Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Bianca Tidak Lumpuh



★★★


Sore hari nya...


Gienka sudah selesai mandi dan terlihat sangat segar. Dia mengecek hp dan ternyata Geffie akan sampai dalam beberapa menit lagi. Gienka pun luar dari kamar dan turun untuk menyambut Geffie. Gienka sangat merindukan Geffie, sudah lama dia tidak bertemu adiknya dan hanya sekedar komunikasi melalui video call saja.


"Kau sudah bangun???" Tanya Cahya pada Gienka yang menuruni tangga.


"Iya Mam, baru saja, Geffie mberitahuku jika dia akan sampai dalam beberapa menit saja.. "


"Bagus kalau begitu, oh iya Amam juga sudah siapkan kamar untuk adikmu itu..


" Thanks Mam... " Gumam Gienka dia kemudian duduk di sofa bersama Aditya menunggu kedatangan adik yang sangat di rindukannya itu.


Sampai akhirnya, terdengar suara berl di tekan. Gienka beranjak dan bergegas membuka pintu, mendapati Geffie berdiri di depan Pintu. Geffie langsung memeluk kakaknya karena rindu sekali. Tetapi bukannya senang Gienka justru melihat ada seorang laki-laki bersama Geffie. Tahu kakanya bingung, Geffie pun memperkenalkan laki -laki itu.


"Kak, kenalkan ini Garviil, temanku..!! Dia mengantarmu kesini.. "


Gienka menatap laki-laki bernama Garviil itu dari ujung kepala sampai ujung Kaki. Lelaki ini cukup tampan, dan Gienka tahu bahwa Garviil sepertinya bukan hanya sekedar teman Biasa bagi Geffie.


"Ayo kalian masuklah...!!!" Perintah Gienka. Geffie dan temannya itu kemudian masuk ke dalam rumah. Tak lama Cahya dan Aditya juga muncul menyambut kedatangan Geffie.


"Uncle Aunty??? Apa kabar???" Geffie mencium tangan Cahya dan Aditya.


"Baik sayang, kau sendiri bagaimana???? Senang sekali saat kakakmu memberitahu jika kau akan datang berkunjung.. " Ucap Cahya.


"Mumpung sedang libur aunty, lagipula ada banyak orang juga cuma beberapa hari saja... Oh iya, kenalkan ini Garviil temanku.. Garviil ini aunty Cahya dan uncle Aditya, mertua kak Gienka.. "


Garviil menyalami Cahya dan Aditya. Memperkenalkan diri pada mereka.


"Dia bisa berbahasa Indonesia???" Tanya Aditya pada Geffie.


"ah iya Uncle, Garviil bisa berbahasa Indonesia, Papa nya dari Indonesia sedangkan Mama nya berasal dari Amerika... Dia kecil tinggal di Indonesia, dan baru pindah ke Amerika 5 tahun terakhir ini karena meneruskan kuliahnya disini.." Jawab Geffie.


"Oh pantas saja.. Ayo kalian duduklah, biar di buatkan minum.. "


Cahya tersenyum. "Iya duduklah..! Aunty buatkan minum dulu.. Aunty juga akan memanggil yang lainnya.." Cahya kemudian meninggalkan ruang tamu dan menuju dapur.


Gienka juga ikut duduk. "Kenapa tidak bilang kalau bawa teman, kakak cuma siapkan satu kamar... Kau tidur di kamar kakak saja, biar Garviil di kamar tamu.. "


"Iya kak, maaf, Garviil juga dadakan ingin ikut kesini..! Gimana kak Ky??? Jadi berangkat besok????"


Gienka mengangguk. "Iya..!!"


"Eh Geffie..!! Datang juga, sorry ya, baru selesai memandikan Athan.. " Kyra menyalami dan memeluk Geffie. Tak lama Axel juga menghampiri sambil menggendong Athan.


"Tidak apa kak, baru sampai juga, ini kak temanku Garviil.."


Garviil berdiri, menyalami Kyra juga Axel dengan sopan. "Saya Garviil...!!"


"Axel dan ini istriku Kyra... Senang bisa bertemu denganmu.. "


"Saya juga senang.. Eh aku ke belakang dulu, Athan mengajak bermain di taman.. Permisi.. " Axel dan Kyra pun berpamitan dan meninggalkan ruang tamu. Geffi serta Garviil kembali duduk.


"Garviil, kau teman kuliah Geffie ya???" Tanya Gienka.


Lelaki itu menggelengkan kepala nya. "Tidak kak, saya sekarang sedang menempuh S2 di kampus yang sama dengan Geffie, kami hanya berteman tapi bukan teman kuliah.. Beda fakultas juga. "


"Owh... Berarti kalian bertemu di kampus atau bagaimana???"


"Garviil punya cafe, aku sering kesana untuk sekedar duduk sambil mengerjakan tugas kuliah, jadi kami bertemu disana.. " Sahut Geffie.


"Owh..!!"


Mereka mengobrol sebentar kemudian Gienka mengantar Garviil ke kamar tamu, dan setelah itu mengajak Geffie ke kamarnya. Supaya adiknya itu bisa tidur bersama nya.


Geffie membongkar koper kecilnya dan mengambil pakaiannya. Dia ingin mandi lebih dulu, karena badanya terasa lengket sekali. Gienka duduk bersila di atas tempat tidur, memandangi Adiknya yang sibuk membongkar koper.


"Kenapa aku merasa bahwa Garviil bukanlah hanya sekedar teman biasa.. " Gumam Gienka.


Geffie mengangkat kepala dan memandangi Kakaknya. "Maksud kakak???"


"Dia pacarmu??? Kenapa kau tidak memberitahu kakak kalau kau sudah punya pacar, biasanya memberitahu kalau ada apa-apa.. "


Geffie melempar senyum. "Kakak... Dia hanya temanku, tidak ada yang lebih dari itu. Dia baik sekali.. " Geffie tidak berbohong karena dia dan Garviil belum berpacaran dan masih menganggap teman.


"Oh ya???? Kakak rasa dia juga manis dan cocok denganmu.. "


Geffie menutup kopernya. Dia naik ke tempat tidur dan menatap jengkel ke kakaknya. "Kakak, jangan mengejekku, kalau aku bilang dia hanya teman ya teman, tidak lebih dari itu.."


"Kalau begitu kenapa kau mengajaknya kesini???"


"Aku tidak mengajaknya, dia sendiri yang ingin mengantarku kesini, aku bilang tidak perlu tapi dia memaksa, ya mana bisa aku menolaknya.. "


Gienka tersenyum mengejek. "Oke oke... Aku percaya, biasanya kalau cowok seperti itu, ada mau nya, dia sedang mencoba pendekatan.. "


"Dih pendekatan apa... Kakak ini.. "


Gienka tertawa dan mencubit hidung Geffie. "Aku akan beritahu Papa Iel dan juga Mamay, memberitahu kalau kau sudah punya gebetan baru.. "


"Dih kakak, jangan dong, nanti Papa pasti marah, Papa melarangku pacaran lagi, aku harus fokus dengan kuliahku sampai lulus, lagipula Garviil bukan pacarku.. "


"Masa...??? Hahahaha iya juga tidak apa dek..!"


"Tau ah... Kakak menyebalkan sekali..!" Geffie turun dari tempat tidur dengan wajah jengkel meninggalkan Gienka yang masih tertawa menggoda nya.


"Hei mandi nya yang cepat, kita sholat maghrib bersama yang lain nanti..!!" Seru Gienka.


"Iya..!!" Sahut Geffie.


Gienka tersenyum. Dia senang melihat Garviil, lelaki itu memang terlihat baik sekali, wajahnya tampan dan senyumnya manis, sangat cocok jika dengan Geffie. Dan ya, petang ini, Aditya meminta semua orang yang ada di rumah ini untuk melakukan sholat maghrib berjamaah sekaligus mendoakan kelancaran Kyros.


****


Semua orang berkumpul di ruang tengah termasuk Garviil juga ikut bergabung dengan keluarga mertua kaka Geffie. Mereka akan sholat berjamaah. Aditya akan memimpinnya. Selain itu mereka juga akan berdoa bersama untuk kelancaran Kyros. Tentu mereka berharap bahwa semua akan berjalan lancar hingga Kyros kembali. Gienka senang kedatangan keluarga suami nya kesini membawa suasana yang jauh lebih baik, Dia juga bisa melupakan kesedihannya, dan menghabiskan waktu bersama mereka. Di tambah lagi adiknya juga ikut datang menemui nya. Mereka akan tinggal disini selama tiga hari dan baru akan kembali ke Indonesia.


Aditya memimpin sholat. Semua terlihat sangat khusyu sekali. Setelah selesai, Adity juga memimpin doa agar Tuhan memberikan perlindungan dan penjagaan untuk keselamatan Kyros, menghindarkan Kyros dari sesuatu yang berbahaya.


Selesai itu, mereka berkumpul untuk makan malam bersama. Karena baru sampai siang tadi dari Houston dan tidak punya persediaan bahan makanan. Gienka memutuskan untuk memesan makanan dari luar. Dan mereka akan makan malam bersama di rumah ini.


Sementara itu, Garviil melempar senyumnya. Entah kenapa dia merasa sangat bahagia sekali dengan apa yang ada di depannya saat ini. Keluarga ini begitu hangat, dan saling menyayangi. Benar apa yang di katakan Geffie bahwa dia memiliki keluarga yang menyenangkan. Baru beberapa jam berada disini, Garviil mendapat sambutan yang luar biasa, dan keluarga mertua kakak Geffie begitu humble. Garviil tadi duduk dan mengobrol bersama Aditya dan Adri, berbagi cerita dan pengalaman. Meski baru sebentar, tetapi Garviil menyimpulkan bahwa kedua nya adalah orang hebat di dunia bisnis. Garviil bisa belajar banyak kepada mereka. Sayangnya Garviil belum tahu bagaimana keluarga Geffie sebenarnya, karena ternyata mereka tidak berada disini. Andai ada disini mungkin Garviil bisa berkenalan. Tetapi yang tidak di ketahui Garviil, bahwa Geffie memiliki orang tua yang keras dan sangat posesif.


))((((


"Kau tidak pernah pulang ke Indonesia Viil???" Tanya Axel.


"Tahun kemarin aku pulang kak, Oma sakit dan Papa memingta ku pulang, jadi aku pulang sekitar satu minggu dan kembali lagi ke boston." Jawab Garviil.


" Lalu sampai sekarang tidak kesana lagi karena aku sibuk sekali." Lanjutnya. "Jadi tahun kemarin terakhir kau ke Indonesia???" Tanya Axel lagi. "Iya kak, tetapi tentu saja tahun ini ada rencana lagi pulang cuma belum tahu kapan." "Sejak kapan kau mengenal Geffie???" Sahut Kyra. Garviil tersenyum. "Baru beberapa bulan kak, belum lama. Geffie sering datang ke cafe ku, dan kami bertemu disana." "Owh kau punya Cafe??? Sama dong, Geffie juga punya cafe dan restoran di Indonesia,. Garviil tersenyum dan menganggukkan kepala nya. "Aku tahu kak, Geffie pernah bercerita kepadaku mengenai hal itu." "Wah ternyata kau sudah tahu banyak tentang Geffie, sayang sekali Uncle Iel dan Aunty Maysa tidak ikut kesini, kau bisa berkenalan dengan mereka juga." Ujar Kyra.


"Tapi Geffie kan akan lulus sebentar lagi, nanti mereka bisa bertemu dengan Uncle Iel dan Aunty Maysa." Sahut Axel. Garviil hanya melempar senyum, keraguan tiba-tiba muncul di benaknya. Siapkah dia nanti jika harus bertemu dengan kedua orang tua Geffie, mengingat mereka adalah orang yang sangat kaya sekali. Tetapi jika dia memang berniat membawa hubungannya dengan Geffie ke hal yang lebih serius lagi setelah nanti Geffie menerima nya sebagai seoang kekasih, tentu Garviil sendiri harus siap dan memiliki nyali untuk bertemu dengan orang tua Geffie. Dan semua itu butuh nyali yang besar dan juga kesiapan mental untuk menghadapi mereka. Karena tentu orang tua Geffie tidak akan sembarangan ketika mencari seorang menantu, bahkan kakak Geffie saja juga menikah dengan laki-laki yang tidak sembarangan, anak konglomerat juga sekaligus seorang astronot. Pastilah spesifikasi menjadi menantu mereka juga harus memiliki kelebihan yang tidak biasa.


Di tengah obrolan itu, Cahya memanggil Gienka dan bersamaan dengan itu juga Athan mengajak Kyra dan Geffie untuk berenang di bawah. Akhirnya mereka meninggalkan Garviil dan Axel di rooftop. Axel menoleh ke arah Garviil yang terdiam, dia bisa melihat bahwa sepertinya Garviil sedang memikirkan sesuatu dan sibuk sendirin dengan lamunan nya. "Kau kenapa Viil??" Tanya Axel.


Garviil menoleh dan tersenyum. "Tidak kak, tidak kenapa-kenapa." Jawabnya berbohong. Garviil sedang sibuk memikirkan Geffie dan orang tua nya. Garviil takut orang tua Geffie nanti tidak menerima nya. Axel menepuk paha Garviil.


"Jangan bohong, tadi aku dan istriku membahas orang tua Geffie dan setelah itu kau sedikit murung, apa kau memikirkan sesuatu??? Cerita saja, hanya ada kita berdua disini."


"Kenapa Viil??? Apa yang kau pikirkan???" Tanya Axel lagi.


Garviil melempar senyum. "Kak Axel dulu susah tidak saat mendekati Kak Kyra???" Tanya Garviil akhirnya. Axel tersenyum.


"Sebenarnya tidak susah tetapi nyali ku yang sulit aku kendalikan." Jawab Axel.


Gaviil mengernyit. "Nyali yang sulit di kendalikan??? Maksud kakak???" Garviil tampak bingung.


"Nyaliku, aku tidak punya nyali saat menyukai Kyra, tidak memiliki nyali karena Kyra sangat kaya raya sedangkan aku tidak memiliki apapun, aku dari keluarga yang biasa saja, takut di tolak oleh keluarga Kyra. Mereka adalah keluarga yang kaya, dan berpengaruh" Axel terkekeh.


"Tapi kak Axel kan pemain bola??? Tentu itu bisa menjadi pertimbangan mereka kan?? Tanya Garviil lagi.


"Aku pikir itu tidak jadi penilaian mereka, ya sebenarnya itu yang aku ragukan awalnya Tapi ternyata tidak, mereka orang yang sangat baik, dan juga menerima ku dengan welcome. Apap mencari menantu bukan di lihat dari mana asalnya dari keluarga kaya atau tidak, tetapi bagi Apap yang terppenting adalah tanggung jawab terhadap Kyra dan mencintai Kyra dengan sangat tulus, begitulah cara mereka menerima ku, jika aku memang berniat berhubungan dengan Kyra, Apap menantangku untuk langsung menikahi Kyra, jadi ya aku terima saja, dan mengiyakan."


"Om Aditya menantang Kak Axel untuk menikahi kak Kyra???" Tanya Garviil yan tampak penasaran.


"Iya, aku langsung mengiyakan untuk menikahi nya, bahkan persiapannya hanya beberapa minggu saja." Garviil tersenyum.


"Wah hebat juga kak Axel, Om Aditya juga ternyata tidak segalak itu ya???" "Tidak sama sekali, Apap sangat amah dan baik sekali meski terlihat dingin, dan Apap sangat menyayangi keluarga nya, bahkan aku juga terkejut ketika menyadari ternyata Apap orangnya seperti itu. Tapi ngomong-ngomong kenapa kau bertanya seperti itu??? Apa kau juga merasa takut jika dekat dengan Geffie karena tahu keluarga nya orang berada???" Tanya Axel.


Garviil tersenyum malu, ternyata Axel bisa membaca jalan pikirannya. "Ya, begitulah kak. Kakak pasti mengenal orang tua Geffie kan??? Apa mereka seperti mertua kakak??? Maksudku, Geffie pernah bercerita jika orang tua nya bersahabat dengan mertua kakak sejak lama. Kalau begitu mungkin kak Axel tahu."


Axel kembali tersenyum. "Ya, tentu saja aku tahu, aku bahkan sudah mengenal om Ariel sejak aku masih kecil, aku berteman baik dengan Gienka, kami bertetangga."


"Oh ya??? Wah berarti kakak banyak tahu dong." Axel menganggukkan kepala nya.


"Tentu saja. Tapi coba katakan padaku, sejauh apa hubunganmu dengan Geffie???" Tanya Axel sembari meminum jus yang ada di gelas.


"Ummmm sebenarnya, hubunganku dengan Geffie masih dalam tahap pendekatan, Geffie belum menerima ku sebagai kekasihnya, dia membeiku waktu untuk kami saling mengenal lebih dekat lagi, tetapi tentu aku sangat menyukai nya dan pribadi nya yang menyenangkan, tetepi beberapa hari yang lalu, aku mengetahu jika Geffie ternyata anak dari pengusaha terkenal dan seorang milyader, melihat fakta itu aku sangat terkejut sekali, dan takut. Ya takut aku tidak di terima oleh keluarga nya." Ujar Garviil.


Axel tersenyum. "Om Ariel seperti Apap, dia sangat baik sekali di balik tampangnya yang dingin dan kaku, Om Ariel sangat menyayangi Gienka dan Geffie bahkan juga sangat menyayangi Friddie keponakannya, anak dari Mama nya Gienka. Rasa sayangnya yang begitu besar membuatnya sedikit protektif terhadap anak-anaknya, tetapi dia tidak pernah mengekang apa yang mereka suka, dan selalu berakhir mengalah jika merasa anaknya suka terhadap sesuatu. Ya seperti Gienka dulu yang tiba-tiba saja meminta di nikahkan dalam hitungan hari, dia sempat tidak setuju tetapi rasa sayangnya yang begitu besar pada Gienka membuatnya akhirnya setuju. Yang terpenting laki-laki itu bertanggung jawab dan mencintai putrinya dengan tulus maka Om Ariel akan merestui nya, ya seperti hal nya yang aku ceritakan tadi, Apap juga seperti itu padaku dan Kyra." Axel menepuk pundak Garviil. "Dan kalau kau memang memiliki rasa cinta yang besar untuk Geffie, jalan yang haus kau ambil adalah membuktikan cinta yang kau miliki itu, abaikan mengenai status sosial atau kekayaan, aku rasa itu adalah hal nomor sekian, yang paling penting niat tulus dan bukti cintamu pada Geffie saja."


"Aku hanya takut kalau di tolak." Gumam Garviil.


"Tidak akan.....!!! Aku sangat mengenal Om Ariel, intinya jangan sekalipun kau membuat Geffie sedih ataupun menyakitinya, itu tentu akan berpengaruh pada penilaian om Ariel kepadamu." Axel kemudian bercerita kepada Garvil bahwa dulu dia pernah di tolak oleh keluaga mantan kekasihnya karena mereka menganggap bahwa pekerjaan nya tidak bisa menghasilkan banyak uang dan Axel juga bukan pengusaha sehingga membuat mereka berpikir bahwa Axel tidak akan mampu menghidupi anak mereka. Dan Axel juga menerima hinaan serta cacian bahkan puncaknya, orang tua nya juga di rendahkan. Hal itu membuat Axel memutuskan mengakhiri hubungannya dengan mantan kekasihnya itu. Butuh waktu lama untuk Axel untuk bisa menghilangkan kesakitannya itu. Sampai kemudian dia bertemu dengan Kyra, dan saat mengetahui Kyra berasal dari keluarga yang berada, tentu ingatan Axel mengenai penghinaan yang di terima nya dulu dari orang tua mantan kekasihnya, Axel menjadi meragu untuk mendekati Kyra. Takut dia di tolak dan di hina lagi seperti dulu tetapi Gienka yang notabene nya adalah sahabat baik Kyra, berusaha meyakinnya agar tidak takut mendekati Kyra dan keluarga Kyra bukanlah orang yang seperti itu. Mereka orang yang baik dan tidak pernah menghina orang lain, atau meredahkan orang lain kecuali orang itu sudah membuat mereka maah atau sudah mengusik keluarga mereka. Akhirnya Axel coba memberanikan diri untuk mendekati Kyra. Dan apa yang di katakan Gienka memang benar bahwa keluarrga Kyra sangat baik sekali.


"Tapi kak, bukankah pekerjaan kakak sebagai pemain bola juga cukup besar gajinya??" Tanya Garviil.


"Masih ada juga ya di jaman sekarang orang berpikiran sempit seperti itu." Gumam Garviil.


"Masih banyaklah... Tetapi aku bersyukur sekarang memiliki mertua yang luar biasa baik, dan mereka selalu mendukungku, tidak pernah merendahkanku. Sangat menyayangiku layaknya anak kandung mereka sendiri. Masih banyak orang kaya harta juga kaya hati kok. Tidak semua yang kaya juga sombong. Itu juga berlaku pada orang tua Geffie. Bahkan Mama Geffie sangat lembut dan penyayang, seperti Geffie." Garviil pun tersenyum. Dan dari cerita Axel sepetinya memang keluarga Geffie adalah oang yang baik. Garviil pun tidak akan merasa rendah diri lagi.


))))((((


Sementara itu, Paul menjemput Bianca di rumah perempuan itu di rumah. Sejak pertemuan di butik itu, Bianca dan Paul semakin akrab dan mereka mengatur janji untuk bertemu. Bianca merasa senang sekali dengan perhatian yang di berikan oleh Paul kepadanya. Lelaki itu selalu membalas pesannya dengan cepat, selalu menghubungi jika ada kesemppatan, sangat perhatian sekali untuk hal yang sangat detail. Bahkan meski baru beberapa hari kenal, Bianca sudah di buat terkesima oleh perhatian dari Paul. Victor selama ini tidak pernah bersikap seperti Paul. Berbeda 180 derajat. Dan Bianca mulai merasa senang sekali saat ini.


Bianca sudah berdandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan Paul. Lelaki itu akan mengajaknya jalan-jalan. Tetapi Bianca tidak tahu akan di bawa kemana oleh Paul. Yang jelas lelaki itu mengatakan jika ingin mengajaknya jalan-jalan.


Suara bel terdengar, Bianca mendorong kursi roda nya dan membuka sendiri pintu itu. Dia tersenyum dengan cantiknya kemudian menyapa Paul. Lelaki itu terlihat tampan sekali, senyumnya manis, sangat jauh berbeda dengan Victor yang dingin dan kaku.


"Are you ready???" Tanya Paul, apakah Bianca sudah siap untuk pergi dengannya.


"Yes, I'm ready, shall we go?" Tanya balik Bianca.Dia sudah siap, dan apakah mereka akan langsung berangkat.


Paul menganggukkan kepala nya."Yes, of course. Let's go.!!!" Paul berpindah ke belakang Bianca dan mendorong kursi roda perempuan itu keluar dari rumah. Dengan hati-hati, Paul membantu Bianca masuk ke dalam mobinya. Meletakkan kursi roda Bianca di bagasi mobil. Lalu Paul masuk k dalam mobil dan mengemudikannya.


"Where are we going???" Tanya Bianca kemana mereka akan pergi.


Paul menoleh dan tersenyum.   "I'll take you to Crane Beach." Paul akan mengajak Bianca ke Crane Beach.


"Crane beach????"


Paul menganggukkan kepala nya. "Yes, do you like it???" Paul bertanya apakah Bianca suka atau tidak tempat itu.


Bianca tersenyum. "Of course, it's a really beautiful beach." Tentu saja Bianca suka, itu pantai yang sangat indah.


"It's great that you like it. But anyway, is it okay for me to take you out? I'm afraid your fiancé will find out and you'll be in big trouble later." Paul besyukur jika Bianca suka. Tapi dia bertanya apa tidak apa-apa jika dia mengajak Bianca pergi. Paul takut tunangan Bianca tahu dan Bianca nanti akan dalam masalh besar.


Bianca menggelengkan kepala nya. "Not at all, my fiancé is so busy that he will only see me on weekends. He's always busy with his business." Ujar Bianca. Tidak sama sekali, karena tunangannya sangat sibuk bahkan lelaki itu akan bertemu dengannya saat weekend saja. Dia selalu sibuk dengan bisnis nya.


"Is it really okay???" Paul ingin memastikan lagi apa Benar ini tidak apa-apa.


"Not at all."


"You see, I have a voucher to stay at one of the resorts there for two days, and I want to take you. It's been a while since I've had a vacation." Paul punya voucher menginap di salah satu resort disana selama dua hari, dan dia ingin mengajak Bianca menginap. Sudah lama juga dia tidak liburan.


Senyum penuh kemenangan muncul di wajah Bianca. "I haven't had a vacation in a long time either. My fiancé is so busy that he rarely has free time to take me out." Ucap Bianca, dia juga sudah lama tidak liburan. Tunangan nya terlalu sibuk hingga jarang sekali memiliki waktu luang untuk mengajak nya pergi.


"Really????"


Bianca menganggukkan kepala nya. ""True, our marriage is getting closer but I feel like he's getting further away from me." Gumam Bianca sedih. Mengatakan pada Paul jika pernikahan nya sudah semakin dekat tetapi dia merasa Tunangannya justru semakin jauh darinya.


"You poor thing?" Paul merasa kasihan sekali dengan Bianca.


"He's always been like that." Gumam Bianca dengan sedih. Bianca mengatakan jika tunangannya memang seperti itu sejak dulu.


Paul menoleh menatap perempuan yanga ada di sebelahnya itu. Dia melihat dengan jelas kesedihan yang ada di wajah Bianca. Peremuan itu terlihat sangat kesepian. "Don't be sad, I'm a very compassionate person, I'll comfort you so you won't be sad anymore." Paul meminta Bianca agar jangan sedih, dia adalah orang yang sangat menyanangkan, sehingga Paul akan menghibur Bianca supaya tidak sedih lagi.


Bianca mengangkat keepala nya dan menoleh ke Paul kemudian tersenyum. Lelaki itu memang ceria dan sanyumnya sangat manis sekali. Itu benar bahwa mungkin Paul memang laki-laki yang menyenangkan. "But Paul, why are you telling me this now??? I didn't bring any clothes for the sleepover???" Bianca mengeluh kenapa Paul baru bilang sekarang. Dia tidak membawa pakaian kalau harus menginap.


Paul tersenyum. "The clothes thing is easy, we can buy at the boutique, I'll take you to buy." Masalah pakaian itu gampang, mereka bisa membeli di butik, Paul akan mengantar Bianca  membeli nya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir satu jam, sampailah mereka di pantai itu. Paul turun dan membuka bagasi mengeluarkan kursi roda Bianca. Kemudian membawa perempuan itu masuk ke resort. Dan tentu saja hanya satu kamar, karena memang Paul hanya memiliki satu voucher saja. Paul megatakan pada Bianca jika nanti dia akan tidur di sofa sedangkan Bianca bisa tidur di ranjaang.


Masuklah mereka ke kamar di rsort itu. Kamar yang langsung menghadap ke Laut. Bianca duduk di jendela dan melihat pemandangan pantai yang biru dengan ombak yang tenang. Paul berdiri di belakangnya. ""Isn't the scenery beautiful here???" Tanya Paul pada Bianca mengenai pemandangannya disini.


Bianca menganggukkan kepala nya, mendongak memandang wajah Paul dan tersenyum. Setuju jika pemandangannya sangat cantik sekali.


"Do you want to sit on the sofa???" Tanya Paul lagi apakah Bianca ingin duduk di sofa, dan perempuan itu menganggukkan kepala nya. Paul pun begegas membantu Bianca. Paul tidak membantu Bianca berdiri tetapi dia langsung mengangkat Bianca yang seolah ringan untuknya. Paul membawa Bianca ke sofa dan perempuan itu melingkarkan lengannya di leher Paul dan menatap wajah tampan lelaki itu. Paul semakin luar biasa ketika di pandang dari jarak dekat. Hingga tiba-tiba saja kaki Paul menyandung kaki meja membuat Paul langsung jatuh, untungnya Bianca jatuh di sofa dan Paul dalam posisi di atas Bianca. Wajah mereka bertatapan dengan sangat dekat sekali. Mereka saling memandang, dan tatapan itu begitu dalam. Hingga beberapa detik kemudian Paul semakin mendekatkan wajahnya di wajah Bianca dan mencium bibiir Bianca yang manis itu. Bianca memejamkan matanya dan membiarkan Paul menciiumnya, Bianca sangat merindukan hal inttiim seperti ini. Sudah lama Victor tidak menciumnya.


Bianca membuka muIutnya dan membiarkan Iidah Paul meneIusup masuk ke dalam mulutnya. Dan Bianca juga membalas Iumatan dan ciuman Paul.


)))))((((


Paul membaringkan Bianca ke atas ranjang. Jemarinya menyusup ke balik rok Bianca dan langsung menyentuh pusat kewaniitaannya. Sentuhan itu membakar sekaligus menyejukkan dan Bianca langsung menyerahkan tubuhnya penuh gaiirah. Paul menundukkan kepalanya, mengecup leher dan pundak Bianca sambil menurunkan kemejanya, menikmati betapa Bianca menyerah kepada gairahnya. Bianca merindukan sentuuhan seperti ini, dia ingin, dia mau. Victor selalu mengabaikannya padahal dia menginginkannya.


Jemari Paul menyentuh kewaniitaannya, dan mencuumbunya dengan keahlian luar biasa hingga paaha Bianca terbuka, panas, dan basah siap untuknya. Paul sudah berada di atasnya dan meniindihnya, Bianca merasakan kejaantaanannya yang begitu panas menyentuhnya."Does...", napas Paul yang panas sedikit terengah terasa begitu erotis di bibirnya, Paul mengecupnya lagi, "Do you mind if I do it???" Tanya Paul. Bianca melingkarkan lengannya di leher Paul putus asa, gaiirahnya memuncak tanpa ampun, dia ingin Paul ada di dalam dirinya, oh Ya ampun, dia sangat ingin!


Paul tersenyum mendapatkan persetujuan Bianca "Ah my dear, you are so beautiful" Paul menangkup payyudaara Bianca di telapaknya, merasakan dan menikmati kelembutan itu. Lalu bibir panasnya turun dan menangkup pucuknya, meIumatnya penuh gaiirah, membuat Bianca hampir menjerit karena siksaan kenikmatan yang berbaur menjadi satu. Lelaki itu menurunkan rok Bianca dan mulai menyeentuhnya, dimana-mana,meninggalkan geIenyar panas yang membakarnya. Jemari Paul menyentuh pusat kewAaniItaannya dan Bianca merasakan dorongan yang amat sangat untuk memohon agar Paul mau memasukinya. Dan Paul sudah siap, Lelaki itu terasa begitu keras dan panas di bawah sana. Bianca mencoba menggerakkan tubuhnya dengan frustrasi, permohonan tanpa kata.


"Calm down my dear," Paul mulai tereengah, menahan pingguI Bianca yang bergaiirah di bawahnya. "I'll satisfy you in a moment" Paul akan meuaskan Bianca sebentar lagi.


Paul mengambil pengaman dan memasangkannya di miliknya, lalu menyentuhkan dirinya, dan langsung menggertakkan giginya,melawan dorongan kuat untuk memaasuki Bianca dengan kasar. Bianca sudah sangat siap menerimanya, tetapi Paul bertekad memperlakukannya dengan lembut, memberikan tubuuhnya untuk keniikmatan Bianca.


Akhirnya dengan satu gerakan yang mulus, Paul menekan dirinya, menyatukan tubuhnya dengan Bianca. Percintaan mereka sangat penuh gaiirah dan luar biasa nikmatnya. Bianca mencengkeram punggung Paul yang berotot, melupakan rasa sakit di kepalanya, terlalu larut dalam kenikmatan yang mendera tubuhnya. Paul berusaha bergerak selembut mungkin, tetapi gaiirahnya mengalahkan akal sehatnya, dia bergerak dengan penuh gejolak, membawa Bianca bersamanya.


Ketika kehangatan Paul merasukinya, tenggelam dalam tubuhnya yang paanas dan basah, Bianca mengerrang dan memejamkan mata. Oh astaga! Rasanya begitu tepat, kenikmatan ini, kedekatan ini. Rasanya luar biasa tepatnya! Mereka bergerak dalam alunan gaiIrah yang keras, berusaha memuaskan gejolaknya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya tubuh Bianca terasa melayang,mencapai puncak kenikmatannya didorong oleh rasa klimaks yang begitu dalam.


Paul mulai mencium leher Bianca, bertanya-tanya apakah Bianca tahubetapa menggairahkannya dirinya dengan bagian atas kemejanya yang terbuka, menampilkan sebagian payyudaranya yang begitu indah. Rambutnya tergerai berantakan di bahu. Mendadak Paul tidak sanggup menahan diri lagi. Dan ia pun terus bercinta dengan Bianca-yang cantik. Saat itu juga hingga mereka berdua sama-sama dibutakan oleh hasrat yang membara.


Dan akhirnya ketika puncak itu datang, tubuh mereka menyatu dengan begitu eratnya, dalam ombak kepuasan yang bergulung-gulung menghantam tubuh mereka. Ketika Paul menarik tubuhnya dengan hati-hati dari Bianca dan berbaring di sebelahnya dengan lengan masih memeluknya erat.


Lelaki itu meraih Bianca ke pelukannya dan langsung mencium bibirnya. Dengan lembut. Tidak memaksa, dengan pelan dia menguak bibir Bianca, mencicipinya pelan~pelan kemudian meIumatnya lembut. Iidahnya menelusuri seluruh bibir Bianca dan kemudian bermain-main dengan Iidah Bianca, mencecapnya habis-habisan. Ketika akhirnya ciuman itu selesai mereka sama-sama terengah-engah.


"Dear Bianca? Did you like her in the end???" Tanya Paul Apakah pada akhirnya Bianca menyukai nya.


"Yes, I like it very much.." Jawab Bianca.


"We seem to be a very compatible couple," Paul mendekatkan tubuh Biancake tubuhnya, dalam rangkuman dadanya. Mengatakn jika mereka sepertinya adalah pasangan yang sangat cocok."


Bianca menatap Paul. "I like it."


Paul tersenyum. "Good Girl." jemari Paul menyentuh paaha Bianca. Mungkin sudah waktunya mereka berhenti berkata-kata dan berkomunikasi dengan bahasa nonverbal yang sudah sangat mereka kuasai.


Jemari Paul membimbing agar paha Bianca melingkarinya, "I wanted to show you that you won't be treated badly."


Paul menunjukkan jika dia ingin menunjukkan pada Bianca bahwa Bianca tidak akan di perlakukan dengan buruk.


))))((((


Beberapa Minggu kemudian


Geffie sudah kembali lagi ke Boston bersama dengan Garviil serta sudah beraktifitas lagi seperti sebelumnya. Dia hanya beberap hai saj adi Washington Dc karena memang kakak Geffie yaitu Gienka harus pulang ke Indonesia. Jadi Geffi juga harum kembali ke Boston, selain itu Geffie juga harus ke kampus begitu juga dengan Garviil yang haruskembali bekerja di kantor.


Ketika ponselnya berbunyi lagi, hampir jam sepuluh malam, Geffie yang sudah berada dalam posisi meringkuk di ranjang dan bersiap tidur mengernyit. Dia sedang tidak enak badan, hari ini adalah hari pertama dia datang bulan dan dia selalu sedikit merasakan nyeri di perut bawahnya ketika sedang haid. Diangkatnya telepon itu,


“Halo???”


“Geffie???” suara Garviil yang dalam terdengar dari seberang sana. “Kenapa kau tidak datang kemari????"


“Oh... maaf Garviil.” Geffie lupa kalau sudah berjanji untuk ke cafe malam ini. “Aku... aku sedang tidak enak badan.”


“Kau sakit????” suara  Garviil terdengar cemas. “Kau sakit apa????” Tanya Garviil.


“Tidak...!!!" Geffie bingung, kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya kepada Garviil.


“Aku antar ke dokter ya????”


“Eh tidak usah...” Geffie menelan ludahnya. “Ini sakit perempuan..!!!”


“Sakit perempuan???” Dari suaranya Geffie bisa membayangkan Garviil mengernyit di sana.


“Itu.. sakit perempuan setiap bulan.”


Hening. Tampak Garviil berusaha menelaah kata-kata Geffie, tetapi kemudian dia sadar,


“Oh.”


Tiba-tiba saja Geffie merasa geli karena sekarang Garviil yang salah tingkah.


“Maaf ya. Biasanya ini hanya berlangsung di hari pertama kok, mungkin kita bisa bertemu besok.”


Hening, lalu Garviil bergumam. “Aku ke sana ya????”


“Jangan, aku tidak apa-apa kok.”


“Aku akan kesana.” Garviil bergumam dengan nada keras kepala, lalu menutup telepon.


Ketika pintu apartemennya terbuka, Garviil berdiri di sana sambil membawa kantong kertas makanan dari cafenya. Lelaki itu menatapnya dengan cemas.


“Kau tidak apa-apa???” Tanya Gaviil.


Geffie menggeleng lemah, memundurkan langkahnya dan mempersilahkan Garviil masuk. “Sakit begini hanya bisa disembuhkan kalau berbaring.” Gumam Geffie.


“Kalau begitu duduklah berselonjor di sofa.” Garviil mendahului Geffie duduk di sofa, dan menunggu Geffie datang. Dia mengambil bantal kecil dan meletakkan di pangkuannya. “Sini, berbaringlah di sini."


Sejenak Geffie ragu, tetapi senyuman Garviil tampak begitu menenangkan, dan perutnya sakit. Dia tidak punya siapa-siapa di sini untuk mengeluh. Sambil menghela napas panjang dia duduk di sofa, Garviil langsung menariknya, menjatuhkan tubuh Geffie supaya kepalanya berbaring di bantal di pangkuannya. Rasanya begitu nyaman, meringkuk di pangkuan Garviil dengan jemari ramping lelaki itu mengelus rambutnya pelan.


“Kau sudah makan tadi???” Tanya Garviil.


Geffie menggelengkan kepalanya. “Aku tidak selera makan.”


“Aku bawakan kentang goreng dan sosis dari cafe kalau kau lapar malam-malam.” Jemari Garviil membelai rambut Geffie lembut, membuat Geffie mengantuk.


“Terima kasih Garviil...” suara Geffie melemah, dia menguap.


“Tidurlah, aku akan menungguimu di sini.!!!”


“Terima kasih ya.” Geffie mengulangi ucapan terimakasihnya, lalu menutup matanya, merasakan damai yang menenangkan. Dia memejamkan matanya dan terlelap.