
"Ppa kenapa mengajak Garviil tidur dengan Papa??? Meman apa yang Papa rencanakan???" Tanya Geffie pada Ariel sekaligus memprotes Papa nya itu.
"Tadi kan Papa bilang kalau Papa ingin mengobrol dengannya, memang kenapa tidak boleh kan Papa ingin lebih mengenalnya lebih dekat lagi??? Kau sendiri bagaimana Viil, mau pindah ke kamar yang sama dengan om??" Tanya Ariel pada Garviil.
Garviil terdiam dan mengarahkan pandangannya ke Ariel berganti ke Geffie, dia bingung harus mengiyakan atau menolak keinginan Ariel karena jika ia mengiyakan tentu ia pasti akan banyak ditanyai oleh Ariel. Tetapi jika dia menolak bisa-bisa dia gagal mendapatkan Restu Ariel untuk bisa berhubungan dengan Geffie. Garfield benar-benar bingung harus memilih yang mana dan lebih baik Sepertinya dia menerima tawaran Ariel itu atau jika tidak bisa-bisa Ariel menyuruh Geffie untuk menjauhinya. Garviil sudah merasa yakin sekali dengan cintanya pada Geffie. " Iya Om, tidak masalah malam ini aku akan pindah kamar." Ucap Garviil akhirnya.
.
"Sudah kau tidak perlu pindah kamar. Tetaplah di kamar yang sekarang kau tempati." Geffie memandang jengkel ke arah Ariel. "apa sih Papa, ada-ada saja masa Orang disuruh pindah kamar dan disuruh menemani mengobrol. Sudah jangan dengarkan Papa." Sahut Geffie dengan kesal.
Garviil tersenyum. "Tidak apa-apa, lagi pula tidak ada masalah jika aku harus menemani Om Ariel mengobrol, benar juga Kata Om Ariel supaya kami bisa lebih akrab. Aku juga ingin lebih akrab dengannya."
"Nah begitu dong, bagus, jadi malam ini kau akan menemani Om dan satu kamar dengan om." Sela Ariel kemudian ia melanjutkan menyuapkan makanan ke mulutnya meninggalkan wajah masam dari Geffie.
Geffie benar-benar merasa kesal sekali kepada Papanya. Dan entah apa yang sedang direncanakan oleh Papa nya itu, kenapa harus mengajak Garviil tidur ke kamar Geffie merasa khawatir takut Papanya akan menghujani Garviil dengan berbagai pertanyaan yang justru akan menyulitkan Garviil. Papa nya bisa saja mengganggu hubungan mereka.
"Tapi sebenarnya apa yang Papa inginkan?? Geffie sama sekali tidak mengerti itu." Geffie memprotes Apa yang dilakukan oleh Ariel.
"Sudahlah tidak apa-apa dek, kalau memang Papa butuh teman untuk mengobrol dan dia mengajak Garviil ya biarkan saja." Sahut Ginka.
"Seorang mertua harus tahu calon dari putrinya itu, apakah memang pantas atau tidak menjadi menantunya dan menjadi pasangan dari putrinya itu." Sela Aditya. "Dulu Uncle juga mengetes keseriusan dari Axel, mempertimbangkan apakah dia layak atau tidak untuk menjadi menantu Uncle. Jadi wajar juga jika Papamu melakukan hal seperti itu dan kau jangan iri Geff pada kakakmu, karena dulu Gienka dan Kyros tidak punya banyak waktu untuk berpacaran dan mereka Langsung memutuskan menikah jadi Ariel juga tidak punya waktu untuk memborbardir Kyros dengan berbagai ujian pertanyaan atau hal semacamnya selain itu juga karena Ariel sudah mengenal Kyros dengan baik sehingga mungkin Ariel sudah sangat mempercayai Kyro, nah kalau dengan Garviil, Ariel belum begitu mengenalnya sehingga dia butuh waktu untuk mengenalnya lebih dekat lagi."
"Ya tidak begitu juga Dit, tapi ya benar juga." Sela Ariel dengan cepat.
Semua orang saling melempar pandangan dan tersenyum dan mereka mencoba memaklumi. Mereka juga berharap bahwa Ariel tidak akan terlalu menekan Garviil dan berharap Ariel menyukai pribadi Garviil yang memang terlihat sebagai orang yang baik. Lagi pula usia Geffie saat ini juga masih sangat muda sehingga untuk pembicaraan hal yang serius tentang hubungannya dengan Garviil sepertinya masih lama karena memang usia Garviil sendiri sudah di atas 27 tahun sedangkan Geffie baru memasuki usia 23 tahun sehingga pembicaraan dengan serius hubungan yang serius sepertinya tidak akan dibicarakan untuk saat ini oleh Ariel.
Gienka meletakkan baby Lexia di box bayinya. Bayi itu sudah tertidur dengan lelapnya setelah perutnya kenyang terisi oleh air susu dan baby Lexia akan tidur dengan sangat nyenyak sekali jika dia sudah merasa kenyang.
"Menurutmu apa yang akan Papa lakukan dengan mengajak Garviil tidur bersamanya???" Gienka berbalik badan dan mendekati Kyros yang tadi berdiri di belakangnya.
"Aku tidak tahu tetapi pasti Papa sedang merencanakan sesuatu dan aku juga percaya sih bahwa Papa mungkin ingin lebih mengenal dekat Garviil."
"Itu memang benar dan apa kau lihat betapa jengkelnya Geffie tadi.?"
Kyros tersenyum dan memeluk istrinya. "Geffie memang terlihat jengkel tetapi sebenarnya aku bisa melihat kekhawatiran di matanya, wajar sekali dia pasti khawatir. Takutnya Papa akan melakukan sesuatu atau mungkin bertanya banyak pada Garviil."
"Tapi kadang Papa Iel seperti itu, selalu membuat penasaran dan juga selalu mengkhawatirkan, Dia selalu saja ada ide yang keluar dari otak cerdasnya itu."
"Aku juga jadi kasihan denganku Geffie. Dia benar-benar terlihat khawatir sekali tetapi kita pun tidak akan bisa membantunya, apalagi langsung berurusan dengan Papa Iel."
"Ya semoga tidak terjadi apa-apa seperti apa yang kita khawatirkan, lagi pula usia Geffie juga masih muda, rasanya kalau mau bicarakan hal yang serius juga tidak mungkin. Papa pasti juga memikirkan hal itu." Gumam Gienka.
"Iya kau benar, pasti Papa hanya ingin mengobrol biasa saja."
"Semoga saja... Semua nya baik-baik saja." Gumam Gienka.
***
Garviil masuk ke dalam kamar Ariel. Terlihat Papa dari kekasihnya itu sedang sibuk menatap layar laptopnya. Garviil mengucapkan permisi sebelum masuk dan Ariel mempersilahkannya. Ariel menutup laptopny dan menyuruh Garviil duduk di sofa. Ariel baranjak dari kursi kerja nya dan duduk bersama Garviil.
"Tidak Om, saya bisa tidur dimana saja." Jawab Garviil.
"Sudah berapa lama kau pacaran dengan putriku????"
"Sekitar setengah tahun Om. " Jawab Garviil
"Bagaimana kau bisa mengenalnya???"
"Eh itu, saya memiliki sebuah cafe, dan Geffie sering datang ke cafe saya itu, dari sana kami berkenalan dan berteman."
"Lalu????"
"Kami berpacaran."
"Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya selama berpacaran???" Ariel mulai menelisik.
"Tidak ada Om, hubungan kami seperti orang berpacaran pada umumnya. Saya tahu Geffie punya prinsip yang kuat dan dia memegangnya dengan baik, dan saya juga demikian. Saya di ajarkan untuk menghormati perempuan dan tidak memperlakukan mereka dengan buruk apalagi sampai melakukan hal di luar batas norma dan kesopanan. Om biaa tanya sendiri pada Geffie." Garviil tersenyum.
"Lalu berapa usiamu sekarang???"
"27 Om."
"27 tahun????" Tanya Ariel memastikan dan Garviil menganggukkan kepala nya. "Kenapa memilih putriku???? Usia nya masih sangat mudah dan terpaut 4 tahun denganmu, apa kau ingin memanfaatkan nya???"
"Ah tidak sama sekali Om. Saya memang menyukai pribadi Geffie yang ceria dan menyenangkan. Dan Mama saya juga sangat menyukai Geffie."
"Mama mu menyukai Geffie??? Apa mereka pernah bertemu???"
Garviil kembali mengangguk. "Pernah Om, saat itu Geffie datang ke rumah untuk takziah, karena Oma saya meninggal dunia dan dia bertemu dengan Mama, mereka terkadang jiga berkomunikasi by phone."
"Lalu Papamu??? Apa dia juga sudah bertemu Geffie???"
Kali ini Garviil menggelengkan kepala nya
"Belum Om, tapi Papa tahu kalau saya punya kekasih dan Papa sekedar tahu nama nya saja yaitu Geffie, kalau dengan Mama ya Mama tahu. Saat Geffie datang ke rumah, kebetulan Papa sedang pergi keluar jadi tidak bertemu dengan Geffie."
"And then, hubungan kalian sudah sejauh apa??? Sampai kau mengenalkan Gefgie kepada Mama mu."
"Saya sudah pernah berbicara dengan Geffie untuk mengajaknya serius, dan dia setuju, hanya saja memang saya belum ada kesempatan untuk bertemu dengan Om dan Tante. Dan saya juga berencana untuk berkenalan dengan kalian saat acara wisuda Geffie tetapi saya pulang ke Indonesia karena Oma saya sakit dan saya harus segera pulang, jadi niat itu tidak tercapai." Ujar Garviil.
"Kau berniat serius dengannya???"
Garviil menganggukkan kepala nya. "aiya Om, dna jika boleh saya ingin meminta ijjn kepada Om agar saya di ijinkan untuk menikah dengan Geffie secepatnya."
Sontak mendengar itu, Ariel terlonjak dan menatap Garviol tajam. "Apa kau bilang.....?????" Seru Ariel dengan mata menahan tampak marah dengan apa yanv baru saja di katakan oleh Garvill.