
"Geffie sayang. Bagaimana rasa kue buatan Mama???" Tanya. Mama Garviil pada Geffie yang menikmati kue buatannya
Geffie tersenyum. " Ya Mama ini enak sekali kuenya."
"Kau tidak berbohong kan untuk menyenangkan Mama????"
Geffie tersenyum. "Tentu saja tidak Ma, ini memang benar-benar enak."
"Terima kasih kalau begitu. Garviil, tadi kau menjemput Geffie di rumahnya, itu artinya kau meminta ijin dulu kan pada kedua orang tuanya???" Tanya Mama Garviil.
"Ah orang tua Geffie tidak ada di rumah Ma, mereka sedang pergi ke luar kita tapi tadi ada kakaknya, akh juga sempat mengobrol dengannya."
"Baguslah kalau kau sudah meminta ijin dulu." Gumam Mama Garviil. "Geffie sayang, kau berapa bersaudara???"
"Eh sebenarnya Geffie anak tunggal kalau dari orang tua Geffie, tapi Papa punya anak dari istri sebelumnya, anak perempuan, jadi kami bersaudara satu ayah."
"Oh.... Kakakmu juga tinggal denganmu???"
"Tidak, Kakak sudah menikah, dan tinggal dengan suaminya di Washington Dc, tapi karena suami kakak sedang bertugas dan posisi kakak sedang hamil, mertua nya membawa nya pulang kesini, dan karena aku kembali ke Indonesia, semalam kakak datang untuk menginap."
"Oh begitu ya?? Kakakmu pasti sangat merindukanmu."
Geffie tersenyum. "Aku nanti juga akan menyusulnya di rumah Mamanya, sebenarnya aku tadi ingin menumpang pada kakak, tapi ternyata Garviil datang menjemput."
"Sejak semalam dia bercerita pada Mama kalau dia ingin menjemputmu. Mama senang sekali karena kau mau datang."
"Vicky kemana Ma???" Tanya Garviil.
"Adikmu tadi bilang ingin pergi membeli apa giti, Mama tidak terlalu mendengarnya dengan jelas, katanya sebentar. Tapi belum kembali juga, dia pergi tidak lama setelah kau juga pergi."
"Dia benar-benar menolak ikut Papa ke kantor???"
"Iya, tadi pergi juga bukan berpamitan menyusul Papa."
"Aiiissssshhh anak itu...."
"Kau ajak Geffie mengobrol di belakang saja, suasana sejuk dan tidak panas, Mama harus mengurus beberapa hal, nanti Mama temui kalian lagi."
Garviil menganggukkan kepala nya.
"Mama, kalau boleh tahu dimana toiletnya, aku ingin ke toilet." Sahut Geffie.
Mama Garviil tersenyum. "Ada di bawah tangga sayang, atau kau ingin memakai kamar mandi di kamar Mama saja??? Mama akan mengantar mu. Ayo!!"
"Ah tidak perlu Ma, aku pakai yang di bawah tangga saja."
"Baiklah, disana, ada pintu, itu toiletnya."
"Baik Ma." Geffie beranjak dari sofa lalu berjalan menuju arah yang di tunjuk oleh Mama Garviil.
Setelah Geffie terlihat masuk ke dalam toilet, Garviil pun memandangi Mama nya. "Mama, bagaimana tadi Bianca kesini dan kenapa tidak memberitahu ku, aku kan bisa berhenti sebentar di jalan dan tidak langsung pulang.???"
"Bagaimana Mama bisa menghubungi mu, dia juga baru saja datang, dan Mama langsung mengusirnya, Mama mencari alasan konyol dan mengusirnya agar segera pergi karena Mama tahu kau akan datang membawa Geffie kesini, dan dia akhirnya menyerah dan hendak pergi, dia tadi sudah masuk dalam mobil tapi kau keburu datang dan berteriak membuat dia menurunkan jendela mobilnya. Mama juga terkejut dia tiba-tiba datang, Mama sudah senang sekali ketika bel berbunyi, mengira kau dan Geffie sudah datang tetapi ternyata Bianca. Mood Mama langsung berubah seketika."
"Kenapa dia ada disini??? Seharusnya dia ada di Boston."
"Dia bilang dia datang karena mendengar Oma mu meninggal dunia."
Garviil membuang muka dengan kesal. "Dia pasti ingin mencari muka dengan Mama dan Papa itulah kenapa dia datang kesini. Memuakkan sekali."
"Dia juga minta maaf pada Mama atas kebohongannya pada kita."
"And then???" Tanya Garviil.
"Mama tidak memperdulikannya, Mama terlalu sibuk memikirkan cara supaya dia segera pergi dari rumah kita, itu saja. Mama takut Geffie jadi memikirkan masalah ini, kau cobalah untuk meyakinkan nya, Mama tidak mau kalian dalam masalah hanya karena Bianca."
"Mama tenang saja, aku akan mengatasi nya. Aku akan bicara dengan Geffie nanti."
"Baiklah kalau begitu, Mama ke kamar dulu, kalian mengobrol lah di belakang. Nah itu dia sudah keluar. " Mama Garviil melihat Geffie keluar dari toilet dan kembali berjalan ke arah mereka. Mama Garviil berdiri dan tersenyum. "Geffie sayang, Mama ke atas dulu, kau mengobrol lah dengan Garviil."
Mama Garviil kemudian meninggalkan ruang tamu dan naik ke kamarnya. Garviil juga mengajak Geffie ke belakang rumah dimana disana ada taman dan suasana nya sangat sejuk.
Mereka duduk di bangku kayu yang ada di sana. Taman yang hijau dengan berbagai tanaman yang menghiasi nya. Ada rak panjang yang juga berisi aneka sayuran. "Mama sangat suka berkebun, dia menanam sendiri sayuran nya." Gumam Garviil.
"Wah.... Bagus sekali..."
"Sejak dulu Mama seperti itu, bahkan di rumah kami yang di Boston, Mama juga menanam berbagai buah, ada pohon apel, pohon cherry, lemon dan juga anggur serta pir. Kau belum pernah kesana kan??? Aku akan mengajakmu nanti."
"Kau tidak pernah mengajakku sebelumnya."
"Sorry sayang, aku terlalu sibuk dan juga aku menghabiskan waktuku di cafe, sampai tidak sempat melakukannya tapi aku janji aku akan mengajakmu kesana nanti."
"Oke.." Geffie tersenyum dan mencomot kue dari piring.
"Aku janji. Ehh.... Geffie sayang, boleh aku bertanya sesuatu????"
"Ya, katakan saja...!! Mau bertanya apa???"
"Ummmmhhh.... Sorry untuk yang tadi!"
"Sorry????" Geffie mengerutkan keningnya. "Sorry for what???"
"Bianca. Akh minta maaf padamu karena kedatangan Bianca tadi. Itu sama sekali di luar dugaan kami, pelase kaj jangan marah."
"Marah???? Kenapa aku harus marah??? Dia datang untuk mengucapkan bela sungkawa, dia pernah mengenal mendiang Oma mu jadi wajar dia datang untuk menunjukkan empati nya, lalu untuk apa aku marah??? Aku tidak ada masalah apapun dengannya. Dia memang mantan kekasihku tapi itu bukan urusanku, itu masalalu kalian berdua dan aku tidak pernah ikut campur atau merebutmu darinya, dia membohongi dan menipumu, itu adalah kesalahannya dan dia sendiri juga yang mengakhiri hubungan kalian dan memilih bersama Vicky. Lalu apa masalah ku dengannya??? Tidak ada kan???"
Garviil tersenyum. "Ya, memang tidak ada, aku hanya takut kau terganggu dengan hal itu. Mama juga mengkhawatirkannya tadi."
"No...." Gumam Geffie sembari menggelengkan kepala nya. "Aku tidak terganggu sama sekali. Bagiku itu sangat wajar sekali dia datang kesini. Aku tidak pernah ingin mengungkit masalalu kekasihku, itu adalah cerita masalalu mereka, dan aku tidak me permasalahannya selagi aku tidak melakukan hal yang tidak baik. Masalalu mj dengan Bianca adalah ceritamu, akh tidak ingin mengungkit dan me per masalah kan nya. Begitu juga denganmu, kau tidak boleh terlalu masuk ke dalam masalalu ku, semua orang punya kisahnya masing-masing. Kita hanya perlu membahas hubungan kita saja dan bagaimana dengan kelanjutannya nanti."
Garviil meraih jemari Geffie dan mengecupnya."Thanks baby, kau sangat baik sekali, dan cara berpikir mu membuatku semakin mencintaimu.."
Geffie tersenyum kemudian mengusap pipi Garviil dengan penuh cinta. Garviil benar-benar merasa bersyukur bisa memiliki Geffie, perempuan yanv sangat jauh berbeda dengan Bianca. Ketulusan dan kebaikan Geffie sangat natural dan todak di buat-buat. Bebmrbeda dengan Bianca yanv selalu mencoba terlihat baik tetapi semua itu hanya dilakukan dengan kepura-puraan untuk membuat imej nya baik di depan orang lain.
****
Beberapa jam kemudian....
Garviil mengantar Geffie ke rumah Om dan tante nya, yaitu rumah Mama nya Gienka. Geffie sudah menghabiskan waktu mengobrol dan juga makan siang di rumah Garviil bersama dengan Mama nya Garviil. Setelahnya Geffie berpamitan untuk pulang. Tetapi sebelum ke rumah Mamanya Gienka, Geffie meminta di antar ke makam Oma Garviil lebih dulu. Dan Garviil juga akan ke kantor Papa nya setelah mengantar Geffie.
Garviil senang sekali karena Geffie berkunjung ke rumahnya. Dan Mamanya juga sangat menyukai Geffie. Garviil tadi membiarkan Mama nya menghabiskan waktu mengobrol dengan Geffie, dan dia hanya senyum-senyum menyimak perbincangan kedua perempuan yang sangat di cintai nya itu. Garviil hanya sesekali menanggapi. Mama nya terlihat sangat akrab sekali dengan Geffie dan Geffie juga tampak menikmati mengobrol dengan Mama Garviil. Mereka membahas berbagai hal. Semua itu membuat Garviil semakin yakin bahwa Geffie akan sangat cocok menjadi istrinya nanti. sudah kompak dengan Mama nya bahkan banyak kesamaan di antara mereka berdua.
Sampai di pemakaman. Garviil mengajak Geffie berjalan menuju makam Oma nya. Geffie juga sudah membawa buket bunga untuk di letakkan disana.
"Oma, aku datang bersama perempuan yang sangat aku cintai, Oma sevelumnya bilang padaku bahwa akh harus menemukan perempuan hang berhati baik dan juga tulus dan akj sudah menemukannya. Sayang sekali Kma bum sempat bertemu dengannya,andai Oma masih ada, Oma pasti akan sangat senang sekali bertemu dengannya, Mama saja sangat senang tadi. Nama nya Geffie, dan akh sangat mencintainya. Dia memintaku mengantar nya kesini karena dia ingin mendoakan Oma." Ucap Garvikl di depan makam Oma nya yang masih basah.
Geffie tersenyum dan meletakkan buket di atas makam Oma Garviil. Geffie memejamkan matanya dan membaca doa untuk Oma Garviil. Ya, sangat di sayangkan Geffie belum berkenalan dan bertemu Oma Garviil. Tetapi Geffie berdoa agar Oma Garviil mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
Garviil menoleh dan tersenyum memandangi Geffie yang sedang berdoa. Geffie terlihat cantik dalam keadaan apapun. Membuat Garviil semakin mencintai nya.
Selesai berziarah, Geffie dan Garviil pun meninggalkan pemakaman. Garviil akan mengantar Geffie ke rumah Om dan Tante nya. "Rumahnya dimana???" Tanya Garviil.
"Cluster Supernova. Kau tahu???"
"Tahu, aku pernah kesana, kebetulan temanku tinggal disana juga. Itu salah satu cluster yang punya keamanan ketat. Jadi Mamanya kak Gienka tinggal disana???"
Geffie tersenyum. "Iya, mereka tinggal disana sudah lama sekali, bahkan tidak lama setelah kak Gienka lahir."
"Cluster itu milik Papa mu kan???"
"Iya, salah satu cluster milik Papa, tapi jangan berpikir bahwa karena itu milik Papa lalu Mamanya kak Gienka tinggal disana. Dulu mereka tidak tahu kalau itu milik Papa. Rumah itu punya sejarah untuk keluarga Mama nya kak Gienka, Papa sudah pernah meminta agar mereka tinggal di rumah yang lebih luas, tetapi suami nya Mamanya Kak Gienka, atau dalam hal ini yaitu Kakaknya Papa menolak untuk pindah dan tetap tinggal disana sampai saat ini, katanya punya history disana, dan rumah itu di beli dari hasil tabungannya dulu. Jadi sampai sekarang masih di tempati dan di jaga dengan sangat baik." Ujar Geffie.
"Oh wow, luar biasa sekali. Ya,aku setuju sekali, sesuatu yang punya history itu harus tetap di jaga dan di pertahankan dengan baik karena kenangan dan perjuangannya dulu tidak bisa di beli dengan uang."
"Itulah yang di katakan oleh Mamanya kak Gienka." Gumam Geffie.Mereka kemudian masuk ke mobil Garviil dan Garviil mengemudikan menuju tempat itu. Dia pernah kesana jadi dia tahu dimana lokasi nya.