Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Aku bertemu Gadis Itued



4bg


Vicky tertawa. "That's how it is when you walk in the annual bazaar. It's always like this every year, always crowded." Ujarnya. Begini lah kalau sedang berjalan di baazar tahunan. Keadaannya selalu seperti ini setiap tahun, selalu ramai.


Aire masih menatap ke arah kepergian Tiffany. Berharap bahwa sahabat itu akhirnya menyadari bahwa mereka terpisah dan kemudian kembali untuk mencarinya.


"And you.??? What are you doing here???" tanyanya kepada Vicky kemudian ketika menyadari bahwa laki-laki itu tidak berniat untuk pergi.


"Me???" Vicky tertawa. Lelaki ini benar-benar ceria dan banyak tertawa, jauh berbeda dengan Victor. Gumam Aire dalam hati. "I'm a free man, I heard there was a crowd here so I came to see, that's all." Dia lelaki bebas, dan mendengar jika di sini ada keramaian jadi dia datang untuk melihatnya.


"Aire...!" itu teriakan Tiffany, perempuan itu akhirnya menyadari bahwa dia terpisah jauh dari Aire. Dia sedang berjuang menembus keramaian untuk menghampiri Aire yang sudah menepi bersama Vicky  di dekat stan sepatu.


Akhirnya Tiffany berhasil mendekatinya, napasnya terengah-engah, "Fyuh... It's so crowded there, we can't even bargain comfortably...." Tiffany mengeluh karena suasana ramai sekali di sana, mereka bahkan tidak bisa menawar dengan nyaman. Lalu Tiffany tertegun. Menyadari lelaki luar biasa tampan yang sedang berdiri bersama Aire, mulutnya bahkan ternganga.


"Hay.." Vicky tersenyum ramah, sepertinya lelaki itu sudah biasa dipandang dengan tatapan kagum oleh para perempuan, "I'm Vicky, I'm Aire's acquaintance.." Gumamnya mengulurkan tangannya memperkenalkan diri bahwa dia adalah Vicky kenalan Aire.


Tiffany membalas uluran tangan itu seolah terhipnotis, matanya menatap terpesona pada Vicky. Lelaki itu hanya melemparkan tatapan geli kepada Aire, lalu melangkah menjauh.


"Looks like you've found your friend." Ditepuknya pundak Aire dengan akrab. Aire sepertinya sudah menemukan temannya. "Next time be careful." Gumamnya lalu melambaikan tangan dan melangkah pergi meninggalkan Aire dan Tiffany.


Mata Tiffany bahkan terpaku sampai Vicky menghilang dari pandangan matanya.


"Wow..." dia menatap terpesona, lalu menoleh kepada Aire dengan pandangan menuduh. "Tell me where you found such a handsome man. He said, he's an acquaintance of yours, right???" Tanya Tiffany meminta Aire mengatakan padanya di mana kah sahabatnya itu menemukan lelaki setampan itu. Dan lelaki itu bilang bahwa dia kenalan Aire.


Aire terkekeh melihat betapa tertariknya Tiffany kepada Vicky. "He's the twin brother of the cafe owner I told you about." Jawab Aire menjelaska bahwa laki-laki tadi adalah saudara kembar pemilik cafe yang dia ceritakan kepada Tiffany.


"That handsome and there are two of them???" Tanya Tiffany tidak percaya. Setampan itu dan ada dua orang.


Tiffany terperangah, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Great Aire, I who have lived and been born here have never been lucky to find a man with such perfect physical appearance and smile. And you've only been here a few  years, you're already acquainted with two handsome men." Tiffany memuji Aire. Dia yang sudah tinggal dan lahir disini belum pernah beruntung menemukan lelaki dengan penampilan fisik dan senyuman sesempurna itu. Sementara Aire baru empat tahun disini, dia sudah berkenalan dengan dua laki-laki tampan.


Aire tertawa tergelak, "Ah you're exaggerating." Ucap Aire pada Tiffany yang berlebihan memuji Vicky. Dia menatap cemas ke sekeliling yang mulai ramai. "Let's just go home, I'm tired." Lanjut Aire mengajak Tiffany pulang karena dia merasa lelah sekali. Untunglah Kali ini Tiffany tidak menolak.


*****


Dan benar saja, Vicky langsung melemparkan pertanyaan yang sama sekali tidak disukai oleh Victor.


"Apakah dia alasan kau tidak pernah pulang ke rumahmu lagi dan selalu menginap di sini???" Tanya Vicky menyelidik.


Victor memasang wajah keras. "Apa maksudmu???" Tanya nya pada sang Adik.


"Yah. Kau bertingkah di luar kebiasaanmu, para pelayanmu di rumah bilang kalau kau tidak pernah tidur di sana dan selalu tidur di cafe ini. Dan kau juga menyapa gadis itu." Vicky mengangkat bahu ketika Victor melemparkan tatapan tajam kepadanya, "Aku tahu info itu dari gadis itu ketika aku bertabrakan dengannya. Katanya kau menyapanya ketika dia duduk di cafe itu, dia bilang mungkin itu budaya cafe ini, sang pemilik menyapa ramah pelanggannya." Lirikan Vicky berubah penuh arti. "Tetapi kita tahu bahwa itu tidak benar bukan??? Kau selalu menghindari semua pengunjung cafe mu seperti mereka adalah hama. Kau selalu bersembunyi di balik sosok pemilik perusahaan yang misterius, kau tidak pernah menyapa pelanggan sebelumnya, gadis itu adalah satu-satunya pelanggan yang kau sapa." Ejek Vicky.


"Bisakah kau bicara langsung saja dan tidak berputar-putar dengan analisa konyolmu???" Victor menyela dengan ketus, membuat Vicky terkekeh.


"Yah, kesimpulannya, kau tertarik kepada gadis itu, kepada Aire." Vicky menatap Victor dengan waspada. "Begitu juga aku."


Kemarahan langsung merayapi mata Victor membakarnya. "Vicky... Jangan..!!!"


"Mau bagaimana lagi??? Kita sepertinya selalu dianugerahi kutukan perasaan yang sama terhadap perempuan. Bagaimana kalau kita lakukan permainan seperti masa remaja kita dulu??? Permainan "dia pilih kau atau aku??? sepertinya itu akan menyenangkan." Gumam Vicky setengah tertawa.


Tanpa diduganya Victor  bergerak secepat kilat, meraih kerah baju Vicky dan mendorongnya ke tembok dengan mengancam. "Ini bukan permainan Vicky dan aku serius. Kalau kau hendak main-main dengan Aire, kau harus menghadapiku dulu.!!"


Vicky membiarkan dirinya ditekan oleh Victor di tembok, dia menatap kakak nya dengan penuh perhitungan. "Apa kau lupa bro???? Kau sudah punya Bianca.!!"


"Itu tidak menghalangiku untuk memiliki Aire." Sahut Victor keras.


Hal itu membuat Vicky tertawa terbahak-bahak, tidak peduli akan tatapan marah Victor. "Tidak menghalangimu katamu???"


Vicky melepaskan tangan Victor yang mencengkeram kerah bajunya dan melangkah menjauh, dia masih tertawa. "Tentu saja itu sangat menghalangi, kau punya tunangan dan kau akan menikah atas pilihanmu sendiri karena rasa bertanggungjawabmu yang bodoh itu!!! Jadi kau tidak bisa menawarkan hubungan apapun, apapun!!! Kepada Aire!!!" Vicky menatap Victor dengan menantang. "Tetapi aku beda, aku lelaki bebas."


"Jangan menantangku Victor!!! Kau tahu bukan apa yang akan aku lakukan kalau aku marah."


"Aku tahu." Vicky melirik waspada ke arah Victor tetapi dia memutuskan untuk tidak mundur. "Tetapi Aire layak dicoba untuk diperjuangkan." Vicky melangkah keluar dari apartemen Victor. Ketika sampai di tengah pintu, Vicky menoleh lagi dan tersenyum manis. "Sepertinya perang akan dimulai, brother.!!!"


Victor tertegun, menatap kepergian Vicky. Diacaknya rambutnya dengan frustrasi. Apa yang ditakutannya terjadi lagi, mereka bersaing untuk seorang perempuan, seakan beban masalahnya belum cukup berat saja.