Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Obrolan makan malam



"Kekasih mu itu pasti beruntung sekali bisa di cintai sedalam dan sebesar itu." Gumam Ciara.


"Aku yang beruntung karena memiliki nya. Sebelumnya aku sangat suka bermain dengan para perempuan, bersenang-senang dan mempermainkan mereka lalu meninggalkan mereka dengan kejam, tetapi ketika aku bersama kekasihku itu, aku ingin merubah diriku menjadi lebih baik lagi, aku mencintainya dengan hati, tidak ingin mempermainkannya, aku benar-benar ingin serius dan merubah semua sikap agresifku, aku ingin menghormati nya. Aku melihat bagaimana cara kakakku ketika dia mencintai seseorang tidak pernah setengah setengah dan juga dia selalu menghormati setiap perempuan dengan tetap berhubungan dalam batas wajar dan tidak pernah menyentuh mereka sampai kemudian dia dan kekasihnya itu menikah. Ya, awalnya aku sungguh meragu ketika kakakku mengatakan hal semacam itu, mengingat saat ini kita hidup di dunia yang penuh kebebasan tidak seperti dulu yang semua nya memiliki aturan, maksudku adlah kita sekarang hidup di negara yang tidak melarang se'ks bebas, tetapi hebatnya kakakku bisa menjaga prinsipnya dengan baik sampai dia menikah. Lalu aku juga coba untuk melakukannya dan ternyata semuanya menjadi semakin baik, hanya saja aku tidak memiliki banyak waktu bersama dengan kekasihku itu untuk melangkah ke jenjang pernikahn seperti yang di lakukan oleh kakakku." Vicky tersenyum pilu. "Kadang aku berpikir, apa ini adalah karma ku karena aku sudah melukai hati banyak perempuan sebelumnya, sehingga ketika aku sudah menemukan perempuan yang tepat, justru aku di pisahkan darinya dengan cara yang begitu menyakitkan dan meningalkan kesedihan hingga saat ini."


"Kau tidak boleh berpikir seperti itu, kelahiran, kematian dan takdir manusia itu sudah di tulis oleh Tuhan. Justru bagus ketika kau memang berniat untuk berubah, artinya kau sudah menentukan jalan hidupmu untuk menjadi orang yang lebih baik. Kita juga tidak bisa menolak segala takdir yang sudah di gariskan kepada kita."


"Ya, kau benar. Hanya saja terkadang aku berpikir seperti itu. Sekarang aku mencoba untuk benar-benar mengikhlaskan kepergian Tiffany."


Ciara tersenyum. "Jadi namanya Tiffany ya?? Nama yang cantik. Orangnya juga pasti cantik."


"Semua perempuan akan terlihat cantik jika dia memiliki hati yang baik dan tulus, serta tidak di penuhi kemunafikan dan kebohongan untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya." Gumam Vicky.


Ciara yang sedang meminum wine nya langsung tersedak mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Vicky. Perempuan munafik dan pembohong. Ciara seperti langsung merasa tersindir dan rasa bersalah tiba-tiba menyerangnya. Dia akan melakukan kebohongan dan menipu Vicky nantinya untuk mendapatkan apa yang di inginkan Bianca. Ya Bianca, itu yang di inginkan olehnya. Ciara sendiri tidak memiliki masalah apapun sebenarnya dengan Vicky dan Kakaknya. Yang bermasalah adalah Bianca, tetapi Ciara mau tidak mau harus terlibat menjadi perempuan yang penuh kebohongan dan kemunafikan. Ciara merasakan nyeri di hatinya.


"Are you okay????" Tanya Vicky kemudian menyodorkan minuman kepada Ciara yang sedang batuk-batuk.


Ciara mengambil air itu dan meminumnya. Dia masih terbatuk-batuk tetapi terbantu oleh air dari Vicky. "Thanks..." Ucapnya.


"Bagaimana kau bisa tersedak??? Tidak ada yang mengganggu makanmu. Hati-hati." Ucap Vicky.


"Sorry."


"Lanjutkan makannya." Vicky melempar senyumnya. "Meeting kita sudah selesai besok, apa kau akan langsung pulang???" Tanya Vicky.


Ciara menggelengkan kepala nya. "Aku masih akan disini beberapa hari, mumpung ada disini jadi aku ingin berlibur sebentar. Bukankah disini ada beberapa tempat menarik???"


"Ya, kau bisa ke museum of fine art kalau kau suka, bisa juga ke Faneuil hall untuk berbelanja dan menikmati makanan enak." Vicky menyesal lagi wine nya dan memandangi lembut Ciara yang ada di depannya.


"Aku memang berencana ke tempat itu sekaligus ingin island of Boston harbor."


"Hanya saja aku meragu. Apa aku harus kesana atau tidak."


Vicky mengernyit. "Kenapa???" Tanya nya penasaran.


"Aku harus berangkat sendirian, rasanya enggan saja. Tim ku akan langsung kembali ke Singapura besok sore dan menyiapkan segala nya mengenai kerja sama kita, jadi kalau aku ingin liburan, aku harus sendirian."


Vicky meletakkan pisau dan garpu yang di pegangnya dan menatap Ciara. "Jadi kau sebenarnya menginginkan teman untuk pergi???"


"Ya, apalagi aku di tempat baru seperti ini, dan aku juga meragu pergi sendirian setelah kejadian kemarin. Takut bertemu lagi dengan Devan." Ucap Ciara.


"Kalau kau mau, aku bisa menemanimu, tetapi saat weekend" Gumam Vicky menawarkan diri.


"Kau mau menemaniku????"


"Ya, jika kau mengijinkan, aku kebetulan ada waktu kosong. Dan minggu depan aku baru akan kembali ke Indonesia untuk menghadiri acara resepsi kedua kakakku. Tapi kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa."


Ciara merasa kegirangan dalam hati. Ya, karena jebakannya tampaknya berhasil. Vicky mau menerima ajakannya dan tentu hal ini sudah dia rencana kan sebelumnya. Ini baru tahapan awal untuk melancarkan semuanya. "Tetapi apakah ini akan merepotkan mu???? Aku takut malah aku jadi merepotkan mu dan mengganggu waktumu."


"Tidak sama sekali, kalau weekend aku rasa aku bisa mengantarmu kesana, aku juga sudah lama tidak kesana, terakhir beberapa waktu yang lalu."


"Oke kalau begitu. Kita pergi saat weekend nanti."


"Oke kalau begitu." Vicky tersenyum. Mereka pun melanjutkan makan malam mereka sembari mengobrol kan berbagai hal. Ciara harus bisa mengakrabkan diri dengan Vicky dan mencaritahu banyak hal dari lelaki itu. Sehingga Ciara punya banyak bahan untuk bisa dia gunakan menarik perhatian Vicky dan membuat lelaki itu mulai tertarik dan kemudian jatuh cinta padanya. Karena jika hal itu terjadi, tentu rencana menghancurkan Vicky bisa semakin mulus dan Bianca akan merasa puas.


Setelah selesai makan malam, mengobrol sembari menikmati wine yang enak itu, Vicky pun berpamitan untuk pulang dan meminta Ciara juga kembali ke kamarnya agar bisa beristirahat sehingga besok mereka bisa bertemu lagi dan meneruskan meeting hari terakhir mereka. Sungguh ini jadi makan malam yang mengesankan untuk Vicky karena dia bisa lebih dekat dan akrab dengan Ciara. Perempuan ini memang sangat menyenangkan sekali dan mereka bisa berbagi kisah dan pengalaman sehingga membuat makan malam mereka terasa istimewa.


Vicky merasa ini jadi awal yang baik untuknya bisa mendekati Ciara dan mengenal Ciara lebih jauh lagi. Entah kenapa dia merasa cukup nyaman dengan Ciara, rasanya seperti saat dulu dia mendekati Tiffany. Hampir sama. Dan Ciara juga terlihat lemah lembut dan menyenangkan di balik tampilan yang tegas dan memiliki pemikiran yang cemerlang karena dia adalah seorang CEO perempuan yang masih muda. Sehingga wajar jika dia tampak formal tetapi cukup menyenangkan.