Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
ke pantai



?dg


Dua hari kemudian.....


"Hai Aunty May....!!" Friddie tersenyum.lebar ketika Masa membuka pintu untuknya.


"Hai Fridd.." Sapa Balik Maysa.


"Hai Aunty....!!!" Sapa yang lainnya yang baru keluar dari mobil. Ada Sanne, Louis, dan Vineet.Mereka berjalan menghampiri Friddie dan Maysa. Mereka menyalami Maysa dengan sopan.


"Kalian, ayo masuk, Geffie sudah menunggu sejak tadi. Sebentar lagi dia akan turun."


"Ah tidak usah Aunty, kami menunggu disini saja, langsung berangkat takut kesiangan." Ucap Friddie.


"Oke kalau begitu." Maysa menoleh ke belakang dan Geffie menuruni tangga. "Nah itu dia..."


"Hai guys...!!!" Sapa Geffie. "Kita berangkat sekarang????" Tanya Geffie dan sahabatnya menganggukkan kepala. Geffie memeluk Maysa lalu menyalami nya dan berpamitan, begitu juga dengan sahabatnya. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Friddie yang mengemudikan mobilnya.


"Kita jadi menjemput Garviil???" Tanya Friddie pada Geffie.


"Iya, dia sudah menunggu."


"Kita ke rumahnya???" Tanya Louis.


"Tidak Lou, dia membawa mobil sendiri." Geffie menyembjtkan nama sebuah jalan dimana Garviil menunggu mereka disana. "Dia hanya akan sehari semalam saja, besok dia harus kembali ke Jakarta, karena malamnya dia harus berangkat lagi ke Amerika. Dia tidak ingin merepotkan kalian jadi akan membawa mobil sendiri."


"Owh jadi dia akan pulang lebih dulu??"


"Iya."


"Baiklah... Kita akan bertemu disana." Gumam Friddie. "Akhirnya aku bisa bertemu dengan calon iparku juga."


"Kakak, kau diamlah...!!! Dan jangan menggodaku." Protes Geffie.


"Jadi Garviil ini punya cafe di dekat apartemenmu???" Tanya Louis.


"Iya." Jawab Geffie singkat.


"Dia juga pimpinan perusahaan disana." Sahut Friddie.


"Wow hebat dong...!!!" Sela Louis lagi.


"Itu artinya Geffie tidak kaleng-kaleng.." Sela Vineet. Membuat semua sahabatnya tertawa.


"Sayangnya Geffie belum berani memberitahu uncle Iel. Hehehe." Sahut Friddie lagi.


"Bukan belum berani kak, tapi belum waktunya, nanti juga aku pasti akan mengenalkannya pada Papa Iel."


"Ok iya, kemarin kau cerita katanya kau bertemu dengan Mantannya Garviil. Apa yang terjadi???" Tanya Friddie penasaran. Kemarin Geffie memberitahu mengenai hal itu tetapi tidak detail dan dia penasaran sehingga meminta Geffie untuk menceritakannya sekarang.


"Tidak terjadi apapun, dia datang ke rumah Garviil untuk mengucapkan bela sungkawa saja karena nenek Garviil meninggal, dan kebetulan aku juga datang bersama Garviil. Jadi aku hanya melihatnya sekilas saja, dia ada di mobil dan aku baru datang lalu di persilahkan masuk oleh Mamanya Garviil."


"Hanya itu saja???" Tanya Friddie lagi.


"Iya kak, itupun pertama.kali aku bertemu dengannya."


"Awas saja kalau dia sampai melakukan sesuatu padamu, akan aku beri pelajaran dia."


"Memangnya kenapa Sayang??? Apa Geffie merebut Garviil darinya???" Tanya Vineet.


"Ah tidak... Mana mungkin aku merebut kekasih orang lain???" Sela Geffie dengan cepat. "Aku tidak memiliki masalah dengannya sama sekali kok. Hanya saja hubungannya dengan Garviil tidak berjalan dengan baik, itu saja."


"Lagipula Geffie terlalu cantik untuk merebut kekasih orang lain, dia bisa mendapatkan laki-laki single tanpa harus menghancurkan hubungan orang lain. " Celetuk Sanne.


Geffie tersenyum mendengar perkataan Sanne. Dia memang tidak pernah merebut Garviil dari Bianca meskipun sebenarnya dia dan Garviil sudah dekat saat Garviil menjadi kekasih Bianca. Tetapi Garviil punya alasan bahwa dia sudah tidak mencintai Bianca. Itu Fakta nya. Dan Bianca juga sangat jelas sekali mengkhianati Garviil. Bukan satu kali tapi kedua kali nya selain itu Bianca juga sudah menipu Garviil dan keluarga nya.


)))kbl


"Itu mobil Garviil..." Ucap Geffie.


"Yang putih itu??" Tanya Friddie.


"Iya kak.."


"Oke, akan berhenti di depan. Kau akan turun???"


"Iya, kasian dia mengemudi sendirian."


"Baiklah..." Friddie memperlambat laju mobilnya dan dia menepikan mobilnya lalu Geffie turun menghampiri Garviil.


Garviil yang ada di dalam mobil bergegas turun dan melempar senyum.pada Geffie yang berjalan menghampiri nya. Geffie berlari. "Ikuti mobil kak Friddie." Ucap Geffie, Garviil menganggukkan kepala nya kemudian membuka kan pintu mobil untuk kekasohnya itu. Garviil lalu berlari ke sisi kanan dan masuk. Mobil yang ada di depannya yang tadi di naiki oleh Geffie pun berjalan, Garviil mengikuti nya dari belakang.


"Lama ya???" Hanya Geffie.


"Ah tidak juga, aku baru menunggu sekitar sepuluh menit. Ada siapa saja di dalam???"


"Ada Kak Friddie dan pacarnya, ada juga kak Louis dengan pacarnya. Kami semua bersahabat sejak kecil."


"Wah rame juga ya...??? Kalian bersahabat sejak kecil??"


"Ya, bersahabat sejak kecil, karena orang tua kami juga bersahabat. Sehingga sejak kecil kami sering bertemu dan bersahabat, itu juga yang membuat beberapa dari kami juga jatuh cinta dan berpacaran."


"Kau sendiri tidak pernah jatuh cinta pada sahabatmu???" Tanya Garviil.


"Tidak, karena aku menganggap mereka semua adalah kakakku dan aku serta Vineet adalah yang paling kecil sehingga kami justru mendapatkan perlindungan dari mereka semua. Sangat menyenangkan punya banyak kakak. Heehehe."


"Wah aku berarti aku harus berhati-hati dan tidak boleh menyakitimu, bisa-bisa kakak-kakakmu itu nanti menghajarku."


Geffie terkekeh. "Maka nya kau jangan coba-coba bermain denganku, apalagi kau akan berkenalan dengan mereka nanti.???"


"Aku akan menjaga mu dengan baik supaya aku tidak berurusan dengan mereka hehehe."


Geffie tersenyum. "Kau kenapa tidak mengajak Vicky supaya jadi lebih ramai.???"


"Dia sedang belajar dengan Papa. Ah iya aku belum memberitahumu kalau Vicky memutuskan untuk membantuku di kantor nanti. Jadi dia sekarang punya tugas berat untuk belajar dengan Papa."


"Benarkah???? Wah bagus dong kalau begitu, lalu bagaimana nanti dengan karirnya??? Dia kan sudah jadi pelukis yang cukup terkenal??? Apa dia akan meninggalkan karirnya itu dan fokus saja membantu mu??"


Garviil menggelengkan kepala nya. "Tentu tidak sayang, aku tetap akan membebaskan Vicky untuk menjalankan karirnya, aku tidak akan memforsir jadwal kerjanya supaya seperti aku, aku akan membebaskannya untuk melakukan yang dia suka. Bagiku ketika dia bilang untuk mau membantuku saja aku sudah cukup senang, dia tetap bisa melukis dan melakukan pameran seperti biasanya."


Geffie tersenyum. "Kau sangat pengertian sekali tetapi ngomong-ngomong, apa yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk mengatakan itu padamu???"


"Oma, sebelum meninggal, dia sempat berbicara dengan kami berdua, dia meminta agar Vicky bisa menjadi lebih baik dan menuruti kataku dan Mama Papa. Termasuk bisa membantuku dan Papa untuk mengurus bisnis keluarga dan tidak terus saja bermain-main, itu adalah permintaan terakhir Oma, tak lama setelah itu beliau meninggal dunia. And then Vicky sepertinya memikirkan semua itu sehingga dia akhirnya mengatakan padaku untuk melakukannya. Dia akan membantuku di Boston."


"Vicky pasti memikirkan setiap perkataan Oma, menandakan bahwa dia sangat menyayangi Oma. Sangat bagus sekali. Dan Oma pasti akan senang disana melihat Vicky berubah dan melihat kalian berdua semakin kompak."


"Aku berharap juga seperti." Gumam Garviil, dia meraih jemari Geffie dan mengecupnya. "Aku senang, setidaknya kita bisa menghabiskan hari ini sampai besok siang untuk liburan bersama. Karena aku harus menunggu beberapa hari lagi sampai kita bisa bertemu lagi."


"Apa sebegitu beratnya kau meninggalkan Indonesia??? Hehehe."


"Bukan meninggalkan Indonesia, tetapi meninggalkanmu, itu jelas sekali. Kita terbiasa bertemu hampir setiap hari kan???"


"Seridaknya kau harus belajar dari sekarang, nanti kita juga pasti akan berjauhan, kau di Boston dan aku di Washington Dc. Iya kan???"


"Itu benar, itulah kenapa aku benar-benar ingin menghabiskan waktuku dengan baik bersamamu."


Garviil menoleh dan memandangi Geffie dengan pandangan yang dalam mengisyaratkan penuh dengan cinta. Gadis di sebelahnya ini begitu luar biasa dan membuatnya semakin jatuh cinta setiap harinya.


"Kau akan kembali dengan Vicky besok???" Tanya Geffie.


"Iya, dia akan kembali bersamaku, Vicky sendiri sudah sangat merindukan Tiffany."


"Tiffany pun sekarang pulang ke rumahnya, tapi dia bilang akan kembali ke Boston kalau Vicky sudah disana. Tiffany akan mencari pekerjaan disana."


"Aku bilang pada Vicky agar menyuruh Tiffany untuk mengirim Cv ke kantorku, ya jika memenuhi standard tentu akan di terima, toh Tiffany juga berniat melanjutkan kuliahnya di kampus yang sama lagi kan??? Aku tidak masalah dengan staff yang melanjutkan pendidikannya sambil bekerja, kami memberi kebijakan khusus. Kau juga boleh kok, sambil menunggu keberangkatanmu ke Washington Dc, masih beberapa bulan lagi kan??? Kau buat cv saja bersama Tiffany." Ujar garviil.


"Aku???? Tapi aku kan hanya akan tinggal di Boston beberapa bulan saja, sambil menunggu kakak kembali, yang benar saja masa akh bekerja di kantormu hanya beberapa bulan saja."


"Kenapa tidak???? Anggap saja sebagai pemanasan. Tidak masalah juga kau kerja disana. Ahhhh atau begini saja, kau magang saja di kantorku selama beberapa bulan sampai kau berangkat ke Washington dc, kalau kau tidak ingin bekerja. Setidaknya kau bisa terbiasa di kantor. Tenang saja, di kantorku ada program magang dan kau tetap bisa dapat gaji khusus sebagai peserta magang, kalau ingin bekerja ya boleh saja. Terserah kau ingin yang mana. Kegiatan itu bisa membuatmu tidak bosan, daripada kau menunggu di apartemen saja. Lebih baik isi waktumu dengan baik. Bagaimana???? Ini penawaran khusus untuk kekasihku."


"Lalu kau akan merlakukanku dengan istimewa begitu???? Tidak sayang, aku tidak bisa seperti itu. Itu sangat tidak profesional."


"Bukan... Maksudku bukan seperti itu, maksudku ini penawaran khusus supaya kau tidak menghabiskan waktumu di apartemen saja, kau bisa melakukan hal positif dengan bergabung di perusahaan ku. Supaya waktumu terisi dengan hal baik. Kau bisa memilih program khusus magang atau kau ingin bekerja sepenuhnya,ya tidak apa jika hanya beberapa bulan saja."


Geffie terdiam dan menoleh ke arah Garviil. "Aku akan memikirkannya."


Garviil tersenyum. "Beritahu aku jika kau sudah memutuskan."


Sementara itu di tempat lain.


Bianca membawa mobilnya masuk ke halaman rumah Garviil. Dia ingin menemui Garviol dan bicara dengan laki-laki itu karena kemarin belum sempat bertemu.selain itu Bianca juga ingin berbicara dengan orang tua Garviil. Kemarin mungkin memang bukan waktu yang tepat, dan Bianca ingin mencoba nya lagi.


Bianca turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu rumah Garviil. Halaman rumah itu juga masih di penuhi dengan karangan bunga ucapan bela sungkawa. Cukup banyak karena memang Papa Garviil punya banyak rekanan bisnis sehingga menerima begitu banyak ucapan bela sungkawa.


Bianca menekan bel yang ada di sebelah pintu. Sampai kemudian pintu di buka dari dalam. Ternyata yang membuka adalah asisten rumah tangga Garviil. "Eh mbak Bianca???" Ucapnya karena sebelumnya memang dia sudah kenal dengan Bianca karena dulu Bianca adalah tunangan Garviil dan tentu sering datang ke rumah ini. "Mbak Bianca sudah sembuh ya???? Syukurlah..." Lanjutnya lagi sambil tersenyum senang karena melihat Bianca tidak lagi memakai kursi roda. Dia pernah mendengar Bianca kecelakaan dan lumpuh.


"Garviil ada??" Tanya Bianca.


"Tidak ada, mas Garviil pergi untuk liburan aih katanya begitu."


Bianca mengerutkan dahi nya. "Liburan kemana???"


"Wah kurang tahu mbak, katanya pergi liburan dengan teman-temannya."


"Lalu apa ada orang di rumah???" Tanya Bianca lagi.


"Ada mas Vicky dan ibu, tapi tadi Ibu bilang mau mandi, Bapak baru saja pergi untuk sebuah urusan."


"Siapa Mbak??" Vicky menuruni tangga dan setengah berteriak memanggil asisten rumah tangga nya itu.


"Ini mas Vicky, ada mbak Bianca."


Vicky mengernyit kemudian menghampiri asisten rumah tangga nya dan dia langsung melihat Bianca berdiri di depan pintu rumahnya. "Kau kenapa kesini...???" Tanya Vicky ketus.


Bianca tersenyum. "Vicky, aku datang untuk mengucapkan bela sungkawa untukmu dan keluarga mu."


"Bukankah sebeljmnya kau sudah melakukannya dan bertemu dengan Mama??? Lalu kenapa kau datang lagi kesini dan mengatakan hal yang sama???* Tanya Vicky masih dengan suara ketus.


"Ehhh itu karena sebelumnya aku tidak bisa masuk ke rumahmu, dan Mamamu juga ada urusan jadi aku belum sempat masuk."


"Tapi kau sudah bertemu dengan Mama kan??? Lalu untuk apa kau datang lagi????"


"Eh rasanya tidak lengkap saja jika aku belum bertemu dengan kalian semua. Jadi aku datang lagi. Boleh aku masuk dan berbincang sebentar???" Tanya Bianca. Vicky hanya menatapnya dingin dan tidak peduli, karena untuk apa perempuan ini datang lagi ke rumahnya.


())sg(((


"Tidak ada siapapun di rumah, kau pergilah saja." Ucap Vicky dengan ketus.


"Kau mengusirku???"


"Tidak ada siapapun di rumah, kalau kau ingin bertemu dengan Mama dia sedang mandi dan Papa pergi keluar."


Bianca terdiam dan hanya menatap Vicky. Lelaki ini masih sangat dia cintai sampai detik ini tetapi Vicky sama sekali tidak pernah memperdulikan perasaannya. Sejak dulu Vicky sangat keterlaluan sekali terhadapnya. "Vicky, kau masih marah denganku ya mengenai masalah yang waktu itu???? Aku minta maaf atas kesalahan dan kebohonganku kepada kalian terutama pada Garviil."


Vicky diam memandangi Bianca. "Baguslah kalau kau menyadari kesalahanmu." Gumam Vicky.


"Kau apa tidak mempertimbangkan lagi untuk memaafkan ku dan memberiku kesempatan???" Tanya Bianca.


"Kau pasti tahu bahwa sejak awal aku tidak pernah menyukai mu, kenapa akhirnya aku saat itu datang padamu adalah karena aku ingin Garviil bahagia, aku sudah terlalu menyusahkannya selama ini jadi aku ingin balas budi padanya dan menyelamatkannya darimu, karena aku tahu dia sudah tidak mencintaimu. Dan aku juga tahu sebenarnya yang kah cintai bukan dia tetapi aku. Itulah kenapa aku mengambil resiko untuk memilihmu. Tetapi kenyataannya kau selama ini justru menyimpan kebohongan sebesar itu hanya untuk keegoisanmu saja. Karena kau ingin mengikat garviil denganmu tanpa menyadari seberapa besar nya kesalahan yang kau buat padanya dulu. Itu semua hanya di lakukan oleh orang yang Iicik dan juga piciik sepertimu Bianca. Kau perempuan tetapi kau tidak memiliki hati sama sekali."


"Itulah kenapa aku minta maaf padamu, setidaknya beri juga aku kesempatan. Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu."


Vicky menggelengkan kepala nya. "Aku tidak bisa mempercayai orang sepertimu lagi. Apa yang terjadi sudah sangat keterlaluan Bianca. Kau menipu kami semua."


"Aku melakukan itu karena aku tidak mau kehilangan Garviil."


"Kau memang tidak mau kehilangan Garviil, tetapi kau bilang kau mencintaiku, jadi apa maksudmu???? Permainan seperti apa yang kau rencanakan. Mana yang lebih penting menurutmu, Kau ingin mengikat Garviil, tapi kau mencintaiku??? Sangat membingungkan sekali."


"Aku memang tidak ingin Garviil meninggalkanku, aku ingin dengannya tetapi akh tidak mencintai nya, aku hanya ingin membuatmu jealous saja karena kau selalu menolak ku dan tidak pernah melihatku, tapi aku mencintaimu Vicky.. Kau masa tidak.mengerti dengan hal itu."


"Siapa Geffie???" Tanya Bianca toba-tiba.


Vicky menatap dengan waspada. Dia sudah mendengar cerita dari Mama nya mengenai kedatangan Bianca kesini sebelumnya dan apa yang terjadi, dimana Bianca melihat Garviil datang bersama dengan Geffie disini. "Kenapa kau menanyakan itu???"


"Aku hanya ingin tahu saja."


Vicky terkekeh. "Kau datang tidak di undang lalu kau melihat sesuatu yang mengusik hatimu, hahahaha kau lucu sekali."


"Aku bertanya karena ingin tahu."


"Lalu jika aku tidak ingin memberitahu mu apa itu menjadi masalah untukmu???? " Tanya Vicky.


"Aku hanya ingin tahu saja. Ada perempuan datang kesini bersama Garviil dan Garviil berteriak bahwa perempuan yang datang bersama nya adalah calon menantu Mama, apa itu bernama Geffie??? Dan itu artinya mereka berhubungan??? Sejak kapan hubungan itu terjadi??? Kenapa cepat sekali Garviil melupakan ku??? Kau pasti tahu semuanya kan Vic???"


Vicky terkekeh. "Kau seperti kereta, cepat sekali bicaramu dan tidak punya rem hahahaha.... Siapapun perempuan yang di bawah oleh Garviil bukanlah urusanmu. Kau dan Garviil sudah berakhir, dan ingat satu hal lagi, yang mengakhiri hubungan itu bukanlah Garviil tapi kau sendiri. Jadi jika Garvill sudah punya kekasih baru, ya itu menjadi urusannya. Dia berhak bahagia dan tidak di permainkan oleh perempuan tidak tahu diri seperti dirimu."


"Tapi kan kau yang membuatku akhirnya memutuskan hubungan dengan Garviil.???"


Vicky tersenyum mengejek. "Yang mengambil keputusan adalah dirimu sendiri, yang punya pilihan jiga dirimu sendiri, aku datang kepadamu untuk melamarmu bukan untuk mengakhiri hubungan mu dengan Garviil. Kalau kau masih ingin Garviil denganmu kau kan bisa menolak ku, tetapi karena kau serakah, egois dan tidak tahu diri dan hanya membohongi Garviil, kau memilih untuk meninggalkannya lalu bersih kepadaku. Semua jelas sekali adalah kesalahanmu jadi kau jangan coba memutar balikkan fakta. Semua adalah kesalahanmu sendiri. Berhentilah untuk bersandiwara. Sungguh muak sekali mendengarnya. Kau sudah tidak punya wajah tetapi kau sungguh todak punya rasa malu sama sekali. Aku heran denganmu, sebenarnya kau ini jenis manusia apa???" Vicky mulai terlihat kesal. "Pergilah dan jangan.ganggu waktu istirahat ku."


Vicky hendak menutup pintu rumahnya tetapi di tahan oleh Bianca. "Vicky tunggu, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi, siapa Geffie??? Dan bagaimana hubungan nya dengan Garviil.????"


"Bukan urusanmu...!!!! Dan adalah hak ku apa aku mau menjawab pertanyaan mu atau tidak." Vicky menutup pintu rumahnya dan mengabaikan teriakan Bianca. Rasanya dia sudah sangat muak sekali dengan sikap Bianca. Perempuan itu sudah kehilangan akal sehatnya dan bahkan sampai saat ini tidak terlihat sama sekali penyesalan dimata Bianca. Ya, dia memang meminta maaf, tetapi Vicky bksa melihat dengan jelas bahwa itu tidak tulus dari hatinya. Bianca hanya datang untuk mencari perhatian saja padanya dan kuarga nya. Bianca sangat egois dan tidak mau mengakui kesalahannya dengan tulus. Egois dan benar-benar egois sekali. Membuat Vicky sangat muak sekali, bahkan hanya dengan mendengar nama nya saja Vicky merasa mual. Entah manusia jenis apa Bianca itu.


Vicky mengunci pintu nya dan kembali naik ke atas untuk bersantai. Bertemu dan berhadapan dengan Bianca membuat mood nya rusak. Waktu bersantainya kadi terganggu. Tiba-tiba dia merasa menyesal kenapa tidak imut Garviil saja pergi liburan bersama dengan Geffie di bandingkan harus menghadapi kegilaan Bianca yang tidak ada habisnya.


"Vicky.."


Vicky terkejut ketika tiba-tiba Mamanya muncul di depannya. "Mama mengejutkanku saja."


"Kau dari mana???" Tanya Mamanya.


"Itu tadi si nenek sihir datang. Mengganggu saja."


"Nenek sihir??? Siapa???"


"Bianca. Dia datang lagi. Memang sudah tidak waras dia."


"Bianca???? Untuk apa dia datang???"


"Dia minta maaf atas drama nya yang kemarin, dia juga ingin bertemu kita semua, tapi aku bilang tidak ada siapapun di rumah. Dan konyol nya lagi, dia bertanya tentang Geffie. Memaksaku untuk Menjelaskan siapa Geffie. Memangnya dia siapa bertanya seperti itu, dia sudah tidak ada hubungan apapun dengan Garviil lalu kenapa kepo tentang Geffie."


"Dia bertanya tentang Geffie???"


"Iya Ma, dan memaksa ku untuk menjelaskannya. Memang siapa dia. Enak saja memaksa kj dan memaksa masuk. Dia memang sudah giIa...."


))))sdc(((


"Kita semua akan tinggal di satu cottage???" Tanya Garviil.


"Tidak, nanti kalian para laki-laki akan tinggal di cottage sebelah." Geffie tersenyum. "Papa menyiapkan 2 cottage untuk kita."


Garviil tersenyum. "Apa setiap liburan kau selalu begini???? Maksudku kau tidak perlu mencari tempat menginap karena Papa mu punya banyak tempat. Apa itu benar???"


"Ya begitulah... Kalaupun seandainya kami pergi ke suatu tempat dan disana tidak ada penginapan atau hotel milik Papa, biasanya Papa akan menyuruh sekretaris nya untuk mencarikan. Jadi aku tinggal terima beres saja."


"Enak sekali... Hahaha tapi kenapa kau memilih untuk.kuliah bisnis dan tidak memilih ke hotel management saja. Sedangkan bisnis Papa mu berhubungan dengan itu???"


"Itu benar sekali, aku pun pernah mendiskusikannya dengan Papa dan kak Gienka. Jawaban Papa adalah selagi aku bisa menguasai ilmu bisnis secara keseluruhan itu akan jauh lebih bagus, karena aku akan bisa menghadapi. berbagai tantangan nanti nya, selain itu sebenarnya mendiang Opa punya bisnis lain, karenabisnis Property dan Real estate adalah bisnis milik mendiang Oma yang juga diwariskan pada Papa, keduanya harus di kelola dengan baik. Sehingga baik aku, kak Gienka dan kak Friddie harus bisa menguasai semua hal mengenai bisnis keluarga kami." Ujar Geffie. "Banyak orang yang bilang bahwa kami bertiga sangat beruntung memiliki semua itu dari Oma dan Opa juga orang tua kami dan tinggal meneruskan, tetapi mereka lupa bahwa kami bertiga juga harus berusaha dan tekun serta belajar dengan serius agar apa yang orang tua kami berikan nanti nya bisa kami kelola dengan baik, dan tetap berdiri seperti sebelumnya bahkan jika bisa harus lebih baik lagi dari sebelumnya."


Garviil tersenyum. "Cara berpikir kalian sama denganku.... Aku pun saat ini sedang berusaha membuktikan pada orang tuaku bahwa aku akan dan harus mampu untuk membantu mereka menangani bisnis yang sudah ada."


"Mempertahankan jauh lebih sulit." Gumam Geffie.


"Benar sekali.."


Di tengah obrolan itu, ponsel Garviil berbunyi. Karena terconnect di mobilnya, Garviil pun menjawabnya. "Aku di jalan, kau kenapa menghubungiku???" Tanya Garviil.


"Kau masih di jalan???"


"Iya, tapi sebentar lagi akan sampai, kenapa???"


"Bianca, dia baru saja datang kesini, dan apa kau tahu si nenek sihir itu memaksa masuk dan berbicara melantur."


"Maksudnya????" Tanya Garviil.


"Ya, dia datang dan ingin masuk tapi aku tidak mengijinkannya, dia jiga meminta maaf oke aku bilang memaafkan nya. Tapi tiba-tiba dia menanyakan tentang Geffie. Konyol bukan???"


Garviil menoleh ke arah Geffie yanv ada di sebelahnya. Geffie tentu saja mendengarkan percakapannya dengan Vicky mengingat ponselnya sudah terhubung dengan bluetooth di mobilnya. "Menanyakan tentang Geffie??? Tentang apa???"


"Dia bertanya Geffie itu siapa mu."


"Lalu kau menjawab Apa???"


"Aku tidak mengatakan atau menjelaskan dengan detail, akh hanya meminta nya pergi saja. Mood ku benar-benar rusak karena kedatangannya. Dia benar-benar sudah kehilangan otaaknya. Menyebalkan sekali. Membuatku sangat muak dengannya."


"Baguslah kalau kau tidak mengatakan apapun padanya."


"Aku juga berdebat panjang dengannya. Dia meminta kesempatan agar aku mau kembali dengannya, dia pikir aku jiga sama tidak berootaak sepertinya??? Hahaha Memangnya aku toIoI yang mau kembali dengannya. Tiba-tiba aku merasa menyesal, kenapa aku tidak ikut denganmu saja, kalau aku ikut aku pasti tidak harus berhadapan dengan nenek sihir itu."


"Kalau begitu menyusul saja." Celetuk Geffie. "Aku akan mengirim lokasi nya, kau menyusul kami saja Vic."


"Ah tidak Geff, aku nanti mengganggu kalian disana."


"Mengganggu apa, orang beramai-ramai kok, ada teman yang lainnya."


"Iya, kalau kau tidak ada kegiatan, ya menyusul saja, Geffie benar." Sahut Garviil.


"Setidaknya mood mu bisa membaik." Ucap Geffie. "Ayo Vic, aku kirim lokasi nya sekarang ya????"


Vicky terdiam untuk beberapa saat. "Ya bolehlah, ok ke aku akan bersiap."


Geffie dan Garviil kembali melempar pandangan dan tersenyum. "Nah gitu dong, oke kau bersiaplah, aku kirim lokasi nya dan kami akan menunggumu."


"Ya, aku akan bicara pada Mama. Kalau begitu aku tutup dulu panggilannya." Vicky pun menutup panggilannya. Sementara itu Garviil dan Geffie tersenyum karena merasa senang Vicky akan menyusul mereka sehingga akan lebih ramai.


"Akan semakin ramai." Gumam Geffie.


"Tapi nanti Vicky akan jadi obat nyamuk, kita semua datang berpasangan dan dia sendirian." Ucap Garviil.


Geffie terkekeh. "Kita berdua akan bersama nya, jangan sampai kita berdua meninggalkannya. Hehehe."


"Kenapa dia jadi menyusahkan kita, aku ingin berduaan denganmu dan sekarang kau malah meminta kita untuk bersama nya."


"Diamlah dan jangan memprotes. Vicky juga butuh berkenalan dengan teman baru disini."


Garviil meraih jemari Geffie dan mengecupnya. "Untuk yang tadi aku Monta maaf."


Geffie menoleh. "Maaf??? Untuk apa???"


"Karena Vicky membahas Bianca."


"Kau ini kenapa???? Aku todak merasa terganggu sekali, aku mengerti kalau Vicky memang ingin memberitahu mu jadi ya tidak ada masalah. Aku tidak merasa terganggu. Harus berapa kali aku bilang kalau aku tidak suka sekali mengungkit hubungan kekasihku dengan mantannya, itu masalalu mereka jadi apa yang harus aku Permasalahan. Sudahlah..."


Geffie menyandarkan kepala nya di bahu Garviil. Lelaki ini jadi sahabat dan kekasih yang baik untuknya. Dan dia benar-benar tidak memeprmasalahlan apapun mengenai Bianca. Lagipula Garviil juga tidak akan mungkin untuk Kembali dengan Bianca mengingat luka yang di tinggalkan begitu dalam hingga kepercayaan dan perasaan Garviil sudah benar-benar musnah. Bianca memang cantik tetapi Geffie tahu bahwa Garviil tidak akan pernah bisa tertarik dengan Bianca begitu juga dengan Vicky. Sehingga Bianca bukan orang yang harus Geffie takut untuk hadapi.


Garviil terus mengemudi mengikuti mobil kakak Geffie yang ada di depannya. Mereka sudah melewati jalanan dengan view pantai menandakan mereka akan segera sampai.


Hingga akhirnya mobil memasuki area cottage. Mobil Friddie berhenti di depan sebuah bangunan sebelum memasuki area cottage. Dimana bangunan itu di fungsikan sebagai tempat resepsionis. Friddie turun dan menanyakan kunci cottage yang sudah di pesannya. Setelahnya Friddie kembali ke mobil dan mengemudi kan nya menuju nomor cottage yang sudah di pesan sebelumnya oleh Om nya yaitu Papa nya Geffie.


Kemudian mobil Friddi berhenti tepat di depan cottage , dan semuanya turun dari mobil. Garviil jug menghentikan mobilnya lalu turun bersama dengan Geffie. Mereka menghampiri Friddie dan yang lainnya.


"Kak, kenalkan ini Garviil. " Ucap Geffie memperkanlakn Garviil pada kakak dan dan sahabatnya. Garviil tersenyum, menyalami mereka bergantian dan memperkenalkan diri dengan sopan.


Garviil menyalami Friddie. "Garviil. Senang bisa bertemu denganmu. Geffie sering berbicara mengenai dirimu, eh panggilan apa yang harus aku katakan untuk memanggilku??? Kakak atau apa???" Tanya Garviil.


"Panggil nama saja, aku rasa kau lebih tua di atasku, kalau kau memanggilku kakak juga rasanya tidak elok, just Friddie " Ucap Friddie dan membalas uluran tangan Garviil. "Senang juga bisa bertemu denganmu, adikku sering membahasmu. Dan dia juga bilang kalau kau sudah bertemu juga dengan kak Gienka."


"Iya, Geffie mengajakku ke rumahnya beberapa bulan yang lalu. Dan kemarin lusa juga bertemu lagi."


"Oh iya Kak Friddie, nanti ada adiknya Garviil yang akan menyusul kesini, dia sedang bete di rumah jadi ingin ikut gabung, tidak apa-apa kan???" Tana Geffie.


"Adiknya Garviil??? Adik kembarnya???" Tanya Friddie memastikan.


"Iya kak...!!"


"Ya tidak masalah, bagus jadi semakin rame. Ini kunci cottage untuk kalian para cewek nomor 20 dan kami ada disini, nomor 19." Friddie memberikan kunci kepada Geffie. "Viil, turunkan barang Geffie dan kita bawa ke kamar mereka!!!"


Garviil menganggukkan kepala nya kemudian dia ke bagasi mobil Friddie dan menurunkan koper milik Geffie, Vineet dan Sanne. Para laki-laki itu membawa nya menuju ke cottage yang akan di tempati oleh para gadis.


Geffie membuka pintu cottage dan masuk. Cottage yang nyaman dan di belakang ada kolam renang yang langsung menghadap ke pemandangan laut yang indah. Sudah lama Geffie tidak datang kesini dan suasana nya selalu menyenangkan untuk melepaskan penat yang mendera. Setelah membawakan koper para gadis, para laki-laki keluar lagi dan merwka juga mengambil koper masing-masing untuk mereka bawa ke cottage mereka.


"Ada 2 kamar disini, kalau kau mau kau bisa memakai kamar utama yang lebih luas, supaya nanti kau bisa berbagi tempat tidur dengan adikmu, atau kau ingin kamar yang double bed??? Sehingga kita bisa berbagi, kau dengan adikmu, lalu aku dengan Louis." Ujar Friddie. "Kalau di cottage para gadis sih ada tiga kamar. Disana sedikit lebih luas, tetapi ya sama saja sih."


Garviil tersenyum. "Terserah saja bagaimana enaknya, yang terpenting kan bisa tidur, itu sudah cukup." Sahut Garviil.


"Oke, kau pakai kamar utama saja, aku dan Louis akan ada di kamar biasa. Kamarnya ada di belakang." Friddie menunjukkan arah kamar yang akan di gunakan Garviil untuk istirahat. Sementara dia akan tidur di kamar yang memiliki double bed bersama Friddie.


Garviil masuk ke kamar yang di tunjukkan oleh Friddie. Garviil meletakkan koper kecilnya di atas meja. Dia tidak ingin membongkar pakaiannya, mengingat dia hanya akan ada disini sampai besok siang saja. Garviil membuka jendela di kamarnya dan dia tersenyum karena view nya langsung menghadap ke arah laut. Dengan air berwarna biru, begitu cantik dan meneduhkan, ada juga kolam renang tepat di bagian belakang cottage ini. Garviil melempar tubuhnya di atas tempat tidur dan berbaring nyalang menatap langit-langit kamarnya. Selain Geffie, ternyata sahabat Geffie terlihat sangat baik sekali. Itulah kesan pertama yang AmGarviil rasakan setelah berkenalan dengan mereka. Friddie juga terlihat humble dan orang yanv menemyenangkan tidak seperti yang Garviil bayangkan sebelumnya.


Di tengah lamunannya ponselnya berbunyi. Garviil merogoh saku nya dan mengambil ponselnya. "Kenapa Vic???" Jawabnya dengan cepat.


"Aku sedang di jalan, baru berangkat dan akan menuju kesana." Ucap Vicky di ujung telepon.


"Oke, ikuti saja sesuai dengan lokasi yang di kirimkan Geffie, aku juga baru sampai. Jalanan lancar, kau akan sampai kurang dari dua setengah jam."


"Oke baiklah...!!!"


"Nanti hubungi aku atau Geffie kalau kau sudah maj sampai di cottage."


"Oke, ya sudah aku akhiri dulu." Vicky menutup panggilannya dan fokus mengemudi.


Garviil tersenyum mencari kontak Geffie dan menghubungi kekasihnya itu, dalam deringan pertama langsung di angkat. "Hai.." Sapa Garviil. Dia melakukan panggilan Video.


"Hai.... Kau sudah ada di kamarmu???"


"Ya, kau sedang apa???"


."Aku merapikan pakaianku. Kau tidak melakukannya???"


"Aku hanya membawa tas kecil, dan aku tidak mah membongkar nya, toh besok aku sudah pulang. Vicky baru saja menghubungi ku, dia baru saja jalan menuju kesini."


"Bagus kalau begitu... Kita akan menunggu nya. Sore ini kita semua akan melihat sunset, jadi kau pulihkan tenaga dulu nanti kita pergi ke lantai bersama-sama."


"Iya sayang....!!!! Aku mencintaimu...."


"Aku juga.... Sudah dulu, aku harus merapikan pakaianku, nanti kau ikut Kakak, dia dan kak Louis pasti akan kesini. Sambil menunggu Vicky dan sore datang. Kita makan siang bersama-sama. Aku baru saja memesan makan siang dari restoran yang ada disini dan akan di antar sebentar lagi.


"Ya sudah rapikan pakaianmu dulu, aku juga mau beristirahat sebentar. Bye..."


Panggilan berakhir dan Garviil meletakkan ponselnya dj sebelahnya lalu karena lelah, dia pun memejamkan matanya dan langsung tidur.


****\,


Panas yang terik tetapi di hiasi birunya langit dengan beberapa gumpalan awan berwarna putih, daun kelapa yang bergooyang di terpa angin. Pasir putih lantai dan karang yang di tepi pantai membuat suasana begitu nyaman, serta sejuk dan sangat indah sekali.


Perempuan cantik itu melepas handuk yang melilit pinggangnya dan melemparnya ke pasir, lalu berjalan menuju air dan mulai masuk ke air laut yang hangat. Dengan sinar matahari yang cerah, seolah tidak membuatnya takut kuIktnya menjadi cokeIat. Dia sangat menyukai air dan berenang. Sehingga pantai selalu jadi pilihan terbaik untuknya berlibur dan menikmati ketenangan yang di hadirkan oleh alam.


Wajah cantiknya dan tubuh mungil nya membuatnya semakin terlibat luar biasa. Sangat menyenangkan bisa berada di tempat tenang seperti ini. Dia tidak bisa diam saja di cottage dan ingin jalan-jalan untuk membuat suasana hatinya menjadi baik.


Langkah pelan nya menuju laut. Ombak kecil membuat kakinya langsung basah dan dia terus berjalan menuju laut untuk kemudian berendam dan berenang. Dia tidak peduli dengan kuIitnya akan menjadi geIap tetapi dia tidak akan melewatkan waktu untuk berenang di laut yang biru ini.


Namanya adalah Ciara, dia adalah seorang pimpinan perusahaan muda dan baru menjabat sekitar satu tahun ini karena Papa nya meninggal. Perusaah di bidang import dan eksport. Dia sangat cantik sekali, dan punya kebiasaan berpetualang sehingga dia seperti tidak mempermasalahkan mengenai tubuh dan kulit seperti perempuan pada umumnya. Dia sangat senang sekali bekerja dan sangat cerdas dalam hal kepimpinan. sehingga banyak orang menyebutnya sebagai harimau betina yang mampu menyelesaikan berbagai masalah dengan mudah dan tidak butuh waktu lama, hingga wajar jika orang cukup menghormati nya.


"Ahhhh segar sekali.....!!! Ombak tenang dan kecerahan matahari yang cukup membuat semuanyamenjadi semakin luar biasa. Aaahhh andai saja akh juga menemukan pujaan hatiku disini, itu pasti akan jadi hal yang lebih menyenangkan lagi. Hahahahaha...." Gumam Ciara kemudi. tertawa menertawa kan dirinya sendiri.