Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Bebas



“Aku bisa menjelaskan..." Bianca berseru panik ketika melihat ekspresi jijik muncul di wajah Vicky. Bahkan pelayan setengah baya siaIan yang tidak bisa memegang nampan dengan benar itupun  ikut memandangi nya dengan mencela.


“Menjelaskan apa Bianca??? Bahwa kau selama ini membohongi kami??? Membohongi Garviil, aku dan semua orang???"


“Bukan begitu....!!!” Bianca meninggikan suaranya, keringat dingin muncul di keningnya. Dia gugup dan ketakutan, tidak menyangka bahwa pada akhirnya dia akan ketahuan. “Aku melakukannya karena aku mencintaimu Vicky, aku mencintaimu, bukankah kau juga mencintaiku???”


Vicky bersedekap, menatap Bianca dengan dingin. “Karena mencintaiku??? Aku tidak percaya.” Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan jijik. “Kau melakukan kebohongan ini ketika kau masih bersama Garviil. Jelas sekali bahwa kau berpura-pura lumpuh bukan karena mencintaiku, tetapi karena keegoisanmu ingin memanfaatkan rasa bersalah Garviil, karena obsesimu untuk memiliki Garviil.”


“Ya. Aku memang melakukannya!!!!" Bianca berteriak dengan frustrasi karena dia sudah kepalang basah. “Tetapi itu semua sudah tidak penting lagi. Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Tidakkah ini membuatmu bahagia??? Aku yang bisa berjalan disisimu dan membuatmu bangga??? Kita saling mencintai bukan???” Bianca mulai gemetaran, “Kita akan menikah dan berbahagia kan Vicky??? Aku akan memilikimu, bukan???”


Vicky mencibir. “Kau hanya bisa memilikiku dalam mimpimu Bianca.” Lalu lelaki itu melemparkan bom kejam itu kepada Bianca. “Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu. Aku melamarmu dan sebagainya karena ingin melepaskan Garviil dari cengkeraman perempuan licik sepertimu. Kakakku itu terlalu baik hati untuk menyingkirkanmu secara langsung dan kau memanfaatkan kebaikan hatinya tanpa tahu malu. Sekarang kau harus menyingkir dari kehidupan kami, Bianca.”


Airmata meleleh dari wajah Bianca, dia menatap Vicky dengan shock dan sedih, “Kau tidak akan melakukannya kepadaku kan Vicky??? Aku mencintaimu!!”


Vicky memalingkan mukanya dan berdiri. “Pergilah Bianca sebelum aku marah dan lebih mempermalukanmu lagi. Kau dan keluargamu telah menipu kami. Aku dan kakakku bisa saja melakukan pembalasan kejam kepadamu dan keluargamu, tetapi kalau kau menyingkir sekarang, kami tidak akan melakukannya.”


“Vicky....” Bianca berusaha memanggil dan memohon, tetapi wajah Vicky tampak dingin dan penuh kebencian.


“Supir di luar akan mengantarmu pulang, kau bisa mendorong kursi roda itu sendiri bukan?” Lelaki itu melirik Bianca dengan tatapan merendahkan. “Dan omong-omong, cincin itu bisa kau tinggalkan sebelum pergi.”


Lalu Vicky melenggang pergi, meninggalkan Bianca yang berdiri dan menangis histeris memanggil-manggil namanya.


Garviil berada di kamarnya yang berdinding kaca, mengamati semua kejadian itu dari atas. Ketika akhirnya Bianca pergi ke luar dengan di antar Andro yang membantu mendorong kursi rodanya, menuju sopir dan mobil yang sudah menunggu, Garviil memejamkan matanya dengan lega.


Selesailah sudah.


Tubuhnya menegang selama mengawasi Vicky datang dan mengajak Bianca makan malam. Dia takut rencana mereka tidak akan berhasil, dia takut bahwa kopi itu akan menumpahi Bianca yang memilih tidak bergerak dari kursi rodanya dan melukainya. Mereka mengambil resiko yang cukup besar dengan rencana ini. Dan itu semua sepadan. Bianca sudah pergi dari kehidupan mereka selamanya. Dia dengan rencana licik egoisnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengganggu kehidupannya.


Garviil melangkah mundur dan langsung menghubungi Geffie. Suara Geffie yang menyahut lembut di seberang sana langsung menyejukkan perasaanya.


“Hallo sayang????”


Garviil tersenyum. “Semua sudah selesai, Sayang. Aku akan segera kesana.”


"Benarkah??? Apa semua berjalan lancar???" Tanya Geffie di ujung telepon.


"Ya lancar, Bianca memang terbukti tidak lumpuh."


"Baiklah kalau kau ingin kesini."


"Oke tunggu aku..."


Garviil melihat Vicky yang sedang bercanda dengan Andro di bar ketika dia menuruni tangga. Dia mendekati mereka.


“Hai kak.” Senyum Vicky tampak lebar. “Kau melihatnya tadi???” Tanya Vicky.


“Aku akan mengirimkan tagihannya nanti.” Vicky mengedipkan sebelah matanya menggoda. “Mungkin aku akan meminta makanan gratis di sini setiap hari sebagai bayarannya.”


Garviil melemparkan tatapan mata mencela. “Silahkan kalau kau tidak tahu malu.” Lelaki itu lalu terkekeh, sebuah tawa yang terdengar menyenangkan karena sekarang hatinya benar-benar ringan. “Aku akan ke tempat Geffie.”


Vicky dan Andro saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti ketika melihat Garviil berjalan dengan sedikit tergesa dan penuh kebahagiaan keluar dari cafe. Pundaknya tampak tegak tanpa beban, seakan semua kesakitannya yang berat telah disingkirkan dari dirinya.


"Andro, lihatlah dia, wajahnya berbinar seolah semua bebannya sudah hilang, aku tidak penah melihat ini sebelumnya. Kakak sangat bahagia sekali." Ucap Vicky.


"Kau benar, Garviil selama ini tertekan dan menahan perasaannya tetapi dia akhirnya bisa melepaskan semua itu, selain karena mu juga karena ke hadiran Geffie. Garviil akhirnya menabrak semua tembok yang selama ini menghalanginya dari penglihatannya."


"Aku selalu berdoa agar dia suatu saat nanti bisa menemukan cinta sejatinya dan memulai kehidupan baru tanpa memikul beban yang berat di pundaknya, tapi akhirnya dia mendapatkannya. Aku harus berterima kasih kepada Geffie."


Andro tersenyum. "Kau juga harus memulai sesuatu yang serius dan berhentilah bermain-main dengan para gadis itu, kau juga harus mulai menata kebahagiaanmu."


"Aku sedang berusaha memperbaiki diri, rasanya hambar hidup seperti ini, aku butuh warna untuk membuat lukisan yang bagus di hidupku."


"Itu memang yang harus di lakukan seniman sejati."


"Aku juga akan menghubungi Mama dan Papa memberitahu mereka jika Garviil akhirnya bisa melepaskan diri dari Bianca. Mereka pasti akan senang sekali."


"Jadi kalian belum memberitahu mereka???" Tanya Andro.


Vicky menggelengkan kepala nya. "Kami sengaja ingin memberitahu mereka setelah semuanya benar-benar berjalan dengan mulus." Gumam Vicky.


****


Garviil menemui Geffie di apartemennya dan perempuan itu dengan cantiknya menyambutnya dan mempersilahkannya untuk masuk.


“Saat ini aku merasa begitu ringan.” Garviil menatap Geffie dan tersenyum lebar.. “Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.”


Geffie menatap kekasihnya yang tampak begitu bahagia itu dengan terharu. Garviil memang telah menanggung beban berat begitu lama, karena menanggung beban demi kebahagiaan orang lain. Dan sekarang, lelaki itu layak untuk bahagia. Geffie berjanji dalam hati dia akan membahagiakan Garviil sebisanya. Sedapat mungkin untuk menebus segala beban dan penderitaan yang selama ini ditanggung oleh Garviil.


Dengan senang dia memeluk Garviil yang langsung membalas pelukannya dengan sayang. Lelaki itu mengecup dahinya dan menatapnya lembut.


“Terimakasih Geffie.” Bisiknya penuh cinta.


“Untuk apa???" Geffie menggerutkan keningnya.


“Karena  muncul di hidupku dan mengubah segalanya untukku. Kau membuatku berani melanggar semua prinsipku dan mengejar kebahagiaanku. Kau memberiku kebahagiaan yang dulu bahkan tidak pernah berani aku impikan.” Mata Garviil berkaca-kaca, lelaki itu mengungkapkan perasaannya dengan sepenuh hatinya.


Mata Geffie sendiri terasa panas, menyadari betapa besarnya cinta yang diberikan Garviil kepadanya. Lelaki ini benar-benar tulus kepadanya sejak awal, seorang lelaki yang dipenuhi kebaikan hati yang luar biasa. Dan Geffie memilikinya, mereka saling memiliki.


“Aku mencintaimu Garviil.” Geffie berbisik pelan, menutup matanya yang penuh air mata, membiarkan kekasihnya itu mengecup sudut matanya yang basah, lalu dahinya, lalu ujung hidungnya dan kemudian bibirnya. Mereka berciuman dengan penuh cinta kemudian, bibir mereka bertaut mencicipi kemanisan satu sama lain.