Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Muak



"Jadi maksud Papa, Bianca saat ini sedang merencanakan pembalasan dendamnya kepada Garviil dan Vicky serta aku???" Tanya Geffie lebih memastikan lagi.


"Ya seperti itulah informasi yang Papa dapatkan dari Michelle. Jadi ceritanya salah satu staf Michelle tidak sengaja Mendengar pembicaraan Bianca dengan seseorang di telepon dan itu membahas tentang rencana balas dendam Bianca sepertinya Bianca menyuruh orang itu untuk melakukan rencananya karena saat itu Bianca memakai bahasa Indonesia dan tidak tahu jika salah satu staf Michelle ternyata berasal dari Indonesia dan mengerti arah pembicaraannya."


"Memang rencana seperti apa yang akan dilakukan oleh Bianca Pa???"


"Papa sendiri tidak tahu dan mereka berbicara di telepon itu, tidak bisa terdengar Apa yang dibicarakan orang yang menelepon itu kecuali pembicaraan Bianca, hanya saja pembicaraan itu juga tidak begitu detail dan bianca hanya ingin balas dendam serta membuat Vicky menderita dan lebih Menangis Lagi. Lalu pembalasan dendam kepada suamimu juga tidak terlalu jelas. Karena orang seperti biasa itu sangat berbahaya dan memiliki dendam yang luar biasa. Jika mendengar dari ceritamu tadi, Papa sangat yakin bahwa rencana balas dendamnya itu tidak lah main-main tetapi Papa akan berusaha untuk mencegahnya. Papa akan mencoba melindungimu dan juga suami serta adik suamimu, Papa akan menyelidiki Bianca lebih dulu, melihat Siapa saja yang ditemuinya selama ini sehingga Nanti kalian bisa berhati-hati dan itulah Kenapa Papa ingin Lebih baik kau di Washington DC sampai Papa dan suamimu bisa membereskan masalah ini, serta berhati-hati dengan orang baru atau orang yang tampak terlihat mencoba mendekat di kalian itu patut dicurigai, Michelle mengira bahwa penusukan Vicky takutnya ada hubungannya dengan bianca. Itulah kenapa Michelle bergegas ke sini untuk memastikan dan memberitahu Vicky serta Garviil mengenai rencana Bianca itu, walau kemudian dia tahu bahwa itu di lakukan oleh mantan kekasih Ciara tetapi apa yang di sampaikan Michael harus di selidiki."


"Papa mengatakan ini tiba-tiba saja membuatku sangat takut, aku khawatir kepada Garviil dan juga Vicky. Bagaimana kalau sampai Bianca merencanakan sesuatu yang membahayakan nyawa mereka dan berbahaya."


"Papa juga akan langsung turun tangan untuk mengatasi kekonyolan yang sudah direncanakan oleh Bianca. Papa juga sudah meminta semua informasi tentang Bianca dari Garviil. Besok setelah kita kembali ke Boston, Papa akan memulai rencana Papa,, kau tenang saja sayang suamimu dan juga Vicky akan bisa menjaga diri. Tinggal di Washington bagimu itu sangat baik, karena Garviil bisa berfokus untuk menjaga dirinya dan juga membongkar kedok Bianca."


"Kenapa Bianca menjadi jahat seperti itu, padahal apa yang terjadi kepadanya adalah kesalahannya sendiri, dia kenapa tidak bisa menyadarinya lalu menjadi orang yang lebih baik lagi."


"Itulah manusia yang tidak bisa menyadari kesalahannya, keras kepala dan otaknya hanya di isi dengan kebencian dan dendam yang memuncak."


***


Vicky Garviil dan Michael pun mulai membicarakan penyusunan rencana mereka untuk menghentikan rencana Bianca. Garviil meminta bantuan Michael agar jika nanti Bianca ke butiknya Michael bisa mencari informasi sekecil apapun tentang Bianca, takutnya Bianca menerima telepon lagi dari orang yang sama sehingga sebisa mungkin Michael bisa mengabari Garviil nantinya dan mendapatkan informasi seperti itu. Garviil juga meminta pada Vicky dan Michael agar tidak memberitahu siapapun tentang rencana mereka ini hanya akan menjadi rencana mereka saja, karena takutnya ada orang terdekat mereka yang ternyata bekerja sama dengan Bianca sehingga rahasia ini bisa tersimpan dengan baik nantinya.


"Tapi sungguh aku hanya penasaran dengan perkataan Bianca mengenai ingin membuatmu lebih menangis lagi dan lebih terpuruk dari sebelumnya, apa coba maksudnya???" Gumam Garviil. "Memang hal apa yang membuatmu menangis sebelumnya???"


Vicky menggelengkan kepala nya. "Entahlah kak, nenek sihir itu memang sangat berbahaya, dia seperti ular." Sahut Vicky.


Di tengah pembahasan itu tiba-tiba ponsel Garviil berbunyi, itu ternyata adalah panggilan dari mamanya. Sebuah panggilan video. Garviil karena dia sama sekali tidak memberitahu kedua orang tuanya bahwa saat ini Vicky berada di rumah sakit karena ditusuk oleh seseorang dan sekarang malah Mamanya melakukan video call dengannya.


"Kenapa kak???" Tanya Vicky.


"Mama, dia video call, aku masih belum memberitahunya tentang keadaanmu saat ini, aku takut dia panik tapi kalau tidak diangkat, Mama tidak akan berhenti. Kau pasti sudah tahu watak mama."


"Ya sudah, coba kau angkat saja."


Garviil menganggukkan kepalanya kemudian mengangkat panggilan video call Dari mamanya itu. "Hai Ma." sapa Garviil.


"Kau di mana???" Tanya Mama Garviil langsung.


"Oh aku..." Garviil tampak meragu untuk membohongi mamanya. "Aku ada di luar Ma."


"Mana Geffie???"


"Geffie ada di hotel, kenapa Mama???" Garviil mencoba tersenyum.


"Garviil Berhentilah membohongi mama. Mama tahu kalau kau tidak berada di Italy, kau dan istrimu pulang kembali ke boston kan dan kau kenapa membohongi Mama tentang kondisi adikmu. Mama dan Papa sudah mendengar kalau Vicky ditusuk oleh seseorang dan saat ini berada di rumah sakit dan kau serta istrimu menyusul Vicky ya kan???"


Garviil memejamkan matanya. Dari mana mamanya tahu kalau Vicky ditusuk. "Mama tahu dari mana???"


"Itu tidak penting Mama tahu dari mana, sekarang katakan pada Mama. Bagaimana kondisi adikmu dan kau ada di mana??? Di rumah sakit??? Dan kalau di rumah sakit berikan ponselmu kepada Vicky."


"Mama??? Vicky baik-baik saja, dokter sudah menutup lukanya, dia baik-baik saja kok, mama jangan khawatir. mama dan papa ya?? Jangan khawatir aku menjaganya di sini." Ucap Garviil.


"Berikan ponselnya pada adikmu. Mama ingin bicara,"


Garviil menoleh ke arah Vicky dan memberikan isyarat kepada adiknya itu, bawa Mamanya sudah tahu Vicky pun langsung mengerti dan menganggukan kepalanya kemudian Garviil memberikan ponselnya kepada adiknya itu.


"Ya halo Ma???" sapa Vicky lalu tersenyum.


"Aku sangat baik Ma, Mama bisa lihat sendiri, luka tusuk nya juga tidak terlalu parah dan dokter sudah menjahit serta mengobatinya, aku yakin dalam beberapa hari aku pasti sudah sembuh, jadi Mama dan Papa jangan panik serta mengkhawatirkanku, ada kakak di sini."


"Bagaimana kami tidak khawatir kau ditusuk dan kurang ajar sekali orang itu berani sekali menusuk seseorang memang kesalahan apa yang kau buat???"


"Tidak parah Ma, pokoknya Mama tenang saja ya???"


"Mama dan Papa akan ke sana besok, kami sudah mencari tiketnya, kami tidak bisa diam saja di Sini melihatmu berada di rumah sakit seperti itu."


"Ah Mama, tidak perlu, kalian tidak perlu ke sini, sudah ada kakak kok, lagi pula banyak hal yang harus kalian persiapkan, kan sebentar lagi Kakak juga akan melakukan acara di sana. Mama dan Papa fokus aja di sana, kalau kalian berdua ke sini lalu nanti kembali lagi ke Indonesia. Kalian pasti akan lelah sekali, aku tidak apa-apa kok."


"Kalau kakakmu kembali ke Indonesia lalu kau Bagaimana??? Siapa yang akan merawatmu di sana???"


"Mama mungkin lusa aku pasti sudah boleh pulang dan kalau aku di rumah akan ada pelayan yang akan melayaniku dengan baik dan juga menjagaku serta merawatku. Mama juga bisa menelepon aunty Maria dan juga uncle supaya mereka bisa datang ke rumah, tetapi tidak perlu juga sebenarnya melakukan itu, aku pun bisa menjamin bahwa aku baik-baik saja. Please aku mohon Mama tidak perlu mengkhawatirkanku di sini, aku baik-baik saja dan orang yang menusukku juga sudah berada di kantor polisi, jadi semuanya Aman kok Ma. Tenang saja ya oke??? Mama batalkan saja tiketny. Aku tidak mau Nanti kalian malah tidak menghadiri acara Kakak di Jakarta, kan Acaranya nanti akan banyak teman-teman dan kolega Papa yang datang. Masa kalian tidak ada di sana, lalu nanti bagaimana kalau mereka mencari kalian berdua, lebih baik kalian di sana saja. Tenang saja, aku baik-baik kok dan tidak perlu dikhawatirkan sama sekali percaya padaku."


"Baiklah kalau memang seperti itu tapi terus Beritahu Mama dan Papa tentang kondisimu, sejauh apakah proses pemulihan lukamu. Mama tidak mau terjadi hal yang lebih buruk lagi."


"Iya Mama. Mama tenang saja lagi pula semua sudah di tangani dengan baik dan pelakunya juga sudah diamankan di kantor polisi. Please Mama fokus aja pada persiapan resepsi keduanya kakak di Jakarta oke???"


"Iya tapi kondisimu sudah membaik kan???"


"Sudah, mama bisa lihat sendiri aku sudah lebih baik, ada kakak ada Geffie juga di sini ada Om Ariel juga tadi dan juga ada temanku."


"Baiklah kalau begitu. Jaga diri ya??? Terus hubungi Mama. Kami sangat khawatir sekali."


"Ya, aku pasti akan menghubungi Mama, sekarang Mama tidur saja sudah larut sekali dan jangan menangis."


****


Sore harinya


Ciara sedang berada di sebuah restoran untuk makan sejak siang, dia belum makan dan perutnya sangat keroncongan apalagi Ciara harus di kantor polisi juga. Ciara sudah selesai memberikan kesaksiannya dan dia akan kembali lagi ke rumah sakit untuk menunggu Vicky. Tetapi dia memilih makan lebih dulu.


Setelah menyelesaikan makannya Ciara pun keluar dari restoran dan akan kembali lagi ke rumah sakit lalu terdengar suara bunyi dari ponselnya Ciara mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan mengering ketika melihat Siapa yang menghubunginya. Ya siapa lagi jika bukan Bianca, tetapi sungguh Ciara sangat malas sekali untuk berbicara dengan Bianca saat ini, karena dia sedang ingin berfokus untuk merawat Vicky, bukan melakukan apa yang sudah direncanakan oleh Bianca, tapi jika Ciara tidak mengangkat panggilan itu tentu Bianca tidak akan berhenti untuk mengganggunya. "Iya Bianca, ada apa???" Tanya Ciara dengan malas.


"Ciara aku sudah menunggu kabarmu sejak kemarin, kau ke mana saja dan apa yang kau lakukan dengan Vicky??? Kenapa kau tidak menghubungiku??? Padahal aku ingin tahu perkembanganmu di sana bersama Vicky. kau kan sudah berjanji bahwa kau tidak akan tertarik kepada Vicky. Lalu apa yang kau lakukan di sana??? Apa kau bersenang-senang dengan Vicky??? ya kau ini bagaimana kenapa malah bersenang-senang dengannya dan bukannya menjalankan perintah dariku atau mengabariku???" Bianca memberondong Ciara dengan berbagai pertanyaannya.


"Bianca, asal kau tahu, aku tidak sedang bersenang-senang dengan Vicky dan aku sangat repot sekali mengurus Vicky di sini, jadi Bisakah kau tidak terus memborbardirku dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting mu itu. Vicky sedang sakit dan dia di rumah sakit sejak kemarin. Itulah kenapa aku tidak menghubungimu dan tidak mengabarimu karena aku sibuk mengurusnya." ucap Ciara dengan jengkel.


"Apa ??? dia sakit apa??? Kenapa dia bisa sakit, apa yang kau lakukan padanya???"


"Vicky ditusuk oleh orang dan aku membawanya ke rumah sakit, Vicky ditusuk karena dia menolongku. Itulah kenapa aku sejak kemarin sampai saat ini sibuk dan bahkan aku baru saja kembali dari kantor Polisi untuk memberikan kesaksianku tentang kejadian kemarin."


"ditusuk orang??? Tetapi bagaimana itu bisa terjadi???"


"Kalau ku beri tahu. Kau pasti tidak akan mengerti jadi rasanya. Karena itu Percuma saja, untuk saat ini Please, aku mohon berhenti untuk memerintahku, aku sudah berjanji akan membantumu tetapi di saat seperti ini, aku tidak bisa melakukannya, aku berhutang Budi pada Vicky. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menolongku, jadi please kau jangan terus terusan memberiku arahan dan perintah untuk saat ini saja."


"Memangnya apa yang terjadi Bisakah kau memberitahuku Ciara aku sangat mengkhawatirkan Vicky."


"Kau mengkhawatirkan Vicky tetapi kau ingin membalaskan dendam dengannya memuakkan sekali???" Ciara mengumpat jengkel dalam hati.


"Sudahlah Bianca aku tidak bisa menceritakannya sekarang, aku harus kembali ke rumah sakit, aku takut Vicky  Vicky membutuhkanku atau dia membutuhkan sesuatu sudah dulu." Ciara kemudian mengakhiri panggilan Bianca begitu saja dengan perasaan kesal sepupunya itu sama sekali tidak mengerti. Bianca benar-benar sangat menyebalkan lama-lama Ciara makan merasa muak.