Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Apa yang akan kita lakukan sekarang



Selesai sarapan, Geffie dan Garviil masuk ke dalam kamar. Garviil menutup pintu. Dia berbalik badan dan Geffie melingkarkan kedua lengannya di leher Garviil. "Aku mencintaimu." Ucapnya.


Garviil pun tersenyum. "Aku juga mencintaimu."


"Jam 10 kita pergi, kita masih punya waktu lebih dari satu jam untuk bersiap," Garviil melihat ke arah jam tangannya.


"Oke, lalu apa yang akan kita lakukan sekrang??" Tanya Geffie.


"Menurutmu apa???" Garviil mendekatkan tubuhnya dan memeluk erat Geffie. Garviil tersenyum dan mengecup bibir Geffie. Setelahnya Geffie lalu mendekatkan bibirnya di bibir Garviil, menciumnya dan lelaki itu membuka muIutnya lalu keduanya saling meIumat dan mencecap bibir satu sama lain, menikmati kemaanisan bibir dan Iidah satu sama lain. Mereka berciuman sambil berdiri.


Geffie kemudian berlutut di depan kaki Garviil, mengeluarkan milik lelaki itu. Mengusapnya dengan pelan dan penuh kelembutan membuat semakin menegang dan mencium kepala senjata Garviil, setelah itu dia mulainya, bermain dengan muIut dan Iidahnya .


"Ahhhh.... " Garviil mulai meracau dan menikmati kehangatan muIut Geffie yang membungkus milik nya. Tangan kanan Garviil berpegang pada meja dan bersandar disana.


Mendapati Garviil mulai menikmatinya, Geffie semakin kegirangan menikmati permainannya sendiri dan suara Garviil yang penuh kenikmatan itu justru menjadikan suasana semakin luar biasa.


Tiba-tiba Garviil menekan kepala Geffie, hingga Geffie melahap habis miliknya itu. Garviil menahannya selama beberapa detik lalu melepaskannya. Detik itu juga Geffie terbatuk-batuk tetapi Geffie melempar senyum setelahnya. Dan Geffie kembali melakukan itu selama beberapa kali. Sampai akhirnya Garviil meminta berhenti.


Geffie kemudian melepaskan ceIana Garviil sepenuhnya, melemparnya ke lantai, dan dia juga meIepaskan baju nya sendiri di depan Garviil. Geffie lalu mengajak Garviil duduk di tempat tidur, duduk bersandar dan kemudian Geffie duduk di atas kedua kaki lelaki itu. Kemudian mengecup Garviil.


Garviil mencoba menikmatinya dan membalas ciuman Geffie. Dia merasakan kelembutan bibir Geffie, ciuman hangat Geffie membuat Garviil merasakan sengatan luar biasa yang menggugah gejoIaknya. Dia membuka bibirnya dan merasakan ciuman itu lebih jauh dan lebih dalam lagi.


Dikecupnya bibir Geffie lagi. Iidahnya mendesak masuk lagi dan lagi kemudian, terasa panas dan menggoda, tanpa permisi menjelajahi seluruh bagian muIut Geffie, mencecapnya dan menggodanya, Iidah itu lalu menemukan Iidah Geffie yang lembut dan berjalinan di sana. muIut Garviil meIumat seluruh bagian bibir Geffie, seakan ingin menyerap semua rasanya. Pelukannya mengencang, jemarinya menelusuri permukaan kedua bukit lembut di dada Geffie, bergerak dan memijatnya dengan menggoda.


Ketika ciuman itu terlepas, napas mereka berdua sama-sama terrengah. Garviil sudah terbawa suasana dan lupa diri, dia lalu kembali mengecup lembut bibir Geffie, beralih ke pipinya, diberinya hadiah kecupan-kecupan kecil, kemudian ke telinganya, menghembus lembut di sana membuat Geffie memekik kegeIian.


Geffie tersenyum. "Kita mulai sekarang???" Tanya Geffie dan Garviil mengangguk. Garviil memang butuh di puaskan, karena miliknya sudah menengang sejak tadi.


Lelaki itu lagi-lagi mengecup lembut telinga Geffie dan Iidahnya dengan nakal mencicipi di sana. "Ya.." Bisik Garviil.


Geffie kembali menikmati bibir Garviil lagi dan tubuhnya bergerak dengan lembut di atas Garviil. Jemari Garviil menyentuh pelan, menyentuh lembut bagian depan bukit kembara itu. Lalu dengan lembut tetapi cekatan, Garviil mengangkat untuk melepaskan penghalangnya, begitu pelan gerakannya, seolah ingin menyiksa dirinya sendiri.


Garviil menciumi leher Geffie dan menjiIatnya lembut, karena perempuan itu sudah tidak mengenakan apapun di depannya.


Napas Geffie makin terengah ketika Garviil menyentuh gundukan kembar istrinya sambil lalu, mengusap bulatan pinknya dengan gerakan seolah tak sengaja, sehingga membuat nya mengeras, seakan ingin disentuh lagi. Geffie mengerang merasakan sensasi panas yang membakarnya. Garviil masih menciumi lehernya, lalu bibir yang membara itu naik, meIumat bibir Geffie dan berbisik di sana.


Garviil menunduk dan mengecup bagian atas pay*dara Geffie, kemudian, bibir Garviil lewat sambil menghembuskan napas panasnya sambil lalu di atas gundukan kembar iti membuat bulatan di tengahnya mengencang dengan kerasnya.


"Aku ingin ini.. " Bisik Garviil di telinga Geffie.


"Ya sayang.!" suara Geffie makin keras ketika Garviil mengulangi perbuatannya berkali-kali. Lelaki itu mengecupi seluruh bagian gundukan kembarnya tetapi mengabaikan titik berwarna pinknya yang mendamba. Yang dilakukan Garviil hanyalah menghembuskan napasnya sambil lalu, menggoda Geffie, menyiksa Geffie.


Bulatan pink Geffie begitu tegak dan panas, karena godaan-godaan Garviil,dia ingin lebih.. dia ingin bibir Garviil yang panas meIumatnya, menghiisapnya dengan lembut. Geffie menginginkannya.


Setelah puas. Garviil mengangkat kepalanya, mendongak kemudian mengecup ujung hidung Geffie yang terengah-engah, napas mereka berkabut oleh gaiirah yang pekat. Ketika Garviil menggeserkan tubuhnya, Geffie merasakan milik Garviil sudah mengeras di sana, menyentuh kuIitnya, begitu keras dan siap.


Garviil bergeser dan kembali duduk bersandar. Geffie berpindah posisi menjadi duduk di depannya.


"Aku tidak bisa menunggu lagi..." Geffie duduk dan menyatukan dirinya di atas Garviil.


"Hmmmmppptt.... " Teriak keduanya.


Geffie bergerak naik turun dan bibir Garviil turun ke leher Geffie, mengecup lehernya dengan penuh semangat membara, lalu memberi hadiah kecupan lembut disana dan jemari Garviil menangkup ke kedua gundukkan kembar milik Geffie. Lelaki itu membungkuk dan mengecupi daada dan put ting Geffie, membuat Geffie merasakan sensasi panas menjalar.


"Uuuhhhh!!" Teriak Geffie mencengkeram sprei putih. Napas lelaki itu juga berat dan errangan nya membuat suasana menjadi semakin panas dan inttiim.


"Milikmu sangat nikmat sekali sayang..... Luar biasa aku sangat menyukai nya... Ahhhh uhhhh..... Maaf aku tidak bisa berhenti karena ini telalu nikmat... " Ucap Garviil.


"Aku lelah, kita ganti posisi.. " Ucap Geffie, lalu dia turun dari atas paaha Garviil. Geffie kemudian berbaring di tempat tidur. Dan meminta Garviil bermain dengan miliknya.


Kepala Garviil sudah pening oleh nikmat yang di rasakan nya sekarang sehingga dia sudah tidak peduli lagi. Garviil membungkuk di depan milik Geffie, dia menggerakkan jemarinya lagi, pelan mengalun dari Iutut Geffie, dan naik ke paahanya. Sampai kemudian menyentuh milik Geffie. Hanya sepersekian detik, menyentuh di sana. Dan tubuh Geffie berjingkat kaget oleh sengatan aneh yang menyengatnya seketika.


Garviil tersenyum. Geffie sangat sensiitif dan siap olehnya. Jemarinya menyentuh milik Geffie, memainkannya lembut dengan usapan ahli, membuat Geffie setengah bangun, bingung atas sensasi yang mengalir deras di tubuhnya.


"Sekarang, biarkan aku memberimu kenikmatan.." Iidah Garviil meneIusup, menemukan titik paling sensi tif di milik Geffie, dan memainkannya dengan ahli. Iidah Garviil sepanas bibirnya yang meIumat dengan ahli, dengan penuh pemujaan.


Geffie terbariing di sana dengan mata berkabut, dengan napas terengah dan terasa melayang akibat sensasi luar biasa nikmat yang menyelimuti tubuhnya, bersumber pada miliknya. Gerakan bibir dan Iidah Garviil begitu ahlinya, membuat Geffie berkali-kali mengerang ketika Garviil dengan sengaja menggerakkan Iidahnya memutar, menggoda titik sensiitifnya. Membuat Geffie seakan dibawa ke sebuah tepi pencapaian yang tidak diketahuinya. Geffie memejamkan matanya. Dia sudah hampir sampai ke tepi itu. Digigitnya bibirnya, merasakan sensasi panas melandanya dan menggetarkannya. Hendak membawanya ke suatu tempat yang tidak terbatas. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat, matanya terpejam menyerap kenikmatan itu. Garviil kemudian berhenti dan menatap Geffie dengan senyum nya yang menggoda.


Lelaki itu kemudian menegakkan tubuh dan bertumpu pada lututnya yang mengaang kang di atas tubuh teIanjang Geffie dan Lelaki itu setengah berdiri. Dan sekarang Geffie menatap seorang lelaki yang berlutut teIanjang di atasnya, dengan tubuh yang luar biasa indahnya, dan senjaata yang telah mengeras dan siap untuknya. Garviil begitu indah dan sangat tampan dalam keteIanjangannya.


Dengan penuh nappsu lelaki itu mngangkat kedua kaki Geffie meletakkannya di atas kedua pundaknya. Dan posisi mereka sungguh pas. Sang lelaki berpadu dengan perempuannya.


Geffie membiarkan milik Garviil mendesak di antara pa ha nya, mendesak masuk ke miliknya. Lelaki itu menggessekkan tubuhnya lembut, mengirimkan getaran listrik yang membuat tubuh Geffie membara.


"Kau sudah basah dan siap untukku." Garviil menyentuh Geffie dengan miliknya, merasakan betapa Geffie sudah begitu panas dan basah di bawahnya.


Garviil mendorongkan pingguInya. Menekan tubuh Geffie dengan begitu ahli. Garviil bergerak dengan ritme teratur, tubuhnya menyatu di dalam tubuh Geffie, semula lembut dan hati-hati. Garviil bergerak dengan penuh gaiirah, membawa mereka menuju puncak gaairah masing-masing.


Ketika puncak itu hampir tiba, Garviil membawa Geffie lebih dulu mencapai orrgasme yang luar biasa itu. Dan ketika erangan Geffie dalam pencapaiannya menandai orgaasmenya, Garviil merasakan tubuh Geffie mencengkeram miliknya dengan kuat di dalam, membuatnya tak tahan lagi.


Kenikmatan itu begitu intens dan luar biasa, sehingga membuat tubuh mereka lemas. Garviil berbaring meniin dih tubuh Geffie, menahan dengan siku dan lututnya supaya tidak membebankan beratnya di tubuh perempuan itu. Napas mereka berdua terengah-engah. Kepalanya masih dipenuhi kabut kenikmatan itu. Luar biasa, Orr9asmenya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Garviil melepaskan diri dari Geffie dan berbaring di sebelah istri nya yang terengah, kemduain dia meminta Geffie untuk mengangkat kepala dan berbantalkan lengannya. Geffie menurut lalu Garviil memeluknya dan mengecupnya. Ini begitu luar biasa, yang sudah kedua nya rindukan dan akhirnya mereka bisa melepaskan rindu sati sama lain. Percintaan yang begitu luar biasa.


***