
Victor memastikan Mike memasuki mobilnya dan pergi sebelum menyentuh pundak Aire hati-hati. Aire tampak tegang dan ketakutan meskipun perempuan itu berusaha tegar. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut.
Aire baru merasakan seluruh tubuhnya gemetar ketika semua sudah berakhir, dia menatap Victor tak berdaya, "Aku tidak apa-apa." Jawabnya serak, tetapi kakinya tiba-tiba lemas sehingga Victor harus menopangnya. Lelaki itu merangkulnya dengan lembut tapi sopan.
"Ayo kuantar kau ke atas." Gumamnya tenang, menghela Aire memasuki lobi apartemen itu dan mengangkat Aire kemudian melangkah menaiki tangga. "Kau tinggal di lantai berapa??" Tanya Victor.
"Tiga, unit B." Jawab Aire pelan.
Di depan pintu kamarnya, barulah Aire menyadari kesalahannya. Dia tidak mungkin membiarkan Victor memasuki apartemennya, sekali lagi dia hampir bisa dikatakan tidak mengenal Victor dengan baik. Lelaki ini bisa saja psiik0pat yang mengincar perempuan-perempuan yang tinggal sendirian bukan.
"Aku.. eh, thank you.." Aire bersandar pada pintu. Ia berusaha bersikap sopan dan melepaskan diri dari gendongan Victor.
Victor mengangkat alis melihat Aire. "Kau lemas dan gemetar." Gumamnya tenang. "Aku akan mengantarmu masuk.!!"
"Tidak!" Aire hampir berteriak dan merasa malu ketika Victor menatapnya seolah dia sedang kerasukan. "Aku.. aku bisa masuk sendiri, thanks Victor." Aire mencari-cari kartu kunci pintunya di dalam tas, tetapi tidak bisa menemukannya. Dengan panik dia mengaduk-aduk tasnya. Dan tetap tidak menemukannya.
Victor masih menunggu di situ, menatap kepanikannya dengan tenang dan tanpa kata-kata. Lama kemudian Aire mencari dan lalu dia mengangkat kepalanya dengan panik. "Kuncinya tidak ada!!" Gumamnya lemah dan ingin menangis. "Mungkin.. mungkin ketinggalan di rumah temanku..." Airmata Aire mulai membuat matanya terasa panas. Sebenarnya ini bukan masalah yang pelik, Aire tinggal menghubungi resepsionis di bawah untuk meminta kartu cadangan dan dia akan bisa membuka pintunya.
Aire hanya perlu alasan untuk menangis, perlakuan kasar dan merendahkan Mike kepadanya tadi sangat melukai hatinya. Dan meskipun di depan dia berusaha tampil tegar, dia masih merasakan luka dan perih itu.
Tanpa kata, Victor meraih kepalanya dan meletakkannya di dadanya. "Shh.... menangislah." Bisiknya lembut dan seketika itu juga benteng pertahanan diri Aire bobol. Dia menangis sekuatnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Menumpahkan kepedihannya, menumpahkan kemarahan dan kebenciannya kepada semua hal yang terjadi antara dirinya dan Mike. Dia menumpahkan semuanya di dada Victor, lelaki yang bahkan baru dikenalnya beberapa waktu lalu. Dengan tenang Victor mengusap rambutnya, setelah merasa Aire sedikit tenang, dia menjauhkan pundak Aire dari pelukannya dan berbisik lembut. "Sini tasmu, sepertinya kau terlalu panik ketika mencarinya tadi."
Dengan patuh Aire menyerahkan tasnya, Victor mencarinya dengan hati-hati. Dan dalam sekejap dia menemukan kartu kunci itu, terselip di bagian paling bawah tas gadis itu. Victor kemudian menggenggamkan kartu kunci itu ke dalam jemari Aire dan tersenyum lembut. "Come in and get some rest...!!" Bisik Victor pelan. Menyuruh Aire masuk dan beristirahat.
Aire mengusap airmatanya dan menatap Victor dengan sendu. "Thank you so much..!!" Bisiknya serak.
Tanpa diduga, Victor menarik Aire kembali ke pelukannya, lalu mengecup dahinya lembut. "Sama-sama." Lalu lelaki itu membalikkan tubuhnya, meninggalkan Aire tanpa kata-kata.
Keesokan harinya.....
Aire masih tertidur dan meringkuk di atas ranjangnya ketika suara interkom pintunya berbunyi. Aire mengernyit, meraih jam beker di sebelah ranjangnya. Masih jam enam pagi. Siapa yang berkunjung sepagi ini???
Dengan susah payah Aire turun dari ranjang, matanya pasti bengkak karena dia menangis semalaman sampai ketiduran, dan kepalanya pening karenannya.
"Good morning..!!!" gumamnya dengan suara yang masih serak. Miss Aire has a guest for you.!!" Ucap reseptionis itu. Memberitahu Aire bahwa ada tamu untuknya.
Aire langsung waspada, apakah Mike masih belum menyerah juga?. "Who???" Tanya nya lagi.
"Mr. Victor requests access to go up and seen you.!!" Jawab reseepsionist itu lagi. Memberitahu jika Victor meminta akses untuk naik dan menemui nya.
Jantung Aire langsung berdebar, teringat akan kecupan lembut di dahinya malam itu. Kenapa Victor datang menemuinya pagi ini?
"Miss Aire???" resepsionis di bawah memanggilnya lagi karena dia terdiam lama.
"Uh, yes. Yes, let him up." Sahut Aire agar resepsionis mempersilahkan Victor untuk naik.
Setelah mematikan interkom, dalam sekejap Aire melompat ke kamar mandi, menggosok gigi, dan mencuci mukanya. Dia mengernyitkan kening ketika menatap wajahnya di cermin, ada lingkaran hitam di matanya, bengkak seperti panda. Rasanya malu menemui Victor dengan penampilan seperti ini, tetapi mau bagaimana lagi. Kedatangan Victor sama sekali tidak diduganya.
Aire selesai mengganti baju tidurnya dengan kaos longgar dan celana jeans yang nyaman ketika interkom pintu apartemennya berbunyi. Dengan gugup Aire membuka pintu itu.
Victor berdiri di sana, tampak luar biasa tampan dengan tshirt warna putih dan celana jeans abu-abu. Lelaki itu membawa kantong plastik di tangannya. Dan tiba-tiba saja Aire merasa malu ketika membayangkan penampilannya yang berantakan ini dihadapkan dengan penampilan Victor yang begitu sempurna.
"Good morning.!!!!" Victor menyapa dengan lembut.
Aire sejenak hanya terpaku, terpesona dengan senyum itu. "Good mor..ning to you..!!" Jawab Aire.
"Aku membawakan sarapan." Victor menunjukkan plastik di tangannya. "Can I come inside???" Tanya Victor pada Aire apakah dia di ijinkan untuk masuk ke dalam.
Saat itulah Aire sadar bahwa dia hanya berdiri terpaku sambil menatap Victor. Dia langsung memundurkan langkahnya, memberi jalan bagi Victor untuk melangkah masuk. Lelaki itu tampak nyaman, tidak canggung sama sekali ketika memasuki apartemen Aire. "Di mana aku meletakkan makanan ini??? Kau punya meja makan???" Tanya Victor lagi.
Apartemen Aire adalah apartemen model kecil dan sederhana, dengan ruang tamu, menyambung ke dapur yang menyatu dengan meja makan kecil, satu kamar mandi, dan satu kamar tidur di ujung ruangan. Victor hanya tinggal berjalan sedikit untuk menuju dapur.
"Di sebelah sana ada meja makan, tapi mungkin lebih baik kita duduk di sini saja." Aire yang merasa canggung di sini, tidak pernah sebelumnya dia berduaan dengan seorang lelaki apalagi di dalam apartemen yang cukup privat.
"Aku meminta Andro untuk menyiapkan makanan kita." Victor meringis. "Omelet dan sup dari cafe, juga cokelat panas andalan kami. Ada untungnya juga menjadi pemilik cafe." Victor lalu duduk di sofa itu sementara Aire berdiri canggung di dekat pintu, membuat Victor mengerutkan keningnya. "Sini, icipilah omelet buatan kokiku, ini menu andalan cafe untuk sarapan. Oh ya ambilkan piring ya.???" Pinta Victor.
Aire ke dapur menurut seperti kerbau yang dicucuk hidungnya mengambil piring dan sendok, lalu melangkah pelan, dan akhirnya duduk di sofa samping Victor. Lelaki itu membuka kantong-kantong kertas makanannya, dan memindahkan omelet yang beraroma sangat harum itu ke dalam piring.