
Beberapa hari kemudian.
Vicky melepaskan jaketnya dan menyampirkannya dengan semberono ke sofa, sebuah ponsel terjepit di antara pundak dan telinganya,
"Jadi kau tidak akan pulang sebelum akhir bulan???" Vicky mengerutkan keningnya, dia sedang bercakap-cakap dengan Garviil kakaknya yang saat ini sedang berbulan madu bersama istrinya di Perancis, meninggalkan Vicky sendiri dengan pekerjaan kantoran yang tidak disukainya.Suara Garviil di seberang sana tampak tenang dan dalam, memberikan instruksi-instruksi yang khas, membuat Vicky tersenyum masam, bahkan di masa berbulan madunya, kakak kembarnya itu tetap begitu ahli dalam pekerjaannya.
Setelah hanya mengangguk-angguk dan menanggapi seadanya, Vicky mengucapkan salam perpisahan kepada kakaknya, "Aku mau melakukan ini karena aku tahu kau sedang berbahagia di sana, segera setelah kau pulang gantian aku yang akan mengambil libur dan jalan-jalan ke luar negeri." gumamnya mengancam.
Garviil tergelak di sana menanggapinya, membuat Vicky tersenyum. Kakaknya itu memang jadi mudah tertawa setelah pernikahannya. "Bye. Titip Salamku untuk Geffie." Geffie adalah kakak iparnya sekarang, istri tersayang Garviil.
Setelah itu Vicky meletakkan ponselnya dan membanting tubuhnya ke sofa, jemarinya dengan santai meraih remote control dan menyalakan televisi besar di ruang tengah rumahnya. Dia menghela napas panjang, selama Garviil berbulan madu, Vickylah yang harus mengambil alih kendali perusahaan, sebenarnya ini bukan bidangnya, dia adalah seorang seniman dan pelukis terkenal yang bisa hidup enak dengan menjual lukisannya. Tetapi demi kakaknya, Vicky bersedia membantunya, toh Garviil telah mengajarinya dengan begitu baik dan selalu siap membantu kalau-kalau ada meliputi pekerjaan yang tidak dipahaminya.
Meskipun saudara kembar, Vicky dan Garviil sangatlah bertolak belakang. Garviil tentu saja sangat kalem, elegan dan dewasa dengan penampilannya yang selalu rapi, kebanyakan dalam setelan jas kerja atau kemeja yang diseterika rapi. Sedangkan Vicky benar-benar 180 derajat sebaliknya, dia suka memakai jeans belel dan t-shirt lecek yang tidak diseterika, rambutnya bahkan dibiarkan panjang sampai melewati kerah bajunya, memakai setelan jas rapi - seperti yang terpaksa dilakukannya ketika menggantikan Garviil - terasa amat menyiksanya, apalagi memakai dasi amat sangat mengganggunya, seakan dasi itu hendak mencekik lehernya.
Malam ini dia bosan, dan untunglah besok sudah hari sabtu yang berarti libur untuknya dimana dia bisa istirahat sejenak dari kebosanan berpenampilan formal dan urusan bisnis yang menyesakkan pikirannya.
Benaknya tiba-tiba melayang kepada kakak kembarnya dan Geffie istrinya. Mereka pasangan luar biasa yang pada akhirnya bisa berujung bahagia, akanlah Vicky bisa menemukan kebahagiaan seperti mereka setelah kepergian Tiffany. Ataukah selamanya dia akan seperti ini??? Terus menjadi Vicky yang bersantai dan tak punya seseorang penting dalam hidupnya??? Dan tidak bisa lari dari bayang-bayang Tiffany.
Pikiran-pikiran itu membuatnya lelah, dan kemudian matanya terpejam. Membawanya ke alam mimpi.
***
Keesokan harinya.
Ini gila.
Ciara memasang kacamata hitamnya di siang yang terik itu, tampak kontras dengan kulitnya yang putih dan pucat. Dia menarik koper kecilnya melalui lobby bandara menuju tempat penjemputan. Pakaiannya efisien tetapi tetap elegan, celana panjang hitam dan blazer modis yang pas ditubuhnya, membuatnya terkesan berwibawa. Ya, Ciara memang harus selalu tampil berwibawa terkait dengan pekerjaannya.
Dia pasti sudah gila karena mau menerima permintaan Bianca untuk mencoba menghancurkan si kembar yang jahat itu. Tetapi Bianca begitu penuh air mata dan memohon kepadanya, mengancam ingin mati saja kalau Ciara tidak mau membantunya... jadi Ciara bisa apa????
Dan di sinilah dia, di sebuah negara yang sudah lebih dari lima tahun lalu dikunjunginya. Ya sedapat mungkin Ciara menghindari mengunjungi negara ini, karena negara ini menyimpan pengalaman menyedihkan yang tidak ingin diingatnya lagi. Tetapi sekarang demi Bianca, Ciara bersedia datang kembali kemari meskipun kenangan itu langsung menggoresnya, mengorek-ngorek kembali lukanya yang sudah hampir tertutup rapat.
Ciara menatap ke sekeliling, mencari wajah yang dikenalnya. Kemudian matanya mengenali sosok yang pernah dilihatnya hanya melalui foto itu, dan mendekat ke arahnya,
"Thomas???" Ciara menyapa dengan suaranya yang lembut dan berwibawa.
Lelaki yang dipanggilnya itu menoleh mendengar panggilannya dan langsung membungkukkan badannya dengan hormat. "Ms. Ciara. Welcome to Boston. Come, we have prepared a car for you."
Ciara hanya menganggukkan kepalanya, dan kemudian mengikuti Thomas ke mobil. Begitu mobil dijalankan, Ciara memajukan tubuhnya, bertanya kepada Thomas yang duduk di sebelah supir.
"Is the team I previously sent ready for tomorrow's meeting???" Tanya Ciara. Sebelumnya lusa kemarin dia sudah mengirim beberapa staff nya untuk menemaninya meeting dengan perusahaan yang ada disini, yaitu perusahaan milik si kembar Victor/Garviil dan Vicky.
"We've informed everyone that you've come, your entire team is ready tomorrow for the important meeting with the company.". Mereka sudah menginformasikan kepada semuanya bahwa Ciara sudah datang, segenap tim Ciara sudah siap besok untuk meeting penting dengan perusahaan itu.
"Good job." Ciara menganggukkan kepalanya puas dan menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi mobil yang nyaman. Pekerjaan sebenarnya bukanlah prioritas penting baginya. Ya, diusianya yang masih sangat muda, Ciara berhasil menggantikan ayahnya yang terpaksa mengundurkan diri sebagai CEO karena kondisi kesehatannya yang melemah. Perusahaan keluarga mereka yang bergerak di sektor manufaktur itu memang telah berkembang pesat dan menjadi pemimpin di barisannya, dan Ciara sebagai puteri tunggal sang pemilik perusahaan, ikut andil di dalam kesuksesannya. Dia sangat pandai berbisnis, mewarisi kemampuan ayahnya, dan semua orang mengakui bahkan segan kepadanya. Urusannya ini sebenarnya bsia dia wakilkan kepada anak buahnya, tetapi sekarang, demi Bianca, Ciara datang sendiri ke Negara ini dan menggunakan urusan pekerjaan sebagai kamuflasenya.
Nanti, begitu sampai di hotel, Ciara akan mengatur strategi untuk bisa menjalankan rencananya atas si kembar itu, Garviil dan Vicky. Dia menghela napas panjang membayangkan kesulitan yang akan dihadapinya ke depannya. Tetapi dia sudah mengatakan kepada Bianca, hanya akan mencoba, kalau nanti dia merasa tidak mampu, Ciara akan mengundurkan diri dari rencana ini dengan segera.
***
Malam harinya.
"Sudah beberapa hari kau tidak kemari, Vicky." Andro mengedipkan sebelah matanya kepada Vicky yang baru saja duduk di kursi bar yang tinggi. "Kau kenapa malah tinggal di rumah, bukankah nanti Garviil akan mengajak Geffie kesana???" Tanya Andro.
Vicky terkekeh, dia datang mengenakan baju santai, rambut setengah panjangnya yang acak-acakan, dagu kasar karena belum dicukur dan seluruh penampilan yang mencerminkan kebebasannya. Ya, Vicky yang ada sekarang bukanlah Vicky pengganti direktur yang sedang berbulan madu, Vicky yang sekarang adalah si seniman yang sedang menikmati hidup.
"Garviil akan ke Washinton dc nanti setelah dari Jakarta, Geffie akan memulai kuliahnya, nanti dia akan kembali kesini sendiri setelah mengantar Geffie. Lagipula Mama juga masih akan disini beberapa hari ke depan." Vicky bergumam dengan nada suaranya yang malas, "Berikan aku double scoth murni dengan es."
Andro tersenyum lebar, "Berminat menikmati malam ini, eh???" lelaki itu segera menyiapkan pesanan Vicky dan meletakkan di meja bar tempat Vicky duduk.
Vicky menghabiskan minumannya dalam beberapa kali teguk, sedikit mengernyitkan kening karena rasa panas yang membakar tenggorokannya.
Matanya beredar ke sekeliling bar, melihat suasaa cafe yang cukup ramai. Sampai kemudian dia terpaku kepada sosok yang baru masuk.
Perempuan itu tidak cocok berada di sini.
Senyum sinis terkembang di bibir Vicky, Perempuan mana yang datang memasuki bar menjelang malam dengan pakaian seperti jas laki-laki yang difeminimkan begitu? belum lagi rambutnya yang disisir halus ke belakang dan digulung kaku di atas tengkuknya layaknya penjaga perpustakaan kutu buku seperti yang dilihatnya di film-film, Vicky bahkan berani bertaruh bahwa dari dekatpun, tidak akan ada sehelai rambutpun yang berantakan di gulungan rambutnya itu.
Tetapi dibalik penampilannya yang seperti kutu buku, mata Vicky yang tajam bisa menemukan kecantikan alaminya, bibir itu berwarna merah muda dan kulit perempuan itu yang pucat, tampak rapuh, begitu kontras dengan pakaiannya yang serba hitam. Vicky beranjak dari kursi dan mencoba mendekati perempuan itu yang belum dia tahu nama nya. Vicky harus memulai untuk move on dari Tiffany, dia tidak boleh seperti ini terus. Apalai melihat kebahagiaan kakaknya membuatnya juga ingin segera menemukan perempuan untuk dia pacarai bahkan mungkin untuk dia nikahi.
"Apakah kau tersesat di sini???" Vicky memasang senyumnya yang paling mempesona, dan tanpa permisi duduk di depan perempuan cantik dengan penampilan tidak cocok itu, "Butuh bantuan???"
Mata perempuan cantik itu tampak waspada, apalagi mengingat penampilan Vicky yang benar-benar seperti berandalan, ditambah lagi dengan rambutnya yang sedikit panjang menyentuh kerah dan penampilannya yang begitu santai. Dan Ciara tahu bahwa laki-laki ini adalah Vicky, Bianca sudah menunjukkan fotonya kepada dirinya. Ciara terkejut ketika melihat foto itu karena merasa pernah bertemu lelaki itu sebelumnya, dan Ciara langsung ingat bahwa laki-laki bernama Vicky itu adalah laki-laki yang sama yang dulu pernah memberikannya sebuah lukisan saat di pantai.
"Tidak. Saya hanya ingin menghabiskan malam saya tanpa gangguan." perempuan itu mengalihkan pandangannya seolah-olah ingin berakting bahwa Vicky tidak ada.
Tetapi tentu saja Vicky tidak mudah menyerah oleh karena penolakan sederhana itu. Penolakan malahan membuatnya semakin bersemangat.
"Mungkin aku bisa membantu dan menemanimu, kau tahu tempat semacam ini berbahaya untuk seorang perempuan duduk sendirian."
"Saya bisa menjaga diri saya sendiri." Perempuan itu tetap saja tidak menatap mata Vicky, dia mengabaikannya, seolah-olah Vicky tidak ada.
Aha..... Penolakan.... luar biasa dorongan adrenalin dan semangat yang dirasakannya karena merasa tertantang oleh penolakan seorang perempuan. Sudah lama sekali tidak ada perempuan yang menolaknya, Vicky memang memiliki pesona sendiri meskipun dia tidak rapi dan berjas seperti para eksekutif muda, penampilan santainya dan sikapnya yang menggoda biasanya menjadi daya tarik sendiri bagi semua perempuan.
"Namaku Vicky." tanpa tahu malu Vicky mengulurkan tangannya, dan kemudian menariknya kembali dengan senyum nakal ketika perempuan di hadapannya hanya melirik sedikit ke arah tangannya dengan marah, "Kita sebelumnya pernah bertemu di pantai kan??? Di Anyer. Kau ingat tidak, aku memberikanmu sebuah lukisan.???"
"Anyer??? Oh iya, kau laki-laki itu, yang tidak punya sopan santun, melukisku tanpa seijinku."
Vicky tersenyum. "Sorry, aku memang seorang pelukis, dan kebiasanku aku melukis apapun yang ada di depanku, salah satu nya dirimu. Apa yang kau lakukan sendirian di tempat seperti ini, cantik??? Upss..."
Panggilan nama 'cantik' itu membuat mata perempuan itu membara, dan dia tampak luar biasa cantik. Vicky membatin. Wow, baru kali ini dia tertarik begitu dalam pada seorang perempuan hanya dengan memandanginya. Vicky memutuskan akan mengejar perempuan ini. Akhir-akhir ini dia sebenarnya sering memandangi lukisan yang dia buat, yaitu lukisan perempuan ini. Vicky berharap bisa bertemu lagi tetapi dia tidak tahu siapa perempuan ini. Dan seperti nya Tuhan mendengarkan keinginannya untuk bertemu dengan perempuan ini.
"Siapa namamu??? apakah aku hanya boleh memanggilmu dengan sebutan 'cantik'???" Tanya Vicky lagi.
Perempuan itu tampak luar biasa jengkel dengan sikap tak mudah menyerah Vicky, dia lalu beranjak berdiri dan melemparkan tatapan jijik, lalu berkata dengan keras,
"Bukan urusan anda, saya hanya ingin sendirian di sini tetapi anda mengganggu saya. Permisi!!!"
Dan kemudian tanpa sempat Vicky mengejar, perempuan itu dengan gesit membalikkan badan dan setengah berlari keluar dari pintu cafe, menghilang entah kemana.
Semua Vicky ingin mengejar, dorongan itu begitu kuat hingga dia hampir beranjak dari kursinya. Tetapi kemarahan perempuan tadi hampir terdengar ke seluruh penjuru ruangan dan sekarang seisi cafe memandanginya dengan penuh rasa ingin tahu.
Vicky menghela napas panjang, berusaha bersikap acuh. Yah mungkin dia memang tidak berjodoh dengan perempuan galak tapi cantik itu. Dengan senyum lebar, Vicky melangkah kembali ke bar untuk memesan minuman.
Andro tentunya melihat insiden itu sejak tadi, dan dia tak bisa menahan diri untuk menertawakan kegagalan Vicky,
"Kegagalan pertama???" Andro mengeringai, setengah mengejek dalam canda. "Mungkin kau harus mengasah kembali kemampuanmu merayu perempuan, Vicky. Pelan-pelan, dia sepertinya ketakutan denganmu."
"Mungkin terlalu lama memakai jas dan dasi telah melunturkan pesonaku." Vicky tertawa, "Bagaimanapun juga selalu ada kegagalan pertama untuk setiap orang." dia melirik ke arah Andro dengan tatapan geli, "Buatkan aku minuman lagi, aku perlu melupakan patah hatiku." sambungnya yang disambung dengan gelak tawa Andro.
***
Ciara menyandarkan tubuhnya di emperan toko tepat di trotoar yang membatasi arus pejalan kaki dengan sebuah butik yang elegan. Dia terengah-engah karena setengah berlari-lari kecil tadi, karena takut Vicky mengejarnya.
Dari cerita Bianca tentang si kembar, Vicky dan Garviil adalah pemilik cafe itu dan mereka sering disana bahkan tinggal disana, Ciara hanya ingin melihat dari dekat dan menilai bagaimanakah calon korbannya itu.
Tidak disangkanya Vicky akan begitu agresif dan menganggapnya menarik, padahal dia sudah berdandan setidak menarik mungkin. Ciara menghela napas panjang. Jantungnya berdegup kencang... dan ini semua bukan karena Vicky, tetapi lebih pada ketakutannya terhadap laki-laki.
Ini memang gila dan bodoh. Bagaimana mungkin dia melakukan apa yang diminta Bianca, kalau dia sebenarnya menyimpan ketakutan mendalam terhadap laki-laki???
Bianca tentu saja tidak tahu trauma yang dirasakannya, dia hanya tahu bahwa Ciara memiliki kenangan buruk dengan mantan kekasihnya, yang dulu pernah tinggal di Negara ini ketika kuliah. Ciara hampir diperkoosa, di rumah kekasihnya sendiri yang sangat dipercayainya. Waktu itu mereka berdua sedang merayakan kelulusan mereka dan Devan mengajak Ciara ke rumahnya yang kebetulan sepi, Ciara begitu percaya dan mencintai kekasihnya, tidak menyangka bahwa yang diinginkan oleh Devan waktu itu hanyalah tubuhnya. Untungnya Ciara berhasil meloloskan diri, dengan menyiramkan kopi panas yang ada di meja kepada Devan, tak dipedulikannya Devan yang mengaduh-aduh kesakitan ketika dia berlari meninggalkan rumah terkutuk itu.
Setelah peristiwa itu, Ciara langsung mengemasi barang-barangnya dan pulang ke apartemennya mengganti nomor ponselnya dan menghilangkan jejaknya dari Devan dengan pindah apartemen lalu kembali ke Singapura karena orang tua nya tinggal disana tidak lagi di Indonesia. Untunglah dia sudah menyelesaikan masa kuliahnya dan tidak perlu kembali ke Negara ini lagi dan sepertinya Devan juga memutuskan untuk tidak mengejarnya, mungkin karena dia takut Ciara akan melaporkannya ke polisi. Tidak pernah ada yang tahu tentang insiden itu, begitupun kedua orang tuanya dan bahkan Bianca. Semuanya mengira Ciara membenci Negara itu karena dia patah hati akibat putus dengan kekasihnya. Sejak saat itu pula, Ciara tidak pernah mendengar berita tentang Devan, dia juga tidak sudi mencari tahu tentang keberadaan lelaki breengsek itu.
Tetapi meskipun bertahun-tahun berlalu, trauma itu tidak pernah meninggalkannya. Ciara sangat ingat betapa dia menolak dan memohon, tetapi Devan seolah-olah berubah menjadi sosok yang tidak dikenalnya, kejam dan pemaksa, tidak mempedulikan ketakutan Ciara. Lelaki ternyata bisa berubah menjadi buas dan menakutkan. Ciara sudah berhasil lolos sekali dari kebuasan lelaki, dan dia tidak ingin jatuh kedua kalinya ke dalam lubang yang sama. Itulah yang membuat Ciara takut kepada lelaki, benci dan jijik pada setiap pendekatan yang dilakukan lelaki kepadanya....
Kalau begini caranya, bagaimana mungkin dia berhasil melakukan apa yang diminta oleh Bianca kepadanya??? dia bahkan tidak mampu menghadapi pendekatan Vicky yang agresif
Dan sialnya, dia tahu pasti bahwa dia besok harus bertemu dengan Vicky. Rencana sudah dijalankan, dan Ciara tidak bisa mundur lagi.