
Garviil berlari menyusul Kyros yang sudah keluar membawa Lexia. Garviil membuka garasi dan mengeluarkan mobil dan akan membawa Lexia ke rumah sakit. Garviil sendiri tidak peduli dia hanya mengenakan piyama. Karena memang tadi dia dan Geffie sedang tidur.
Kyros masih menggendong Lexia, bayi itu masih terus menangis dan nafasnya tersenggal. Gienka sangat khawatir sekali dan terisak sesenggukan melihat kondisi putrinya yang seperti itu gameka sangat ketakutan. Kyros meletakkan Lexia di kursi penumpang, memiringkan tubuhnya dan membiarkan Lexia mengejang sendiri. Sementara Garviil mengemudikan mobil dan Geffie duduk di depan. Sebenarnya Lexia beberapa hari terakhir ini mengalami flu serta hidungnya berair. Tadi Kyros sendiri sudah membawanya ke dokter untuk di periksa. Dan baru tadi Lexia mengalami demam, sebelumnya hanya batuk dan flu saja.
Akhirnya Lexia berhenti mengejang tetapi nafas bayi itu masih tersenggal dan badannya juga masih terasa panas sekali. Kyros mencoba untuk menenangkan istrinya agar tidak panik, sementara Garviil mengendarai mobilnya dengan cepat agar mereka bisa sampai di rumah sakit.
Dan kurang dari 10 menit mereka sampai di rumah sakit Lexia langsung dibawa ke unit gawat darurat untuk diperiksa. Geffie memeluk Gienka mencoba untuk menenangkan kakaknya dan Geffie bisa melihat kepanikan yang mendera Gienka selama perjalanan mereka tadi. Suhu tubuh Lexia memang sangat panas sekali. Lexia juga langsung mendapatkan penanganan dan Kyros serta yang lainnya diminta untuk menunggu di luar, membiarkan dokter dan perawat menangani Lexia.
"Kakak tenang ya, Lexia pasti akan baik-baik saja."
"Kakak takut sekali Dek, badan Lexia sangat panas sekali dan kau lihat bahkan bibirnya juga membiru."
"Kita berdoa saja semoga tidak ada hal yang menakutkan terjadi pada Lexia tapi aku hanya bingung saja kak. Kenapa tiba-tiba Lexia mengalami hal itu. Sebelumnya kan tidak pernah ada masalah seperti ini."
"Kakak tidak tahu yang jelas tiba-tiba dia menangis sangat keras sekali dan saat aku dan Kyros menghampirinya, badannya panas sampai 40 derajat, lalu tidak lama dia mengejang dan nafasnya juga tersenggal."
"Semoga dia baik-baik saja."
****
Setelah menunggu dengan cemas, akhirnya seorang perawat keluar dan memanggil orang tua Lexia. Kyros dan Gienka pun masuk untuk menemui dokter sekaligus melihat kondisi Lexia. Ternyata Lexia sudah di tempeli banyak alat yang Gienka sendiri tidak tahu karena alat-alat itu tersambung dengan kabel. Mungkin ada lebih dari sepuluh termasuk di kepala Lexia. Gienka memejamkan matanya, kondisi putrinya apakah separah itu. Kyros memeluk Gienka dan mengajak istrinya bertemu dokter.
Mereka pun mendapatkan penjelasan bahwa sampel darah Lexia sudah di ambil untuk mengetahui apa yang sedang di alami Lexia. Dan dokter menduga sepertinya Lexia terserang virus, tetapi kepastian virus apa masih akan di periksa dan hasilnya besok baru akan keluar. Dan saat ini Lexia harus mendapatkan penanganan khusus dan steril. Sehingga Lexia harus di bawa ke ruang PICU dan di pasangi beberapa alat di tubuhnya, karena kondisinya benar-benar lemah sekali.
Gienka semakin sedih, membayangkan tubuh mungil putrinya harus di tempeli begitu banyak alat dan selang oksigen. Dan untuk sementara Lexia tidak boleh di jenguk karena kondisinya harus di pastikan steril. Kyros dan Gienka mengerti kemudian mereka keluar dan membiarkan dikter untuk melakukan penanganan lanjutan.
"Kalian pulang saja, biar aku dan Gienka disini, Lexia sedang di tangani dan tidak boleh di jenguk untuk sementara waktu. Dokter juga sudah mengambil sampel darahnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi," ucap Kyros.
"Iya, Garviil juga besok harus kembali ke Boston kan?" sela Gienka.
"Kita terlalu panik, sampai tidak membawa ponsel," ucap Kyros.
"Jangan khawatir kak, aku akan mengantar ponsel kakak setelah ini, lagipula jarak rumah sakitnya juga dekat. Kalau begitu aku dan Geffie akan pulang dulu." Garviil menepuk bahu Kyros untuk memberi semangat pada kakak iparnya itu.
Sementara Geffie memeluk Gienka dan meminta kakaknya agar kuat dan terus berdoa untuk Lexia. Dia berjanji besok akan datang lagi kesini. Sedangkan nanti Garviil akan mengantar ponsel keduanya. Geffie dan Garviil berpamitan untuk pulang.
"Sayang, sepertinya aku lebih baik membatalkan penerbanganku ke Boston besok. Aku akan menemanimu di rumah," gumam Garviil yang saat ini sedang sibuk mengnedari mobil untuk pulang.
"Aku tidak apa-apa kok. Nanti kalau kau tidak jadi pulang bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Geffie.
"Tidak ada meeting penting, suasana disini sedang tidak baik, melihat kak Gienka aku kasihan sekali, dia sangat ketakutan. Kau harus menenangkan nya dan semoga Lexia tidak mengalami hal yang menakutkan. Ini pertama kalinya aku melihat bayi kejang dan wajah Lexia pucat dan bibirnya membiru, jujur aku sangat takut sekali tadi. Dan merasa kasihan."
"Bukan kau saja sayang, aku juga merasa takut." Geffie tiba-tiba menangis, tadi dia sekuat tenaga menahan tangisnya dan memilih untuk menenangkan Gienka tetapi pertahankan nya runtuh juga. Geffie sangat khawatir sekali melihat keponakannya seperti itu. Lexia yang ceria tiba-tiba menjadi seperti itu. Dan siapapun yanv melihatnya akan merasa kasihan sekali dan berbagai ketakutan juga di rasakan Geffie, tetapi dia akan terus mendoakan keponakannya. "Apa aku memberitahu Papa dan Mamah ya mengenai kondisi Lexia?" tanya Geffie.
"Jangan dulu sayang, kita tunggu saja perkembangannya besok, dan bagaimana hasil labnya. Kalau memberitahu sekarang, mereka pasti panik dan khawatir, lagipula kita juga perlu persetujuan kak Ky dan kak Gie, apa mereka akan memberitahu Mama dan Papa atau tidak."
Garviil meraih jemari istrinya dan mengecupnya. Dia sangat memahami kekhawatiran Geffie. Garviil juga merasakan hal yang sama. Tetapi yang saat ini harus mereka lakukan adalah terus mendoakan kesembuhan Lexia.
Sampai di rumah, Geffie ke kamar kakaknya dan mengambilkan ponsel mereka. Garviil akan mengantarmya ke rumah sakit dan akan kembali lagi ke rumah. Geffie akan menunggu sebentar. Ini juga sudah jam 2 dini hari. Garviil sudah memutuskan untuk membatalkan penerbangannya besok untuk kembali ke Boston. Garviil harus memastikan keadaan disini dulu, berharap Lexia tidak terlalu parah dan hanya kejang biasa.
Geffie kembali turun membawa dua ponsel milik Gienka dan Kyros lalu memberikamnya pada Garviil. "Aku akan langsung pulang, kau tidur saja kalau mengantuk. Berikan kunci rumahnya," ucap Garviil.
"Aku akan menunggumu di sini saja, segera kembali dan jangan lupa tanyakan dulu keadaan Lexia, siapa tahu ada perkembangan. Aku akan mengunci pintunya dengan baik."
"Aku akan segera kembali. Jangan buka pintu. Pastikan dulu kalau aku yang datang, oke?" Garviil mengecup kening Geffie dan berbalik badan untuk keluar.
Geffie menganggukkan kepalanya dan mengantar Garviil sampai pintu. Lalu menutupnya ketika Garviil sudah masuk ke dalam mobil.