Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Menghalangi



Vicky sengaja mengejek Victor, dia tahu bahwa kakaknya itu tidak lagi mencintai Bianca dan kakaknya saat ini terjerat dalam janjinya sendiri untuk menikahi Bianca, juga tahu bahwa kakaknya saat ini menderita dengan keadaannya sendiri.


Victor langsung memalingkan muka, berusaha memutus percakapan. Mereka pasti akan berakhir dengan adu argumentasi ketika membicarakan Bianca.


Vicky adalah salah satu orang yang menentang keras ketika Victor melanjutkan pertunangannya dengan Bianca. Dia tentu saja tahu tentang pengkhianatan Bianca dan menganggap Victor bodoh karena memikul tanggung jawab terhadap Bianca. Padahal kecelakaan yang dialami Bianca seharusnya bukanlah kesalahan Victor.


"Tidakkah kau bertanya-tanya bahwa sebenarnya ada jodohmu di luar sana?" Vicky terus mengejar, tidak peduli akan ekspresi membunuh yang dilemparkan Victor kepadanya. "Tidakkah kau ingin tahu bahwa pasangan jiwamu sedang menunggu jauh di sana??? Menanti untuk kau temukan??? Kalau kau terus terpaku pada Bianca, yang jelas-jelas tidak kau cintai, kau akan kehilangan kesempatanmu untuk menemukan jodohmu yang sesungguhnya." Ujar Vicky.


"Aku tidak menyangka kau bisa begitu puitis." Victor berusaha menghindar dari bahasan tentang Bianca. Dia sedang tidak mau memikirkannya.


"Aku seorang seniman, meskipun aku pelukis, tetap saja aku bisa puitis." Vicky tertawa, "Berbeda dengan dirimu yang begitu kaku." Wajahnya melembut, "Aku hanya ingin kau berhenti menyiksa dirimu, kak."


"Apakah sejelas itu???" Victor berusaha memasang wajah datar,


"Kalau kau ingin aku sedikit lebih baik, bantulah aku."


"Tidak." Vicky langsung menjawab cepat, "Berkemeja rapi, memakai jas dan dasi bukanlah gayaku. Aku bisa mati bosan kalau bekerja di kantor." Dengan santai dia melangkah berdiri dan menuju tempat tidur Victor.,


"Selamat menikmati harimu."


Gumamnya santai lalu menghilang ke dalam selimut.


****


Aire sedang melangkah keluar dari pintu putar apartemennya, hendak menuju ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan sebagai pengisi kulkasnya ketika langkahnya membeku di trotoar. Mobil warna blue metalic itu dengan pelat nomor yang sangat dikenalnya.


Itu mobil Mike...


Dan benar saja, lelaki itu melangkah keluar dari mobilnya dan berdiri tepat di depan Aire.


"Hai Baby???" Sapanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka, "How are you? I'm here to visit you, I miss you." Mike datang kemari untuk mengunjungi Aire, dan dia merindukan Aire. Bisiknya lembut.


Bisikan itu dulu pernah membuat hati Aire hangat. Tetapi sekarang tidak lagi, dia menggertakkan giginya dengan marah. "What are you doing here???" Tanya Aire. Sebenarnya apa yang Mike lakukan di sini.


Mike mengangkat bahunya. "Visiting you of course, what do you think it's for??? I hope that after you've had your fill of childish behavior we can have a conversation with a cool head."


Mike mengunjungi Aire, tentu saja, memangnya apa yang akan di lakukannya disini jika bukan mengunjungi Aire. Mike mengatakan bahwa dia berharap setelah Aire merasa puas dengan tingkah kekanak-kanakannya, mereka bisa bercakap-cakap dengan kepala dingin.


Tetapi Mike tidak bergeming, dia malahan semakin sengaja menghalangi Aire lewat.


"We need to talk Baby, come on stop being so childish and talk maturely." Ucap Mike pada Aire. Mereka harus bicara dan meminta Aire agar berhenti bersikap kekanak-kanakan dan berbicaralah dengan dewasa.


"I think I've made an adult decision by ending our relationship. Step aside Mike and let me pass." Pinta Aire. Dia merasa bahwa dia  sudah mengambil keputusan dewasa dengan mengakhiri hunumgam mereka. Aire kemudian meminta Mike untuk menyingkirl dan membiarkan nya lewat.


Aire berusaha mencari jalan melewati Mike, tetapi karena lelaki itu menghalangi jalannya, dia merengut kepada Mike dengan tatapan menghina, "Ah Never mind!" Gumamnya marah lalu membalikkan tubuhnya, hendak berbalik dan meninggalkan Mike. Sayangnya gerakannya kurang cepat, Mike sudah meraih lengannya dan mencekalnya.


"Aire, please listen to me, you have to listen to me!" Seru Mike mulai emosi. Lelaki itu bahkan tidak peduli akan lirikan orang-orang di sekitar mereka. Mike meminta agar Aire mendengarkannya.


Aire malu, sungguh-sungguh malu. Dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan cekalan tangan Mike di lengannya, berusaha melepaskan diri dari Mike. Dia jijik, dia benci, dan dia sangat muak kepada laki-laki ini.


Di tengah usahanya melepaskan diri, sebuah mobil berwarna merah menyala menepi ke trotoar di dekat mereka. Victor  turun dari mobil dan mengernyit, dari kejauhan dia sudah melihat lelaki itu mencengkeram lengan Aire dan Aire yang berusaha melepaskan diri. Pada akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk mendekat,


"Hey man, can you let that girl go??? She doesn't seem to want anything to do with you!!!" Gumam Victor dingin.


Dia meminta agar laki-lak itu meepaskan Aire, karena tampaknya Aire tidak mau berurusan dengan lelaki itu.


Hal itu membuat Aire dan Mike menoleh bersamaan. Aire mengernyit melihat kehadiran Victor di sana. Itu pria pemilik cafe itu, batinnya bingung. Tetapi kemudian dia melihat kesempatan untuk melarikan diri dari Mike. Pegangan Mike di tangannya melemah, membuat Aire bisa menyentakkan tangannya dan melepaskan diri.


"Aire..!!!" Mike masih berusaha mengikuti Aire, tetapi dengan cepat Aire melompat, bersembunyi di belakang punggung Victor yang bidang. Dan dengan penuh pengertian pula Victor langsung berdiri melindunginya.


"I think Aire doesn't want to talk to you anymore.??" Ucap Victor. Dia mengatakan pada Mike bahwa sepertinya Aire tidak mau berbicara lagi dengan Mike.


Mata Mike memancar marah menatap ke arah Victor. ""I don't know who you are." Desisnya geram. "But Aire is my lover and I have the right to talk to her." Mike tidak tahu siapa Victor, kemudian mengatakan jika Aire adalah kekasih nya dan dia berhak berbicara dengan Aire.


"Ex-boyfriend." Aire menyela dari punggung Victor. "And I don't want to talk to you." Dan DIA tidak mau berbicara dengan Victor.


"You heard right?" Victor melemparkan pandangan mencemooh ke arah Mike. "I think you'd better leave Aire alone."


Victor memberi tahu Mike jika dia merasa lebih baik Mike meninggalkan Aire sendirian.


Kemudian dengan sikap tegas, sebelum Mike bisa berbuat apa-apa, Victor menggiring Aire memasuki mobilnya. Meninggalkan Mike yang terperangah dengan muka masam di sana.


*****