
Garviil di antar oleh Kyros ke airport karena searah dengan tempat kerja Kyros. Garviil tidak ingin berdebat panjang dengan Ariel sehingga dia mencoba untuk menuruti keinginan Ariel agar dia bisa kembali ke Boston. Meski berat tetapi tidak ada yang bisa Garviil lakukan selain melakukannya. Sedih??? Tentu saja dia sangat sedih sekali, dan takut hubungannya dengan Geffie bermasalah. Cinta nya sudah begitu kuat terhadap Geffie dan hanya Geffie yang dia cintai.
Kyros menoleh dan menyadari kegelisahan Garviil. "Viil....??? Are you okay???" Tanya Kyros.
Garviil tersenyum tipis. "I'm good kak.." Jawab Garviil.
"Apa tidak lebih baik kau membahas masalah ini dengan Geffie??? Supaya dia bisa membantu mengatasi maslaah ini dan berbicara dengan Papa Iel. Itu akan sangat baik Viil."
"Tidak kak, aku takut justru akan timbul masalah besar nanti, bagaimana kalau Om Ariel malah akan semakin membenciku, yanga ada aku semakin kesuitan untuk mendapatkan kepercayaannya." Gumam Garviil.
"Lalu apa rencanamu??? Tapi apa benar kau serius untuk menikahi Geffie???"
"Aku selalu serius dengan ucapanku kak. Dan aku sudah memikirkan dengan baik setiap ucapanku dan tindakan apa yang aku ambil."
Kyros tersenyum. "Itu sangat baik Viil, artinya kau benar-benar serius dengan hubunganmu. Kau hanya perlu membuktikan pada Papa Iel kalau kau memang layak. Papa sebenarnya sagat baik sekali, dia melakukan ini pasti hanya ingin mengetesmu saja. Sejauh apa kau akan berjuang untuk bisa mendapatkan restu nya. Papa memang keras kepala tetapi dia sangat baik dan juga sangat menyayangi anak-anaknya. Pengalamanku, Papa akansangat mudah luluh ketika anak-anaknya meminta secara langsung kepadanya, meski permintaan itu terkadang bertolak belakang dengan keinginannya tetapi 80% Papa pasti akan mengabulkannya, dulu dia juga menolak saat aku datang padanya dan meminta Gienka darinya untuk aku nikahi, Papa melarang keras tetapi Gienka mengajaknya berbicara dari hati ke hati dan Papa pada akhirnya luluh. Papa Iel memang keras kepala sekali sejak dulu, tetapi jauh di lubuk hatinya dia sangat penyayang. Kita harus pandai-pandai merebut hatinya. Papa selalu kalah dan mengalah ketika dia berhadapan dengan Mamay dan juga kedua putrinya. 100% akan mengalah. Jadi saranku, kau ajak Geffie berbicara dan sampaikan niatmu itu, buat Geffie mengerti lalu nanti kau biarkan dia memutuskan sendiri, jika dia setuju menkah denganmu, dia pasti akan bicara dengan Papa Iel. Kalau dia belum siap ya mau bagaimana kau harus menghargai keputusannya, kalau perlu menunggu nya sampai siap." Ujar Kyros.
"Apa iya ya kak??? Tapi bagaimana kalau Geffie jadi berdebat dengan Om Ariel??? Aku takut Om Ariel malah membenciku???"
"Itulah kenapa kau harus berdiskusi dan bicara dulu dengan Geffie, baik-baik, lalu ungkapkan niatmu untuk menikahi dia, tanya pendapatnya, dia mau atau tidak, baru setelah itu kau bisa membicarakan mengenai Papa Iel dengannya."
"Aku akan mencoba nya nanti setelah Geffie kembali ke Boston."
Kyros menganggukkan kepala nya. "Iya, kau coba bicaralah dengannya, dan jangan khawatir, Gienka akan membantumu untuk meyakinkan Papa Iel. Gienka akan bicara dengannya. Kau jangan seperti orang bingung, kembalilah ke Boston dan jalani harimu seperti biasa, setiap masalah selalu ada jalan keluarnya, jadi jangan terlalu di pikirkan."
"Thanks kak..."
"Sama-sama..." Kyros menepuk bahu Garviil, memberikan semangat agar Garviil tidak menyerah lebih dulu. Masih banyak waktu untuk bisa menyakinkan Ariel nanti nya.
xxxx
Malam harinya....
Kyros sudah kembali dari kantir dan dia juga sudah selesai mandi kemudian dia masuk ke ruang walk in closet dan di sana dia sudah ditunggu oleh istrinya yang tengah menyiapkan pakaian ganti untuknya. Kyros mendekati Gienka dan dia mengambil pakaian yang sedang dipegang oleh istrinya itu. Kyros kemudian memakainya dan Gienka duduk di sofa berbentuk lingkaran dan menatap suaminya.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi antara Papa dan Garviil???" Tanya Gienka.
"Ya, Garviil bercerita jika dia diusir oleh Papa Iel tadi malam dan itu dikarenakan dia meminta izin pada Papa Iel kalau dia ingin menikahi Geffie dalam waktu dekat."
"Menikah????" Seru Gienka.
"Iya, Garviil ingin menikahi Geffie dalam waktu dekat ini dan hal itulah yang memantik emosi Papa Iel sehingga Papa iel juga meminta Gariil untuk menjauhi Geffie. Ya intinya Papa Iel tidak setuju jika Geffie menikah di usianya saat ini."
"Bagaimana bisa dia meminta hal itu??? Ya maksudku Geffie masih terlalu muda dan dia juga ingin melanjutkan kuliahnya. Kenapa Garviil malah meminta seperti itu pada Papa????"
"Aku juga bertanya seperti itu tadi dan Garviil bilang kalau dia ingin menikahi Geffie karena Geffie akan tinggal di sini dan Garviil ingin mengikat Geffie. Ya intinya Garviil terlalu takut kehilangan Geffie karena Geffie ada di sini, takutnya Geffie nanti akan punya kekasih lain ya seperti itulah. Itulah kenapa dia ingin menikahi Geffie segere."
"Waduh???" Gienka terkekeh. "Garviil ada-ada saja, ya masa karena hal itu saja sih??? Tapi kalau memang mereka saling cinta dan aku lihat juga Geffie sangat mencintainya, sepertinya Geffie juga bukan tipe orang yang tidak setia maksudku ya tidak perlu seperti itulah. Garviil bucin sekali sih sampai memikirkan hal seperti itu." Ejek Gienka.
Kyros tersenyum mengejek istri nya. "Garviil bucin menurutmu???? Tetapi yang aku ingat dulu, kau juga sama sepertinya, bucin akut sampai-sampai kau meminta untuk dinikahi dalam waktu beberapa hari hanya karena alasannya kau ingin tinggal bersamaku dan tidak rela jika aku tinggal di sini sendirian, takut kalau aku diambil oleh perempuan lain, kan sama seperti Garviil, dia juga tidak mau Geffie diambil oleh laki-laki lain kalau Geffie tinggal di sini. Itulah kenapa dia ingin mengikat Geffie, ya sama sepertimu dulu kau ingin mengikatku supaya aku tidak jatuh ke pelukan perempuan lain." Ujar Kyros yang langsung membuat ekspresi Gienka berubah.
"Ky....??? Kau ini kenapa jadi merembet ke aku???" Protes Gienka dan wajahnya memerah karena malu.
"Iya deh, aku mengerti sekarang kondisinya tapi wajar sih kalau Papa Iel jadinya marah, ya karena mungkin Geffie kan juga akan melanjutkan kuliah tapi kalau diajak menikah kan pasti ditakutkan akan mengganggu kuliahnya."
"Iya bisa jadi juga sih dan Garviil meminta bantuan kita untuk meyakinkan Papa Iel kalau dia memang benar-benar ingin menikahi Geffie. Tetapi dia tidak akan melarang Geffie untuk melakukan apapun yang Geffie sukai dan dia juga tetap akan mendukung Geffie untuk melanjutkan pendidikannya dengan baik. Ya intinya dia meminta bantuan kita lah untuk bisa meyakinkan papa Iel." Ujar Kyros.
"Apa kau akan menyuruhku untuk mendekati Papa Iel dan berbicara dari hati ke hati???" Tanya Gienka memastikan.
"Ya bisa seperti itu sih, tapi terserah kau saja, soalnya biasanya Papa Iel sepertinya akan melembut jika berbicara denganmu dan satu lagi yang perlu kau tahu bahwa masalah obrolan ini yaitu antara Papa dan Garviil saja karena Garviil sendiri pun belum memberitahu Geffie. Dan saat aku tanya kenapa, Garviil menjelaskan bahwa dia ingin langsung meminta izin kepada orang tua Geffie lalu setelahnya dia baru akan memberitahu Geffie. Jadi intinya Geffie tidak tahu kalau Garviil ingin menikahinya dalam waktu dekat."
"Yah ribet juga ya. Ya sudahlah nanti aku coba bicara dengan papa Iel." Gienka berdiri dan melingkarkan kedua nya lengannya di leher Kyros. Mengecup bibir lelaki itu dan tak lama mereka mendengar suara tangisan Baby Lexia. Gienka pun bergegas ke kamar bayinya itu untuk menenangkanny
xxxx
Keesokan harinya.
Gienka sedang berada di area kolam renang di rumahnya bersama dengan Ariel, sedangkan Geffie sedang ada di ruang keluarga bersama baby Lexia dan juga Cahya serta Aditya. Kyros tentu saja sedang pergi bekerja. Gienka duduk di tempat istirahat di tepi kolam renang. Tempat berbentuk bulat dengan kasur di dalamnya, dan temat istirahat itu terbuat dari anayaman rotan. Gienka duduk bersama Ariel. Gienka ingin mengajak Ariiel berbicara empat mata. "Papa, kenapa sikap Papa begitu pada Garviil??? Gie sudah mendengar semuanya, alasan Papa mengusir Garviil dari sini. Kenapa sih Pa???? Memangnya ada yang salah dengan niat baik Garviil???" Tanya Gienka.
"Apa dia mengatakan semua padamu???" Tanya balik Ariel.
"Aku yang memaksanya bicara, dan dia tidak berniat bercerita sebenarnya, tapi akhirnya mau bercerita setelah aku memaksanya. Kenapa Pa??? Apa ada yang salah dengan niatnya itu???"
"Kau tahu bahwa adikmu masih harus melanjutkan pendidikannya lalu bagaimana Papa bisa menerima jika ada laki-laki yang lebih tua darinya beberapa tahun, tiba-tiba berniat menikahi nya."
"Ya kalau Papa tidak mau mereka menkah buru-buru kan Papa bisa memberitahu dan menjelaskan pada Garviil, itu bisa di bicarakan baik-baik kan??? Lalu kenapa Papa malah mengusirnya???"
"Papa tidak menyukainya."
"Atas dasar apa Papa tidak menyukainya??? Dia terlihat baik, dan keluarga nya juga keluarga yang baik, Papa juga mengenal orang tua nya, lalu dimana letak rasa tidak suka Papa pada Garviil.???"
"Papa tidak suka dia dekat dengan Geffie, dan Papa tetap akan menolaknya untuk menikahi Geffie." Ariel tetap menolak Garviil untuk menikahi Geffie. Ariel terlihat marah.
"Pa, jangan marah, Papa juga kalau bisa jangan terlalu masuk ke kehidupan asmara Geffie selagi dia tetap menjalankan prinsipnya dengan baik, menjaga kehormatannya, Geffie sudah dewasa dan bisa menentukan sendiri pilihannya. Lalu kenapa Papa malah mengancam Garviil agar bisa menjauhi Geffie, itu salah Pa. Kalau Papa tidak mau mereka menikah cepat, Papa bisa meminta Garviil menunggu sampai Geffie siap, dia pasti akan mengerti, tetapi Papa malah bersikap buruk dan mengancamnya. Kalau Geffie tahu pasti dia akan marah sekali pada Papa."
Gienka mencoba untuk menenangkan Ariel agar tidak terlalu emosi dan tidak terlalu masuk ke dalam urusan Asmara Geffie. Maksud Gienka adalah dia melarang Ariel untuk tidak merusak hubungan asmara Geffie dan Garviil. jika Ariel memang tidak setuju dengan pernikahan yang diinginkan oleh Garviil. Maka sebagai orang tua yang baik Ariel harus meminta Garviil agar menunda rencana itu sampai nanti Geffie benar-benar sudah menyelesaikan kuliahnya dengan baik.
"Papa jangan egois dengan hubungan mereka. Masih banyak waktu untuk membicarakan hal itu, setidaknya beri restu dulu untuk hubungan mereka, lalu Papa bisa mengetes sejauh apa Garviil mencintai Geffie."
Gienka juga mengingatkan Ariel agar Ariel tidak terlalu egois mengenai hubungan asmara yang sedang dijalani oleh Geffie dan Garviil. Ariel harus memberi mereka kesempatan untuk bisa membicarakan Mau dibawa kemana hubungan mereka karena jika Ariel tidak merestui hubungan keduanya, yang ada justru Geffie akan merasa sedih. Lalu Gienka bertanya apa alasan Ariel menolak mentah-mentah niatan Garviil menikahi Geffie dan ternyata alasan Ariel melakukan itu adalah Ariel tidak mau jika Geffie nanti tinggal jauh darinya seperti halnya Gienka saat ini. Ariel menaruh banyak harapan kepada Geffie, mendengar itu Gienka pun mengerti perasaan Papanya. Tetapi dia juga tidak ingin Papanya menjadi orang yang terlalu berlebihan menghadapi masalah ini, toh hal itu nanti tetap bisa dibicarakan sehingga Papanya tidak perlu memaksa Geffie untuk mengakhiri hubungannya dengan Garviil.
"Oh jadi alasan Papa menolak Garviil karena itu. Kan Garviil juga punya perusahaan di Indonesia, dia bsa kembali dan mengurus perusahaan disana, Geffi tentu tidak akan jauh dari Papa. Pokoknya semua itu masih bisa di bicarakan deh. Papa jangan ikut campur dengan masalah hubungan Geffie dan Garviil. Papa harus jadi orang tua yang bijak dan memeberikan teladan yang baik, maka Geffie akan sangat dan lebih menghormati Papa." Ujar Gienka.
Ariel mengerti dan dia berjanji tidak akan ikut campur mengenai masalah Asmara Geffie.
"Oke janji Papa akan Gie pegang ya???"
Ariel mengangguukkan kepala nya.