Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Twin Brother



"Dia mantan kekasihku." Aire melirik gelisah ke arah Victor, setelah dia berada di dalam mobil dan Victor melajutkan mobilnya. Aire baru menyadari bahwa dia telah begitu saja masuk ke dalam mobil seorang lelaki yang bahkan hampir sama sekali tidak dikenalnya.


Victor melirik sedikit ke arah Aire, ekspresi wajahnya tidak bisa ditebak. "Mantan?" tanyanya tenang.


Aire menganggukkan kepalanya, "Ya, hubungan kami tidak berjalan sebaik semestinya. Aku memutuskan hubungan dan rupanya dia masih belum terima." Aire menatap ke pinggir jalan, "Bisakah aku turun di depan sana???"


Victor mengernyit, "Kenapa harus turun di depan sana???"


Dan kenapa pula aku tidak boleh turun??? Aire membatin, lagipula dia tidak tahu mobil ini akan dibawa kemana oleh Victor. Dia harus tetap waspada meskipun Victor tampaknya baik dan tidak berniat jahat kepadanya.


"Aku hendak ke supermarket berbelanja bahan makanan, dari perempatan itu aku tinggal naik bus satu arah ke sana." Aire berkata jujur, dia memang hendak naik bus ke supermarket itu, sebelumnya sebelum insiden Mike yang mencegatnya di jalan tadi.


"Aku akan mengantarmu." Dengan tangkas Victor membelokkan mobilnya ke arah tikungan yang dimaksud Aire.


Victor mengernyitkan keningnya, penampilan Victor seperti orang yang akan berangkat kerja, dia sangat rapi dengan jas dan dasi yang terpasang di badannya. Apakah selain memiliki cafe lelaki ini juga bekerja kantoran? Batinnya dalam hati.


"Kau tidak berangkat bekerja???" Tanya Aire. Akhirnya Aire memberanikan diri untuk bertanya.


Victor terkekeh, "Aku bisa datang semauku." Gumamnya misterius, membuat Aire terdiam dan menebak-nebak.


Mobil lalu berhenti di parkiran supermarket itu, Aire membuka pintu dan turun dengan segera.


"Terima kasih sudah mengantarku, dan terima kasih sudah menyelamatkanku dari Mike." Gumamnya pelan.


Victor menatap Aire dengan tatapan aneh yang sangat dalam, tidak bisa ditebak apa artinya, lalu lelaki itu tersenyum lembut. "Sama-sama Aire." Suaranya terdengar lembut dan menggetarkan. Lalu Victor memutar mobilnya dan keluar dari parkiran itu, diiringi tatapan bingung Aire.


**


Dia tidak bisa berhenti memikirkan lelaki itu.


Bahkan sekarang di saat dia sudah di rumah dan sibuk memasukkan barang belanjaannya ke dalam kulkas. Ingatan tentang Victor, dan wajahnya terngiang-ngiang terus di benaknya.


Aire berusaha melupakan Victor  dengan cara mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Mike sekaligus mengingatkan dirinya sendiri bahwa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk tertarik kepada lelaki baru. Tetapi benaknya tidak mau berkompromi. Seolah ada sesuatu yang menariknya, membuatnya selalu teringat kepada Victor.








"Another glass of wine Miss Aire???" sapanya ramah, menawarkan segelas anggur pada Aire.


Sani mengangguk dan tersenyum lembut,


"Yes, please... Thanks Andro" dia butuh segelas anggur itu untuk membantunya tidur. Tidur dan melupakan semua hal yang ada di dunia nyata. Ketika dia melangkah menuju tempatnya di sudut, dia hampir bertabrakan dengan sosok lelaki yang tiba-tiba melintas cepat di sana.


"Oh. Sorry" Ada senyum di suara lelaki itu. "I didn't see you, you were so tiny.." Ucap lelaki itu, mengatakan bahwa dia  tidak melihat Aire karena Aire begitu mungil menurutnya.


Aire mendongakkan kepalanya, dan ternganga. Lelaki itu amat sangat mirip dengan Victor bagaikan pinang dibelah dua. Tetapi meskipun begitu Aire tahu kalau lelaki ini bukan Victor, penampilan mereka berdua yang pasti sangat berbeda. Lelaki yang ada di depannya ini berambut setengah panjang sampai menyapu kerahnya, sementara Victor berpotongan rapi. Gaya berpakaiannya pun sangat bertolak belakang, Aire ingat ketika bertemu Victor di malam hari waktu itu, dia mengenakan celana khaki yang formal dan sweater panjang yang membungkus tubuhnya bagaikan model yang elegan. Sementara lelaki yang ada di depannya ini mengenakan celana jeans yang sangat pudar hingga hampir putih dan kaos longgar yang sedikit kusut.


Vicky menatap Aire yang masih termangu meneliti dirinya lalu tergelak, "You must think I'm Garviil???" Vicky mencoba menebak apa yang ada di pikiran Aire. Perempouan pasti mengira dia adalah Garviil atau Victor. Hanya saja Vicky belum tahu jika Victor tidak menggunakan nama Garviil saat berkenalan dengan Aire. Vicky menebak lucu lalu mengulurkan tangannya, "Kenalkan aku Vicky, saudara kembar Garviil."


"Garviil???" Tanya Aire bingung. "What do you mean is Victor???"


Vicky tampak mengernyit tetapi kemudian tersadar bahwa sepertinya kakaknya menggunakan nama tengahnya untuk berkenalan dengan perempuan ini. "Ahhh yes sure, Victor. Victor is Garviil.. Garviil is my favorite nickname for him." Ucap Vicky asal, memberitahu Aire bahwa Garviil adalah nama panggilan kesayangan untuk kakaknya Sebenarnya nama panggilan kakaknya adalah Garviil bukan Victor.


Saudara kembar, pantas saja mereka begitu mirip, batin Aire masih kaget. Lalu dia tergeragap dan menyambut uluran tangan lelaki itu dan menyebutkan namanya. Vicky menggenggam tangannya dengan erat dan bersemangat, berbeda dengan genggaman tangan Victor yang halus dan elegan ketika mereka berkenalan waktu itu.


""Are you Victor's friend????" Vicky menatap Aire dengan menyelidik. Ada nada ingin tahu di dalam suaranya, meskipun lelaki itu tetap tersenyum manis.


Aire menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa disebut teman Victor bukan?. "No, I'm not. I am not Victor's friend. I'm a customer of this cafe." Aire memberitahu jika dia bukan teman Victor tetapipelanggan cafe ini."


Vicky kembali mengernyit tetapi kemudian tersenyum lagi. "Oh. And you know Victor???" Tanya Vicky untuk memastikan. Dia benar-benar curiga pada kakaknya.


Aire menganggukkan kepalanya. ""I know Victor the owner of this cafe, he sometimes greets customer to this cafe, right???" Aire tahu Victor pemilik cafe ini, dan kadang-kadang lelaki itu menyapa pengunjung cafe ini. Aire mencoba mencari jawaban dari Vicky mengenai keramahan Victor pada pengunjung cafe ini.


Vicky menyipitkan matanya. "Greet the customers of this cafe?" Matanya bersinar misterius, mempertanyakan pernyataan Aire mengenai Victor yang menyapa pengunjung cafe ini, seolah tidak percaya. "Maybe..!" Senyumnya mengembang, "Okay I have to go, it was nice meeting you Aire..!!!" Vicky harus pergi, dan dia senang bertemu dengan Aire. Lelaki itu membungkuk hormat dengan gaya menggoda lalu melangkah pergi.


Sementara itu Aire masih mengamati kepergian Vicky dengan dahi mengerut, ketika Andro mendekatinya.


"I see you've already met Mr. Vicky." Gumamnya, mendahului Aire melangkah ke meja Aire yang biasanya, lalu meletakkan anggur dan cemilan pesanan Aire di meja. Andro melihat Aire sudah bertemu dengan Vicky. ""He is Mr. Victor's twin brother, but you can see for yourself that they are polar opposites." Ucap Andro. Menjelaskan pada Aire jika itu adalah saudara kembar Victor, tetapi Aire lihat sendiri mereka sangat bertolak belakang.


Seperti pinang dibelah dua, tetapi sangat bertolak belakang. Aire menyetujui dalam hati.