
IZ
"Dia mantan kekasihku." Aire melirik gelisah ke arah Victor, setelah dia berada di dalam mobil dan Victor melajutkan mobilnya. Aire baru menyadari bahwa dia telah begitu saja masuk ke dalam mobil seorang lelaki yang bahkan hampir sama sekali tidak dikenalnya.
Victor melirik sedikit ke arah Aire, ekspresi wajahnya tidak bisa ditebak. "Mantan?" tanyanya tenang.
Aire menganggukkan kepalanya, "Ya, hubungan kami tidak berjalan sebaik semestinya. Aku memutuskan hubungan dan rupanya dia masih belum terima." Aire menatap ke pinggir jalan, "Bisakah aku turun di depan sana???"
Victor mengernyit, "Kenapa harus turun di depan sana???"
Dan kenapa pula aku tidak boleh turun??? Aire membatin, lagipula dia tidak tahu mobil ini akan dibawa kemana oleh Victor. Dia harus tetap waspada meskipun Victor tampaknya baik dan tidak berniat jahat kepadanya.
"Aku hendak ke supermarket berbelanja bahan makanan, dari perempatan itu aku tinggal naik bus satu arah ke sana." Aire berkata jujur, dia memang hendak naik bus ke supermarket itu, sebelumnya sebelum insiden Mike yang mencegatnya di jalan tadi.
"Aku akan mengantarmu." Dengan tangkas Victor membelokkan mobilnya ke arah tikungan yang dimaksud Aire.
Victor mengernyitkan keningnya, penampilan Victor seperti orang yang akan berangkat kerja, dia sangat rapi dengan jas dan dasi yang terpasang di badannya. Apakah selain memiliki cafe lelaki ini juga bekerja kantoran? Batinnya dalam hati.
"Kau tidak berangkat bekerja???" Tanya Aire. Akhirnya Aire memberanikan diri untuk bertanya.
Victor terkekeh, "Aku bisa datang semauku." Gumamnya misterius, membuat Aire terdiam dan menebak-nebak.
Mobil lalu berhenti di parkiran supermarket itu, Aire membuka pintu dan turun dengan segera.
"Terima kasih sudah mengantarku, dan terima kasih sudah menyelamatkanku dari Mike." Gumamnya pelan.
Victor menatap Aire dengan tatapan aneh yang sangat dalam, tidak bisa ditebak apa artinya, lalu lelaki itu tersenyum lembut. "Sama-sama Aire." Suaranya terdengar lembut dan menggetarkan. Lalu Victor memutar mobilnya dan keluar dari parkiran itu, diiringi tatapan bingung Aire.
**
Dia tidak bisa berhenti memikirkan lelaki itu.
Bahkan sekarang di saat dia sudah di rumah dan sibuk memasukkan barang belanjaannya ke dalam kulkas. Ingatan tentang Victor, dan wajahnya terngiang-ngiang terus di benaknya.
Aire berusaha melupakan Victor dengan cara mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Mike sekaligus mengingatkan dirinya sendiri bahwa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk tertarik kepada lelaki baru. Tetapi benaknya tidak mau berkompromi. Seolah ada sesuatu yang menariknya, membuatnya selalu teringat kepada Victor.
Malam itu Aire berjalan dengan was-was menyeberang dari arah apartemennya menuju Cafe. Dia mengintip ke seluruh jalanan tetapi tidak melihat keberadaan Mike ataupun mobil blue metalic nya, dengan lega dia menarik napas. Mungkin Mike telah menyerah untuk sementara. Aire lalu memasuki pintu cafe itu. Seperti biasa, Andro yang sedang ada di dekat bar menyambutnya,
"Another glass of wine Miss Aire???" sapanya ramah, menawarkan segelas anggur pada Aire.
Sani mengangguk dan tersenyum lembut,
"Yes, please... Thanks Andro" dia butuh segelas anggur itu untuk membantunya tidur. Tidur dan melupakan semua hal yang ada di dunia nyata. Ketika dia melangkah menuju tempatnya di sudut, dia hampir bertabrakan dengan sosok lelaki yang tiba-tiba melintas cepat di sana.
"Oh. Sorry" Ada senyum di suara lelaki itu. "I didn't see you, you were so tiny.." Ucap lelaki itu, mengatakan bahwa dia tidak melihat Aire karena Aire begitu mungil menurutnya.
Aire mendongakkan kepalanya, dan ternganga. Lelaki itu amat sangat mirip dengan Victor bagaikan pinang dibelah dua. Tetapi meskipun begitu Aire tahu kalau lelaki ini bukan Victor, penampilan mereka berdua yang pasti sangat berbeda. Lelaki yang ada di depannya ini berambut setengah panjang sampai menyapu kerahnya, sementara Victor berpotongan rapi. Gaya berpakaiannya pun sangat bertolak belakang, Aire ingat ketika bertemu Victor di malam hari waktu itu, dia mengenakan celana khaki yang formal dan sweater panjang yang membungkus tubuhnya bagaikan model yang elegan. Sementara lelaki yang ada di depannya ini mengenakan celana jeans yang sangat pudar hingga hampir putih dan kaos longgar yang sedikit kusut.
Vicky menatap Aire yang masih termangu meneliti dirinya lalu tergelak, "You must think I'm Garviil???" Vicky mencoba menebak apa yang ada di pikiran Aire. Perempouan pasti mengira dia adalah Garviil atau Victor. Hanya saja Vicky belum tahu jika Victor tidak menggunakan nama Garviil saat berkenalan dengan Aire. Vicky menebak lucu lalu mengulurkan tangannya, "Kenalkan aku Vicky, saudara kembar Garviil."
"Garviil???" Tanya Aire bingung. "What do you mean is Victor???"
Vicky tampak mengernyit tetapi kemudian tersadar bahwa sepertinya kakaknya menggunakan nama tengahnya untuk berkenalan dengan perempuan ini. "Ahhh yes sure, Victor. Victor is Garviil.. Garviil is my favorite nickname for him." Ucap Vicky asal, memberitahu Aire bahwa Garviil adalah nama panggilan kesayangan untuk kakaknya Sebenarnya nama panggilan kakaknya adalah Garviil bukan Victor.
Saudara kembar, pantas saja mereka begitu mirip, batin Aire masih kaget. Lalu dia tergeragap dan menyambut uluran tangan lelaki itu dan menyebutkan namanya. Vicky menggenggam tangannya dengan erat dan bersemangat, berbeda dengan genggaman tangan Victor yang halus dan elegan ketika mereka berkenalan waktu itu.
""Are you Victor's friend????" Vicky menatap Aire dengan menyelidik. Ada nada ingin tahu di dalam suaranya, meskipun lelaki itu tetap tersenyum manis.
Aire menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa disebut teman Victor bukan?. "No, I'm not. I am not Victor's friend. I'm a customer of this cafe." Aire memberitahu jika dia bukan teman Victor tetapipelanggan cafe ini."
Vicky kembali mengernyit tetapi kemudian tersenyum lagi. "Oh. And you know Victor???" Tanya Vicky untuk memastikan. Dia benar-benar curiga pada kakaknya.
Aire menganggukkan kepalanya. ""I know Victor the owner of this cafe, he sometimes greets customer to this cafe, right???" Aire tahu Victor pemilik cafe ini, dan kadang-kadang lelaki itu menyapa pengunjung cafe ini. Aire mencoba mencari jawaban dari Vicky mengenai keramahan Victor pada pengunjung cafe ini.
Vicky menyipitkan matanya. "Greet the customers of this cafe?" Matanya bersinar misterius, mempertanyakan pernyataan Aire mengenai Victor yang menyapa pengunjung cafe ini, seolah tidak percaya. "Maybe..!" Senyumnya mengembang, "Okay I have to go, it was nice meeting you Aire..!!!" Vicky harus pergi, dan dia senang bertemu dengan Aire. Lelaki itu membungkuk hormat dengan gaya menggoda lalu melangkah pergi.
Sementara itu Aire masih mengamati kepergian Vicky dengan dahi mengerut, ketika Andro mendekatinya.
"I see you've already met Mr. Vicky." Gumamnya, mendahului Aire melangkah ke meja Aire yang biasanya, lalu meletakkan anggur dan cemilan pesanan Aire di meja. Andro melihat Aire sudah bertemu dengan Vicky. ""He is Mr. Victor's twin brother, but you can see for yourself that they are polar opposites." Ucap Andro. Menjelaskan pada Aire jika itu adalah saudara kembar Victor, tetapi Aire lihat sendiri mereka sangat bertolak belakang.
Seperti pinang dibelah dua, tetapi sangat bertolak belakang. Aire menyetujui dalam hati.
IE
Kening Aire berkerut ketika mengingat Victor. Lelaki itu tidak tampak di mana-mana. Aire mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu menghela napas panjang.
Ada apa dengan dirinya???? Dia datang ke cafe ini untuk mengetik tugasnya agar segera selesai bukan? Dia datang ke sini bukan untuk bertemu Victor. Dengan cepat Aire membuka laptopnya, lalu mulai mengetik di file yang sudah disiapkannya. Lama setelahnya, Aire menyadari bahwa dia membohongi batinnya sendiri, bahwa dia amat sangat ingin melihat Victor meskipun hanya sedetik saja.
Lelaki itu akhir-akhir ini sudah mengusik hatinya. Dan karena Victor juga dia selamat dari gangguan Mike. Hati Aire terasa begitu nyaman. Dan dia ingin bertemu dan mengobrol lagi dengan Victor.
Lama setelahnya, Aire mulai merasa mengantuk, dan dia beranjak dari kursi tempatnya duduk. Membayar pesanannya tadi. Aire memanggil Andro dan memberikan beberapa lembar uang pada lelaki paruh baya itu.
"You want to go home already?" Tanya Andro pada Aire, apakah dia sudah ingin pulang. Karena tidak biasanya Aire pulang di jam segini.
"Yes Andro, I seem to be getting sleepy, finally your wine has started to react." Aire tersenyum. Dia mengatakan pada Andro jika sepertinya dia sudah mulai mengantuk, akhirnya anggurnya sudah mulai bereaksi.
"That's great if that's the case, thank you for visiting and have a good rest Miss Aire. Good night.." Ucap Andro. Aire mengangguk kemudian berdiri membawa laptopnya dan meninggalkan cafe itu.
***
Ketika Victor sampai di Cafe, sudah menjelang tengah malam, jalanan macet karena malam ini adalah malam libur sehinggaVictor menghabiskan banyak waktunya di jalanan. Dia melangkah masuk ke arah cafe, berharap-harap cemas, ingin menemukan sosok Aire di dalam sana.
Tetapi perempuan itu tidak ada. Victor membatin dalam diam. Menahan kekecewaan di hatinya. Apakah malam ini Aire tidak mengerjakan tugasnya di cafe ini?
Andro yang melihat Victor datang langsung mendekatinya dan tersenyum memahami, "Nona Aire tentu saja datang tadi, dia duduk sebentar lalu pulang. Katanya dia mengantuk, mungkin anggur merah itu mulai bereaksi kepadanya." Andro terkekeh, "Ngomong-ngomong, Nona Aire tadi berkenalan dengan Vicky."
"Aire berkenalan dengan Vicky??? Bagaimana bisa???" Victor terperanjat.
"Vicky tadi pulang tepat pada saat Nona Aire datang, mereka berpapasan."
"Oh." Victor menghela napas panjang, menyembunyikan kecemasannya. Kalau sampai Vicky memperhatikan Aire, dia pasti akan kalah. Selalu begitu, para perempuan lebih menyukai Vicky yang penuh canda dan mempesona daripada dirinya yang serius dan pendiam.
"Aku tidak ingin Vicky bertemu dengan Aire lagi, Andro, apapun caranya." Tiba-tiba dia merasakan firasat itu. Meskipun dirinya dan Vicky bertolak belakang dalam segala hal, tetapi dalam selera wanita mereka sama.
Kalau Vicky tertarik pada perempuan, maka Victor akan mempunyai ketertarikan yang sama. Begitupun tentang Bianca. Bianca dulu tergila-gila kepada Vicky, tetapi karena Vicky tidak pernah serius dengan perempuan, Bianca mengalihkan perhatiannya kepada Victor. Apakah Vicky merasakan getaran yang sama, yang dirasakan olehnya ketika melihat Aire???? Batin Victor bertanya-tanya, mencoba mengusir kecemasan di dalam benaknya.
Sementara itu Andro mengerutkan keningnya sambil mengawasi Victor. "Bagaimana caranya mencegah Vicky bertemu dengan Nona Aire???? Dia bisa datang dan pergi sesuka hatinya."
"Kalau ada Aire di dalam, tahan Vicky dimanapun dia berada. Pokoknya jangan sampai mereka bertemu lagi." Victor bersikeras. Dia lalu memijit dahinya yang mulai berdenyut pusing, "Andro, ku lelah sekali hari ini."
Andro mengangkat alisnya, "Karena melewatkan malam bersama Bianca???" tebaknya dengan tepat, membuat Victor menghela napas panjang, tidak membantah tetapi tidak juga mengiyakan.
"Hai."
Aire menolehkan kepalanya dan mengernyit ketika menemukan Victor sedang berdiri di depan pintu masuk apartemennya, lelaki itu tampaknya sedang menunggunya.
Benarkah? Aire mengernyitkan keningnya.
Aire tersenyum pahit. "Sepertinya dia memutuskan untuk menyerah sementara."
"Apa yang dia lakukan sehingga kau tampak begitu membencinya???"
Airentercenung, kenapa Victor ingin tahu?. "Dia mengkhianatiku. Dengan sangat parah." Suara Aire terdengar serak, selalu begitu setiap dia mengingat Mike "Dan aku tidak bisa memaafkannya."
Victor langsung terkenang akan pengkhianatan yang dilakukan Bianca kepadanya, dia bisa memahami perasaan Aire. Dan merasa Aire lebih beruntung, karena perempuan itu bebas membenci dan meninggalkan, tidak seperti dirinya.
"Tetapi sepertinya dia belum menyerah.???" Gumam Victor kemudian, mengingat bagaimana Mike mencekal lengan Aire dan memaksa untuk berbicara.
Aire tertawa, "Dia memang begitu, tidak pernah mau menerima pendapat orang lain. Tetapi aku akan menunjukkan kepadanya bahwa kali ini dia tidak punya kesempatan lagi.."
"Karena kau seorang pendendam????" Gumam Victor, sambil tersenyum,
"Bukan." Aire menggelengkan kepalanya,. "Karena aku bisa memaafkan, tetapi tidak akan pernah bisa melupakan." Jawab Aire mantap.
Victor tertegun, apakah itu juga yang dia rasakan kepada Bianca?? Bisa memaafkan segala kesalahan Bianca di masa lalunya, tetapi tetap tidak bisa melupakannya.
"Kau mau kemana?" Victor menatap penampilan Aire yang lumayan rapi, dengan celana jeans biru dan kemeja berwarna kuning
Aire mengamati penampilannya sendiri dan tersenyum. "Aku akan ke kampus, bosan di kamar..."
.
"Mau kuantar???" Victor langsung menawarkan.
Aire langsung menggelengkan kepalanya, tidak mungkin dia menerima tawaran kebaikan lelaki itu kepadanya. Meskipun dia bertanya-tanya apa yang dilakukan Victor menunggunya di sini. "Tidak usah, terima kasih. Aku bisa jalan kaki" Senyum Aire berubah lembut.
"Bagaimana kalau tiba-tiba mantan kekasihmu itu muncul lagi dan memaksamu seperti kemarin???" Victor Tersenyum. "Aku ingin memastikan kau baik-baik saja, ayo aku antar dan jangan menolak...!!1 Kau akan aman bersamaku.."
Aire berpikir sejenak. Iya, bagaimana jika di jalan dia justru di ikuti oleh Mike. Tidak ada salahnya Victor mengantarnya. Aire akhirnya menganggukkan kepala nya setuju. Mereka pun berjalan menuju mobil Victor.
Mereka masuk ke dalam mobil milik Victor agar mengantarkan Aire kampusnya yang memang tidak terlalu jauh dari Apartemen. Victor juga pernah berkuliah di kampus yang sama sehingga ia sudah hafal. "Oh iya. Apakah kau akan langsung ke kampus ???Apakah ada mata kuliah pagi ini???" Tanya Victor.
"Tidak ada, hanya saja aku merasa bosan di apartemen, aku ingin ke kampus dan duduk-duduk saja sampai menunggu jam kuliah tiba."
"Memangnya kau ada kelas jam berapa ???" Tanya Victor lagi.
"Sebenarnya siang nanti, ya sekitar jam 01.00."
Victor menoleh. "Kelasmu jam 01.00 dimulai??? Yang benar saja dan ini masih jam 09.00 lalu kau sudah berangkat saja. Apa yang sebenarnya akan kau lakukan sekarang???"
Aire tertawa. "Tidak ada, tadi aku bilang. Aku hanya ingin duduk-duduk saja melamun, daripada aku suntuk di dalam apartemen dan aku juga ingin menikmati waktu istirahat ku pagi ini. Setiap malam aku begadang, berusaha untuk mengerjakan tugas akhir ku jadi ketika siang aku ingin bersantai saja. Kau heran ya???" Tanya Aire.
)))(((
8zr
"Apa kau sudah mendapatkan informasi tentangnya??? Pokoknya cari tahu segala nya tentang dia.. Aku tidak mau tahu?? Alamat sampai tempat kerja nya juga." Victor menutup panggilannya dan menghela napas panjang.
Victor sendiri tidak tahu kenapa dia melakukannya, tetapi ketertarikannya kepada Aire sendiri sungguh sangat mengganggunya. Dia tidak bisa melepaskan Aire dari pikirannya, seluruh batinnya tersita untuk Aire. Gads itu telah mendapatkannya dari pertama kali mereka saling menyapa.
"Dan setelah kau mendapatkan alamat Mike, apa yang akan kau lakukan????" Tanya Andro yan sejak tadi duduk di ruang kerja Victor di atas cafe itu mengernyitkan keningnya. "Menyingkirkannya????" Tanya Andro lagi.
"Mungkin." Mata Victor bersinar tajam. "Aku sudah terbiasa menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalanku." Gumam nya.
"Jalanmu????" Hanya Andro satu-satunya orang yang tahu kekejaman tersembunyi di balik sikap Victor yang tenang dan terkendali. Dan hanya Andro pulalah yang berani membantah dan mempertanyakan semua keputusan Victor. Karena dia tahu jauh di dalam hati Victor, tersimpan kebaikan yang luar biasa besar, bertolak belakang dengan kekejamannya. Buktinya laki-laki itu tidak tega membuang Bianca begitu saja.
"Jalanmu untuk apa Viil??? Untuk memiliki Aire???? Bukankah kau tidak bisa memiliki nya selama masih ada Bianca????" Andro terbiasa memanggil Victor dengan panggilan Garviil karena memang sejak dulu Victor di panggil Garviil oleh keluarga nya, nama Victor sendiri hanya sebagai selingan untuk beberapa alasan.
Ah iya Bianca.
Victor sendiri masih belum tahu apa yang akan dilakukannya kepada Bianca. Apakah terlalu kejam meninggalkan Bianc yang lumpuh dan tidak berdaya seperti itu???.
Tetapi Victor tidak bisa membohongi perasaannya, perasaan yang dirasakannya dengan begitu kuat kepada Aire.
"Akan kupikirkan nanti." Gumam Victor sekenanya.
Andro langsung mengangkat alisnya. "Pernikahanmu dengan Bianca hampir delapan bulan lagi Viil."
"Aku tahu." Dan Victor harus bisa bersikap tegas, menentukan apa yang akan dilakukannya selanjutnya.
Andro sendiri hanya tercenung, dia mencemaskan Victor. Baginya Victor sudah seperti anaknya sendiri karena dia memang tidak punya keluarga lagi. Pada saat Victor memutuskan melanjutkan pertunangannya dengan Bianca waktu itupun Andro sudah tidak setuju. Victor hanya didorong oleh rasa bersalah. Andro takut kalau pada akhirnya Victor bisa menemukan orang yang benar-benar dicintainya, dan dia terlanjut terikat kepada Bianca. Dan sepertinya, apa yang ditakutkannya sudah terjadi.
*****
Kelas sudah selesai, Tiffany beranjak dari kursi nya dan berjalan maju menghampiri Aire yang duduk di depan. Tiffany menyentuh pundak Aire membuat sahabatnya itu menoleh. "I think before we go home we should go to the bazaar, I want to buy some things. You accompany me, okay???" Ucap Tiffany yang ingin mengajak Aire ke bazaar tahunan yang di adakan oleh kampusnya.
Aire langsung menggelengkan kepala nya, dia merasa lelah dan ingin pulang kemudian beristirahat. Ini baru hari pertama dan pasti akan ramai sekali. "No... I'm very tired and want to go home and rest..!" Ujar Aire.
"Oh Aire, come on... You're not doing anything at the apartment either, let's at least have some fun, just for a bit, how could you let me go alone???" Bujuk Tiffany pada Aire. Karena Aire juga tidak melakukan apapun di apartemen, setidaknya mereka harus bersenang-senang sebentar saja, dan masa Aire tega membiarkan nya pergi sendirian.
"I'm so tired and need to sleep, how about we go tomorrow???" Aire sangat lelah dan dia butuh tidur. Sehingga dia mengusulkan akan menemani Tiffany besok saja.
"I want it now, tomorrow I can't Re."Tiffany tetap tidak mau jika besok karena besok dia ada urusan dan tetap memaksa mengajak hari ini.
"Well, the day after tomorrow then. I'm really tired.." Aire pun kembali mengusulkan agar mereka pergi lusa saja jika besok Tiffany tidak bisa. Karena dia benar-benar lelah sekali.
Tiffany menangkupkan kedua telpak tangannya di depan Aire. "Come on, please... .... I always accompany you everywhere, why don't you accompany me to the bazaar?? It's not far from here Re.." Tiffany pun terus memohon pada Aire dan kali ini dia memilih mengungkit bahwa dia selalu menemani Aire saat Aire pergi kemana-mana, dan masa Aire tidak mau menemani nya ke bazaar yang tidak jauh dari tempat ini.
Melihat wajah memelas Tiffany, Aire pun tidak tega. Dia setuju dan akan menemani sahabatnya itu dengan catatan tidak terlalu lama. Tiffany mengangguk bersemangat dan dia janji tidak akan berlama-lama. Mereka beranjak dari kursi dan keluar dari kelas kemudian pergi ke bazaar itu.
Aire menoleh ke arah Tiffany yang sedang asyik memilih-milih hiasan rumit dari kerang di bazaar yang di adakan di dekat kampusnya.
"You're not done yet???" tanya Aire pada Tiffany apakah sahabatnya itu sudah selesai atau belum, karena kakinya mulai kelelahan, mereka berjalan begitu jauh mengelilingi seluruh area bazaar yang sangat luas. Tiffany mengajaknya ke tempat ini sepulang dari kampus tadi. Dan itu adalah sebuah kesalahan besar, karena begitu berbelanja, sepertinya Tiffany tidak bisa berhenti.
""I still want to see the clothes over there." Tiffany menunjuk sudut yang jauh, dia masih ingin melihat pakaian di sebelah sana. "Just now when we passed by, I glanced at one outfit that had a funny color." Ucapnya lagi. Tadi ketika mereka lewat, dia melirik ada satu baju yang warnanya lucu.
Aire mengernyit ketika membayangkan harus berjalan lagi ke arah sana. "Why didn't you stop when we passed that way????" Protes Aire. Karena kenapa Tiffany tadi tidak berhenti ketika mereka lewat sana.
Tiffany tampaknya tidak memahami kelelahan Aire. "I was still unsure whether I wanted it or not." Ucapnya, tadi dia masih ragu apakah dia menginginkannya atau tidak.
Matanya tertuju pada gelang kerang yang dicobanya. "Now I've decided that I want it."Sekarang dia memutuskan bahwa dia menginginkannya. Tiffany menyerahkan gelang yang dipilihnya kepada penjualnya. Lalu menunggu gelang itu dibungkus dan kemudian dia membayarnya. Setelah itu dia setengah menggandeng Aire ke arah lokasi penjual baju yang dimaksudkannya. "C'mon." Gumamnya bersemangat.
Dengan menyeret langkah, Aire mengikuti Tiffany yang berjalan begitu cepat dan bersemangat. Kakinya sakit, dan dia sedikit oleng ketika menembus keramaian itu. Seseorang sepertinya tanpa sengaja mendorongnya sehingga tubuhnya tergeser ke samping, menabrak seseorang.
"Ups. Sorry" Gumam suara itu, sebuah tangan yang kuat menopangnya. Aire mengenali suara itu dan dia mendongakkan kepalanya. "It seems like you're destined to always bump into me." Ucap lelaki itu pada Aire sembari melempar senyum. Dia mengatakan jika sepetinya Aire ditakdirkan untuk selalu menabraknya.
Wajah Vicky yang ada di depan Aire dan lelaki itu tersenyum geli menatapnya.
"Vicky???" Tanya Aire.
"Yupz it's me." Vicky terkekeh. "What are you doing here???" Tanya Vicky pada Aire tentang apa yang di lakukan Aire disini.
"I took my friend." Jawab Aire menjelaskan jika dia mengantar temannya, kemudian Aire mendongakkan kepalanya, mencoba mencari tetapi Tiffany sepertinya sudah ditelan keramaian jauh di depannya, "And it looks like she's gone." Gumam Aire, mendesah kesal. Karena sepertinya Tiffany sudah hilang.