
Rupanya Vicky bukan tipe orang yang suka menyia-nyiakan waktu. Setelah meeting pembahasan selesai dan kesepakatan ditentukan, lelaki itu langsung mendekati Ciara, seolah-olah dia sudah menunggu sejak lama untuk melakukannya.
"Dimana saya harus menjemput anda untuk makan malam nanti????" Tanya Vicky.
Ciara menatap Vicky, menyadari bahwa lelaki itu tidak akan membiarkannya menghindar. Lagipula mereka masih dekat dengan peserta meeting yang lain, yang bisa mendengar percapakan mereka. Akan sangat tidak sopan kalau Ciara tidak menjawab pertanyaan Vicky.
"Saya menginap di four seasons" Ciara menyebut nama hotel yang cukup terkenal di kota ini.
Vicky mengangkat alisnya. "Saya akan menjemput anda di lobby tepat pukul tujuh malam." Lelaki itu rupanya menantang Ciara untuk menolaknya.
Tentu saja, meskipun sangat ingin, Ciara tidak bisa melakukannya. "Saya akan turun ke lobby pada jam tersebut."
"Bagus." Senyum Vicky melebar, lebih menyerupai seringai. "Berikan aku nomor kontakmu."
Sejenak Ciara merasa ingin memberontak dan menolak Vicky mentah-mentah, tetapi kemudian dia sadar bahwa lelaki itu sengaja menarik batas kesabarannya. Bukankah Vicky memegang kartu nama resminya? Lelaki itu tinggal melihat ke sana dan dia tahu nomor kontak Ciara. Tetapi rupanya Vicky memaksa ingin mendengarnya dari mulut Ciara sendiri.
"Anda bisa melihat kartu nama perusahaan yang saya berikan kepada anda tadi sebelum meeting." Ciara bergumam setengah menggertakkan giginya,
Tanggapan Vicky atas kejengkelan Ciara hanyalah dari kekehan tawa tertahannya, "Oh sorry, aku lupa." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya menggoda, membuat pipi Ciara merah padam.
Kemudian salah seorang asistennya memanggilnya dan menanyakan sesuatu, perhatian lelaki itu teralihkan yang berarti menjadi kesempatan bagi Ciara untuk melarikan diri.
Dia bergegas membalikkan badan, buru-buru menghampiri Thomas dan sekretarisnya yang datang bersamanya.
"Pukul tujuh tepat, Miss Ciara." Vicky bergumam pelan tetapi cukup untuk didengar Ciara. Sejenak Ciara tertegun mendengar nada peringatan di sana, tetapi kemudian dia memutuskan untuk mengabaikannya, segera menghampiri sekretarisnya dan berpura-pura membahas meeting kemarin dengannya.
***
Pukul tujuh kurang limabelas menit...
Ciara menatap dirinya di cermin. Hampir dua jam dia habiskan untuk menentukan akan memakai gaun yang mana, semula dia memutuskan memakai gaun panjang formal berwarna hitam, tetapi kemudian dia takut baju ini terlalu formal, dia takut salah kostum dan ternyata Vicky bukan membawanya ke restoran formal.
Pada akhirnya pilihannya jatuh ke sebuah rok terusan sepanjang betis berwarna cokelat muda yang cukup sopan untuk dipakai di acara formal, tetapi bisa juga dipakai untuk bersantai. Lagipula gaun itu cukup sopan, sehingga tidak akan membuat lelaki manapun berpikir macam-macam.
Dia mengenakan gelang emas di tangannya dan memasukkan kakinya ke sepatu berhak rata berwarna cokelat tua. Matanya melirik ke arah jam di dinding dan menghela napas panjang.
Sebentar lagi pukul tujuh tepat. Suara deringan ponselnya membuatnya terlonjak kaget. Ciara buru-buru mengambilnya, dan menghela napas panjang ketika mengetahui bahwa Bianca yang meneleponnya.
"Bagaimana????" Bianca langsung bertanya, tanpa menunggu sapaan Ciara.
Ciara mengernyit. Saudara sepupunya ini telah mendesaknya hingga harus melalui batas ketakutannya. Dia takut kepada lelaki dan Vicky sangat mendesak. "Aku belum mendapatkan apapun. Tetapi malam ini aku akan makan malam dengan Vicky untuk urusan bisnis... kau tahu, kerjasama antara pemasok barang di perusahaanku dengan perusahaan si kembar...." Ciara menelan ludahnya, tiba-tiba merasa bersalah karena memutuskan untuk tidak menceritakan pertemuannya dengan Vicky di bar, dan juga bagaimana Vicky mengejarnya dengan agresif... dia tidak mau melukai perasaan Bianca.
Sedikit banyak dia tahu, bahwa sebenarnya yang dicintai Bianca adalah Vicky. Dia memusatkan perhatiannya kepada Garviil karena Vicky menolaknya. Bagaimana mungkin Ciara bisa mengatakan kepada Bianca bahwa Vicky mengejarnya?
"Bagus, gunakan kesempatan itu, Ciara. Buat Vicky terpesona kepadamu." Suara Bianca menajam, "Tetapi hati-hati. Aku tahu Vicky sangat mempesona, aku tidak mau kau sampai terpesona kepadanya."
"Aku tidak akan terpesona kepadanya." Ciara menyahut cepat. Membayangkan Vicky membuatnya takut, dia takut kepada semua lelaki... semua lelaki pemaksa dan kasar kepada perempuan.
"Berjanjilah kepadaku Ciara." Bianca terdengar sungguh-sungguh, "Berjanjilah kepadaku apapun yang terjadi kau tidak akan jatuh ke dalam rayuan Vicky dan mengkhianatiku."
Ciara menghela napas panjang, "Aku berjanji, Bianca."
Mereka bercakap-cakap sejenak lalu Bianca mengakhiri percakapan. Setelah menutup pembicaraan, Ciara menghela napas panjang.... entah kenapa dia merasa sangat lelah. Lalu ponselnya berdering lagi, Ciara melirik ke layarnya.
Kali ini Vicky yang meneleponnya.
"Halo???? Aku sudah di bawah." Vicky bergumam lagi.
"Oke. Aku akan turun." Jantung Ciara berdebar. Dia menghela napas panjang dan kemudian melangkah keluar dari kamarnya.
"Hai." Vicky langsung menyapa Ciara ketika melihat perempuan itu mendekatinya di loby.
Ciara menatap Vicky dan mau tidak mau mengagumi penampilan Vicky malam ini. Lelaki ini mengenakan kaos berwarna putih yang dilapisi dengan jas sport hitam yang trendi, dan dia mengenakan celana jeans. Penampilannya formal sekaligus santai.
"Kau tampak cantik." tanpa malu-malu Vicky mengamati Ciara dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat pipi Ciara merona.
"Thanks..." Dia mencoba menghentikan pandangan Vicky yang intens kepadanya, "Kita akan makan malam di mana????"
"Di sebuah tempat istimewa, kau pasti akan menyukainya. Ayo." Lelaki itu menghela lengan Ciara dengan lembut, mengajaknya ke mobilnya yang sudah menunggu di lobby hotel.
***
Mobil Vicky berhenti di sebuah cafe yang cukup ramai, dengan hiasan taman-taman dan tumbuhan yang indah di depannya.
Suasananya tampak nyaman dan menyenangkan.Ada tanaman hijau dan taman yang cantik di bagian depannya, membuat cafe ini sesuai dengan namanya, garden cafe. Lampu kuning yang nyaman tampak temaram dan seolah-olah mengundang orang-orang yang lelah untuk masuk ke dalam, duduk dan memesan secangkir kopi sambil bersantai.
Ciara menghela napas lega, tadinya dia mengira Vicky akan membawanya makan malam formal di salah satu hotel bintang lima miliknya. Ternyata lelaki itu membawanya ke cafe yang kemarin dia datangi, cafe milik si kembar itu tetapi Ciara harus bersikap biasa saja agar tidak.menimbulkan kecurigaan dari Vicky dan berpura-pura tidak tahu jika itu adalah cafe milik lelaki itu.
Mungkin malam ini tidak begitu buruk dan mungkin Ciara bisa melalui malam ini dengan baik.
"Ayo masuk." Tanpa permisi Vicky menggandeng tangan Ciara dan mengajaknya masuk. Jemari Ciara mengejang dalam genggaman tangan Vicky, dia berusaha melepaskan diri, tetapi Vicky bersikeras, lelaki itu tetap memaksa untuk menggenggam tangannya.
Ciara ingin meronta, menunjukkan penolakannya, tetapi kemudian, ketika dia memasuki cafe itu, perhatiannya teralihkan dan dia terpesona.
Cafe itu tampak temaram, tetapi interiornya memamg sangat indah. Orang-orang tampak menikmati hidangannya di meja masing-masing. Beberapa orang tampak menikmati kesendiriannya sambil menghirup kopi dan sibuk dengan komputernya. Beberapa yang lain tampak menikmati kebersamaan, berkumpul bersama di sebuah meja besar, dan sesekali terdengar tawa dari sana.
Dan di sisi lain, banyak pasangan yang memutuskan untuk makan malam berdua di sudut lain cafe yang diatur dengan lebih menekankan privacy dan lebih romantis.
Vicky membawa Ciara ke salah satu sudut yang cukup sepi dan nyaman, dia menarikkan kursi untuk Ciara dengan sopan.
Setelah Ciara duduk, Vicky duduk di depannya, menatapnya dengan tatapan tajam di atas bayang-bayang lilin yang berada di tengah meja mereka.
"Kuharap kau suka berada di tempat ini."
"Ini tempat yang kemarin aku datangi kan??"?
Vicky tertawa. "Iya. Dan tempat Ini punya kakakku, Garviil. Kau nanti pasti akan bertemu dengannya, dia adalah pemilik resmi perusahaan, aku hanya menggantikannya selama dia berbulan madu dengan isterinya."
Garviil... Ciara menghela napas panjang, tiba-tiba teringat akan perkataan Bianca bahwa dia juga harus membalaskan dendamnya kepada Garviil, entah dengan cara mengganggunya atau mungkin dengan merusak perkawinannya. bagaimana mungkin Ciara bisa melakukannya?
Seorang pelayan setengah baya yang tampak ramah mendatangi mereka, senyumnya melebar ketika melihat Vicky.
"Sungguh beruntung tuan Vicky karena bisa makan malam dengan perempuan secantik anda." gumamnya sambil menatap Ciara dengan penuh perhatian, dan membuat Ciara tersipu.
Vicky tertawa, "Jangan menggodanya Andro.." lalu lelaki itu mengalihkan pandangannya kepada Ciara dan menjelaskan, "Ini Andro dia bisa dibilang adalah penunggu cafe ini."
Andro terkekeh juga mendengar julukan Vicky untuknya, lalu mengangguk sopan kepada Ciara, "Saya akan meminta pelayan mencatat pesanan anda. Semoga anda menikmati waktu anda di sini." Lelaki itu setengah membungkuk lalu meninggalkan mereka berdua.
Seorang pelayan segera mendatangi mereka, dan kemudian mencatat menu makan malam dan membawakan minuman pembuka. Setelah itu mereka tinggal berdua saja, menunggu pesanan makan mereka datang.
Suasana dengan segera menjadin canggung. Mungkin Vicky biasa-biasa saja, tetapi entah kenapa Ciara merasa gugup.
"Maafkan kelakuanku disini kemarin." Vicky meminta maaf, tetapi tidak tampak menyesal, "Meskipun kau tidak bisa menyalahkanku, aku selalu tertarik kepada perempuan cantik dan kau salah satu di antaranya." gumamnya tanpa basa-basi. "Aku pikir aku sudah kehilanganmu saat di pantai itu, tetapi rupanya kita berjodoh sehingga bertemu lagi di sini kemarin dan hari ini di kantor."
Perilaku agresif lagi. Tiba-tiba Ciara merasa ngeri. Akankah Vicky memaksanya kalau dia menolak?
"Apa yang kau lakukan malam-malam kemarin, sendirian dan menuju bar yang di sudut sana, Ciara? Apakah kau tersesat???" Vicky menunjuk ke arah sudut cafe ini dimana disana memang ada bar kecil, sedangkan saat ini mereka sedang di area cafe bukan di bar yang kemarin. Cafe dan bar itu hanya terpisah dengan pembatas kaca saja.
Tatapan intens Vicky yang seakan menusuk ke dalam kalbunya membuat Ciara gugup. "Aku... eh... aku tersesat." Akhirnya Ciara mengiyakan saja.
Tetapi rupanya jawaban Ciara masih belum memuaskan Vicky, "Dari semua tempat di dekat hotel, kau masuk ke cafe ini.. apakah kau sedang mencari seseorang????"
Aku sedang mencarimu. Dalam hati Ciara ingin melontarkan kata-kata itu di muka Vicky, tetapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya bukan??? "Sudah kubilang aku tersesat. Lagipula bagaimana mungkin aku mencari seseorang??? Aku tidak kenal siapa-siapa di sini."
Vicky tidak akan bisa menghubungkannya dengan Bianca. Ciara sudah memastikan menutupi semua jejak hubungan mereka.
"Oh." Kali ini Vicky memilih tidak memaksa, "Apakah kau sudah mempunyai pacar???"
"Apa???" Ciara membelalakkan matanya, tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Vicky.
"Aku tidak perlu mengulangi pertanyaanku bukan??? Aku hanya ingin tahu apakah kau sudah ada yang memiliki, Ciara."
"Dan apa urusanmu mengenai itu???" Suara Ciara ketus, sebagai penutup sifat defensifnya terhadap laki-laki. Tetapi suara ketus Ciara tidak mempengaruhi Vicky, lelaki itu menyandarkan tubuhnya di kursi dengan santai.
"Sebab, kalau kau belum ada yang memiliki, aku berencana untuk memilikimu."
Pemaksa. Agresif. Dominan.
Seketika itu juga Ciara memutuskan. Lelaki ini, dibalik sikap santainya tetap saja sama seperti lelaki pada umurmnya, mereka semua sama saja, suka memaksakan kehendaknya kepada perempuan. "Aku menerima ajakan makan malammu dengan alasan kesopanan." Ciara langsung mengeluarkan suara formalnya, jenis suara yang selalu digunakan kepada anak buahnya, membuatnya menjadi CEO yang disegani. "Tetapi kalau kau mulai bersikap tidak sopan, maka mohon maaf, aku akan pergi." Ciara sudah siap beranjak dari duduknya ketika jemari kokoh Vicky menahannya.
Tidak ada yang dilakukan Ciara kecuali menatap jemari Vicky dengan pandangan mencela. Rupanya Vicky mengerti isyaratnya, lelaki itu melepaskan pegangannya dan bersedekap,
"Jangan pergi Ciara, Maafkan aku. Kau jenis perempuan yang lari terbirit-birit ketika dipaksa rupanya. Aku salah strategi." Dan kemudian senyumnya melebar lagi, "Duduklah, nikmati makan malammu, aku berjanji akan bersikap sopan sepanjang malam ini."
Ciara menatap Vicky. berusaha mencari kebenaran di mata itu..... lalu dia menghela napas panjang. "Baiklah." gumamnya, berusaha bersikap sedingin mungkin.
Dan kemudian hidangan pembuka datang, mengalihkan perhatian mereka. Ciara menatap takjub kepada hidangan yang indah itu, itu adalah patisserie yang di dalamnya diberi creme brulee dengan hiasan strawberry di atasnya. Tampilannya sangat indah dan menggoda...
Cafe ini benar-benar menyenangkan. Ciara membatin. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling sementara Vicky sedang berbicara dengan pelayan yang menyiapkan hidangan mereka. Suasananya romantis, tenang dan nyaman dan makanannya sepertinya enak.
Mata Ciara terus berputar mengitari seluruh penjuru cafe, dan kemudian dia terperangah, wajahnya langsung memucat ketika melihat sosok itu. Sosok yang duduk tak jauh dari mereka, sedang menikmati hidangan bersama teman-teman lelakinya.
Sosok itu adalah sosok yang tidak akan pernah Ciara lupakan. Monster kejam yang terpatri di benaknya bahkan setelah tahun-tahun berlalu.
Itu......Devan!
Lelaki yang pernah mencoba memaksakan kehendaknya kepada Ciara. Lelaki menjijikkan, perwakilan dari segala apa yang ditakuti dan dibenci oleh Ciara. Sudah bertahun-tahun Ciara tidak melihatnya, tentu saja seperti halnya dirinya, penampilan Devan sudah berubah menjadi lebih dewasa, tetapi Ciara yakin lelaki itu pasti masih tetap jahat dan pemaksa.
Jemari Ciara mengepal, begitu kuatnya sampai buku-buku jarinya memutih. Dia harus pergi dari sini secepatnya. Monster itu tidak boleh melihatnya!
Tetapi bagaimana caranya? Monster jahat itu duduk di dekat pintu, Ciara harus melewatinya kalau mau keluar. Lelaki itu tidak ada ketika Ciara masuk tadi bersama Vicky, jadi dia pasti baru saja datang.
Sementara itu, Vicky menyelesaikan percakapannya dengan si pelayan, dia memusatkan perhatiannya kembali kepada Ciara, dan menyadari ada yang salah dari diri Ciara.
Perempuan itu sepucat kapas, ekspresinya tegang dan ada teror di matanya, sementara jari-jarinya mengepal dengan kuatnya di atas meja. Vicky langsung merasa cemas. "Ciara???? Kau kenapa????" Tanya Vicky.
Ciara terlonjak karena Vicky membuatnya terkejut. "Ah tidak apa-apa."
"Ayo, di makan..!!" Ucap Vicky.
Ciara benar-benar ingin pergi dari tempat ini. Berharap Devan tidak melihatnya. Tapi bagaimana dia bisa pergi, makanan sudah datang dan dia bingung harus mengatakan alasan apa kepada Vicky. Ciara pun mencoba bersikap tenang dan menikmati makanan yang sudah di sajikan. Tidak enak jika dia pergi begitu saja. Ciara kemudian mengajak Vicky mengobrol membahas kerja sama perusahaan mereka, untuk menghilangkan rasa gugupnya karena keberadaan Devan. Ciara berharap Devan tidak melihat keberadaannya disini. Ciara tidak tahu kenapa, begitu luasnya Amerika dari ujung utara hingga selatan, kenapa dia harus bertemu dengan Devan di kota ini. Sangat menyebalkan sekali.
Sementara itu Vicky terus tersenyum memandangi Ciara. Perempuan ini berpenampilan tegas tetapi Vicky bisa mengetahui bahwa Ciara adalah gadis yang baik dan tidak angkuh seperti perempuan sosialita pada umumnya. Meski Ciara sangat kaya tetapi penampilan Ciara sangat jauh dari kemewahan. Dan tergolong standard seperti perempuan biasa. Hal inilah yang membuat vicky semakin tertarik dan ingin bisa mengenal Ciara lebih dekat lagi. Kakaknya memang benar, bahwa dia harus bisa mulai move on dari Tiffany, karena hidup terus berjalan. Meski bagi Vicky, Tiffany tidak akan pernah bisa hilang begitu saja dari hatinya. Dia punya tempat khusus jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Tiffany adalah kecintaannya yang akan selalu abadi di hidupnya.
"Ciara...!!!"
Vicky menoleh dan mendapati seorang laki-laki berdiri di belakang Ciara. Lalu Vicky beralih melihat ke arah Ciara, mendapati wajah perempuan itu yang sedang mengernyit tetapi Ciara enggan menoleh ke belakang, dimana laki-laki yang memanggilnya itu berada. Bahkan tangan lelaki itu menyentuh pundak Ciara.
"Ciara...!!!" Panggilnya lagi sembari menepuk pundak Ciara.
Mau tidak mau, Ciara akhirnya menoleh. Vicky hanya terdiam dan memandangi Ciara serta laki-laki itu bergantian.
Ciara pun mendongak dan menatap Devan tajam. "What's wrong?" Tanya Ciara ketus mencoba untuk tidak takut kepada Devan.
"How are you baby? It's been a long time since we met." Devan menarik kursi dan duduk di sebelah Ciara, seolah mengabaikan keberadaan Vicky. Devan menanyakan kabar Ciara karena sudah lama mereka tidak bertemu. Sedangkan Vicky hanya diam karena bingung, siapa laki-laki ini.
"Why did you disappear without a trace...? You ran away like someone who saw a demon, when I just wanted to invite you to have fun." Lanjut Devan lagi. Dia bertanya kenapa dulu menghilang begitu saja tanpa jejak???? Kenapa Ciara lari terbirit-birit seperti orang melihat setan, padahal Devan hanya ingin mengajak Ciara bersenang-senang saja.
Devan menoleh ke arah Vicky dan memandang Vicky dengan pandangan mengejek. "How about now? Have you figured out how much fun making Iove is??? How many times a week do you do that with this guy?" Devan menunjuk ke arah Vicky. Bertanya pada Ciara apakah Ciara sudah tahu betapa menyenangkannya bercinta itu? Devan kemudian kembali bertanya untuk merendahkan Ciara. Menanyakan Seminggu berapa kali Ciara melakukan itu dengan pria ini, yang maksudnya adalah Vicky. "I think I'm more skilled than him. My c0ck is bigger. You should try it once in a while."Ucap Devan lagi sembari terkekeh dan dia merasa bahwa dia lebih ahli di bandingkan Vicky karena Pe''nis miliknya pasti lebih besar daripada milik Vicky. Dan Ciara harus mencobanya sekali-kali berciinta dengannya.
Plaaaaakkkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Devan. Ciara menampar Devan karena ucapan lelaki itu yang sudah sangat merendahkannya.
Detik itu juga semua orang yang ada di cafe itu mengalihkan perhatian mereka ke meja Ciara dan Vicky. Ciara berdiri dengan marah dan menahan air matanya. Vicky juga terkejut dan langsung berdiri. Ini pertama kalinya dia mendengar ada seorang laki-laki yang merendahkan seorang perempuan secara terang-terangan di depannya. Raut wajah penuh kemarahan Vicky terlihat jelas. Vicky mendekati Ciara dan berdiri di depan perempuan itu seolah ingin melindungi nya. Vicky menatap tajam Laki-laki yang tidak dia kenal itu. Menarik kerah bajunya dan langsung menghujamkan pukulan keras di wajah lelaki itu hingga membuat lelaki itu jatuh di lantai. "You dare to hit me...!!!
" Geram Devan, dia pun berusaha berdiri dan akan membalas pukulan Vicky.