
Sampailah Ciara di hotel, dia masuk lift menuju kamar nya. Hari ini melelahkan sekali. Seharian dia meeting di kantor si kembar dan malam ini makan malam di cafe itu, belum lagi dia harus bertemu dengan Devan. Lelaki brengseek itu telah merusak mood nya. Belum lagi Bianca. Ciara benar-benar lelah dan butuh istirahat. Besok setelah meeting terakhir dengan vicky, dia akan langsung ke Airport dan terbang kembali ke Singapura. Ya, dia masih ada jadwal pertemuan, pagi hingga siang, lalu akan kembali dan pulang.
Ciara keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya. Langkahnya terhenti ketika dia mendapati biBianca berdiri di depan pintu kamarnya. Ciara mengernyit, dia kemarin smepat memberitahu Bianca dimana tempatnya mengiap dan di kamar nomor berapa. Ciara menyesalkan diri nya sendiri kenapa dia harus memberitahu Bianca, dan sekarang sepupu nya itu justru ada disini. Bianca pasti akan merengek lagi kepada nya. Tetapi keputusan Ciara sudah bulat, dia bagaimanapun harus segera pergi dari tempat ini besok.
"Ciara.... Aku menunggu mu." Bianca menghampiri Ciara.
"Kenapa kau disini??" Tanya Ciara. Kemudian dia membuka kamarnya dan mengajak Bianca masuk.
Sampai di dalam, Bianca tiba-tiba duduk berjongkok dan memeluk kaki Ciara. "Ciara, aku mohon bantulah aku, jangan dulu pulang ke Singapura. Please bantu aku."
"Bi, sorry aku tidak bisa, aku harus kembali ke Singapura. Aku juga tidak mau terlibat dengan balas dendam mu, Vicky terlihat sangat baik, dan kakaknya juga sepertinya baik, kau harus sadar Bi, kenapa mereka melakukan itu padamu, ya karena kesalahanmu sendiri. Harusnya kau mengerti itu, sorry aku benar-benar harus pergi dari tempat ini besok. Kumohon kau mengerti lah."
"Kau tidak tahu, mereka jahat, mereka mempermalukanku. Aku tidak bisa menerima nya."
"Kalau kau tidak membohongi mereka, pasti mereka tidak akan melakukan itu. Berdirilah. Jangan seperti ini, ayo hilangkan dendam mu, kau cantik, kau bisa mendapatkan laki-laki yang baik."
"Aku hanya ingin Vicky."
"Kalau kau memang ingin Vicky kembali padamu, ya ubahlah sikapmu, yakinkan dia. Setidaknya kau bisa menjadi perempuan seperti kekasihnya yang meninggal itu, dia menginginkan perempuan seperti itu."
"Darimana kau tahu???" Tanya Bianca.
"Vicky tadi menceritakan nya padaku. Sekarang hentikan dendam mu itu, jadilah lebih baik lagi."
"Tidak....!!!! Aku harus membalas mereka, kau harus membantuku."
"Tidak Bi, aku tidak bisa." Ucap Ciara.
Bianca melepaskan pegangannya di kaki Ciara lalu berdiri. Bianca mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya. Dan tiba-tiba sesuatu itu tampak berkilat. Tidak salah lagi, itu adalah sebuah pisau. Bianca meletakkan pisau itu di lehernya. "Kalau kau terus menolak untuk membantuku, maka kau tidak lagi menyayangimu dan kau akan melihat kematiaanku di depanmu."
"Bianca...." Ciara mendekati Bianca yang memundurkan langkahnya, sepupunya itu mengancamnya dengan Pisau. "Paa yang kau lakukan. Buang pisau itu."
"Tidak...!!! Kau jangan.mendekat....!!!! Aku berharap banyak padamu, tetapi kau malah memberiku harapan palsu, kau Jahat Ciara.... Kau jahat sekali padaku. Jangan mendekat, atau pisau ini akan melukai leher ku, dan aku akan seketika maati di depanmu..."
"Bianca jangan...!!!" Ciara mulai ketakutan melihat ancaman Bianca.
"Tidak....!!!!!!! Kau menolak ku dan kau akan melihat kematiianku...!!" Bianca menggoreskan pisau di lehernya, dan darah langsung keluar dari sana.
"Bianca....!!!! Oke-oke... Aku akan membantumu, tapi buang pisau itu. Aku akan membantumu membalaskan dendammu."
Bianca akhirnya membuang pisau itu ke lantai, dan Ciara langsung memeluknya sembari menangis. Ciara sangat takut Bianca nekat, tidak ada pilihan lain, dia harus menuruti keinginan Bianca. Diam-diam, Bianca tersenyum.penuh kemenangan di pelukan Ciara. Ancamannya berhasil, dan dia akan memanfaatkan kasih sayang Ciara kepadanya untuk membalaskan dendamnya pada Vicky dan Garviil.
))))
Vicky membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Senang sekali rasanya dia bisa bertemu dan berbincang dengan Ciara. Meskipun kehadiran Devan membuat rusak suasana makan malam mereka tetapi justru itu bisa sedikit membuat Vicky tahu mengenai kisah cinta Ciara sebelumnya.
Ciara terlihat seperti seorang gadis yang baik. Wajahnya cantik dan cerdas. Cerdas???? Ya, Vicky bisa melihat itu saat diang tadi mereka sedang meeting bersama. Ciara tampak cerdas, lugas dan sangat teratur ketika berbicara. wajar jika Ciara di jadikan sebagai CEO di perusahaan keluarga nya karena memang Ciara begitu ahli dalam menjalankan bisnis nya serta sangat kompeten.
Pertemuan hari itu di pantai, tidak Vicky duga bahwa dia akan punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ciara. Tiba-tiba saja dia ingin bisa mengenal Ciara lebih jauh lagi. Ya, Vicky tahu seperti nya akan sangat sulit karena Ciara punya trauma dengan mantan kekasihnya dan Ciara seperti antipati dengan laki-laki. Tetapi Vicky bisa menjadikan ini sebagai tantangan yang mengasyikkan. Mendekati gadis seperti Ciara adalah sesuatu yang menyenangkan. Dan Vicky sebenarnya juga merasa iri dengan kakaknya yang sudah menikah dan sedang berbahagia. Dia ingin seperti mereka. Seandainya Tiffany masih ada, Vicky pasti juga akan mengajak Tiffany untuk menikah bersamaan dengan Geggie dan Garviil. Sayangnya, takdir tidak mau menyatukan mereka. Dan Vicky berpikir mungkin pertemuannya dengan Ciara di pantai itu sebagai pertanda bahwa akan ada pertemuan selanjutnya yang lebih mengesankan. Pertanda yang bagus tentu tidak boleh di lewatkan begitu saja.
Ini malam yang spesial. Vicky tersenyum. Dan dia mengantuk. Besok ada meeting lagi dengan Ciara. Vicky sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Ciara lagi. Dia akan tidur dengan nyenyak dan berangkat pagi ke kantor. Ada untungnya juga menggantikan kakaknya di kantor. dia bisa bertemu dengan gadis cantik dan cerdas seperti Ciara.
'★★★
Sementara itu di tempat lain. Garviil sudah bersiap untuk pergi dengan Geffie ke kebun anggur sekaligus tempat pembuatan wine. Mereka masih berada di dalam kapal menunggu kapal bersandar. Baru setelah itu mereka akan menuju perkebunan anggur serta tempat pembuatannya. Geffie sangat menyukai wine, begitu juga Garviil. Mereka menyukainya dan setidaknya dalam seminggu mereka akan meminum wine meski hanya satu gelas, dan tidak pernah sampai mabuk. Setengah sampai satu gelas sudah cukup. Dan Garviil selalu mencari wine dengan kualitas yang paling baik.
Garviil duduk di ruang tengah menunggu Geffie bersiap. Ini hari terakhir mereka di kapal ini. Dan nanti mereka akan menginap di hotel lalu beralih ke tempat lain yang jadi tujuan mereka selanjutnya.
Garviil mengambil ponselnya yang ada di meja ketika ponsel itu berbunyi. Dan dia pun mengangkatnya. Bersamaan dengan itu ternyata Geffie juga keluar dari dalam kamar. Melihat suami nya sedang sibuk berbicara di telepon, Geffie pun memilih duduk di sofa dan memperhatikan Garviil saja.
Sampai kemudian Garviil selesai berbicara di telepon dan kembali duduk di sebelah Geffie. Wajah Garviil pun terlihat kesal, membuat Geffie mengernyit dan penasaran. "kenapa??? Apa ada masalah???" Tanya Geffie.
"Vicky, dia bertengkar dengan seseorang di cafe tadi." Gumam Garviil.
"Bertengkar???? Kok bisa???"
"Dia makan malam dengan klien di cafe, ada seorang laki-laki yang katanya merendahkan klien itu, kebetulan klien nya seorang perempuan, laki-laki itu berbicara tidak sopan, jadi Vicky marah dan memukulnya. Sampai dua kali."
"Ya Tuhan... Pasti perkataan nya keterlaluan sehingga Vicky marah seperti itu."
"Aku hanya takut kalau lelaki itu tidak terima dan memperpanjang urusan ini. Yang ada Vicky akan dalam masalah nanti. Seharusnya dia bisa bersikap lebih tenang dan tidak berbuat sejauh itu. Bagaimana kalau lelaki itu tidak menerima perbuatan Vicky.???"
"Lalu Vicky sendiri bagaimana???? Aoa dia juga terluka???"
Garviil menggelengkan kepala. "Dia tidak sempat kena pukulan karena Andro berhasil mengusir lelaki itu. Ada-ada saja Vicky. Lagipula untuk apa juga dia makan malam dengan klien itu???? Meeting di kantor saja sudah cukup, dan mereka malah makan malam secara pribadi. Dan besok pun mereka ada bertemu di kantor lagi untuk melanjutkan meeting. Cari masalah saja."
"Makan malam pribadi???? Maksudnya???" Tanya Geffie.
"Ya pribadi, hanya berdua saja. Jadi aku ada klien perusahaan di Singapura, kerjasama untuk menyetok produk dari Singapura untuk supermarket ku, itu sayang supermarket yang akan menjual berbagai produk asia. Aku pernah memberitahu mu tentang hal itu kan??? Dan CEO perusahaan Singapura ini seorang perempuan, dia juga ternyata berasal dari Indonesia."
"Perempuan???? Dari Indonesia???" Geffie tersenyum. "Kalau begitu sepertinya wajar saja kalau Vicky mengajaknya makan malam pribadi" Geffie terkekeh.
"Kenapa kau malah tertawa???" Garviil bingung dan belum mengerti maksud istrinya.
"Kau ini bagaimana??? Bukankah bagus kalau Vicky sudah mulai ada niatan untuk mendekati seseorang???? Kau bilang kau sering menyuruh Vicky untuk mencari kekasih, mungkin Vicky mulai tertarik dengan CEO perusahaan Singapura itu, itulah kenapa dia mengajaknya makan malam secara pribadi"
.Hening.
Garviil terdiam beberapa saat. Lalu tersenyum. "Iya, benar juga ya???? Tapi apa iya dia tertarik??"
"Bisa jadi, coba nanti kau hubungi dia dan tanyakan mengenai itu. Tapi btw memangnya siapa laki-laki itu sampai berani merendahkan perempuan itu???"
"Mungkin pria itu mabuk jadi melantur kemana-mana bicara nya. Baiklah aku akan menghubungi Vicky nanti." Garviil memeluk Geffie. Baginya ini bulan madu yang sangat menyenangkan. Dia dan Geffie mengisi nya dengan penuh kebahagiaan dan percintaan yang panaas. Se menyenangkan itu ternyata menikah. Garviil juga bisa lebib mengenal Geffie lebih jauh lagi, dan mereka juga sama-sama berusaha menjadi lebih dekat lagi.
"Bagaimana??? Kau happy tidak???" Tanya Garviil.
"Tentu saja. Karena aku bersamamu, di tempat yang luar biasa seperti ini, biasanya aku hanya pergi liburan bersama sahabatku saja. Suasana nya hampir sama dengan saat liburan di labuan bajo, hanya beda nya aku dengan saja baru sahabatku sedangkan sekarang denganmu."
"Ah iya, Papa punya Pinisi di labuan bajo. Papa punya banyak tempat keren dan menarik di berbagai tempat, dan kau pasti sudah merasakan semua suasana nya."
Geffie terkekeh. "Papa selalu mengajakku ke tempat-tempat yang baru dia bangun atau baru dia beli, sebelum tempat itu di gunakan oleh orang lain, kami sudah mencoba nya lebih dulu."
Garviil tertawa. "Sangat luar biasa. Keluargamu memang tidak main-main, dan Papaku bilang, bisnis keluargamu selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya, menandakan bahwa pengelolaannya sangat baik sekali. Papa Ariel sangat hebat dalam kepemimpinannya dan dia juga terkenal dermawan, mungkin itu salah satu hal yang membuat perusahaannya selalu dalam keadaan yang baik dan nomor satu di Indonesia untuk perusahaan sejenis. Ku dengar, Papa Ariel juga punya yayasan yatim piatu hingga yayasan untuk penderita penyakit berat seperti kanker ya???"
Geffie menganggukkan kepala nya. "Iya, yayasan itu berdiri di bawah naungan perusahaan Papa, perusahaan Uncle Aditya dan juga Uncle Randy dan Uncle Vino. Dan yayasan itu berdiri di ratusan kota yang ada di Indonesia, tujuannya adalah untuk menjamin kesejahteraan anak-anak yatim piatu dan kurang mampu, terutama mereka yang punya penyakit berat seperti kanker dan juga anak-anak penderita hiv aids yang menurun atau tertular dari orang tua nya. Dulu saat aku belum ke Amerika, setiap bulan selalu ada kegiatan mengunjungi panti asuhan hingga rumah singgah untuk menghibur anak-anak disana. Itu sudah kegiatan rutin sejak dulu, bahkan sudah berjalan ketika kak Gienka, kak Kyros serta yang lainnya masih kecil. Kami sudah di ajarkan untuk bisa berbaur dengan anak-anak malang itu, dan menghibur mereka. Aku senang sekali ketika bisa mengunjungi mereka."
"Mungkin itu juga jadi salah satu alasan kalian semua tumbuh menjadi seseorang yang bersahaja dan tidak memanfaatkan nama besar orang tua kalian, dan kalian bisa menjadi orang yang bijak dan tidak angkuh seperti kebanyakan anak-anak orang kaya yang lainnya. Karena orang tua kalian mengajarkan kalian untuk selalu berbagi dengan mereka yang kurang beruntung." Ucap Garviil.
"Itu sebenarnya sudah jadi turun temurun, orang tua kami pun sudah di ajarkan hal demikian oleh orang tua mereka, dalam artian kakek nenek dan eyang kami, sehingga kami semua tumbuh menjadi seperti saat ini."
"Pengajaran yang hebat sejak awal. Dan saat kita punya anak nanti, kita juga harus menjadikan anak-anak kita sebagai manusia yang bisa bermanfaat untuk orang lain, dan menjadi anak-anak yang baik dan peduli sesama." Garviil mempererat pelukannya pada Geffie. Lalu mencium pipi istrinya. Garviil beruntung, karena dia masuk ke dalam lingkup keluarga yang baik seperti keluarga Geffie. Istrinya yang selalu tampil dan bersikap apa adanya, meskipun di kelilingi dengan kemewahan yang luar biasa banyaknya, tetapi Geffie tetap menjadi perempuan yang bersahaja.
))((((
Garviil dan Geffie sudah selesai berkeliling dan membuat Wine secara tradisional. Mereka bersenang-senang hari ini. Dan saat ini mereka sedang duduk menikmati makan siang sekaligus mencicipi wine dari tempat ini. Raut wajah bahagia tamak jelas sekali terlihat di wajah kedua nya. Setelah ini mereka akan kembali beristirahat di hotel, dan besok melanjutkan lagi perjalanan honeymoon mereka ke Italia. Ya, tujuan mereka selain Perancis adalah Italia dan juga Belanda. Selama dua minggu mereka akan di benua biru in, lalu pulang ke Jakarta, setelah menggelar resepsi pernikahan kedua, mereka akan pergi lagi honeymoon di Indonesia baru setelah itu kembali ke Amerika.
"Bagaimana, enak tidak wine nya??? Ini salah satu yang aku suka, karena pembuatannya masih sangat tradisional."
Geffie tersenyum. "Tradisional dan unik, karena memang masih menggunakan tenaga manusia untuk menghancurkan buah anggurnya. Menggunakan kaki hahaha, tetapi itulah uniknya dan spesialnya. Rasanya memang enak, dan menyenangkan mengiinjak-injak ribuan buah anggur dengan kaki, satisfying. Hahaha."
Garviil tersenyum. "Aku dulu pernah ke Aussie dan ada tempat pembuatan wine seperti ini disana."
"Apa kau juga mencoba nya seperti tadi???"
Garviil menggelengkan kepala nya. "Tidak, Mama dan Papa yang mencoba nya." Garviil melirik ke arah ponselnya di atas meja yang berbunyi. "Vicky menelepon." Gumamnya.
"Angkat saja." Ucap Geffie.
Garviil mengangguk dan mengangkat telepon adiknya. "Ya Vic???'
"Aku sudah menaiki Geffie lima kali sejak pagi. Ah tidak, dua kali maksudnya karena yang tiga kali dia yang menaiki ku." Ucap Garviil berbohong, dan dia langsung mendapatkan pelototan Geffie yang ada di depannya. Garviil pun tertawa.
"Hahahha." Vicky pun ikut tertawa dan sadar bahwa kakaknya tentu sedang berbohong kepadanya. "Brengseek kau. Oh iya ngomong-ngomong, aku akan meeting lagi hari ini dengan perusahaan Singapura itu, mungkin agenda nya adalah kesiapan mereka untuk memenuhi pesanan kita nanti, ya sekaligus aku ingin melihat produk yang mereka bawa."
"Baguslah...!! Periksa dengan baik dan simpan produk contohnya itu, nanti aku juga ingin melihatnya. Bagaimana makan malam nya tadi malam??? Lancar???'
Vicky mengernyit. "Makan malam???" Tanya nya bingung.
"Iya, makan malam dengan Ceo perusahaan itu???"
"Darimana kakak tahu??" Tanya Vicky.
"Tahu dong, memangnya kau pikir aku tidak tahu segalanya tentangmu. Bahkan aku juga tahu kalau kau adu jotos dengan seseorang semalam di cafe. Apa kau tidak punya otak sampai kau harus melakukan hal seperti itu di depan banyak orang dan kau lakukan di dalam cafe itu. Apa kau sekarang jadi sok jagoan???"
"SiiiiaaaIIII....!! Kau mengetahuinya ternyata."
"Setidaknya kau tidak perlu melakukan hal semacam itu, kau bisa mengusirnya saja dari cafe, bkan malah memukulinya, apa kau tidak berpikir bahwa itu bisa saja berpengaruh pada pengunjung cafe, bagaimana kalau orang itu mempengaruhi orang lain dan menjelekkan nama cafe kita??? Aku bisa rugi Vic, apalag cafe kita di kujungi oleh banyak anak muda."
"Sorry, aku refleks saja kak semalam, pria siaIan itu menghina dan merendahkan seorang perempuan, aku jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya."
"Apa kau menyukai CEO itu??? Dia perempuan kan???"
"Aku??? Menyukai nya??? Mana ada kak..." Vicky mencoba mengelak.
"Lalu apa maksudmu mengundangnya makan malam di cafe??? Kalian tidak membahas pekerjaan kan karena itu di luar jam kantor???"
"Tidak kak, hanya makan malam saja."
"Benarkah??? Apa kau pikir aku akan percaya dengan perkataanmu itu??? Bagaimana bisa kau makan malam secara pribadi dengan klien tanpa membahas pekerjaan??? Pasti ada udang di balik bakwan. Jujur saja. Apa yang sedang kau rencanakan dengan perempuan itu??"
"Tidak.... Ehh tidak ada..." Vicky mulai gelagapan.
"Apa yang sedang kau rencanakan???" Tanya Garviil menelisik. "Aku mendengar perempuan itu masih single."
"Oh cmon kakak.. Kenapa kau berpikir sejauh itu????"
"Karena adikku mengatur makan malam pribadi dengan seorang perempuan, dan dia menghajar laki-laki yang merendahkan perempuan itu, dan obrolan makan malam itu tidak membahas pekerjaan. Aku membaca ada sesuatu terjadi disana, sesuatu yang sedang kau rencana kan. Kita saudara kembar, dan sejak dulu kita berdua punya ikatan bathin yang kuat, jadi aku mencium sesuatu yang sedang kau sembunyikan."
"Oke oke.... Kalau tidak segera ku jawab, kau pasti akan terus memberondongku dengan pertanyaan hang sama terus menerus. Ya, aku tertarik dengannya, dan aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Jadi aku ingi mencoba pendekatan dengannya."
"Kau pernah bertemu dengan nya??? Kapan??? Dimana??? Jadi kau sudah mengenalnya???"
"Tidak mengenalnya, hanya kami pernah bertemu. Kau ingat tidak saat kita liburan ke Anyer dengan Geffie dan sahabat-sahabatnya. Lalu aku berbicara dengan seorang perempuan di pantai, dan perempuan itu adalah Ciara Alexandra. Perempuan yang sama yang saat ini jadi klien kita."
"Di Anyer???? Oh perempuan itu, yang kau bicara dengannya??? Ya aku ingat."
"Iya kak, itu ternyata Ciara, kebetulan saat itu, aku iseng melukisnya, dan saat aku bicara dengannya waktu itu, aku memberikan lukisan ku kepadanya."
Garviil saling melempar pandangan dengan Geffie. Sejak tadi dia mengaktifkan speaker ponselnya supaya istrinya juga bisa mendengar pembicaraan nya dengan Vicky. "Kau melukisnya tanpa ijin??? Apa yang ada di otakmu??"
"Refleks saja kak, dan ternyata aku bertemu lagi dengannya karena kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan miliknya."
"Jadi kau benar-benar tertarik dengannya????" Tanya Garviil memastikan.
"Bisa di bilang seperti itu, tetapi ya aku juga tidak tahu ke depannya seperti apa, aku sedang berusaha untuk mendekatinya, sayangnya sedikit gagal karena mood Ciara rusak gara-gara laki-laki itu, yang ternyata adalah mantan kekasih Ciara."
"Mantan kekasihnya???"
"Ya, dan Ciara ketakutan kepadanya karena dia pernah mencoba untuk meIecehkannya saat mereka dulu berpacaran dan tadi malam, lelaki itu merendahkan Ciara dengan membahas permasalahan mereka saat itu. Aku melihat ketakutan Ciara dan aku juga sangat marah dengan ucapan lelaki itu yang sangat tidak sopan, apalagi di depan banyak orang seperti itu."
Garviil tersenyum. "Semoga kau melakukan itu bukan untuk menarik simpati nya saja, tetapi murni dari hatimu. And then, aku senang kau bisa mulai membuka hatimu untuk perempuan, aku akan selalu mendukungmu, yang terpenting kau bisa mencari perempuan yang baik yang mau mencintaimu dengan tulus seperti Tiffany, tetapi satu hal yang perlu kau ingat, jangan pernah membandingkan perempuanmu nanti dengan Tiffany, itu bukan hal yang bagus, perempuan sangat sensitif."
"Ya, aku mengerti sekali kak."
"Entah kau nanti dengan Ciara atau yang lainnya, aku tidak lempar masalah kan nya yang penting kau bahagia."
"Thanks kak...."
!!!###
Ciara bersiap untuk ke kantor Vicky dan Garviil. Dia akan meeting lagi dengan Vicky dan tentu bertemu dengan lelaki itu. Rencana nya untuk pulang ke Singapura gagal total karena Bianca telah bemar-benar membuatnya berjanji untuk membantu membalaskan dendam pada Vicky dan Garviil. Ciara tidak lagi bisa mundur dan dia harus melanjutkannya lagi.
Dan rencana yang harus dia lakukan sekarang adalah bisa membuat perhatian Vicky teralih kepadanya. Bianca menyuruhnya untuk mendekati Vicky, membuat lelaki itu jatuh cinta kepadanya lalu nanti menghancurkannya. Dia harus membuat Vicky benar-benar terpesona kepadanya, tetapi dia tidak boleh terpesona oleh Vicky, karena Vicky hanyalah milik Bianca. Begitulah yang di ucapkan Bianca kepadanya. Tentu saja tidak akan pernah dia jatuh cinta pada Vicky, lelaki itu terlalu sempurna dan seperti bad boy. Bukan tipe Ciara.
Ciara sudah rapi, dia keluar dari kamar hotelnya dan sudah di tunggu oleh timnya di bawah. Mereka akan pergi bersama-sama ke kantor Garviil. Ciara tentu akan bertemu lagi dengan Vicky. Ciara juga sebenarnya bingung bagaimana dia harus menarik perhatian Vicky, dia sama sekali tidak pernah menggoda atau merayu laki-laki. Sama sekali tidak ahli dalam hal itu. Tetapi janji nya pada Bianca membuatnya harus bisa melakukannya. Ya, Ciara akan mencoba nya.
Ancaman Bianca tadi malam membuat Ciara khawatir dan juga takut Bianca akann melakukan kenekatan untuk mengakhiri hidupnya. Ciara tahu bahwa Bianca sangatlah mencintai Vicky, bagaimanapun Bianca ingin Vicky kembali lagi dengannya. Itulah kenapa Bianca meminta Ciara untuk menjebak Vicky saja dan jangan sampai Ciara justru terjebak sendiri dengan pesona Vicky.
"Pagi Ciara???' Sapa Bianca di telepon.
"Pagi Bi...." Jawab Ciara. Sekarang dia sudah di mobil dan sedang dalam perjalanan ke kantor untuk meeting dengan Vicky. Tetapi Bianca pagi-pagi sudah meneleponnya. Ciara memiliki firasat buruk.
"Kau masih di hotel???" Tanya Bianca.
"Tidak, aku sedang dalam perjalanan untuk meeting."
"Meeting dengan Vicky???"
"Ya."
"Kau harus mulai hari ini juga ya??? Lakukan seperti yang aku perintahkan tadi malam. Kau mengerti kan???"
"Iya, aku mengerti dan aku akan mencoba nya."
"Bagus, terus kabari aku pokoknya, lakukan semuanya dengan baik dan buat Vicky tersanjung olehmu. Aku akan terus memberimu arahan utuk setiap langkah yang akan kau ambil. Aku ingin menghancurkan Vicky sehingga dia bisa memohon dan mengemis padaku."
"Iya, aku akan berusaha melakukannya sesuai perintahmu." Gumam Ciara.
"Bagus, terus kabari aku."
"Iya."
"Selamat menjalankan misi Ciara, semoga sukses." Bianca menuup telepon.
Sementara Ciara memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas, dan mendengus kesal. Dia akan menjadi orang yang jahat dengan melakukan semua ini. Bathinnya menolak keras tetapi Ciara sungguh tidak punya pilihan lain selain memenuhi keinginan sepupu nya yaitu Bianca. Dan sebenarnya Ciara juga melihat sepetinya Vicky adalah orang yang baik di balik penampilannya seperti itu, sungguh sebuah kejahatan jika menghacurkan orang baik seperti Vicky, dan keluarga Vicky juga terlihat sebagai orang yang baik. Bahkan Garviil, kakak Vicky itu juga berwajah tenang, dingin dan sangat tampan. Ciara sudah membaca artikel bisnis mengenai Garviil, lelkai itu sangat jenius dan sukses dengan bisnis yang di jalankannya. Sangat semppurna dan Ciara harus menghancurkan mereka karena Bianca. Sangat menyedihkan sekali.
****
Garviil dan Geffie kembali ke hotel. Mereka akan beristirahat setelah seharian ini pergi dan melihat langsung pembuatan wine secara tradisional dan mereka juga turun langsung ikut berpartisipasi. Bahagia sudah jelas di rasakan kedua nya. Besok mereka akan melanjutkan jalan-jalan lagi. Geffie masuk ke kamar mandi, dia akan bersih-bersih diri dan akan berganti pakaian, sedangkan Garviil memilih untuk mengecek pekerjaan yang di kirimkan oleh sekretarisnya kemarin. Garviil sibuk menikmati waktu nya denganGeffie sehingga belum sempat mengecek pekerjaannya. Garviil tetap harus mengawasi pekerjaan kantor yang di tinggalkannya, apalagi dia menyerahkannya pada adiknya dan untuk bebrapa minggu ke depan dia tidak akan ke kantor. Dan kemarin ada meeting dengan klien dari Singapura untuk membahas kerjasama perusahaan mereka, sehingga Garviil harus mengecek laporannya dengan seksama.
Garviil tampak serius sekali dan membaca dengan teliti setiap halaman laporan dari sekretarisnya itu. Dan Garviil sesekali tersenyum karena tampaknya laporan hail meeting kemarin nsangat baik. Menandakan bahwa adiknya sudah bisa di andalkan dengan baik. Meskipun terlihat slengek'an tetapi Vicky ternyata mampu mengerjakan perintahnya dengan sangat baik, dan sekretarisnya juga membantu Vicky dengan baik juga. Dan Garviil semakin yakin bahwa Vicky ke depannya akan lebih baik lagi dan pasti sudah mahir dengan urusan dan pekerjaan kantor. Jika Vicky nanti sudah sangat mampu, Garviil akan merasa tenang dan dia bisa kembali ke Indonesia untuk membantu perusahaan Papa nya disana dan membiarkan Vicky mengurus perusahaan ini.
Geffie keluar dari kamar mandi, sudah segar dan sudah berganti pakaian. "Sayang, aku sudah selesai." Geffie menghampiri suaminya yang sedang berkutat di depan laptopnya.
Garviil menoleh dan melempar senyum. "Sebentar lagi." Ucapnya. "Aku memeriksa laporan meeting kemarin."
Geffie duduk di sofa. "Kau bilang lancar??"
"Iya, dan hasil laporannya juga sangat bagus, aku rasa Vicky telah bekerja dengan sangat baik dan sesuai dengan intruksi dariku. Dia bekerja degan sangat baik,aku yakin tidak akan butuh waktu lama untuk bisa membuatnya bisa jago sepertiku. Jika dia sudah benar-benar berhasil mengusai, tentu akan sangat mudah bagiku untuk menyerahkan tanggung jawab perusahaan kepadanya dan aku bisa kembali ke Indonesia untuk membantu Papa. Ya mash banyak waktu, apalagi aku masih punya waktu 2 tahun di Boston sampai kau menyelesaikan kuliahmu, lalu kita bisa pulang dan tinggal di Indonesia. Vicky akan bisa menghandle semuanya di Boston."
"Kau tentu harus membicarakan hal itu dengan Vicky, jangan sampai kau sudah menyiapkan segala nya tetapi Vicky menolak."
"Kau memang benar sayang. Ya, memang hal itu harus di bicarakan dengan baik, aku sudah berjanji pada Papa Iel, bahwa aku akan membawamu pulang ke Indonesia setelah kau lulus, aku tahu Papa Iel punya harapan besar kepadamu dan mempercayaiku, sehingga aku tidak mau mengecewakannya."
Geffie tersenyum. "Seharusnya kau tidak memberikan janji seperti itu, kau punya tanggung jawab pada bisnis keluargamu. Dan aku istrimu, sepenuhnya aku milikmu, aku akan menuruti dan mengikuti suamiku."
"Aku tahu bahwa seorang perempuan yang sudah menikah adalah milik suaminya, tetapi aku menyadari bahwa istriku tidak mungkin bisa seperti saat ini kalau bukan karena kedua orang tuanya yang membesarkannya dengan limpahan kasih sayang, sebagai suami, aku ingin membalas rasa terima kasihku kepda mertua ku karena telah memberikan putri nya kepadaku, dan caranya adalah aku tidak ingin mengecewakan mereka. Aku juga tidak mau mengekangmu, aku ingin kau bisa menjalankan peranmu dengan baik, sebagai seorang istri dan seorang putri. Papa Iel punya harapan yang besar kepadamu, sudah sepatutnya aku juga menghargai dan menghormatinya."