
Keesokan harinya.
Vicky memasang dasinya dan mengernyit memandang dirinya di depan cermin, hari ini ada pertemuan penting dengan salah satu perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan mereka.
Vicky mengamati dirinya, dengan jas rapi dan rambut yang disisir ke belakang, seluruh penampilannya sedemikian miripnya dengan Garviil, seolah-olah Vicky yang asli tenggelam dan sedang menyamar sebagai Garviil, saudara kembarnya.
Yah. bagaimanapun juga, bisa dibilang dia sedang memerankan Garviil bukan???
Vicky tersenyum, dia rela melakukannya karena sekarang saudara kembarnya itu sedang menikmati masa-masa bahagia bersama istrinya. Garviil berhak untuk berbahagia, Garviil berhak untuk bertingkah egois sementara ini.
Vicky mengambil kunci mobilnya, bersiap memulai rutinitasnya di kantornya yang membosankan.
***
Ciara gugup, amat sangat gugup, tetapi dia bisa menyembunyikan kegugupannya dengan begitu baik. Sekretaris itu mengantarkannya ke ruang rapat yang sangat besar di lantai atas gedung kantor yang mewah itu.
Dia berada di sini untuk bisnis, meskipun bisnis itu kebetulan memang diambilnya untuk memuluskan rencananya. Saat ini penampilannya begitu elegan, dengan blazer warna navy dan celana senada, dipadukan dengan blouse putih yang indah. Rambut panjangnya yang indah seperti biasa digulungnya hingga membentuk bulatan rapi di atas tengkuknya, semua rambutnya disisir ke belakang mulus dan rapi. Itulah penampilan kesukaan Ciara, sederhana, tetapi kuat.
Semoga saja dia bisa mempertahankan penampilan kuatnya setelah ini. Ciara mengernyit sambil menatap ke arah pintu ruangan rapat besar itu.
Sekretarisnya mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya membahas berkas-berkas perusahaan dan aturan kerjasama mereka sambil menunggu, membuat Ciara bersyukur karena membahas masalah pekerjaan bisa menenangkan jantungnya yang berdebar.
Tetapi rupanya itu tidak bertahan lama, karena jantungnya kembali berdebar kencang lagi ketika pintu itu terbuka.
Sosok Pemimpin perusahaan. Pemimpin sementara, karena pemimpin yang asli sedang liburan berbulan madu - muncul dari balik pintu, diantarkan oleh asistennya.
Itu Vicky. Ciara membatin setengah ternganga akan transformasi yang hebat itu. Vicky yang ada di depannya berbeda dengan Vicky yang ditemuinya semalam di bar. Vicky yang ini berpenampilan rapi, dengan jas yang menempel erat ditubuhnya dan dasi yang terpasang sempurna, rambut setengah panjangnya yang kemarin acak-acakan sekarang disisir rapi ke belakang.
Ciara langsung merasakan tatapan setajam silet ketika pada akhirnya Vicky menyadari kehadirannya. Senyum itu, senyuman sang pemangsa yang menemukan korbannya langsung muncul di bibirnya.
"And who is this?" suara Vicky terdengar tenang, tetapi ada ancaman tersembunyi di dana.
Sekretarisnya langsung memperkenalkan Vicky kepada tamunya.
"Mr. Vicky, this is Ms. Ciara Alexandra, she is the CEO of the company we are working with. She came directly from Singapore to discuss this partnership." Sekretaris Garviil memperkenalkan Ciara pada Vicky bahwa Ciara adalah CEO perusahaan yang bekerjasama dengan mereka. Dan Ciara khusus datang langsung dari Singapura untuk membicarakan perihal kerjasama ini.
Vicky langsung mengulurkan tangannya penuh arti. "Miss Ciara." Vicky menyeringai ketika menyadari bahwa panggilan itu menunjukkan bahwa Ciara masih sendiri. "Senang bertemu dengan anda, saya harap anda tidak keberatan menerima jabatan tangan saya." kata-katanya menyiratkan bahwa Vicky mengingat Ciara serta insiden semalam ketika Ciara tidak mau membalas uluran tangan Vicky. "Karena anda berasal dari Indonesia jadi kita berbicara bahasa indonesia saja sekarang. Umh obrolan formalnya nanti tetap berbahasa inggris supaya yang lain juga mengerti."
Ciara menatap jemari ramping dan kuat Vicky yang terulur kepadanya, dia menelan ludah dan tidak punya pilihan lain selain membalas uluran tangan Vicky. Genggamannya kuat, dan seolah sengaja, Vicky tidak segera melepaskannya, dia menggenggam tangan Ciara lebih lama dari yang seharusnya, membuat asistennya berdehem mengingatkan.
"And this is Secretary Miss Ciara."
"Oh. Okay. Thank you for coming." Akhirnya Vicky melepaskan genggaman tangannya dari jemari Ciara, membuat Ciara menghela napas lega, tetapi rupanya dia terlalu cepat menarik napas lega, karena Vicky kembali memusatkan perhatian kepadanya. Vicky tersnyum. "Miss Ciara, I hope that after this cooperation talk, you will accept my dinner invitation as an honor. Tonight I will host you for dinner for two at a restaurant that is very famous for its delicious food here." Ucap Vicky, berharap setelah pembicaraan kerjasama ini, Ciara bersedia menerima undangan makan malam dari nya sebagai penghormatan. Malam ini dia akan menjamu Ciara untuk makan malam berdua di restoran yang sangat terkenal akan kelezatan makanannya disini.
Semua mata memandang ke arah Ciara, dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain menerimanya bukan? Sepertinya Vicky sengaja mengajukan ajakannya di depan orang banyak, membuat Ciara tidak bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya, dia menganggukkan kepalanya setelah melemparkan tatapan marah tersirat kepada Vicky.
"Thank you for the invitation, I am truly honored." Ciara ber Terima kasih atas ajakan Vicky, dia sungguh terhormat.
Senyum Vicky melebar, tampak puas. "Good, I will arrange it later. Then, let's discuss our cooperation further." Ucap Vicky, dia akan mengaturnya nanti. Kemudian mengajak Ciara dan tim nya membahas kerjasama mereka lebih lanjut. Vicky kembali bersikap formal, duduk di kepala meja rapat itu, diikuti yang lain yang segera duduk di kursi masing-masing, bersiap memulai pembahasan.
Ciara menganggukkan kepalanya sambil mengambil tempat duduknya, mencoba terlihat tenang meskipun sebenarnya dia mulai sesak napas. Dia terjebak rencananya sendiri dan sekarang dia harus mempersiapkan diri menghadapi makan malamnya nanti dengan Vicky. Seharusnya dia senang karena rencananya berjalan lancar. Tetapi ini semua terlalu cepat, Vicky terlalu mendesak, dan Ciara mulai ketakutan.