Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Aku harus Pulang Besok



Ciara mengetik pesan kepada sekretarisnya agar menjemputnya di cafe ini. Sebuah ketukan pintu membuat Ciara terlonjak. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Vicky berdiri di ambang pintu. Ciara berharap Vicky tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Bianca. Bisa gawat kalau itu terjadi. Ciara berbalik badan dan menelan ludahnya. Bingung apakah Vicky mendengarkan pembicaraannya atau tidak. "Kau...????" Gumam Ciara.


Lelaku itu tersenyum kemudian masuk dan di ikuti oleh seorang pelayan yang membawa makanan. "Aku mengajak pelayan untuk mengantarkan makanan yang kau pesan tadi. Aku sekali lagi minta maaf atas keributan yang terjadi tadi." Ucap Vicky. Pelayan mengikutinya masuk dan meletakkan makanan itu di atas meja.


Ciara menatap Vicky dan mencaritahu bahwa sepertinya lelaki ini tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Bianca di telepon tadi. Syukurlah. Ciara bergumam dalam hati. "Bukan salahmu. Jadi tidak perlu minta maaf." Ucap ciara akhirnya.


"Silakan, makanlah." Vicky tersenyum.


"Kau sendiri???" Tanya Ciara.


"Aku akan makan nanti. Seharusnya aku saja yang mengantar mu ke hotel, kan tadi aku yang menjemputmu."


"Tidak apa-apa, aku pun sudah terlanjur menghubungi sekretaris ku."


"Baiklah..."


"Duduklah dan habiskan makanan ini. Aku akan mengantar mu kembali ke hotel."


"Tidak perlu, aku sudah menghubungi sekretaris ku, dia akan mengirim supir kesini. Aku sudah terlalu merepotkan mu." Ciara kemudian duduk di sofa. Dia memang lapar sekali. Ciara mengambil gelas berisi minuman lalu meneguknya. Dan Vicky juga duduk di sofa. Lelaki itu tersenyum ketika Ciara mulai memakan makanannya. Ciara memang sangat lapar, di tambah lagi suasana yang menyebalkan ini. Ciara memang memiliki kebiasaan makan banyak ketika suasana hatinya justru sedang tidak baik. Ya, kebanyakan perempuan memang seperti itu, ketika mengalami kegusaran atau mood nya sedang tidak baik, tentu hal yang mereka lakukan adalah makan yang banyak. Karena ketika perut kenyang, maka akan mudah untuk tidur dan bisa melupakan segala kemarahan itu, ketika bangun mood akan terasa lebih baik.


Ciara mulai menyantap makanannya. Rasanya ternyata enak. Meski hanya sebuah cafe tetapi makanan disini sangat enak. Menandakan bahwa manajemen dan pengelolaan nya sangat baik sekali.


"Sudah berapa lama kalian mendirikan cafe ini???" Tanya Ciara akhirnya sembali memotong steak nya.


Vicky tersenyum. "Cafe ini milik Mama. Sudah cukup lama hampir sepuluh tahun. Karena Mama tinggal di Indonesia dengan Papa, maka Cafe ini di serahkan kepada Kakakku. Kakakku yang mengelola bisnis keluarga yang ada disini."


"Bersama dirimu???" Gumam Ciara.


Vicky menggelengkan kepala nya. "Tidak, hanya kakakku saja, aku seorang seniman, lebih tepatnya seorang pelukis, kau masih ingat kan aku pernah melukismu???" Vicky tersenyum. "Aku dan kakakku sangat bertolak belakang, dia suka dengan bisnis dan passionku di seni. Sehingga dia yang akan bertugas untuk mengurus semua bisnis keluarga kami, dan kenapa aku disini serta di kantor??? Aku hanya membantu kakak saja. Waktu berjalan dan bisnis semakin berkembang pesat, aku menyadari bahwa kakak akan semakin kewalahan dengan segala pekerjaan yang menumpuk, sehingga ku berinisiatif untuk sedikit membantu nya. Aku belajar dengan baik supaya kakakku bisa berbagi kesibukannya denganku, dan dia sekarang sedang menikmati bulan madu nya untuk beberapa minggu ke depan sehingga akulah am yang bertanggung jawab selama dia pergi."


"Memangnya berapa lama dia akan pergi????" Tanya Ciara.


"Sekitar satu bulan, ya selain bulan madu, dia akan ke Jakarta, ada persiapan acara resepsi kedua disana, dan akan tinggal beberapa hari di Indonesia baru setelah itu kembali ke Amerika, tapi bukan ke Boston, melainkan ke Washington dc dulu, istrinya akan tinggal disana karena berkuliah disana, setelah ke Washington dia akan menginap beberapa hari dan baru akan kembali kesini. Jadwalnya padat sekali."


"Istrinya masih berkuliah???"


.Vicky menganggukkan kepala nya. "Ya, baru akan memulai kuliahnya disana, melanjutkan magister, kebetulan istrinya punya kakak yang tinggal disana, jadi kakakku merasa sangat aman karena istrinya ada yang menjaga dan mengawasi."


"Wah baru menikah sudah akan terpisah lama." Gumam Ciara sembari melempar senyum.


"Kakakku terlalu mencintai istrinya hingga dia tidak ingin istrinya di dekati oleh pria lain, itulah kenapa dia memilih segera menikahinya, tidak masalah jika harus berjauhan."


"Lalu kau sendiri????" Tanya Ciara kemudian.


"Aku??? Menikah maksudmu???"


Ciara menganggukkan kepala nya dan masih menikmati makan malamnya di hadapan Vicky.


"Menikah dalam waktu dekat tentu tidak mungkin, bahkan aku belum bisa menemukan seseorang yang seperti kekasihku dulu. Bukan mencari yang sama, tetapi mirip dengannya, dalam artian mirip sifatnya yang lemah lembut, penuh tawa dan apa adanya. Kebanyakan perempuan mendekati ku hanya karena uangku, tidak benar-benar mencintaiku, dan mereka sulit di ajak berkomitmen."


"Ohhh jadi kau mencari yang mirip dengan mantanmu??? Kalau begitu kenapa tidak kembali lagi dengannya saja."


Vicky menggelengkan kepala nya dengan sedih. "Aku tidak akan bisa kembali lagi padanya, meski aku sangat menginginkannya."


"Kenapa??? Apa dia sudah menikah dengan orang lain???"


Vicky menggeleng lagi. "Dia sudah bahagia di sisi Tuhan. Dan aku sedang berusaha beranjak dari kesedihanku untuk benar benar mengikhlaskannya."


"Kekasihku sudah meninggal dunia??? Ya Tuhan, sorry sorry, aku tidak tahu, sorry. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Sorry sorry."


Vicky tersenyum. "Tidak apa-apa. Kau memang tidak tahu. Ya, kekasihku meninggal beberapa bulan yang lalu, dia mengalami kecelakaan, seorang pria mabuk menabraknya hingga MeninggaI di tempat. Kehidupanku berubah sejak saat itu, aku kehilangan kekasih sekaligus sahabat, butuh waktu yang cukup lama untuk bisa bangkit dari kesedihan ini. Aku sangat mencintainya. Mungkin jika dia masih ada, aku akan menikahi nya bersamaan dengan pernikahan kakakku kemarin. Mengingat kekasihku itu adalah sahabat baik dari istri kakakku."


"Oh ya???"


Ciara jadi teringat dengan cerita Bianca tentang kekasih Vicky yang ternyata adalah sahabat dari kekasih Garviil yang saat ini sudah menjadi istri Garviil. Dan ternyata kekasih Vicky meninggal dunia. Ciara sekarang bisa melihat dengan jelas kesedihan di mata lelaki di depannya itu. Vicky pasti sangat mencintai kekasihnya. Dan Ciara menjadi penasaran seperti apa kekasih Vicky itu, sehingga lelaki ini tampak sangat mencintai nya dan sangat terpukul dengan kepergiannya. Cinta itu pasti luar biasa dalam dan besar sehingga seorang laki-laki urakan seperti Vicky mampu di buat mencintainya sebesar itu.


"Kau sendiri???" Tanya Vicky.


"Aku???"


"Ya???? Apa kau saat ini sudah memiliki kekasih???? Aku lihat kau ketakutan sekali dengan Devan???"


"Sejak kejadian itu, aku tidak lagi berani dekat dengan laki-laki, aku mengalami trauma yang cukup dalam, dan aku sangat ketakutan, apalagi harus bertemu dengan Devan. Aku tidak lagi mau percaya dengan laki-laki."


"Tetapi tidak semua laki-laki seperti Devan kan???"


"Itu memang benar tetapi entahlah... Aku hanya belum siap menerima laki-laki baru." Ciara akhirnya menghabiskan makanannya. "Aku sudah di tunggu di bawah, sepertinya akh harus kembali lagi ke hotel." Ciara berdiri dan Vicky juga berdiri.


"Aku akan mengantar mu sampai depan." Mereka kemudian turun dan keluar dari cafe.


Ciara berpamitan dengan Vicky lalu masuk ke dalam mobil. Lelaki itu ternyata orang yang menyenangkan dan baik, meskipun sikapnya sebelumnya sedikit membuat Ciara ngeri karena memang Ciara selalu waspada dan menghindari laki-laki yang mencoba mendekatinya. Ciara duduk di kursi belakang dan dia di jemput oleh supir yang sama, supir yang kemarin menjemputnya di bandara bersama dengan Thomas, tangan kanannya.


***


Sampailah Ciara di hotel, dia masuk lift menuju kamar nya. Hari ini melelahkan sekali. Seharian dia meeting di kantor si kembar dan malam ini makan malam di cafe itu, belum lagi dia harus bertemu dengan Devan. Lelaki brengseek itu telah merusak mood nya. Belum lagi Bianca. Ciara benar-benar lelah dan butuh istirahat. Besok setelah meeting terakhir dengan vicky, dia akan langsung ke Airport dan terbang kembali ke Singapura. Ya, dia masih ada jadwal pertemuan, pagi hingga siang, lalu akan kembali dan pulang.


Ciara keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya. Langkahnya terhenti ketika dia mendapati biBianca berdiri di depan pintu kamarnya. Ciara mengernyit, dia kemarin smepat memberitahu Bianca dimana tempatnya mengiap dan di kamar nomor berapa. Ciara menyesalkan diri nya sendiri kenapa dia harus memberitahu Bianca, dan sekarang sepupu nya itu justru ada disini. Bianca pasti akan merengek lagi kepada nya. Tetapi keputusan Ciara sudah bulat, dia bagaimanapun harus segera pergi dari tempat ini besok.


"Ciara.... Aku menunggu mu." Bianca menghampiri Ciara.


"Kenapa kau disini??" Tanya Ciara. Kemudian dia membuka kamarnya dan mengajak Bianca masuk.


Sampai di dalam, Bianca tiba-tiba duduk berjongkok dan memeluk kaki Ciara. "Ciara, aku mohon bantulah aku, jangan dulu pulang ke Singapura. Please bantu aku."


"Bi, sorry aku tidak bisa, aku harus kembali ke Singapura. Aku juga tidak mau terlibat dengan balas dendam mu, Vicky terlihat sangat baik, dan kakaknya juga sepertinya baik, kau harus sadar Bi, kenapa mereka melakukan itu padamu, ya karena kesalahanmu sendiri. Harusnya kau mengerti itu, sorry aku benar-benar harus pergi dari tempat ini besok. Kumohon kau mengerti lah."


"Kau tidak tahu, mereka jahat, mereka mempermalukanku. Aku tidak bisa menerima nya."


"Kalau kau tidak membohongi mereka, pasti mereka tidak akan melakukan itu. Berdirilah. Jangan seperti ini, ayo hilangkan dendam mu, kau cantik, kau bisa mendapatkan laki-laki yang baik."


"Aku hanya ingin Vicky."


"Kalau kau memang ingin Vicky kembali padamu, ya ubahlah sikapmu, yakinkan dia. Setidaknya kau bisa menjadi perempuan seperti kekasihnya yang meninggal itu, dia menginginkan perempuan seperti itu."


"Darimana kau tahu???" Tanya Bianca.


"Vicky tadi menceritakan nya padaku. Sekarang hentikan dendam mu itu, jadilah lebih baik lagi."


"Tidak....!!!! Aku harus membalas mereka, kau harus membantuku."


"Tidak Bi, aku tidak bisa." Ucap Ciara.


Bianca melepaskan pegangannya di kaki Ciara lalu berdiri. Bianca mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya. Dan tiba-tiba sesuatu itu tampak berkilat. Tidak salah lagi, itu adalah sebuah pisau. Bianca meletakkan pisau itu di lehernya. "Kalau kau terus menolak untuk membantuku, maka kau tidak lagi menyayangimu dan kau akan melihat kematiaanku di depanmu."


"Bianca...." Ciara mendekati Bianca yang memundurkan langkahnya, sepupunya itu mengancamnya dengan Pisau. "Paa yang kau lakukan. Buang pisau itu."


"Tidak...!!! Kau jangan.mendekat....!!!! Aku berharap banyak padamu, tetapi kau malah memberiku harapan palsu, kau Jahat Ciara.... Kau jahat sekali padaku. Jangan mendekat, atau pisau ini akan melukai leher ku, dan aku akan seketika maati di depanmu..."


"Bianca jangan...!!!" Ciara mulai ketakutan melihat ancaman Bianca.


"Tidak....!!!!!!! Kau menolak ku dan kau akan melihat kematiianku...!!" Bianca menggoreskan pisau di lehernya, dan darah langsung keluar dari sana.


"Bianca....!!!! Oke-oke... Aku akan membantumu, tapi buang pisau itu. Aku akan membantumu membalaskan dendammu."


Bianca akhirnya membuang pisau itu ke lantai, dan Ciara langsung memeluknya sembari menangis. Ciara sangat takut Bianca nekat, tidak ada pilihan lain, dia harus menuruti keinginan Bianca. Diam-diam, Bianca tersenyum.penuh kemenangan di pelukan Ciara. Ancamannya berhasil, dan dia akan memanfaatkan kasih sayang Ciara kepadanya untuk membalaskan dendamnya pada Vicky dan Garviil.