
Sore harinya, semuanya berkumpul dan keluar dari cottage menuju ke pantai. Mereka Bertelanjang kaki agar bisa langsung merasakan pasir pantai dan bermain air laut. Senja sebentar lagi akan tiba, dan mereka bersiap tetapi memilih jalan-jalan menyusuri lantai lebih dulu.
Vicky berjalan beriringan dengan Garviil dan Geffie. Seperti janji Garviil dan Geffie kalau mereka akan menemani Vicky dan tidak akan berduaan supaya Vicky tidak merasa terasingkan karena tidak membawa kekasihnya.
"Kau tidak menghubungi Tiffany???" Tanya Garviil pada adiknya.
"Dia belum membalas pesanku, mungkin dia masih tidur." Jawab Vicky.
"Nanti kita hubungi dia, aku semalam menghubungi nya, ingin video call tetapi dia sedang bersama keluarga nya. Jadi aku batalkan." Ucap Geffie.
"Aku sangat merindukannya, dan sebenarnya ingin cepat kesana." Gumam Vicky.
Geffie tersenyum. "Aku sudah bicara dengan Tiffany mengenai penawaran Garviil kemarin."
Vicky mengerutkan dahi nya. "Penawaran apa???" Tanya nya penasaran.
"Penawaran tentang pekerjaan, jadi Garviil memintaku agar membuat Cv begitu juga dengan Tiffany dan mengirimnya ke kantornya. Garviil ingin kami bekerja disana. Bagaimana menurutmu Vic???" Tanya Geffie.
"Kalian ingin bekerja di kantor Garviil.??????"
"Ya.. Aku semalam memikirkannya, dan akj rasa tidak ada salahnya juga, meskipun aku hanya akan bekerja beberapa bulan saja sambil menunggu kepindahanku ke Dc."
"Wah bagus dong kalau kau ingin bekerja di kantor Garviil, aku jadi semakin semangat, dan bisa setiap hari berangkat dengan Tiffany."
Garviil tersenyum. "Aku sudah menduga sebelumnya bahwa cara ini efektif untuk membuatmu bersemangat pergi ke kantor. " Sahut Garviiil.
Vicky tertawa. "Hahahahahaha rupanha kau pandai membaca peluang. Hahaha."
"Untuk mendapatkan ikan harus ada umpan menarik supaya ikan itu menghampiri umpannya, kau akan bersemangat ketika ada sesuatu yang menarik dekat denganmu, jadi aku berpikir bahwa yang bisa aku jadikan umpan adalah Tiffany. Seprtinya itu cukup berhasil."
Geffie tertawa. "Kalian lucu sekali hahahahaha...."
"Lalu bagaimana dengan Tiffany???" Tanya Garviil pada kekasihnya.
"Dia sih oke oke saja, dan memang sudah berniat untuk mencari pekerjaan di Boston. Tetapi aku ingin kami berdua tetap melewati prosedur yang ada bukan dengan jalur istimewa ya???? Aku tidak mau nanti orang-orang akan menggunjing kami berdua, and then kalaudi antara kamu ada yang masuk ya pasti yang lain akan cari kerja di. tempat lain, bukan dapat koneksi karena kamu adalah kekasih kalian. Mengerti maksudku kan???"
"Iya sayang, aku mengerti sekali, tenang saja semua akan berjalan sesuai prosedur, jadi jangan khawatir." Ucap Garviil.
"Tapi kami tidak mau yang seperti itu Vic, kami mau bekerja dengan profesional."
"Hehehehe....." Vicky terkekeh. Mereka mengobrol sembari mengobrol sampai kemudian mereka memilih duduk di atas pasir. Geffie membawa sarung pantai dan meletakkannya di atas pasir sebagai alas lalu duduk di atasnya bersama Garviil sedangkan Vicky memilih untuk duduk bersandar di bawah pohon kelapa yang tidak jauh dari tempat kakaknya dan Geffie duduk. Vicky ingin duduk diam dan menikmati waktu tenangnya. Dan dia juga akan membiarkan kakaknya menikmati waktu dengan Geffie serta tidak ingin mengganggu mereka berdua.
Sementara itu, Ciara duduk termenung sendirian di sebuah batang pohon kelapa yang ada di pinggir pantai dan menatap lurus ke arah matahari yang sudah mulai turun dan warna nya perlahan berubah menjadi oranye. Ketenangan seperti inilah yang Ciara sukai. Kesibukan di kantor dan juga permasalahan dengan mantan kekasihnya membuat Ciara butuh kesendirian untung menghilangkan mood nya yang rusak.
Dan pergi ke pantai adalah cara terbaik untuk bisa menyegarkan otaknya dari kekacauan dan kepenatan yang sedang melanda nya saat ini.
Pengkhianatan Devan dan kekerasan yang sering di lakukan lelaki itu padanya membuat Ciara akhirnya menyerah dengan cinta nya pada Devan. Keputusan berat yang harus di ambilnya adalah meninggalkan Devan, mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan selama 3 tahun. Lelaki itu seperti tidak pernah mau mengerti dengan sebuah arti cinta dan ketulusan. Devan selalu saja bermain-main dan menyakiti Ciara dengan kejam. Ciara sering mendapatkan tamparan atau terkadang pukulan ketika dia melakukan kesalahan yang membuat Devan marah atau ketika Ciara tidak melakukan apa yanh di inginkan Devan. Karena terlalu buta dengan cinta nya pada Devan, Ciara tidak pernah melakukan perlawanan ataupun melaporkan Devan atas penganiayaan yang sering di lakukan lelaki itu padanya. Ciara menyimpannya sendiri karena dia sangat mencintai Devan. Bagi Ciara itu tidak masalah, tetapi dia tidak bisa mentolerir sebuah pengkhianatan sehingga ketika dia mendapati Devan bermain api dengannya, Ciara langsung mengakhiri hubungannya itu meski sangat berat sekali. Dalam prinsip Ciara, pengkhianatan sangat tidak bisa di ampuni begitu saja. Dia benar-benar akan marah sekali dan tidak bisa mentolerir pengkhianatan dalam bentuk apapun.
Saat ini Ciara ingin menjalani hidupnya dengan baik dan melupakan segala luka yang mendera nya sebelumnya. Dia ingin terbebas dari luka yang di tinggalkan Devin. Setidaknya dua hari ke depan dia bisa menikmati waktunya dengan baik disini. Jauh dari kebisingan dan di isi dengan udara sejuk dengan angin sepoi-sepoi serta suara deburan ombak yang menenangkan.
Vicky memegang sebuah buku catatan kecil yang selalu di bawa nya kemana-mana dan sering dia gunakan untuk menggambar sesuatu yang sangat menarik menurutnya. Buku catatan serta pensil yang tidak pernah ketinggalan berada dalam saku nya.
Vicky memegang buku dan pensil nya untuk melukiskan pemandangan yang ada di depannya.Pantai, laut, langit, matahari dan gunung yang ada di tengah laut yang membuat semua nya tampak sempurna sekali.
Saat diam dan hendak memulai membuat gambar, Vicky menoleh ke kiri dan mendapati seorang perempuan sedang duduk sendirian memandang lurus ke depan dan siluetnya begitu luar biasa. Vicky mengerutkan dahinya menyadari bahwa perempuan ith adalah perempuan yang sama yang tadi bertabrakan dengannya.
Keindahan laut, gunung, matahari dan langit di depannya seolah tidak lagi menarik dan Vicky terfokus pada perempuan itu. Yang akhirnya membuat Vicky memutuskan untuk melukis perempuan itu. Dan ketika dia fokus memandangi perempuan itu, justru perempuan itu menoleh, sehingga bukan lagi siluet yang di lihat Vicky melainkan wajah cantiknya..
Vicky punya keahlian yang luar biasa untuk melukis atau membuat sketsa, sehingga meski perempuan itu hanya menoleh beberapa detik, Vicky langsung bisa mengingatnya dan langsung menorehkan pensil nya di atas buku kecilnya. Hanya butuh beberapa menit, sketsa itu jadi dan Vicky tersenyum ketika melihatnya. "Sangat cantik..." Gumam Vicky sembari tersenyum.
Kemudian Vicky membuat lagi sketsa perempuan itu versi siluetnya yang tidak kalah cantik. Dengan ahli dan sangat lancar, dalam hitungan beberapa menit lagi-lagi hasilnya sangat bagus sekali. Vicky berdiri dari atas pasir lantai yang tadi dia gunakan untuk duduk. Lalu dengan berani dia mengumpulkan niat untuk memberikan lukisan itu pada perempuan yang tadi di lukisnya. Vicky menyobek buku nya yang berisikan lukisan perempuan itu. Lalu Vicky berjalan meragu untuk mendekati perempuan yang duduk sendirian itu.
Vicky tidak bisa menahan diri dan memilih untuk mendekatinya. Tidak ada hal lain, dia hanya inginemberikan hasil menggambar nya sebagai kenang-kenangan untuk perempuan cantik itu.
"Permisi..." Ucap Vicky pada perempuan itu, yang membuatnya cukup terlonjak.
Ciara mendongak dan melihat siapa yang menegurnya. "Kau??? Kau yang tadi kan???" Tanya Ciara.
Vicky tersenyum dan menganggukkan kepala nya lalu memberikan sesuatu pada Ciara. "Maaf aku lancang sudah membuat ini tanpa seijinmu jadi aku ingin memberikan hasilnya padamu." Vicky memberikan kertas itu pada Ciara.
Ciara mengambilnya dan mengernyit, apa isi dari kertas itu. Lalu Kiara terkejut ketika mendapati itu adalah dia.