
"Kau sepertinya sudah memikirkannya dengan baik." Geffie tersenyum.
"Karena aku juga memikirkan Papa Iel." Garviil menutup laptopnya dan beranjak dari kursi. "Aku akan mandi sekarang."
"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu di bathtub, kau bilang ingin berendam air hangat, jadi sudah aku isi, mungkin sudah hampir penuh. Aku akan memeriksa nya lagi." Geffie juga berdiri dari sofa dan pergi ke kamar mandi di ikuti oleh Garviil.
Geffie mengecek bathtub, dan air nya memang sudah hampir penuh. Dia lalu menuangkan minyak mawar ke dalam bathtub itu.
Garviil tersenyum, mengagumi kecantikan istrinya di bawah sinar lampu kamar mandi yang temaram.
Kamar mandi itu luas, dengan bathtub-nya yang sangat besar, muat untuk dua orang. Tetapi Garviil dan Geffie belum pernah mencoba melakukannya, berendam berdua karena mereka terlalu sibuk setelah kepulangan mereka. Nuansanya hitam dan putih. Di dominasi oleh marmer hitam dengan semburat abstark keputihan di seluruh ruangan, selain itu semua perabotnya berwarna putih bersih, menciptakan kekontrasan sendiri yang sangat indah. Tetapi Garviil tidak peduli dengan suasana kamar mandinya, baginya yang paling indah adalah istrinya. istrinya yang cantik, Geffienya yang luar biasa. Yang sekarang berdiri dengan gaun putih sederhana yang melambai di betisnya, membuatnya tampak seperti dewi yang turun dari langit dan mempunyai kekuatan untuk menghilangkan semua kelelahan Garviil.
"Kemarilah" Garviil mengulurkan tangannya, "Aku ingin memelukmu."
Geffie tersenyum dan menerima uluran tangan Garviil, membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Garviil memeluknya dengan erat kemudian mengangkat dagu Geffie dan mengecupnya lembut.
"Apakah kau suka aku peluk seperti ini???" Tanya Garviil.
"Sangat." Geffie tersenyum, "Aku sangat menyukai nya." Jemarinya menelusuri wajah Garviil yang tampan dengan lembut. "Di peluk laki-laki yang sangat aku cintai adalah hal yang membahagiakan."
Garviil meraih jemari Geffie dan mengecupnya lembut. "Terima kasih sudah mau menjadi istriku."
Geffie tersenyum. "Terima kasih juga sudah menjadi suamiku."
"Istriku yang cantik dan sangat mengaiirahkan."
"Garviil." Geffie berseru, mencela kata-kata Garviil yang vuIgar. Membuat Garviil terkekeh, dikecupnya pucuk hidung Geffie dan dihelanya masuk ke kamar mandi. Lelaki itu menatap bathtub dengan air hangat yang tampak menggoda,
"Ayo, ikut mandi bersamaku,"
"Tetapi aku sudah mandi."
Tatapan Garviil kepada Geffie sangatlah sensuaI, melumerkan Geffie sampai meleleh. "Mandi bersamaku akan lebih bersih, Aku akan membantu menggosok punggungmu, dan membersihkan tempat manapun yang susah kau jangkau sendirian." Dengan menggoda lelaki itu melepaskan tshirt nya, membuangnya ke lantai kamar mandi, ceIananya menyusul kemudian. Membuatnya teIanjang bulat dengan tubuh kokoh dan otot yang keras di tempat-tempat yang pas, dibalut warna kuIit putih yang indah.
"Ikut???" Garviil mengulurkan tangannya lagi dan Geffie menerimanya, membiarkan Garviil menelanjanginya dan mengajaknya masuk ke bathtub.
Lelaki itu bersandar di kepala bathtub dan menarik Geffie ke pangkuannya. Geffie bersandar dengan nyaman di daa'da Garviil yang bidang. Seluruh punggung dan bagian belakang tubuhnya menempel dengan seluruh bagian depan tubuh Garviil, mereka berendam dengan nyaman, aroma minyak aromaterapi mawar mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan air hangat yang merendam tubuh mereka.
****
Sementara itu di tempat lain
"Mr. Vicky???" Panggil Ciara. Dia baru saja selesai meeting dengan tim nya dan juga tim perusahaan Vicky dan Garviil.
Vicky yang hendak keluar kantor pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dia tersenyum pada Ciara. "Ya, apa ada yang bisa saya bantu???" Tanya Vicky.
Ciara tersenyum, menghapiri Vicky. "Sebagai ungkapan terima kasih saya kepada anda atas bantuan anda tadi malam, saya ingin mengundang anda makan malam nanti di restoran yang ada di hotel tempat saya menginap. Eh tapi jika anda tidak keberatan atau jika ada tidask ada kegiatan di malam nanti. Saya ingin menjamu anda." Ucap Ciara.
Vicky terdiam untuk beberapa saat, kemudian tersenyum. "Saya tidak ada rencana apapun malam ini." Ucapnya.
"Kalau begitu apa anda bisa datang dan makan malam bersama saya???"
"Baiklah, saya akan datang."
Ciara tersenyum. "Saya akan menunggu anda jam 8 malam nanti."
"Oke, saya akan datang tepat jam 8 malam."
"Terima kasih atas kesediaan anda. Kalau begitu saya permisi." Ciara menyalami Vicky kemudian berpamitan dan meninggalkan ruangan meeting itu.
Vicky tersenyum memandangi kepergian Ciara. Tidak menyangka jika perempuan itu mengundangnya untuk makan malam bersama. Ini kesempatan yang bagus untuknya. dan tentu saja undangan makan malam ini adalah undangan pribadi di luar pekerjaan. Vicky menjadi semakin bersemangat lagi.
Ciara sudah menjalankan rencana nya sesuai keinginan Bianca. Dan dia lagi-lagi harus menghadapi Vicky malam ini, dan kaki ini ada langkah lain yang ahrus dia lakukan untuk mulai menjebak Vicky ke dalam pesona nya. Ciara harus bisa berlakon dengan baik dan menepiskan segala ketakutannya terhadap laki-laki, bahkan dia harus juga bersikap sedikit agresif untuk menarik Vicky.