael langsung menyapanya ketika supirnya mendorong kursi rodanya memasuki ruangan Michael. Bianca memberikan isyarat kepada supirnya untuk menunggu nya di luar.
"Hi Michele, have you received my message for the description of my wedding dress???" Tanya Bianca. Apakah Michele sudah menerima pesanku untuk deskripsi gaun pengantin nya.
"Already darling.." Michael mengedipkan sebelah matanya
"What a very specific description, you want your dress to be studded with expensive and glittering crystals huh? It's a good thing your fiancé is rich. So you can ask for any dress you want, I will measure your body first, then I will apply it to several designs and then you just have to choose which one." Michael memuji Bianca, sungguh deskripsi yang sangat spesfik, Bianca ingin gaunnya bertaburan dengan kristal yang mahal dan berkilauan. Untung saja tunangan Bianca kaya. Jadi Bianca bisa meminta gaun apapun yang di inginkanny. Michael akan mengukur dulu badan Bianca baru setelah itu dia akan menerapkan ke beberapa desain dan nanti Bianca tinggal memilih yang mana. Michael melirik ke arah pintu. "By the way, your handsome fiancé didn't drive you???" Tanya nya pada Bianca, kemana tunangan Bianca yang tampan itu tidak mengantarnya kesini.
"He's busy." Gumam Bianca sambil lalu. “I want this dress to be the best, Michele, it has to be the most beautiful and the most gorgeous... This will be my first and only wedding." Bianca ingin gaun ini yang terbaik, harus yang paling indah dan paling cantik... Ini akan menjadi pernikahan yang pertama dan satu-satunya untuknya.
"Of course, darling." Michael terkekeh, lalu menyuruh pegawainya untuk mengukur badan Bianca.
Tentu saja mereka kesulitan karena Bianca berada di kursi roda dan tidak bisa berdiri. Bianca sendiri merasa gemas karena sebenarnya dia bisa berdiri, tetapi dia tidak bisa melakukannya, karena semua sandiwara nya bisa ketahuan.
"Maybe we should measure your body when Garviil is able to come with you, dear." Ucap Michael. Mungkin mereka harus mengukur tubuh Bianca kalau Garviil atau Victor sudah bisa datang bersama nya. Michael menatap Bianca dengan menyesal, dia juga laki-laki tapi tubuhnya ramping dan gemulai jadi dia tidak bisa membantu Bianca supaya punya tumpuan untuk berdiri. Sementara itu kebanyakan pegawainya adalah perempuan. "So Garviil can help you to stand." Jadi Victor atau Garviil bisa membantu nya untuk berdiri.
"Maybe I can help." Sebuah suara yang maskulin dan begitu dalam muncul dari pintu, membuat Bianca dan Michael menoleh bersamaan. Di pintu itu berdiri seorang lelaki yang amat sangat tampan. Lelaki itu mungkin bisa membantu Bianca untuk Berdiri. Dia sangat tampan sekali. Darah asing sudah jelas mendominasi penampilannya, lelaki itu tinggi, sempurna dengan rambut cokelat muda keemasan, dan setelan tiga potong yang dijahit sempurna, menempel ketat dan seksi ke tubuhnya.
Michael lah yang kemudian memecah suasana, dia berteriak kegirangan dan hampir melompat mendekati lelaki itu. "Oh my gosh! Paul, are you back from New York???" Tanya Michael. Ternyata Paul sudah pulang dari New York.
Lelaki tampan hanya tersenyum tenang, tampak sedikit geli menghadapi kehebohan Michael yang menyambutnya. Dia melirik ke arah Bianca dan menganggukkan kepalanya dengan sopan ke arah Bianca, membuat Bianca menyadari bahwa dia telah terpesona kepada lelaki itu. Memang Victor tampan dan tetap nomor satu baginya, tetapi Victor sangat jarang tersenyum, sedangkan lelaki ini, dia begitu murah senyum dan tampak sangat tulus secerah matahari,
"It looks like you and this lady are having some trouble. Perhaps I can help." Ucap Paul. Dia melihat sepertinya Michael dan nona itu menghadapi masalah. Mungkin dia bisa membantu mereka.
Michael melirik Bianca masih tersenyum lebar. "This is Paul, he's one of the investors in our boutique and salon. Do you mind Bianca if Paul helps you???" Tanya Michael pada Bianca. Memberitahu jika Paul adalah salah satu investor butik dan salon nya. Michael menanyakan pada Bianca apakah dia tidak keberatan kalau Paul membantunya.
Siapa yang tidak keberatan kalau dibantu berdiri oleh lelaki setampan itu??? Bianca berpikir bahwa kadang-kadang berpura-pura lumpuh ada untungnya juga.
"Bianca wants to make a beautiful wedding dress, Paul. We're going to measure her dress." Ucap Michael memberitahu Paul jika Bianca ingin membuat gaun pernikahan yang indah. Mereka sedang akan mengukur gaunnya.
Paul melemparkan pandangan dalam ke arah Bianca. "Too bad you're getting married, I envy that lucky guy." Gumam Paul penuh arti membuat pipi Bianca merona. Mengatakan jika sayang sekali Bianca ternyata sudah akan menikah, Paul merasa iri sekali kepada lelaki beruntung itu.
Michael menepuk pundak Paul sambil tertawa. "Don't you tease Bianca, Paul. She's already got a fiancé and is getting married, maybe you can turn your sights on another girl." Michael mengingatkan Paul agar jangan merayu Bianca. Karena Dia sudah punya tunangan dan akan menikah, mungkin Paul bisa mengalihkan sasarannya kepada gadis lain.
Paul tampak tidak mempedulikan perkataan Michael, dia masih memandang tajam ke arah Bianca. Ia lalu mendekat dan mengulurkan tangannya lembut,
"I'll help you up, excuse me." Bisiknya lembut di dekat telinga Bianca. Paul meminta maaf dan akan membantu Bianca berdiri. "Here, put your hands on my shoulders." Paul meminta Bianca meletakkan tangannya di pundaknya.
Bianca merasakan jantungnya berdebar keras, aroma maskulin itu langsung melingkupinya, membuatnya bergetar.
Dengan tangannya yang kuat, Paul menarik Bianca berdiri, lalu menopang pinggangnya. Tangan Bianca berpegangan erat ke pundak Paul, lalu melingkarkan lengannya di sana, sementara itu dia berakting sekuat tenaga untuk melemaskan kakinya, menumpukan beban tubuhnya di pundak Paul.
"Well wait a minute, we'll measure it." Para pegawai Michael mulai mengukur. Proses itu cukup singkat. Dan kemudian setelah Michael selesai, Paul mendudukkan Bianca lagi di kursi rodanya dengan lembut. Lelaki itu menyelipkan kartu namanya yang bernuansa hitam dan keemasan di jemari Bianca,
"Contact me, anytime. I'll gladly drop all my business for you." Bisiknya pelan, lalu berdiri tegak, mengatakan sesuatu tentang pekerjaan kepada Michael, kemudian melambaikan tangannya dan melangkah pergi. Paul meminta Bianca agar menghubungi nya kapanpun itu. Paul akan dengan senang hati membuang semua urusannya demi Bianca.
Sementara itu Bianca masih menggenggam erat-erat kartu nama di tangannya itu dengan terpesona.
⧫⧫⧫
”
)))((((
Gienka dan keluarga Kyros sampai di Washington DC. Mereka pulang ke rumah Gienka dan Kyros disana, sekaligus membawa semua barang dan pakaian kedua nya untuk di simpan disana. Mereka akan tinggal selama beberapa hari sampai Kyros berangkat. Kyros akan berangkat besok, jika tidak ada halangan atau cuaca buruk, karena keberangkatan itu bisa saja di batalkan dengan alasan cuaca atau hal lainnya. Dan itu sudah biasa terjadi.
Gienka masuk ke kamarnya. Kamar yang sudah lama dia tinggalkan. Ketika memasuki nya, kenangannya pun melayang dimana dia dan Kyros menghabiskan banyak waktu disini. Obrolan mereka sebelum tidur, obrolan saat pagi sebelum berangkat bekerja, menemani Kyros bekerja hingga menemani lelaki itu melihat-lihat langit malam melalui teleskop. Gienka jadi merindukan semua itu.
Sebelum beristirahat, Gienka akan membersihkan kamarnya sekaligus mengganti sprei dan bed covernya. Dia selalu melakukan itu setelah kembali ke tempat yang sudah lama dia tinggalkan.
"Gienka sayang....!!!" Panggil Cahya saat dia melihat Gienka sedang membuka lemari. "Boleh Amam masuk???" Tanya Cahya.
Gienka tersenyum. "Tentu saja Mam, silakan masuk..!!"
"Kau ingin mengganti sprei dan bed cover mu??? Amam bantu ya???? Kamarnya juga berdebu, Chika sedang mengambil vacum Cleaner, Axel juga akan membawa koper milik Ky dan milikmu.."
"Tidak usah Mam, Gie bisa sendiri kok mengganti sprei nya, Gie juga bisa membersihkan kamar Gie sendiri, Amam istirahat saja.. "
"Tidak apa, kamarmu luas, kau yang terlihat tidak begitu sehat, jadi Amam akan membantumu, kau harus istirahat, jangan sampai sakit.."
Gienka tersenyum. "Amam jangan berlebihan memikirkan aku, aku baik-baik saja Mam... "
"Ambil bed cover dan sprei nya, Amam akan melepaskan yang ada di tempat tidurmu... "
Gienka mengangguk dan dia mengambil sprei serta bed cover di dalam lemari. Sedangkan Cahya membuka satu persatu sarung bantal, juga melepaskan bed cover dan sprei yang ada di tempat tidur. Tak lama Axel masuk dan membawa koper milik Gienka juga Kyros bersama dengan Adri. Chika juga membawa dua vacum Cleaner otomatis dan menyalakannya membiarkan dia benda itu membersihkan kamar ini.
"Geffie akan datang jam berapa???" Tanya Cahya pada Gienka.
"Sore nanti Mam, dia seperti nya sudah Bersiap.. "
"Baguslah, rumah akan semakin ramai nanti...!!!" Cahya mulai membantu menantu nya itu mengganti sprei. "Setelah ini kau langsung istirahat saja, atau mandi dulu, kau pucat sekali butuh banyak istirahat, jangan sampai nanti Ky menghubungimu dan wajahmu seperti ini, istirahat yang nyaman ya??? Ingat kau tidak boleh sakit.. "
Iya Mam.. "
"Dan pakaianmu di koper, bisa kita urus nanti atau besok, jadi setelah ini full untuk istirahat saja.. "
Gienka mengangguk sambil memasukkan bantal ke sarungnya satu persatu. Sampai akhirnya mereka selesai juga, dan vacum Cleaner otomatis sedang bekerja untuk membersihkan kamar Gienka.
Semua sudah rapi, Cahya pun menyuruh Gienka beristirahat, lalu meninggalkan menantu nya itu. Gienka duduk di tepi tempat tidurnya. Termenung untuk beberapa saat sembari memutar pandangannya ke sekeliling kamarnya. Tiba-tiba Gienka tersenyum sendiri, dan dia membuka laci meje sebelah tempat tidur. Disana dia mengambil sesuatu yang ternyata itu adalah foto Kyros. Senyum Gienka tersungging di bibirnya, memandangi foto foto itu, Kyros begitu tampan. Bagi Gienka tidak ada yang bisa menandingi ketampanan suami nya itu. Kyros juga sangat manis sekali.
Pintu kamar Gienka terbuka pelan dari luar. "Onty.... Onty....!!!" Langkah mungil Athan memasuki kamar Gienka membuat Gienka teralihkan dari memandang foto Kyros. Dia tersenyum dan meminta Athan mendekat kepada nya.
"Ya sayang??? Kemarilah????" Pintar Gienka. Athan berlari dan mendekat ke Gienka. Gienka kemudian mengangkatnya dan menduduk kan ya ke atas tempat tidur. Bocah itu sudah membawa sebotol susu di tangannya.
"Aku mau tidur dengan onty, boleh????" Tanya nya dengan suara gemas.
"Tentu saja boleh, onty juga ingin tidur, bagaimana kalau sekarang Athan tidur dengan Onty.. Mau??"
"Mau... "
Gienka tersenyum, lalu melepaskan sepatu yang di pakai keponakannya itu. Gienka membaringkan Athan begitu juga dengannya yang ikut berbalik, menarik selimut dan membalas kepala Athan dengan lembut.
"Onty, aku mau dengar cerita...!!" pintar Athan....
"Ya... " Athan mengangguk.
"Oke... Dengarkan baik-baik, judulnya adalah The Koala and the Kangaroo.. "
"Koala, aku suka Koala, Kanguru, aku pernah melihat Kanguru.. " Ucap Athan.
Gienka kembali tersenyum. "Dengarkan ya??? " Pintar Gienka.
"On the first sunny day of summer, Lilu the grey and cute koala, and Della he jumpy and brown kangaroo had a nice sip at the cool, blue river. 'Hey, Lulu. Do you want to go on a race?" asked Dea. "Okay," said Lilu with a certain feeling she would lose. So they ran the race and of course, fast Della won and Lilu was right for once. About an hour later Della shouted at the top of her voice, "Let's see who can touch the top of that tree first". "Okay, but only if you don't cheat," said Lilu. "I promise," said Della. Because Lilu was so determined, she climbed to the top faster than Della could run. Lilu was so happy that she closed her eyes while she jumped down the tree saying "Yippy!".,. " Gienka tersenyum. "The End... " Lanjutnya lagi. Dia senang sekali memberikan cerita kepada Athan sebelum tidur, karena Athan sangat menyukai dongeng sederhana dan Athan juga suka dengan dongeng berbahasa Inggris. Bocah itu sudah sangat cerdas dan mengerti dengan apa yang di katakan oleh orang tua nya.
Tak lama Athan akhirnya tidur, begitu juga dengan Gienka. Mereka tidur sampai sore hari.
Victor menjemput Aire di apartemennya untuk berangkat menuju bandara karena mereka hari ini akan ke Washington DC untuk bertemu dengan kakak Aire kemarin Victor memberitahu Aire bahwa dia ingin ikut dan mengantarnya tentu saja Aire sangat terkejut sekali. Akan tetapi Victor memaksa sekaligus mengatakan bahwa dia ingin liburan juga akhirnya pun mengizinkannya.
Victor merasa senang sekali karena Paul sudah mau membantunya dan hari ini Paul juga sudah mulai menjalankan rencananya. Victor ingin segera untuk bisa meninggalkan Bianca sehingga dia bisa fokus dengan Aire saja dan Victor juga bisa lebih dekat lagi dengan Aire, sehingga hubungan mereka bisa masuk ke dalam hubungan yang lebih serius lagi. Aire bisa menerimanya sepenuhnya menjadi kekasihnya dan mereka bisa resmi berpacaran. Victor sudah benar-benar cinta pada Aire yakin akhirnya yang terbaik untuknya.
Sebenarnya Victor sendiri hanya ingin membuktikan Apakah Bianca bisa mengKhianatinya lagi untuk kedua kalinya, jika itu terbukti tentu Victor akan bisa menggunakan alasan itu untuk meninggalkan Bianca.
Victor ingin ikut Aire pergi ke Washington DC, lebih kepada Victor tidak bisa jauh dari Aire dan Victor juga ingin bisa lebih dekat lagi dengan Aire serta ingin berkenalan dengan kakak Aire, juga ini adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk bisa membuktikan pada Aire bahwa dia memang benar-benar layak untuk gadis itu.
Victor mengetuk pintu apartemen Aire dan dengan senyum cantiknya Aire menyambutnya. "Kau sudah siap tanya Victor??"
"Ya tentu saja, kita pergi sekarang."
"Oke, kita pergi sekarang, mana kopermu??? Biar aku yang membawanya." Victor masuk dan melihat koper Aire sudah berada di lantai. Victor pun mengambilnya dan membawanya turun bersama dengan perempuan itu.
Sampai di bawah Victor pun memasukkannya ke dalam bagasi mobil dan mereka langsung menuju bandara.
"Kau kenapa tiba-tiba ingin ikut??" Tanya Aire.
"Karena aku merasa bosan dan lagi pula tidak ada pekerjaan yang terlalu penting di kantor, aku juga ingin refreshing pergi ke Washington DC. Tidak ada salahnya kan???"
"Ya tidak ada sih, tapi kan aku hanya dua hari saja karena kakak juga harus langsung kembali ke Indonesia kan???"
"Iya tidak ada masalah, yang penting kan kita bisa lebih dekat lagi, bisa mengobrol banyak, aku bisa mengenalmu lebih banyak lagi, begitu juga sebaliknya supaya kau semakin yakin kalau aku benar-benar mencintaimu."
Aire melirik ke arah Victor sambil tersenyum. "Itu hanya alasanmu saja pasti.."
Victor terkekeh. Victor kembali teringat mengenai keluarga Aire yang sebelumnya ia lihat di sosial media sebenarnya Victor merasa canggung mendapati kenyataan bahwa ternyata Aire bukanlah gadis yang biasa saja dan Aire ternyata adalah putri dari seorang konglomerat yang luar biasa kaya raya.
Akan tetapi Victor menyadari bahwa dia juga tidak seburuk itu untuk bisa bersanding dengan Aire. Ya seperti kata Vicky bahwa Victor tidak perlu merasa canggung karena Victor sendiri sudah memiliki perusahaan dan juga Victor saat ini memimpin perusahaan yang diberikan oleh orang tuanya sehingga Victor tidak perlu merasa rendah diri karena Victor punya sesuatu yang bisa dilihat oleh orang tua Aire, dan orang lain pun tidak akan mempermasalahkannya tidak akan menganggapnya memanfaatkan kekayaan yang dimiliki oleh Aire dan keluarganya.
"Aku kemarin juga menonton live streaming keberangkatan roket yang akan membawa Kakak iparmu."
"Oh ya??? apakah kau tertarik itu."
"Ya sesuatu hal yang cukup bagus dan entah kenapa aku merasa bangga juga karena aku dekat dengan adik ipar dari Astronot muda yang luar biasa."
"Kau bisa saja, kau tahu aku kemarin tidak berhenti berdoa ketika Aku menontonnya aku berharap semuanya berjalan dengan lancar dan tidak ada masalah. Tapi aku bersyukur karena semuanya berjalan sesuai dengan keinginan banyak orang kakak iparku berangkat dengan selamat dan mungkin sudah sampai ke tempatnya bekerja."
"Ya tentu. Semua orang pasti merasa deg-degan, aku juga tentu saja berdoa untuk kelancarannya."
"Ya seperti yang kau tahu, banyak sekali roket yang meledak saat akan berangkat atau ketika sudah naik ke langit. Dan aku sangat takut, aku rasa ketakutanku juga cukup beralasan dan Kakakku juga sepertinya mengkhawatirkan hal itu tetapi semuanya sudah berjalan dengan lancar, aku merasa lega sekali."
"Ya mungkin bukan hanya kau saja, tapi semua orang juga merasa senang karena berhasil. Oh iya boleh aku tanya sesuatu???"
Aire menpleh menatap Victor. "Tanya apa???"
"Kemarin aku penasaran, jadinya aku mencari sosial mediamu."
"Mencari sosial media ku???"
"Ya Aku mencari namamu tetapi tidak menemukannya tetapi kemudian aku menemukan akunmu tetapi anehnya akun itu bukan bernama Aire tetapi bernama Geffie."
Aire pun tersenyum. "Haaa iya ya, akun sosial media ku memang bernama Geffie karena sebenarnya Nama panggilanku Geffie. Seluruh keluargaku memanggil aku dengan nama itu, hanya saja di sini yang pemula memanggilku Aire adalah Tiffany jadi kebanyakan orang di sini memanggilku Aire tapi Jujur aku lebih suka dipanggil Geffie sebenarnya. Tapi tidak masalah karena Aire juga kan nama panjangku."
"Itu dia yang aku maksud. Jadi kau lebih suka di Panggil Geffie daripada Aire???"
"Ya begitulah tetapi apapun itu dua-duanya adalah namaku, aku tidak mempermasalahkannya."
"Kalau aku juga memanggilmu Geffie, apa kau tidak mempermasalahkannya."
Aire tersenyum. "Tidak masalah, kalau kau ingin memanggil aku seperti itu malah lebih bagus."
"Oke aku akan memanggilmu Geffie mulai saat ini dan apa kau tahu kalau aku juga sebenarnya punya nama panggilan lain dan aku ingin kau memanggil aku seperti yang lainnya."
"Jadi kau punya nama lain juga???"
Victor terkekeh. "Bukan nama lain seperti halnya namamu. Namaku adalah Victor Garviil Ivander dan orang tuaku keluargaku serta teman-temanku memanggilku Garviil."
"Lalu kenapa kau memperkenalkan dirimu sebagai Victor. Kenapa tidak langsung Garviil saja??"
"Ya mungkin sama seperti denganmu, beberapa temanku di sini juga memanggilku Victor."
"Lalu Vicky??? Apa dia juga punya nama lain???"
Victor terkeren. Tentu saja tidak, Vicky tetap Vicky, sejak kecil memang dipanggil Vicky. Jadi sekarang aku kan memanggilmu Geffie. Bagaimana kalau kau juga memanggilku dengan nama Garviil nama awalan kita kan sama-sama G."
"Apa aku harus memanggilmu Garviil???"
"Tentu saja kan keluarga dan teman-temanku juga memanggilku dengan nama itu seperti halnya dirimu, jadi apa salahnya kau mau kan memanggilku Garviil."
"Oke baiklah kalau itu yang kau inginkan."
"Oke mulai sekarang pulang kita akan Memanggil nama itu tidak nama yang kemarin lagi."
"Baiklah Aire tersenyum."
...
Sampailah mereka di bandara
Setelah mengurus semuanya, Geffie dan Garviil pun duduk untuk menunggu pesawat mereka. Perjalanan akan ditempuh sekitar kurang lebih satu setengah jam dari Boston ke Washington DC. Geffie mengambil ponselnya dan dia akan menghubungi kakaknya untuk memberitahu jika dia sebentar lagi akan berangkat. Tadi Geffie juga sudah diberitahu oleh kakaknya jika kakaknya itu sudah berada di Washington DC.
"Hai Kak???"
"Iya hai, bagaimana kau sudah berangkat???" Tanya Gienka di seberang telepon.
"Ya sekitar 30 menit lagi, aku sudah ada di bandara."
"Baguslah kalau kau sudah ada di bandara. Apa kau ingin dijemput??? nanti biar Axel yang menjemputmu???"
"Tidak perlu kak. Kalian juga pasti baru sampai butuh istirahat nanti aku naik taksi saja. Kakak istirahat saja ya di rumah???"
"Ya sudah, kalau kau tidak mau dijemput, safe flight ya???"
"Iya Kak, Kakak sedang apa???"
"Kakak tadi tidur dengan Athan tapi terbangun karena kau menghubungi kakak."
"Aah sorry sorry sorry ya sudah mengganggu Kakak lagi tidur lagi, ya nanti kalau aku sudah sampai di Washington aku akan hubungi kakak lagi."
"Ya nanti jangan lupa menghubungi, tadi Amam juga sudah menyiapkan kamar untukmu, pokoknya beres."
"Oke. Ya sudah Kakak tidur lagi ya. Aku tutup dulu bye, I love you Kak Gienka."
"Love you too...."
Geffie kemudian mengakhiri panggilannya. Dan Dia memasukkan lagi ponselnya ke dalam tasnya, dia tersenyum ketika Garviil memandanginya. Geffie sebenarnya tidak tahu harus menjelaskan apa kepada kakaknya nanti jika dia datang bersama dengan Garviil. Geffie sebenarnya merasa canggung dan sedikit tidak nyaman tetapi dia juga tidak bisa menolak keinginan Garviil untuk ikut lelaki itu juga sepertinya ingin sekali ikut bersamanya mungkin karena di Boston sangat menguras kesibukannya, sehingga Garviil juga butuh liburan. Ya Tidak ada salahnya juga Garviil ikut dengannya.
"Bagaimana????" tanya Garviil.
"Kakak sudah sampai di rumahnya dan tadi dia sedang tidur aku jadi tidak enak mengganggunya."
"Kau nanti pulang saja, aku akan mencari hotel di dekat tempat tinggal kakakmu, aku jadi merasa tidak enak karena kalau harus menginap di sana."
"Tidak apa-apa, di sana ada banyak kamar, kebetulan rumah kakak ku cukup besar dan Di sana juga ada keluarga mertua kakakku, jadi suasananya juga ramai. Percuma dong kau ikut aku, tapi kau tidak menginap di rumah kakakku."
"Tapi ini benar kan tidak apa-apa???"
"Tidak sama sekali kok, keluarga mertua Kakakku juga sangat baik, mereka ramah dan menyenangkan orang-orangnya. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun."
Garviil tersenyum. "Lalu orang tua mu tidak ikut juga???"
Geffie menggelengkan kepalanya. "Tidak, Papa saat ini sedang sibuk di kantornya, lagi pula Kakak juga sudah dijemput mertuanya jadi mereka tidak ikut, tapi tentu nanti kalau kakak pulang mereka akan langsung menyambutnya."
Garviil kembali tersenyum. "Keluarga Kalian pasti sangat menyenangkan sekali dan kalian saling menyayangi."
"Ya itu benar kami tumbuh di keluarga yang saling mendukung satu sama lain dan kami juga bersahabat sejak lama, orang tua kami sudah bersahabat dengan mertuanya Kak Gienka sejak lama, saling mengenal baik bahkan kami sebagai anak-anaknya juga bersahabat dengan baik, ada juga beberapa diantara kami yang saling jatuh cinta juga, jadi hubungan ini bukan hanya sekedar hubungan persahabatan saja tetapi juga kekeluargaan."
Garviil menganggukkan, kepalanya dia tahu bahwa baik Geffie ataupun mertua kakaknya Geffie adalah orang-orang yang hebat, orang-orang besar dan punya pengaruh yang luar biasa di tempat tinggalnya, tetapi mereka juga terlihat sebagai keluarga yang bersahaja dan tidak tampak angkuh sama sekali dan itulah yang seharusnya banyak dilakukan oleh orang-orang kaya tetap bersikap ramah kepada semua orang.
"Tetapi Bolehkah aku bertanya sesuatu???" Tanya Garviil.
"Tentang apa???"
"Kau Berbeda ibu dengan kakakmu, tapi Sebelumnya aku minta maaf jika aku menanyakan ini karena aku masih bingung, tetapi aku Aku juga pernah mendengar ceritamu bahwa Mamanya kakakmu menikah dengan kakaknya Papamu kenapa bisa seperti itu dan hubungan kalian sepertinya sangat harmonis???"
Geffie tersenyum. "Ya ceritanya sebenarnya sangat panjang sekali,Papa bercerai dengan Mamanya Kakak. Dan saat itu sedang hamil Kak Gienka dan Papa tidak tahu. Lalu setelah bercerai, Mamanya Kak Gienka dekat dengan Kakaknya Papa dan Tapi saat itu Papa Danist dan Papaku tidak tahu jika mereka bersaudara, pokoknya cerita nya sangat rumit terjadi di keluarga kami ketika itu, lalu setelah Kak Gienka lahir, Papa Danst menikah dengan Mamanya Kak Gienka dan mereka juga punya Kak Friddie, setelah itu barulah Papaku menikah dengan Mamaku dan punya aku." Geffie tersenyum kecut. "Pokoknya permasalahan Keluargaku itu sangat kompleks dan cukup panjang untuk dijelaskan. Ya intinya seperti itulah. Dulu Papaku tidak tahu kalau dia punya seorang kakak karena kakekku tidak hanya menikahi satu orang saja maksudnya dia pernah bercerai dengan istri pertamanya lalu menikah dengan nenekku jadi lahirlah Papa sedangkan dengan istri pertama lahirlah Papa Danist."
"Oh jadi seperti itu, ya aku mengerti maksudnya."
"Apa kau Sempat berpikir bahwa mungkin ada perselingkuhan yang dilakukan oleh mamanya Kak Ginka ya???"
"Yah tidak seperti itu, sorry sorry aku kalau aku harus bertanya seperti ini."
"Tidak apa-apa, tetapi mungkin orang yang tidak tahu akan berpikir seperti itu padahal sebenarnya tidak sama sekali, mamanya Kak Gienka adalah perempuan yang sangat baik dan juga sangat penuh kasih sayang, dan keluarga kami tetap harmonis sampai saat ini."