Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Besok aku akan kembali



Devan berdiri dan bersiap untuk membalas pukulan Vicky. Tetapi dengan cepat Vicky menahan tangan Devan lalu mendorong Devan ke belakang dengan kasar hingga Devan kembali terjatuh ke lantai. Devan datang bersama dengan beberapa temannya, sehingga ketika mereka melihat Devan di pukul oleh Vicky, mereka pun juga hendak menyerang Vicky. Tetapi Andro lekas menyadari keributan yang akan terjadi sehingga dia meminta kepada para pelayan untuk bisa meredakan suasana dan mengusir Devan serta teman-temannya dari cafe ini. Andro tadi sedang melayani pengunjung di meja sebelah Vicky dan Ciara, sehingga dia bisa mendengar apa yang di katakan oleh Devan kepada Ciara.


"Kalian jangan membuat keributan disini, lebih baik pergi." Ucap Andro pada Devan.


"Dia yang memukulku lebih dulu dan kenapa kau malah mengusirku??;" Devan mencoba membela diri.


"Dia memukulmu karena kau tidak bisa menjaga ucapanmu pada seorang perempuan, jangan kau pikir aku tidak mendengar apa yang kau katakan tadi pada nona ini. Aku mendengar semuanya, kau merendahkannya. Jadi jika kau tidak pergi sekarang, aku akan menelepon polisi dan menyuruh mereka menangkapmu atas perbuatan tidak.menyenangkan. Pergilah..!!!" Ucap Andro dengang tegas yang kemudian membuat Devan menyerah.


Devan dan teman-temannya di usir dari dalam cafe. Andro mendekati Vicky. Dan melihat Ciara mulai menangis. "Vic, lebih baik bawa nona ini ke atas, aku akan mengirim minuman, ucapan lelaki tadi tampak membuatnya ketakutan dan sedih." Ucap Andro sembari menepuk bahu Vicky.


Benar, tidak lama tangis Ciara pun pecah. Vicky kudian mengajak Ciara untuk naik ke atas menenangkan diri. Seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, Ciara pun menganggukkan kepala nya dan berjalan beriringan dengan Vicky naik ke lantai dua cafe ini.


Sampai di atas, Vicky membuka pintu kamar dan mengajak Ciara masuk. Vicky tidak.menutup lagi pintu itu dan membiarkannya tetap terbuka. Tidak lama, Andro datang membawa air untuk.mereka berdua. Andro lalu keluar lagi dari kamar itu dengan tetap tidak menutup pintu, membiarkam Vicky menangani Ciara.


Ciara duduk di sofa, dan perempuan itu hanya nangis dan terisak tanpa mengatakan apapun. Vicky mengambil gelas berisikan air. "Minum ini??? Supaya kau bisa lebih tenang." Vicky menyodorkan gelas berisi air itu pada Ciara. Perempuan itu menatap Vicky untuk beberapa saat baru kemudian mengambil gelas itu lalu meminumnya.


Vicky duduk dan memandangi Ciara saja tanpa mengatakan apapun. Vicky mengerti bahwa saat ini Ciara butuh untuk menenangkan diri. Ciara pasti sangat terluka sekali dengan ucapan lelaki itu, dia di rendahkan begitu saja di depan banyak. Meski Vicky juga merasa penasaran, siapa sebenarnya laki-laki itu dan kenapa tega sekali mengatakan hal seperti itu kepada Ciara. Sebenarnya bisa saja tadi dia menghajar habis-habisan lelaki itu, tetapi ketika melihat Ciara ketakutan dan gemetar, Vicky pun menahan amarahnya.


Ciara meletakkan gelas itu di atas meja. Dan tampak mengontrol emosi nya dan berusaha menghentikan isakannya. "Dia Devan." Gumam Ciara akhirnya, seolah bisa menebak apa yang ada di pikiran Vicky. "Dia mantan kekasihku." Lanjutnya lagi.


Vicky tersenyum. "Apa hubungan kalian berakhir dengan tidak baik???? Karena biasa nya seseorang akan bersikap seperti itu hanya untuk membalas perlakuan seseorang yang dia anggap pernah meninggalkan hal yang buruk kepadanya, sikap yang aku asumsikan sebagai kemarahan dan pembalasan dendam dari kemarahan yang dia tahan." Ucap Vicky kemudian.


"Aku meninggalkannya begitu saja, karena dia pernah mencoba untuk bersikap tidak sopan kepadaku. Dia dulu berusaha untuk meIecehkanku. Aku ketakutan, kabur darinya dan tidak mau lagi bertemu dengannya."


"Dia berusaha meIecehkanmu????"


Ciara menganggukkan kepala nya. "Dulu aku menjalin hubungan dengannya, saat aku kuliah di Colombia University. Kami kuliah di kampus yang sama. Aku punya prinsip kuat bahwa aku tidak akan pernah melampaui batas ketika menjalin hubungan dengan seseorang, aku di ajarkan untuk bisa menjaga diriku dari hal negatif, dan bahwa perempuan harus bisa menjaga diri dan batasan, menjaga mahkota nya dengan baik sampai dia menikah, dan aku menjaga semua itu sampai detik ini. Tetapi dulu Devan menginginkan yang lebih dalam hubungan kami, dia berusaha untuk memaksaku melakukannya, dia hampir menyekapku, beruntungnya aku bisa kabur saat itu, dan aku juga memilih kembali pulang ke Singapura karena orang tuaku memang tinggal disana, untungnya kuliahku sudah selesai sehingga aku bisa meninggalkan negara ini dan hubunganku dengan Devan tentu saja berakhir begitu saja karena aku tidak mau menerima panggilan darinya dan juga aku tidak mau bertemu lagi dengannya."


"Pantas saja dia mengatakan hal seburuk itu kepadamu. Ternyata seperti itu kejadiannya." Ucap Vicky. "Kau tenangkan dirimu dulu, jangan terlalu pikirkan si brengseek itu."


Ciara memutar pandangannya ke ruangan ini, tiba-tiba baru menyadari jika dia ada di sebuah kamar. Dia tadi terlalu takut pada Devan.hingga tidak sadar justru dia mengikuti Vicky masuk ke dalam ruangan ini yang ternyata sebuah kamar. Ciara langsung berdiri, jangan sampai dia terjebak lagi dan.mengalami hal seperti dulu lagi seperti apa yang sudah di lakukan oleh Devan kepadanya dulu. Apalagi dia tidak tahu bagaimana tabiat Vicky.. Lelaki ini sepertinya tidak jauh beda dengan Devan, penampilannya terlalu urakan dan seperti nya Vicky juga adalah laki-laki yang playboy dan suka bermain perempuan. "Maaf, aku sepertinya harus kembali ke hotel ku." Ciara beranjak dari sofa, dan wajahnya kembali terlihat ketakutan bercampur waspada.


Langkah Ciara terhenti, dan dia memandangi Vicky. Ada benar nya juga ucapan lelaki ini. Bisa jadi Devan menunggu nya di luar. Ciara tidak bisa membayangkan jika Devan.mengejarnya. Bisa-bisa dia akan dalam masalah besar. Tetapi dia juga tidak bisa berada disini, bahkan bersama lelaki yang belum terlalu dia kenal, dan Ciara jiga tidak tahu tempat macam apa cafe ini.


Tampaknya Vicky bisa melihat ketakutan Ciara. "Nona Ciara. Aku tahu kau merasa tidak nyaman disini. Jangan khawatir kau akan aman, cafe ini buka 24jam, dan ini sebenarnya kamar Kakakku, dia sering pulang kesini kalau dia malas tidur di rumah, dan sekarang kakakku tidak berada disini. Kau bisa disini dulu. Aku akan ke bawah dan memeriksa keadaan, tenangkan dulu dirimu, dan kalau kau ingin kembali ke hotel, aku akan mengantar mu nanti. Kau juga belum makan tadi, aku akan memanggil pelayan agar membawa makanannya kesini. Aku sangat mengerti ketakutanmu, tapi percayalah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa membahayakanmu. Kakakku bisa membunuuhku nanti kalau sampai proyek kerjasama perusahaan kita gagal. Please percaya padaku???"


Ciara menatap Vicky dan menemukan keseriusan di mata lelaki itu. Mungkin untuk beberapa saat dia akan aman di tempat ini, lagipula cafe juga ramai. Dan memang di depan cafe ini tertulis buka 24 jam. Vicky juga benar, kalau sampai lelaki itu berbuat tidak sopan kepadanya, tentu tanpa pikir panjang, dia akan langsung menggagalkan rencana kerja sama perusahaan mereka dan itu bisa berdampak besar pada perusahaan milik Kakak Vicky jika sampai proyek ini gagal. Ciara sepertinya bisa memegang ucapan Vicky.


"Aku ke bawah dulu, duduklah dan tenangkan dirimu." Vicky kemudian keluar dari kamar dan meninggalkan Ciara sendiri.


Ciara berdiri terpaku memandangi kepergian Vicky, dia kemudian memutar pandangannya lagi dan melihat kamar ini. Kamar yang memang terlihat sebagai kamar khas laki-laki, baik furniture, barang-barangnya hingga cat nya yang berwarna abu-abu. Di dinding juga terlihat ada sebuah foto besar, foto keluarga. Ada dua wanita dengan 3 orang laki-laki. Satu wanita tua, dan satu lagi wanita dewasa, seorang laki-laki dewasa dan dua orang laki-laki berwajah kembar, siapa lagi jika bukan Vicky dan Garviil. Sementara 3 orang lainnya Ciara asumsikan sebagai orang tua si kembar itu dan nenek mereka. Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia. Dan sepertinya ketampanan Garviil dan Vicky di warisi dari Mama mereka, kafena wajah si kembar itu lebih mirip dengan Mama nya, wajah blesteran, bule bercampur wajah khas orang asia.


Ciara jadi teringat cerita Bianca, bahwa Mama Garviil dan Vicky sangat tidak menyukai sepupu nya itu sejak awal. Bahkan kebencian Mama si kembar itu semakin memuncak ketika tahu bahwa Bianca telah bermain api dan mengkhianati Garviil dalam hubungan mereka. Sehingga Mama si kembar itu tampak bahagia sekali saat tahu jika hubungan Bianca dan Garviil sudah berakhir karena ternyata Bianca juga membohongi mereka mengenai kelumpuhan nya. Bahagia karena Garviil terbebas dari Bianca, dan semakin membenci Bianca setelah mengetahui kebohongan Bianca. Itulah yang Bianca ceritakan pada Ciara. Sebenarnya bagi Ciara hal itu sangat wajar sekali karena apa yang di lakukan Bianca sungguh sangat keterlaluan, menipu keluarga ini hanya untuk keegoisan Bianca sendiri. Tetapi mungkin itu sedikit kejam apalagi si kembar membalas Bianca dengan mempermalukan Bianca di depan banyak orang.


"Bianca???" Gumam Ciara. Dia kemudian langsung meraih ponselnya dan mencari kontak sepupu nya itu lalu menghubungi nya. Dalam beberapa kali deringan panggilan itupun di angkat oleh Bianca.


"Hai Ci, bagaimana???? Kau sudah makan malam dengan Vicky???? Apa kau sudah membuatnya tertarik kepadamu??? Katakan dan ceritakan padaku????" Tanya Bianca dengan penuh semangat.


"Sorry Bianca, aku tidak bisa melakukannya, besok aku akan kembali lagi ke Singapura, aku akan meninggalkan tim ku disini untuk mengurus kerjasama ku dengan perusahaan Garviil, aku tidak bisa tinggal lama disini, aku juga tidak bisa lagi membantumu." Ucap Ciara akhirnya. Saat ini bagi Ciara bukan lagi masalah membantu Bianca balas dendam pada Garviol dan juga Vicky, tetapi lebih kepada Ciara ingin meninggalkan tempat ini karena tidak mau lagi bertemu dengan Devan. Ciara tidak mau berurusan dengan Devan, lelaki itu sudah meninggalkan trauma yang begitu dalam kepadanya. Ciara tidak akan pernah maj datang lagi kesini.


"Apa????? Kau amu kembali ke Singapura??? Kenapa Ci???? Kau kan sudah berjanji ingin membantuku."


"Tidak Bi, aku tidak bisa melakukannya."


"Tapi kau kan sudah akan bekerja sama dengan perusahaan Garviil. Perusahaan mu juga akan rugi kalau kau membatalkannya."


"Kerja sama itu akan berjalan, dan aku akan menyerahkan semua itu kepada timku saja. Aku sendiri tidak harus berurusan langsung dengan Vicky ataupun Garviil. Semua bisa di tangani tim ku, dan bagaimanapun aku harus kembali ke Singapura besok."


"Ciara.... Kau kenapa???? Apa Vicky melakukan sesuatu padamu???? Atau dia tahu bahwa aku yang menyuruhmu untuk menjebaknya???"


"Tidak Bi, bukan mengenai itu, ini tidak ada hubungannya dengan Masalah mu atau si kembar itu, aku hanya tidak mau saja berada disini terlalu lama. Sudah dulu." Ciara langsung menutup teleponnya dan dia tidak mau mendengarkan keinginan Bianca. Pertemuannya dengan Devan tadi membuatnya benar-benar ketakutan. Ciara tidak bisa lagi berada disini terlalu lama. Dan dia akan memesan tiket untuk penerbangan ke Singapura besok. Persetaan dengan balas dendam Bianca, lagipula ini bukanlah urusannya, selain itu baik Vicky ataupun Garviil tidak sepenuhnya salah terhadap Bianca. Apa yanv si kembar lakukan mungkin adalah balasan yang setimpal atas perbuatan Bianca sendiri yang sudah menipu mereka dan keluarga mereka. Bianca salah dalam masalah itu. Dan apa yang di lakukan si kembar itu mungkin adalah karma dari Bianca sendiri. Ciara tidak mau jatuh terlalu dalam lagi dan terjebak disini lalu berurusan dengan Devan lagi.