
Garviil meninggalkan rumah Bianca dengan marah. Marah besar. Berani-beraninya Bianca mengancamnya seperti itu, padahal Bianca sendiri telah mengkhianatinya bersama Paul. Apakah Bianca pikir Garviil tidak akan tahu???? Apakah Bianca pikir Garviil begitu bodohnya????
Dengan kencang dia mengendarai mobilnya, dia butuh bertemu dengan Geffie. Di saat kemarahannya menggelegak seperti ini, hanya Geffie yang bisa menenangkannya.
Ketika sampai di depan cafe, Garviil memarkir mobilnya dengan sembrono. Dia tergesa memasuki cafe itu, hendak mengambil beberapa makanan kecil untuk dibawa ke apartemen Geffie, tadi dia sudah berjanji untuk datang jam sembilan malam ke sana. Tetapi kemudian langkahnya tertegun, melihat ke kursi di bagian sudut, tempat favorit Geffie ketika duduk, dan melihat sosok itu di sana.
"Geffie??? Kenapa dia ada disini??? Bukankah dia masih sakit???" Gumam Garviil dalam hati.
Garviil melangkah mendekat, kerinduannya meluap. Dia ingin memeluk gadis itu ke dalam pelukannya, untuk menenangkan hatinya dari kemarahannya terhadap Bianca.
“Geffie, kenapa kau ada di sini??? Bukankah kita janji bertemu di apartemenmu???”
Geffie mendongak dan Garviil tercekat, tatapan mata Geffie kepadanya penuh kemarahan... kemarahan yang dibalut dengan luka. Geffie menunjukkan ponselnya pada Garviil, dimana di layar ponsel itu ada postingan dari akun sosial media milik Bianca, menunjukkan fotonya dan Bianca yang berpelukan.
Seketika itu juga Garviil menyadari bahwa Geffie sudah tahu mengenai pertunangannya dengan Bianca.
“Kau membohongiku!!!” Suara Geffie bergetar meskipun dia tampak berusaha tegar, Garviil melirik ke anggur merah yang dibawa Geffie, dan mengernyit. Perempuan itu sudah menghabiskan lebih dari satu gelas.
“Aku bisa menjelaskannya kepadamu, Geffie.”
“Tidak!!!!” Geffie menyela dengan keras, lalu tertawa ironis. “Ironis bukan??? Aku meninggalkan kekasihku karena dia berselingkuh dengan perempuan lain, tetapi sekarang aku malah menjadi selingkuhan dari seorang lelaki yang sudah bertunangan.” Matanya menyala penuh kemarahan kepada Garviil. “Kau sangat kejam, Garviil melakukan ini semua kepadaku...!!!!"
“Aku bisa menjelaskannya Geffie, semua ini tidak seperti yang kau kira....??” Ucap Garviil.
“Apakah perempuan bernama Bianca itu benar-benar tunanganmu????” Seru Geffie.
Garviil tertegun, lalu memejamkan matanya dengan pedih. “Ya.”
Air mata mengalir di mata Geffie, menuruni pipinya. Dia tampak amat sangat terluka. “Apakah... apakah... kau mencintainya???” Tanya Geffie.
Mata Garviil menajam. “Apakah aku mencintainya??? Tidak!!! Kau pasti bisa merasakan itu, aku jatuh cinta setengah mati kepadamu, tidak mungkin aku mencintainya.”
“Apakah pertunangan yang kau lakukan dengan Bianca dulu itu berlangsung atas nama cinta????” Geffie bertanya lagi, berusaha menyeka air matanya dengan usapan tangannya.
Garviil memandang Geffie dengan pedih, tidak mampu berbohong. “Pada mulanya semua atas nama cinta... lalu.”
Hati Geffie teriris perih, Garviil sama saja dengan Mike, lelaki itu dulu menjalin hubungan mereka atas nama cinta, kemudian mengkhianatinya begitu saja karena perempuan lain. Oh ya ampun! Teganya Garviil melakukan ini semua kepadanya. Geffie tidak mau mendengar apapun dari Garviil, semua ini terlalu menyakitkan untuk dia tanggung. “Cukup....!!!!!” Geffie menutup telinganya dengan tangan, tidak mau mendengar apapun yang diucapkan oleh Garviil. “Sudah cukup, kau memang penjahat!!!!! Semua lelaki sama saja!!!!!! Mereka semua jahat!”
Beberapa mata tampak melirik ke arah mereka, tetapi Geffie tidak peduli. Dia terlalu marah dan sakit untuk peduli, dia beranjak pergi.
“Aku mencintaimu Geffie!” Garviil setengah berdiri, berusaha meraih lengan Geffie dan menahannya. Tetapi Geffie yang sudah begitu marah, meraih gelas anggur yang tinggal setengah dan menuang isinya ke wajah Garviil,
“Pergi saja ke laut dan buang cintamu itu. Aku tidak pernah menerima cinta dari seorang pengkhianat!!!!!” Gumamnya marah. Meninggalkan Garviil yang masih terpaku di sana, basah oleh anggur yang dituangnya.
Geffie menoleh, menyadari bahwa Garviil masih duduk di sana, menatapnya dari kejauhan, tetapi tidak berusaha mengejarnya. Airmata mengalir di matanya ketika melirik cafe itu untuk terakhir kalinya sebelum ia menyeberang menuju apartemennya. Hatinya hancur lebur, kali ini jauh lebih sakit daripada ketika Mike mengkhianatinya. Jauh lebih pedih dan menyakitkan. Karena Geffie sadar, bahwa dia sudah mencintai Garviil dengan sangat dalam.
Andro datang membawakan handuk untuk Garviil. Garviil menerimanya dengan tatapan kosong, menggunakannya untuk mengelap wajah dan rambutnya yang basah oleh anggur.
“Tidak berjalan seperti yang seharusnya ya????”
Garviil termenung pedih. “Tidak!!!!”
“Lalu apa yang akan kau lakukan setelahnya????” Tanya Andro.
Pikiran Garviil bergejolak. Antara kemarahan yang makin menggelegak atas kata-kata Bianca kepadanya tadi, bercampur pada kemarahan ke dirinya sendiri karena dia terlalu lambat dan membuat Geffie mengetahui mengenai pertunangan itu sebelum waktunya.
“Aku akan berbuat sesuatu. Nanti.” Gumamnya dingin.
Malam itu, Garviil duduk di cafe semalaman, menatap ke arah jendela, ke arah apartemen Geffie. Garviil menyesal kenapa dia tidak memeriksa sosial media nya dan menyembunyikan semua nya dari Geffie. Andai itu bisa dia lakukan tentu semua ini bisa dia antisipasi sebelumnya. Dia benar-benar lupa. Garviil menyesal sekali.
******
Keesokan harinya, Garviil masih merenung di apartemennya ketika pintunya diketuk.
“Masuk.” Gumamnya tak bersemangat.
Pintu itu terbuka dan Vicky melangkah masuk dengan gaya santainya, dia mengangkat alis melihat Garviil yang tampak begitu murung. “Tidak bekerja hari ini???”
Garviil melirik Vicky dengan dingin. “Tidak!!!!"
Vicky tersenyum dan mengambil tempat duduk di depan Garviil, “Baru kali ini seorang Garviil meninggalkan tanggung jawabnya, karena seorang perempuan.” Gumamnya ringan, membuat Garviil melemparkan tatapan membunuuh kepadanya.
“Apa yang kau lakukan di sini????” Tanya Garviil.
“Aku memang ingin mampir menengokmu, tetapi beberapa pelayan di bawah tampaknya sedang asyik membicarakan insiden semalam. Dimana seorang perempuan menumpahkan anggur dari gelasnya ke sang pemilik cafe.” Vicky terkekeh. “Tidak ada perempuan lain yang berani melakukan itu padamu, dan kau membiarkannya Garviil. Kecuali Geffie. Hahaha..."
Garviil hanya terdiam, meneguk kopinya dengan frustrasi.
“Apakah pada akhirnya Geffie tahu tentang Bianca???” Tanya Vicky kemudian.
Garviil mengganggukkan kepalanya. “Dia tahu itu dari sosial media, sepertinya dia memeriksa sosial media ku dan menemukan akun Bianca yang menandai ku. Dia mengetahui semuanya sebelum aku membereskan rencanaku.."
“Sebelum rencanamu untuk menyingkirkan Bianca eh???” Vicky melemparkan tatapan mata penuh tanya, ingin tahu apa sebenarnya rencana Garviil untuk Bianca. Tetapi kemudian dia sadar bahwa Garviil tidak ingin menjawab pertanyaannya. “Sudah kubilang kau harus hati-hati dan sangat sulit menyembunyikan informasi semacam itu.”
“Aku tahu, aku pikir aku akan punya waktu lebih lama.” Garviil meringis pedih, “Geffie dikhianati oleh kekasih nya, dan dia sekarang menganggap aku sama breengseknya dengan mantan nya itu. Aku sudah berusaha menjelaskan tetapi dia tidak mau mendengarkan aku.”
“Tunggu sampai dia tidak marah lagi.”
“Aku takut dia pergi Vicky, aku takut.... aku... aku tidak akan bisa hidup tanpanya.” Garviil membungkuk, mereemas rambutnya dengan frustrasi
Dan Vicky duduk di sana, mengamati dengan sedih, merasakan hatinya teriris. Baru kali ini Garviil bersedia meninggalkan seluruh tanggung jawabnya, demi mengejar perempuan yang dicintainya. Dan saudara kembarnya itu sekarang harus menghadapi kemungkinan untuk patah hati. Vicky diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, bagaimana dia harus membantu Victor.
Vicky berdiri di depan pintu rumah Bianca, menunggu. Bianca muncul beberapa saat kemudian dan mengernyit ketika mendongak dan melihat bahwa Vicky yang muncul di sana.
“Ada apa???” Bianca tentu saja bingung, tidak pernah sekejap pun dia menyangka bahwa Vicky akan datang menemuinya. Dia pernah berusaha mengejar Vicky dan ternyata lelaki itu tidak pernah serius kepadanya. Pada akhirnya Bianca memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya kepada Garviil, toh wajah mereka sama... Meskipun jauh di dalam hatinya... dia lebih mencintai Vicky, Vicky yang mudah tertawa, Vicky dengan pakaian santai dan gaya menggodanya yang selalu membuat Bianca berdebar, dan semua hal yang sangat bertolak belakang dari Garviil. Garviil terlalu serius, terlalu formal, dan terlalu datar.
Tetapi Vicky sepertinya tidak menyimpan perasaan yang sama. Sehingga Bianca harus puas memiliki saudara kembarnya yang sangat mirip dengannya.
“Aku selalu tahu bahwa kau tidak pernah mencintai Garviil.” Vicky bergumam, membuka percakapan, menatap Bianca dalam-dalam, membuat Bianca mengernyit.
Ketika Bianca bertunangan dengan Garviil, Vicky hanya mengangkat alisnya waktu itu, tidak menolak tapi juga tidak menyetujui. Padahal waktu itu Bianca mengharapkan setitik reaksi kecemburuan dari Vicky, sayangnya ternyata dia tidak tersimpan sedikitpun di hati Vicky. Lalu setelah kecelakaan itu, tatapan tidak peduli Vicky kepadanya berubah menjadi tatapan marah. Ya Vicky tahu tentang pengkhianatan Bianca kepada Garviil tentu saja, dan lelaki itu tampak jijik kepadanya serta berusaha menentang ketika Garviil bersikeras melanjutkan pertunangan itu. Tentu saja Vicky tidak bisa berbuat apapun untuk menghalangi Bianca dan Garviil, sebentar lagi Bianca akan menikah dengan Garviil.
“Kau tidak pernah tahu apa yang kurasakan.” Bianca bergumam, mendongak mentaap Vicky yang masih berdiri dan menunduk ke arahnya,
“Aku tahu.” Tiba-tiba saja Vicky berjongkok di depannya, membuat matanya sejajar dengan mata Bianca. “Aku tahu persis bahwa akulah yang kau cintai.”
Pipi Bianca memerah dan jantungnya berdebar mendengar kata-kata Vicky itu. Apa maksud Vicky sebenarnya???
Vicky mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah kotak kecil berwarna hitam dari beludru, di bukanya kotak itu. Isinya sebuah cincin berlian yang begitu indah dan berkilauan.
“Aku mencintaimu Bianca, sudah sedari lama aku memendam perasaan ini. Tapi kau lalu memilih bertunangan dengan Garviil. Aku menunggu lama dan pada akhirnya sadar bahwa kalian berdua tidak pernah saling mencintai. Aku yang mencintaimu, bukan Garviil. Dan aku yakin kau juga mencintaiku.”
“Apa????” Bianca benar-benar terkejut, bibirnya menganga, matanya berganti-ganti menatap cincin berlian itu dan beralih ke wajah Vicky. Tetapi yang ditemukannya di wajah Vicky adalah keseriusan yang dalam.
“Kalau kau bersedia, aku akan menghadap Garviil dan mengungkapkan semuanya, bahwa kita saling mencintai, bahwa kita ditakdirkan bersama. Garviil akan mengerti, apalagi aku sangat yakin bahwa dia tidak mencintaimu. Dia pasti akan memberikan restu kepada kita untuk bahagia bersama.”
Mata Bianca tampak berkaca-kaca. Oh astaga. Vicky nya! Lelaki yang dicintainya dari awal. Bagaimana mungkin dia bisa menolaknya???? Batinnya sendiri sudah mengakui bahwa dia hanya menggunakan Garviil sebagai pelarian, dia mencintai Garviil karena lelaki itu bagaikan perwakilan dari saudara kembarnya, dan yang dicintai oleh Bianca sesungguhnya adalah Vicky.
“Kau... kau tidak sedang mempermainkanku bukan???” Bianca masih meragu meskipun hatinya langsung berbunga-bunga melihat senyum lembut Vicky kepadanya.
“Aku???? Bercanda??? Percayalah padaku, Bianca, aku tidak pernah melakukan ini kepada perempuan manapun, tidak pernah sebelumnya. Hanya kau satu-satunya perempuan yang bisa membuatku berlutut dan menawarkan cincin. Dan aku akan mati karena patah hati kalau kau menolaknya.” Vicky menunjukkan cincin itu lagi dan berubah serius. “Nah, Bianca, maukah kau memutuskan pertunanganmu bersama Garviil dan kemudian bersumpah setia untuk menikah denganku???”
Air mata bahagia membanjiri mata Bianca. “Ya!” serunya bersemangat, dia memajukan tubuhnya, memeluk Vicky erat-erat dan merasa begitu melayang ketika Vicky membalas pelukannya. “Ya. Vicky, aku bersedia! Aku akan menikah denganmu!”
Bianca tidak melihat wajah Vicky yang begitu pedih ketika memeluknya. Vicky sudah terlalu sering berbuat egois, memanfaatkan kebaikan hati Garviil, membiarkan kakaknya itu bertanggung jawab atas semua hal yang seharusnya mereka bagi bersama. Kini giliran Vicky membalas budi, setidaknya dia bisa mengambil salah satu tanggung jawab Garviil yang paling berat. Pemandangan Garviil yang begitu menderita telah mendorongnya untuk berbuat ini. Dia bisa dan dia mampu untuk menolong kakaknya.
Biarlah dia yang mengambil alih tanggung jawab terhadap Bianca, dan membiarkan Garviil bisa mengejar cinta sejatinya. Hubungannya dengan Tiffany belum terlalu jauh, sehingga Vicky tidak akan kesulitan untuk mengakhiri nya dan menyerah di tengah perjuangannya meyakinkan Tiffany. Tidak apa, meski Vicky harus kesakitan karena dia memang sangat menyukai Tiffany. Dia harus melakukan sesuatu untuk Garviil, kakaknya yang selalu menyayangi nya.
*****
“Aku harus berbicara denganmu.” Vicky bergumam di pintu, menyadari Geffie di dalam sana merasa ragu untuk membukanya.
Vicky mendatangi Apartemen Geffie. Dan sekarang lelaki itu sudah berdiri di depan apartemen Geffie, ingin memberikan penjelasan.
“Apakah Garviil yang mengirimmu kemari???” Tanya Geffie dari balik pintu.
“Tidak!!!! Saudaraku itu terlalu menderita untuk berpikir apapun, yang dia lakukan hanyalah mengurung diri di kamar nya dan merenung. Tidak makan, tidur ataupun bekerja, kalau terus-menerus begitu aku cemas dia akan mati.” Vicky mendesah. “Kumohon, biarkan aku bicara denganmu sekali saja, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi.???"
Geffie tertegun, hatinya terasa pedih mendengar kata-kata Vicky tentang Garviil, tetapi dia menguatkan hatinya, bukankah dia juga mengalami kepedihan yang sama??? Dia tidak bisa makan, tidak bisa tidur dan terus-terusan menangis???
Setelah menghela napas panjang, Geffie membuka pintu dan menatap Vicky dengan dingin. “Katakan apapun yang kau mau, lalu pergilah.”
Vicky meringis menerima sikap dingin Geffie. “Bolehkah aku masuk??? Ini akan sangat panjang.”
Geffie menatap Vicky, lalu pada akhirnya dia memundurkan diri dan membiarkan mereka masuk. Mereka duduk di sofa, dalam keheningan,
“Well???? “ tanya Geffie setelah beberapa lama tampaknya Vicky belum ingin mengatakan apapun.
Vicky mendesah. “Aku masih bingung harus memulai dari mana... kita mulai dari Bianca, tunangan Garviil.” Vicky melirik dan menemukan luka di mata Geffie ketika nama Bianca disebut. “Bianca dulu mengejarku dan ingin memilikiku. Tetapi tentu saja aku hanya main-main dengannya. Dan setelah sadar dia tidak bisa memilikiku, dia mengejar Garviil. Garviil waktu itu masih belum berpikir jernih, dan Bianca menghujaninya dengan perhatian-perhatian hingga akhirnya Garviil menerima Bianca. Aku bilang ‘menerima’ karena aku yakin bahwa dari awal, Garviil tidak pernah mencintai Bianca. Dia hanya merasa dia bisa menerima Bianca di sisinya, itu saja. Dan kemudian mereka pun bertunangan.” Vicky mengangkat bahunya. “Aku sedikit terkejut ketika Garviil mengambil langkah serius itu bersama Bianca, tetapi kemudian aku sadar, Bianca tahu betul kelemahan Garviil, dia tahu Garviil mudah merasa bertanggung jawab kepada seseorang dan dia memanfaatkannya. Mereka berduapun bertunangan. Dan semua tampak baik-baik saja. Sampai kemudian pengkhianatan itu terjadi.”
Pengkhianatan???? Jantung Geffie berdegup kencang, Apakah sebelumnya Garviil juga pernah mengkhianati Bianca????
“Bianca yang mengkhianati Garviil.” Vicky bergumam, memahami pertanyaan yang ada di mata Geffie. “Garviil sangat sibuk waktu itu, mengambil alih perusahaan yang diberikan oleh Mama, sehingga dia tidak punya waktu untuk memberikan perhatian kepada Bianca yang manja. Bianca yang manja dan haus kasih sayang akhirnya mencari pelarian kepada pria lain, seorang pria brengseek. Lelaki itu merusaknya dan meninggalkannya dalam kondisi hamil.”
“Apa!!!!!????” Geffie terkesiap, menutup mulutnya dengan jemarinya, tidak menyangka akan informasi itu.
“Ya. Dia hamil, dan dia ditinggalkan. Bianca menangis, datang kepada Garviil, berharap bisa memanfaatkan sikap tanggung jawab Garviil. Tetapi dia memperoleh yang sebaliknya, Garviil marah besar, semua itu sudah berada di luar batas toleransi Garviil. Sayangnya Bianca memilih waktu yang salah ketika mengaku, dia sedang berada di dalam mobil bersama Garviil, dan kemudian mereka mengalami kecelakaan.” Ujar Vicky. “Bianca keguguran. Dan kakinya dinyatakan lumpuh, tidak bisa berjalan lagi selamanya. Garviil seperti yang kau tahu merasa sangat bersalah dan kemudian mengambil seluruh tanggung jawab terhadap Bianca, dia melanjutkan pertunangan itu. Melanjutkan rencana pernikahan itu meskipun hatinya luar biasa pedihnya. Seluruh perasaan yang pernah dimilikinya bersama Bianca tentu saja sudah musnah, tetapi dia tetap berusaha menjalani apa yang sudah di janjikannya, dan dia berusaha tetap setia.”
Oh Ya ampun. Kasihan Garviil.
Itulah hal yang pertama terlintas di benak Geffie. Kasihan Garviil, lelaki itu sekali lagi memikul tanggung jawab yang bertentangan dengan hati nuraninya.
Vicky tersenyum masam melihat ekspresi Geffie. “Kau merasa kasihan kepadanya bukan??? Begitupun aku?? Garviil hidup dengan menanggung beban karena kebaikan hatinya dan aku selalu menentang pertunangannya dengan Bianca karena aku tidak mau dia menderita.... Apalagi ketika kemudian dia bertemu kau, Geffie.”
Vicky memajukan tubuhnya. “Kau pasti tahu dan merasakan bahwa Garviil benar-benar mencintaimu, dia tidak pernah selembut itu dengan perempuan manapun. Dulu dia begitu dingin, tenang dan pandai menutupi perasaannya, tetapi kepadamu dia sepertinya tidak bisa menahan diri.” Vicky mengamati Geffie. “ Kau pasti tidak tahu bahwa Garviil mempunyai rumah sendiri, sebuah rumah mewah milik Mama yang sangat sejuk dekat dengan kantor nya. Tetapi sejak bertemu denganmu, dia memilih untuk selalu pulang ke kamarnya di atas cafe yang sederhana yang jauh dari kantornya, selarut apapapun dia pulang dia selalu berusaha ke sana. Hanya supaya dia bisa berdekatan denganmu.”
Mata Geffie terasa panas ketika dia mengingat kebaikan dan kelembutan hati Garviil kepadanya, melihat betapa sedihnya lelaki itu ketika pertengkaran mereka di cafe. Oh astaga, dia tidak tahu kalau seperti ini kisahnya. Kalau saja dia tahu...
Kalau saja dia tahu dia akan berbuat apa??? Tidak mungkin kan dia menerima cinta Garviil dan membuat Garviil meninggalkan Bianca??? Batin mereka berdua pasti akan sama-sama tersiksa, berbahagia di atas penderitaan perempuan lain.
Vicky menghela napas panjang. “Sekarang kalian sudah tidak perlu bingung lagi. Aku sudah mengatasi Bianca.”
Geffie menatap bingung ke arah Vicky. “Mengatasi Bianca???? Apa maksudmu???”
Vicky menatap Geffie dengan pedih. “Aku sadar bahwa selama ini aku egois, membiarkan Garviil menanggung semuanya, aku hampir sama jahatnya seperti Bianca, mengetahui kelemahan Garviil adalah kebaikan hatinya, dan aku memanfaatkannya... Tetapi ketika hari ini aku melihat betapa menderitanya Garviil, aku tidak tahan. Aku ini adiknya dan adik macam apa yang bisa membiarkan kakaknya menderita padahal tahu bahwa dia bisa berbuat sesuatu???”
“Maksudmu....?” Geffie mengernyit dan bertanya-tanya, akan kemana arah dari kata-kata Vicky itu.
“Yang dicintai Bianca sebenarnya adalah aku. Aku tahu persis itu sejak awal mula.” Vicky terkekeh. “Aku mendatangi Bianca hari ini dan menawarkan pertunangan, berpura-pura mencintainya dan memintanya meninggalkan Garviil. Perempuan itu langsung menyambarnya bagaikan ikan hiu yang kelaparan.”
“Astaga Vicky???? Kenapa kau melakukan itu???”
“Karena aku menyayangi Garviil, sejak kecil dia selalu menjaga dan melindungiku, bahkan sampai dewasa pun dia selalu melakukannya. Sekarang giliranku untuk membuatnya bahagia.”
“Tetapi kau tidak benar-benar mencintai Bianca. Lalu bagaimana dengan Tiffany???" Tanya Geffie.
“Tidak apa-apa.” Vicky tersenyum. “Hubunganku dengan Tiffany belum terlalu jauh, aku akan menemuinya dan meminta maaf karena pendekatan kami harus di akhiri, aku yakin Tiffany juga belum terlalu dalam padaku. Dia pasti tidak akan kenapa-kenapa. Mungkin akan marah tetapi pasti tidak akan lama lalu melupakanku. Aku sudah mengambil seluruh jatah kebahagiaanku di muka, sekarang giliran Garviil yang mendapatkannya. Aku hanya ingin kakakku bahagia saja denganmu."
***
Sepeninggal Vicky, Geffie masih merenung kebingungan. Pada akhirnya dia memberanikan diri, menelepon nomor Garviil.
“Hallo Geffie?” pada deringan pertama telepon itu langsung diangkat, seolah-olah Garviil memang sedari tadi duduk merenung menatap ponselnya.
“Garviil.” Geffie memejamkan matanya, merasa bersalah ketika mendengar nada letih di suara Garviil, lelaki itu menanggung beban berat karenanya. “Aku... bisakah aku ke cafe? Aku ingin bicara.”