Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Lelaki Tampan



Lelaki itu melempar senyum membuatnya semakin terlihat tampan. "Okay then, I hope you don't get tired of coming here." Lelaki itu menganggukkan kepalanya lalu melangkah pergi.


Dia berharap Aire tidak bosan berkunjung kemari.


Aire masih terdiam, mengamati kepergian lelaki itu. Mungkin sudah budaya di cafe ini untuk ramah kepada para pelanggannya, pikirnya dalam hati.


Lelaki itu tampak baik, ramah, dan sopan.... tetapi kemudian ingatan akan Mike menyerang Aire dan membuatnya merasa pahit. Semua laki-laki sama di dunia ini, meskipun yang berpenampilan paling sempurna sekalipun.


Aire mencoba memfokuskan diri kepada tulisannya, berusaha mengenyahkan pikiran tentang lelaki tampan itu dari benaknya ketika pelayan datang men gantarkan steak pesanannya. Piring berisi daging beraroma harum dan menggiurkan yang di letakkan di depannya,


"And here's the wine.." Pelayan setengah baya itu tersenyum ramah. "Youn know, steak goes really well with red wine." Ucap pelayan itu. Dia memberitahu Aire bahwa daging steak sangat cocok dinikmati dengan anggur merah.


Ketika pelayan itu pergi, Aire menyentuh gelas anggurnya dengan ragu. Lalu setelah menghela napas panjang dia menghirup aromanya pelan. Aroma anggur yang manis menguar dari sana, menggoda Aire untuk menyesap anggur itu, di sesapnya anggur itu dan mendeesah nikmat.


Ada manis yang kental bercampur rasa pekat alkhohol yang pas, tidak berlebih. Ini adalah jenis anggur yang bisa di nikmati di kala santai tanpa takut mabuk. Dan Aire sungguh-sungguh berharap anggur ini benar-benar berkhasiat untuk membuatnya tidur. Dia sungguh butuh tidur nyenyak malam ini.


Kekacauan yang terjadi beberapa hari kemarin membuat Aire sangat susah tidur, tidak nyaman, tidak fokus dan ia benar-benar merasa kesal dengan keadaannya ini. Aire ingin suasana yang baru dan bisa membuatnya kembali menjalani harinya dengan baik seperti sebelumnya tetapi kali ini tentu tanpa laki-laki, tanpa Mike.


Aire harus bisa melupakan semua kesakitan yang sudah ditinggalkan oleh Mike kepadanya, walaupun berat tetapi Aire harus tetap bangkit dan maju menjalani hari-harinya dengan baik. Apalagi dia sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya dan dia juga akan meninggalkan kota ini untuk melanjutkan kuliahnya di kota yang baru. Kota di mana kakaknya tinggal, dia akan melanjutkan S2 nya di sana.


****


"And his so handsome." Aire bercerita kepada Tifanny sahabatnya, " He is also the owner of the cafe.." Gumam nya lagi. Mengatakan bahwa lelaki itu juga pemilik cafe.


Tifanny mencomot pizza di atas meja, mereka sedang menghabiskan minggu pagi di apartemen Aire. Tifanny berkunjung untuk membantu Aire merapikan tempat barunya,


"The cafe is very popular in this area because it provides everything you need. In the morning you can order from the delicious breakfast menu. And in the evenings, the bar was open so that everyone who wanted to relax could sit there for as long as possible and enjoy their drinks.


But from your story, the owner of that cafe still seems to be


young." Ujar Tifanny. Dia mengatakan jika Cafe itu sangat ramai di kawasan ini karena menyediakan semua yang dibutuhkan. Di pagi hari bisa memesan menu sarapan yang lezat. Dan di malam hari, bar nya dibuka sehingga semua orang yang ingin bersantai bisa duduk-duduk di sana selama mungkin dan menikmati minumannya. Dan Tifanny berpikir bahwa dari cerita Aire, pemilik cafe itu sepertinya masih


"He's still young." Airee merenung, masih muda dan sangat tampan batinnya.


"Does he have a girlfriend??" Tanya Tifanny tiba-tiba.


Aire tergelak. "Why should I pay attention to whether he has a girlfriend or not???" Seru Aire. Dia betanya pada Tifanny Kenapa dia harus memperhatikan apakah lelaki sudah punya kekasih atau belum.


"Because you should learn to detach yourself from Mike" Tifanny mengedika n sebelah matanya. "The owner of the cafe said hello to you, and he's young, who knows if he's handsome too." Ucapnya. Dia memberitahu Aire harus belajar melepaskan diri dari Mike. Pemilik cafe itu menyapa Aire, dan dia masih muda, siapa tahu dia juga tampan.


"He's handsome.." Gumam Aire akhirnya. Lelaki itu memang tampan.


"Well! Maybe by trying to turn over a new leaf you can heal


your wounds..." Sahut Tifanny dngan cepat. Dan mengatakan Mungkin dengan mencoba membuka lembaran baru Aire bisa menyembuhkan lukanya.


"No...." Aire mengernyitkan keningnya dengan pedih. "ALl men are the same, Tifanny.. They always say that they are true lovers. But on the other hand they change their hearts easily.


heart." Bagi Aire semua lelaki sama. Mereka selalu bilang bahwa mereka adalah pecinta sejati. Tetapi di sisi lain mereka mudah berpindah hati.


"You can't go on like that, Geff. There are many men out there who are kind and loyal. Like that handsome cafe owner He seems nice, and he says hello to you, which means he cares about you to you." Tifanny mengingatkan Aire bahwa sahabat nya itu tidak bisa terus-terusan seperti itu. Masih banyak lelaki di luar sana yang berjiwa baik dan setia. Seperti pemilik cafe yang tampan itu, lelaki itu tmpaknya baik, dan dia menyapa Aire, berarti dia ada perhatian kepada Aire.


"No...!!!" Aire menggelengkan kepalanya sambil terkekeh." Maybe that was the cafe's trademark, being friendly to its customers, even the waiters were friendly. Because my Papa used to do that at his restaurant too, walking up to the customers, greeting them, and asking if the service was satisfactory or not, it was a common thing anyway." Tatapan mata Aire lalu berubah serius. "And I don't want to open my heart to any man, Tifanny. I've been let down and to me all men are the same, they're traitors. Traitors."


Aire mengatakan pada Tifanny bahwa mungkin itu memang sudah menjadi ciri khas cafe itu, bersahabat dengan pelanggannya, bahkan pelayannya pun ramah-ramah. Papa Aire juga sering melakukan hal itu di restoran miliknya, sesekali mengunjungi dan menghampiri pelanggan, menyapa dan menanyakan mengenai pelayanan disana apakah memuaskana atau tidak. Aire tidak ingin membuka hatinya untuk lelaki manapun. Dia sudah dikecewakan dan bagi nya semua lelaki itu sama, mereka adalah pengkhianat."


Aire meyakini kata-katanya. Pengalamannya dengan mike@ sudah membuktikan semuanya. Dia tidak akan pernah percaya kepada laki-laki lagi, apalagi lelaki yang luar biasa tampannya seperti pemilik cafe itu kemarin. Lelaki setampan itu pastilah pemain perempuan. Karena dengan ketampanannya dia bisa mendapatkan banyak perempuan yang dengan sukarela mau bertekuk lutut di bawah kakinya.


***