
Aire hampir meneteskan air liur mencium aroma yang sangat enak itu. Victor lalu menyerahkan piring itu ke tangan Aire. "Cicipilah." Victor menatapnya sambil tersenyum, seolah-olah menyadari ekspresi lapar Aire dan kemudian merasa geli. Aire menerima piring itu dan membelah gulungan omelet yang tampak begitu lembut. Begitu dibelah isian keju yang masih panas bersama sayuran yang dicacah meleleh keluar, menebarkan aroma yang makin harum.
Aire menyendok omelet itu dan memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang begitu gurih meleleh di mulutnya. Oh astaga, makanan ini enak sekali.
Ketika dia membuka mata dia menyadari bahwa Victor mengamatinya, pipinya langsung memerah membuat Victor terkekeh. "Enak ya...??" Tanya Victor lagi.
Sambil mengambil suapan kedua, Aire mengangguk.
"Percayakah kau kalau kubilang aku yang memasaknya???" Tanya Victor pada Aire.
Aire ternganga. "Kau bilang kokimu yang memasaknya.???" Aire seolah tidak percaya.
"Kalau dari awal kubilang aku yang memasaknya, mungkin kau tidak mau memakannya." Victor tertawa, suaranya terdengar menyenangkan memenuhi ruangan.
"Jadi kau bisa memasak???" Tanya Aire tidak percaya. "Dan Omelet itu meskipun sederhana terasa begitu nikmat, kelembutan dan rasanya seolah semua sudah diukur dengan ahli..."
Victor tampak merenung ketika menjawab pertanyaan Aire tetapi kemudian dia tersenyum. "Aku belajar memasak dari mendiang Nenek ku dan Mama ku dulu, mereka selalu mengajariku memasak dan aku senang sekali. Ini adalah makanan yang sering aku buat."
Aire mengamati Victor dengan lugu hingga Victor tersenyum. "Aku tidak menyangka kau bisa memasak."
Victor tertawa. "Aku dulu ingin sekolah memasak sebenarnya, tetapi sepertinya memasak aku jadikan hobi saja, aku harus mengurus banyak hal yang ada di perusahaan baik itu milik Mama atau Papa, Vicky tidak bisa di andalkan, dia sejak dulu suka seni dan juga melukis."
"Aku juga suka seni, aku sangat pandai bernyanyi dan sejak kecil ikut les bernyanyi."
Aire menganggukkan kepala nya. "Au bisa bernyanyi juga bermain musik, aku suka sekali bermain piano."
"Wahh itu keren sekali, kau sekali-kali harus melakukan itu di depanku, aku ingin melihatu bernyanyi dan bermain piano, kau pasti tahu kan kalau di cafe ada piano, kau bisa memainkannya kapan-kaoan. Kau mau kan??"
"Aku malu, dan aku tidak bisa janji."
"Oh c'mon Re, kau harus mau melakukannya kapan-kapan supaya di cafe ada suasana baru, live music hehehe.. Eh tapi ngomong-ngomong kenapa kau tidak lebih mengasah ilmu mu itu dan kenapa memilih bisnis sebagai hal yang ingin kau pelajari???"
"Itu hanya hobi dan aku tidak berniat untuk mejadi penyanyi, aku ingin jadi pebisnis wanita yang sukses, karena aku ingin terlihat keren seperti Papa ku yang dulu di kenal sebagai pengusaha muda yang sukses, sampai sekarang Papa selalu keren. Kau sendiri juga seperti itu kan???"
Victor menganggukkan kepala nya. "Ya, aku juga ingin keren seperti Papa ku."
"Oh iya perusahaan Mama mu disini selain cafe ada apa lagi???"
"Ada beberapa sih, itu salah satu sampingannya."
"Kalau Papa mu??" Tanya Aire.
"Hanya jasa penyedia transportasi saja, sejenis itu di beberapa kota. Kalau orang tua mu, selain restoran dan cafe, apa ada yang lain???" Tanya balik Victor pada Aire.