
Malam itu Airee tidak bisa tidur lagi, dia sudah mencoba berbaring tetapi hanya berguling bolak-balik di atas ranjang. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi kawasan tempat tinggalnya cukup aman dan ramai untuk keluar di malam hari.
Lagipula cafe itu terletak begitu dekat, hanya di seberang kompleks apartemennya.
Tanpa terasa Aire sudah berjalan ke sana, memasuki cafe itu. Pelayan setengah baya yang sama yang menyambutnya.
"Another glass of wine for dinner companions?" Lelaki itu menyapa dengan ramah ketika Aire duduk di pojok yang rindang dengan dekorasi taman yang menyejukkan. Dia bertanya pada Aire apakah dia ingin segelas anggur lagi untuk teman makan malamnya.
Aire tersenyum, " No, tonight I want some coffee..” Ucap Aire. Dia malam ini ingin kopi.
"Are you going to stay up late to finish your work??” pelayan itu melirik ke arah laptop yang diletakkan Aire di mejanya. Bertanya apakah Aire akan begadang untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
Aire terkekeh. “"I'm a university student and I have a deadline for my final project." Aire seorang mahasiswi dan dia dikejar deadline tugas akhir nya.
"college student???" Pelayan itu tampak tertarik.
Aire menganggukkan kepalanya, "Yes, final semester college student.”
"Ah." Pelayan itu tersenyum penuh arti, " I expected it, it suits your gentle and cute appearance."
Pelayan itu sudah menduganya, itu sesuai dengan penampilan Aire yang lembut dan imut.
" Thank you for the compliment." Gumam Aire sambil tertawa. Ia mulai membuka laptopnya di atas meja itu. Dia berterima kasih atas pujian yang di berikan oleh pelayan itu.
“I'll probably be here until the morning..” Ucap Aire. Mengatakan bahwa mungkin dia akan di sini sampai pagi.
"You didn't sleep???” Tanya pelayan itu.
“Tomorrow is the weekend, I can stay up all night and sleep in the morning." Aire tergelak.
"I hope it's okay to sit here until nightfall." Lanjutnya lagi. Besok weekend, Aire bisa begadang semalaman dan tidur besok pagi. Aire berharap di sini diperbolehkan duduk sampai malam.
"Of course." Pelayan itu mengedipkan sebelah matanya. "As long as you keep refilling your coffee cup every two hours, you can sit here forever." Candanya sambil tertawa. Pelayan itu mengatakan jika Aire terus mengisi cangkir kopi setiap dua jam, dia boleh duduk di sini selamanya. Tentu pelayan itu hanya bercanda.
"I'll take your order. And since it looks like you're going to be our customer, you can call me Andro" Pelayan itu akan mengambilkan pesanan Aire. Dan karena sepertinya Aire akan menjadi pelanggan cafe ini, pelayan itu mengylurkan tangan dan memperkenalkan diri pada Aire serta boleh memanggil nya dengan Andro.
Aire tersenyum menanggapi keramahan pelayan itu, dan membalas ukuran tangannya.
"Terima kasih, Andro!" Gumamnya lembut.
*****
Hampir pukul tiga pagi dan Aire masih mengetik dan membaca buku di sudut yang sama.
Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini?
Diambilnya ponselnya dan wajahnya memucat ketika melihat nama yang tertera di sana.
Mike.
Aire meletakkan ponsel itu di meja dan membiarkannya. Tetapi ponsel itu terus bergetar tanpa henti, begitu mengganggunya. Aire mendeesah kesal. Mood nya langsung hilang begitu saja melihat nama Mike di layar itu. Dan meskipun dia sudah berusaha mengabaikannya, ponsel itu terus menerus bergetar tak tahu malu. Seolah Mike tidak akan menyerah sebelum dia mengangkatnya.
Akhirnya setelah menghela napas panjang, Aire mengangkat ponsel itu.
“"What's wrong Mike???” gumamnya kesal.
“Aire, finally." Suara Mike terdengar lega di seberang sana. "I came to your apartment but you weren't there. Where did you go???" Tanya Mike. Mike bilang jika dia datang ke apartemen Aire tapi perempuan itu tidak ada. Mike bertanya dimanakah Aire saat ini.
“"It's none of your business anymore, right???” jawab Aire dingin. Mengatakan jika itu sudah bukan urusan Mike lagi.
""Gosh baby. How cruel are you to me???? Did you leave that apartment because of me???" Tanya Mike. Sebegitu kejamnya Aire padanya. Mike bertanya Apakah Aire pergi meninggalkan apartemen itu gara-gara dirinya.
Kenapa pula Mike harus bertanya? Tentu saja Aire melakukannya karena Mike. Dia sudah muak bahkan untuk mengetahui bahwa dia menghirup udara yang sama di apartemen itu dengan Mike, karena itulah dia pindah.
"I guess whatever my reasons are are my business. Aire rasa apapun alasannya adalah urusannya.
"And I hope you don't bother me anymore." Dan dia harap Mike tidak mengganggu nya lagi.
"Aire... dear... listen to me... where are you moving to dear??? Tifanny won't tell me, and I'm worried about you." Mike merengek dan memohon pada Aire agar mau mengatakan pindah kemana Aire sekarang. dan Tifanny tidak mau memberitahukan kepada nya. Mike mencemaskan Aire.
"I'm fine.." Aire menguatkan hatinya, merasakan matanya berkaca-kaca, lalu langsung mematikan ponselnya.
Dia terpaku cukup lama di depan laptopnya, menatap hampa kepada tugasnya yang masih setengah jadi.
Victor memperhatikan Aire dari dalam ruang kerjanya. Tentu saja tidak menyadarinya, ruang kerja Victor terletak di lantai dua, di atas tangga dengan kaca yang gelap yang didesain satu arah. Di mana Victor bisa dengan leluasa mengawasi seluruh bagian cafe miliknya dan orang dari luar tidak akan bisa melihat menembus ke dalam.
Victor tidak pernah merasakan ketertarikan seperti ini pada perempuan manapun. Tetapi semalam, ketika kebetulan dia sedang berdiri di tempat ini, tempat yang sama, mengawasi cafenya, dia melihat perempuan itu masuk. Ia menatap keraguan perempuan itu, dan entah kenapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk mendekati perempuan itu.
Padahal penampilan perempuan itu sederhana, dia mengenakan celana jeans biru dan tshirt putih yang membungkus tubuhnya yang mungil. Tidak ada yang istimewa dan heboh dari penampilannya, rambutnya dikuncir kuda sekenanya, dan perempuan itu tidak berdandan. Tetapi Victor tetap saja tidak bisa melepaskan pandangannya dari perempuan itu.
Bahkan kemudian dia tidak bisa menahan diri untuk menyapa perempuan ini, ingin melihat lebih dekat. Victor tidak pernah menampakkan dirinya di depan pelanggan. Dia selalu bersembunyi di balik dinding kaca gelap yang misterius, hanya Andro lah yang dipercayanya sebagai tangan kanannya. Cafe ini adalah favoritnya. Tempat inilah satu-satunya dari seluruh tempat yang dimilikinya yang membuatnya merasa nyaman.
Dan kemudian dia menemukan perempuan ini, perempuan yang langsung merenggut hatinya. Ketika berucap "halo" dan menyambut uluran tangannya, lalu mengatakan namanya. Aire. Victor mencatat nama itu dengan penuh rahasia, jauh di dalam hatinya yang kelam. Dan saat itu Victor bergumam dalam hatinya, menatakan "NOW, I FOUND YOU" walau dia tidak begitu yakin dengan takdirnya.