
Setelah bertemu dengan Geffie, dan mmengantar gadis itu pulang. Garviil langsung menuju rumah nya, rumah milik Mama nya yang dia tinggali sebelumnya dan sekarang di tempati Vicky. Karena Garviil sekarang memilih tinggal di kamarnya yang ada di atas cafe miliknya. Garviil turun dari mobil dan menekan bel menunggu asisten rumah tangga nya membuka pintu. Sampai akhirnya pintu di buka dan Garviil menanyakan keberadaan Adiknya. Art nya memberitahu jika Vicky tidur di kamar. Garviil pun langsung ke kamar Adiknya.
Garviil mengetuk pintu kamar Vicky dengan keras, dan butuh sepuluh menit dia menunggu sampai Vicky membuka pintunya. Adiknya itu tampaknya baru terbangun dari tidurnya,
“Ada apa kakak??? Kenapa kau kemari tengah malam???” Vicky mengangkat alisnya dan meminggirkan tubuhnya, memberi jalan Garviil untuk masuk.
Garviil melangkah masuk lalu berdiri di tengah ruangan dan menatap Vicky dengan tajam. “Aku sudah mendengarnya dari Geffie, kau melamar Bianca.”
Tidak ada ekspresi apapun di wajah Vicky, “Oh. Ya kakak, maafkan aku belum memberitahumu. Tetapi aku dan Bianca berencana untuk datang ke kantormu besok pagi dan mengatakan semuanya.”
“Jangan berbuat bodoh demi diriku, Vicky.” Garviil bergumam pelan, ada kesedihan dan kesakitan di wajahnya, “Aku tahu kau sama sekali tidak mencintai Bianca, kau akan menyiksa dirimu seperti yang kulakukan selama ini. Jangan lakukan Vicky, Jangan lakukan demi diriku.”
Vicky tersenyum, lalu menepuk pundak kakaknya. "Jangan memohon kepadaku seperti itu kak. Aku tahu kau melakukan segalanya untuk memikul tanggung jawab atas diriku, dan kurasa kini saatnya aku yang membalas budi.”
“Kau adikku, dan aku tidak mungkin menjerumuskanmu dalam penderitaan seperti ini.” Sela Garviil keras.
Vicky mengangkat bahunya. “Dan kau kakakku, aku tidak akan rela kau kehilangan cinta sejatimu hanya karena sebuah tanggung jawab.”
Garviil kehabisan kata-kata mendengar kata-kata Vicky. Dia tersentuh. Selama ini dia mengira Vicky egois, berniat menjalani hidup sesukanya dan tidak memikirkan orang lain. Adiknya ini ternyata sangat menyayanginya.
“Meskipun aku berterima kasih, aku tetap tidak akan membiarkan kau berakhir dengan Bianca.” Gumam Garviil akhirnya.
Vicky menatap Garviil dengan bingung, “Tidak ada cara lain kakak, inilah satu-satunya cara. Pulanglah, milikilah Geffie, dan berbahagialah. Dan aku akan berusaha menjalankan peranku dengan sebaik-baiknya. Kalau dipikir-pikir Bianca tidak terlalu buruk.” Gumam Vicky sambil tersenyum masam.
Garviil menggelengkan kepalanya, “Kau tidak tahu, aku merencanakan menjauhkan Bianca dengan menggunakan Paul
“Paul???? Teman mu saat kuliah dulu itu???"
“Ya. Paul yang itu, aku menyuruhnya untuk mendekati Bianca dan merayunya dengan segala pesonanya.”Bianca belum pernah bertemu dengannya sebelumnya jadi dia tidak kenal dengan Paul Pipi Garviil tampak merona, sedikit malu, “Yah, memang aku menggunakan cara pengecut di sini, menusuk Bianca dari belakang. Tetapi cara ini juga bisa menjadi bukti untukku apakah Bianca benar-benar setia dan mencintaiku. Dia pernah mengkhianatiku sekali, dan aku ingin melihat, jika ada kesempatan, akankah dia mengkhianatiku lagi????”
“Dan ternyata???” Vicky bertanya meskipun sepertinya dia sudah tahu jawabannya.
“Dan dia mengkhianatiku, dia menjalin hubungan dengan Paul bahkan Paul bilang Bianca tidak menolak ketika dia menciumnya dan mereka berciinta. Bianca mengira aku tidak tahu karena itu dia tetap memaksa melanjutkan pernikahan ini sambil terus mengungkit rasa tanggung jawabku.”
“Dasar perempuan jaIang.” Vicky mengumpat kasar, lalu mengangkat bahunya meminta maaf ketika Garviil melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya. Maafkan aku kak, aku sudah sejak awal tidak menyukainya, apalagi ketika pada awalnya dia mengejarku, lalu mengejarmu, dan kemudian mengkhianatimu.”
Garviil tersenyum lembut. “Dan kau dengan sukarela mau mengorbankan hidupmu untuk berakhir dengannya, hanya demi kakakmu ini.”
“Kau kakakku. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia.” Gumam Vicky pelan.
Mata Garviil berkaca-kaca. "Dan aku akan melakukan semuanya juga, untuk membuatmu bahagia, Vicky.”
Kedua kakak beradik itu berpelukan, lalu Garviil melepaskan pelukannya dengan canggung, karena sudah lama sekali dia tidak memeluk adiknya. Dia mengangkat alisnya dan menatap Vicky ingin tahu.
Garviil tersenyum malu. Lakukan semua seperti rencanamu Vicky, kurasa aku akan menggunakan Paul untuk menyelamatkanmu.”
“Bagaimana caranya????” Vicky menatap Garviil bingung.
“Kita akan menemukan cara.” Garviil menghela napas panjang. Dia harus menemukan cara, karena dia tidak mungkin tega membiarkan Vicky menanggung semuanya untuknya. "Jangan akhiri pendekatanmu dengan Tiffany, kalian harus bersama juga, Geffie akan membantumu untuk menjelaskan pada Tiffany."
"Oke baiklah. Sebenarnya besok aku ingin bertemu Tiffany untuk mengatakan aku ingin mengakhiri pendekatanku dengannya, tetapi jika seperti ini, tentu aku tidak akan mengakhiri nya."
"Kau juga harus memperjuangkan cintamu. Terima kasih kau sudah menjelaskan pada Geffie semuanya."
"Tentu saja aku harus melakukannya, aku sangat senang kau bisa mendapatkan gadis sebaik dan secantik Geffie, aku yakin kalian akan bahagia."
))))
Beberapa hari kemudian........
"Vicky sacrificed herself for you? How unexpected." Paul terkekeh seolah enggan mempercayai jika Vickynberkorban unytuk Garviil. "Be thankful Garviil, it means you are loved." Ucap Paul, meminta Garviil bersyukur karena di sayangi. Paul datang ke kantor Garviil setelah temannya itu meminta nya datang lagi.
Garviil melemparkan pandangan serius kepada Paul. "But I still need you to save Vicky, how has your relationship with Bianca been lately????" Tanya Garviil. Dia masih membutuhkan Paul untuk menyelamatkan Vicky, Garviil menanyakan bagaimana hubungan Paul dengan Bianca akhir-akhir ini.
Wajah Paul tampak masam."Bianca been avoiding me lately, I think she's getting serious with Vicky." Paul mengangkat alisnya menatap Garviil . Mengatakan bahwa Bianca mulai menghindarinya akhir-akhir ini. "It seems like she really wants to have Vicky this time." Dan Sepertinya kali ini dia sungguh-sungguh ingin memiliki Vicky.
"Fuuck...!!!" Garviil menghela napas panjang, kalau begini caranya, rencananya untuk menggunakan Paul sebagai senjata tidak dapat digunakan.
"But I have one thought for you." Paul bergumam misterius, membuat Garviil langsung memperhatikaannya. Paul punya satu pemikiran untuk Garviil. “A thought that you should probably investigate Garviil, because I think Bianca lied to you all." Pemikiran yang mungkin harus di selidiki oleh Garviil, karena Paul pikir Bianca telah membohongi semua orang.
"All this time she lied to us????" Garviil mengernyitkan keningnya. "What do you mean???"
"Bianca, when I took her to Crane Beach and we stayed at one of the resorts, I found her accidentally standing up several times." Saat Paul membawa Bianca ke Crane Beach dan mereka menginap di salah satu resort, Paul beberapa kali mendapatinya tanpa sengaja bisa berdiri.
Paul memajukan tubuhnya. "First, I caught Bianca when I was in the bathroom, the door didn't close properly, and I was standing in front of the sink counter, suddenly I turned my head between the door that hadn't closed completely, I saw her walking without a wheelchair. I was surprised at that time but I tried to keep quiet and didn't say anything to her, the second was when we were makiing love, occasionally there were movements that she didn't realize, yes, it's called a woman if she is making love if she enjoys it, she will definitely squirm with pleasure, well that's also what Bianca did. A few times she even bent her legs to lift but she seemed to do the movement unconsciously but in a few seconds she realized it and immediately became passive. But of course I noticed it immediately. I thought it was weird." Uja Paul. Pertama dia memergoki Bianca saat dia ada di dalam kamar mandi, ketika itu pintu nya tidak menutup dengan sempurna, dan waktu itu Paul berdiri di depan meja wastafel, tiba-tiba dia menoleh di sela-sela pintu yang belum menutup sepenuhnya. Paul melihat dia berjalan tanpa kursi roda.Paul terkejut saat itu tetapi dia coba untuk diam saja dan tidak mengatakan apapun kepada Bianca. Yang kedua adalah saat mereka berciinta, sesekali ada gerakan yang tidak Bianca sadari, ya namanya perempuan jika sedang berciinta kalau dia menikmatinya pasti dia menggeliat keenakan. Itu juga yang di lakukan Bianca. Beberapa kali bahkan dia menekukkan kaki nya hingga mengangkat tetapi dia sepertinya melakukan gerakan itu secara tidak sadar akan tetapi dalam beberapa detik dia menyadarinya dan langsung pasif. Tetapi tentu saja Paul segera menyadarinya. Menurut Paul itu aneh sekali.
Garviil tertegun, pemikiran itu sama sekali tidak pernah terbersit olehnya. Dia mendengar sendiri diagnosa dari dokter rumah sakit bahwa Bianca akan lumpuh selamanya. Dan dia mempercayainya sampai saat ini. Tetapi mungkinkah Bianca membohonginya? Batinnya langsung mengiyakan, yah, mungkin sekali Bianca membohonginya, kelumpuhan itu adalah satu-satunya pengikat rasa tanggung jawab
Garviil terhadap Bianca. Dan jika Bianca tidak lumpuh lagi, sudah pasti Garviil akan meninggalkannya.
"Maybe you can contact the doctor who treated Bianca and ask for that information." Mungkin Garviil bisa menghubungi dokter pribadi Bianca dan meminta informasi. itu. Paul bergumam memberi usul.
Garviil sudah pasti akan melakukannya, dan jika sampai dokter itu berbohong, dia pasti akan menyesalinya. Garviil akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kebenaran. "Just watch out if Bianca really lied all this time, I won't forgive her." Awas saja kalau sampai Bianca benar-benar berbohong selama ini, Garviil tidak akan memaafkannya.
"Yes, you need to see that doctor Viil, if he is lying that means he has broken his oath as a doctor. This kind of thing certainly can't be left unchecked." Gumam Paul. Garviil perlu menemui dokter itu, jika dia berbohong itu artinya dia telah melanggar sumpahnya sebagai dokter. Hal semacam ini tentu tidak bisa di biarkan begitu saja.
*****
Sekitar satu kemudian......
Untunglah ketika resepsionisnya mengabarkan bahwa Vicky datang mengunjunginya bersama Bianca, Paul sudah meninggalkan kantor itu. Kalau tidak semuanya akan berubah menjadi drama yang buruk di antara mereka.
Garviil mempersilahkan dua orang itu masuk, berakting sebaik-baiknya seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.
“Hai kakak.” Vicky masuk sambil mendorong kursi roda Bianca, sempat-sempatnya dia mengedipkan mata kepada Garviil, membuat Garviil tersenyum masam.
“Hai Vicky.!!! Garviil menatap Vicky dan Bianca bergantian. “Kau tidak bilang akan kemari, Bianca, dan sungguh tidak disangka aku melihat kalian berdua datang bersama. Apakah kalian memang datang bersama, atau kalian bertemu di depan????”
“Kami memang datang bersama.” Bianca tampak gugup, Garviil tampak begitu mendominasi di ruangan kantornya yang formal ini, dan tiba-tiba Bianca merasa takut. Dia sudah pernah mengkhianati Garviil sekali dan dia melakukannya lagi, bahkan kali ini dengan adik kembar Garviil sendiri. Tetapi Vicky sudah meyakinkannya bahwa Garviil tidak akan marah, karena dia tahu pasti bahwa Garviil tidak mencintainya. Dan lagipula, Bianca berpikir bahwa dia berhak memiliki cinta sejatinya. Vickyl ah cinta sejatinya, lelaki yang sangat di impikannya sejak dulu, dan sekarang ketika akhirnya bisa memiliki Vicky di tangannya, Bianca tidak akan pernah melepaskannya.
“Kami datang untuk mengatakan sesuatu kepadamu. Dan kami harap kau tidak marah.” Vicky lah yang angkat bicara, lalu dia mereemas pundak Bianca dengan lembut dan menenangkan Bianca. “Katakan kepada Garviil, Bianca.!!!!"
Garviil menatap Bianca dan Vicky berganti-ganti. “Mengatakan apa???”
Bianca meletakkan kotak cincin di meja di dekat Garviil, dia merasa mantap sekarang. “Aku ingin mengembalikan cincin pertunangan ini!!!" Gumamnya.
Garviil mengangkat alisnya. “Mengembalikan cincin pertunangan??? Apa maksudmu, Bianca???”
Bianca melirik ke arah Vicky dan tersenyum ketika melihat Vicky menatapnya penuh cinta dan memberi semangat. “Aku tidak mencintaimu, kurasa aku tidak pernah mencintaimu. Ketika Vicky melamarku, aku baru sadar bahwa selama ini aku hanya menganggapmu sebagai pengganti Vicky.”
"Kurang Ajar!!!!" Bathin Garviil
Meskipun sudah tahu, tetap saja Garviil tidak bisa menahan diri untuk mengumpat dalam hatinya. Bianca menganggapnya sebagai pengganti tetapi dia dengan egoisnya menahan Garviil untuk dimilikinya. Bahkan Bianca bertekad membawa hubungan mereka ke pernikahan. Wanita ini memang egois dan licik... sangat licik dan Garviil harus berhati-hati menghadapinya. Dia harus memikirkan informasi Paul tadi dengan baik dan bertindak dengan hati-hati pula. Kalau memang yang dikatakan Paul benar, itu akan menjadi senjata besar untuk menyelamatkan Vicky.
“Kau melamar Bianca???” Garviil berpura-pura terkejut, menatap Vicky yang tampaknya berusaha menyembunyikan senyum gelinya,
“Aku melamarnya kak. Karena aku tahu kau tidak mencintainya, dan Bianca tidak mencintaimu. Bianca mencintaiku dan aku pikir dia berhak untuk bahagia bersamaku.”
“Aku sangat mencintai Vicky. Aku harap kau mengerti.” Bianca menyela dengan bersemangat. "Aku ingin menikah dengan Vicky dan hidup bersamanya selamanya.”
Garviil tidak melewatkan ekspresi muak yang sempat terlintas di wajah Vicky, tetapi kemudian adiknya itu menutupinya dengan baik.
“Well kurasa kalian berdua serius, aku bisa berbuat apa???” Garviil mengangkat bahunya. "Kurasa aku harus mengucapkan selamat.”
Bianca hampir memekik kegirangan karena jawaban Garviil itu. Dia lalu mendongak dan menatap Vicky dengan senyuman penuh kemenangan.
))))
Sore harinya...
Vicky datang ke cafe dan menemui Garviil yang sudah menunggu nya. Kakaknya itu memintanya untuk datang dan membahas mengenai pertemuannya siang tadi dengan Paul. Garviil ingin membahas mengenai kebohongan Bianca selama ini. Vicky sudah di tunggu Garviil di salah satu meja di cafe miliknya. Vicky pun menghampiri kakaknya dan memesan minuman sebagai teman mengobrol.
"Hai... Sorry terlambat, tadi aku harus mengantar Bianca pulang setelah jalan-jalan dengannya." Gumam Vicky.
"Tidak masalah....!!!" Garviil tersenyum. "Kau ajak kemana saja???" Tanya Garviil.
"Hanya jalan-jalan saja, dia senang karena selama ini kau tidak pernah mengajaknya keluar."
Garviil membuang muka dan tersenyum masam. "Di dekatnya saja aku merasa mual, apalagi harus menghabiskan waktu berjam-jam dengannya.???"
"Hahaha ku rasa dia tidak seburuk itu." Ucap Vicky. Andro mengantarkan minuman yang di Pesan oleh Vicky dan ikut duduk besama dengan kedua saudara kembar itu. "Well, ada apa lkau memintaku segera kesini???" Tanya Vicky pada kakaknya.
"Sebelum tadi kau datang dengan Bianca, Paul datang menemuiku lebih dulu dan kami berbincang sebentar."
"Paul datang??? Apa yang dia laporkan padamu??" Tanya Vicky penasaran.
"Dia memberitahu jika Bianca mulai menghindarinya sejak kau melamarnya."
"Owhhh... Aku pikir apa.." Gumam Vicky.
"Dan ada satu hal lagi yang dia katakan dan hal itu harus kita selidiki."
"Tentang????"
"Kebohongan mengenai kelumpuhan Bianca."
Vicky dan Andro saling melempar pandangan. "Maksudnya????" Tanya Andro kemudian.
"Ya, Paul sepertinya beberapa kali memergoki hal aneh dari Bianca, saat dia mengajak Bianca ke resort, dia tidak sengaja melihat Bianca berjalan normal tidak dengan kursi roda." Ujar Garviil.
"Apa.....!!!!???" Seru Vicky dan Andro bersamaan.
Garviil menganggukkan kepala nya. "Ya, Paul tidak sengaja melihat itu tetapi dia tetap memilih diam dan menyimpannya sendiri. Dan yang kedua, Paul menyadari ada yang tidak beres ketika dia sedang bercinta dengan Bianca. Dia mendapati beberapa kali kaki Bianca begerak secara tidak sengaja, tetapi ketika menyadarinya, Bianca kembali berpura-pura. Ya, Paul bilang ketika perempuan sedang berciinta tentu jika dia menikmatinya dia pasti akan coba untuk bergerak secara tidak sadar untuk merespon gerakan dari pasangannya. Dan itulah yang terjadi, aku tidak tahu pastinya tetapi kalian berdua bisa membayangkannya sendiri mengingat kalian sudah sering melakukannya dengan pasangan kalian."
"Ah iya iya, aku mengerti maksudmu." Gumam Vicky. "Kalau memang dia melakukan itu, artinya dia sudah membohongimu selama ini."
Garviil menganggukkan kepala nya. "Itu dia, maka nya aku ingin kau ikut aku besok untuk menemui dokter yang menangani Bianca, kita butuh penjelasan darinya, jika dia juga bekerja sama untuk membohongi kita mengenai Bianca, itu artinya dia telah melanggar sumpahnya sebagai dokter."
"Ya, itu memang benar, bisa jadi dia memang sengaja menutupi kebohongan Bianca."
"Brengseeekkkk!!!!" Umpat Vicky. "JaIang itu, bagaimana bisa dia melakukan hal semacam itu.....!!!!"
"Mungkin agar Garviil tidak meninggalkannya." Sahut Andro.
"SiaIaaaannn......!!!" Umpat Vicky lagi.
"Itulah kenapa kita harus menyelidiki nya Vic.."
"Oke besok kita temui dokter itu. Awas saja kalau sampai dia ternyata selama ini membohongimu. Ini tidak bisa di biarkan. Bisa-bisa nya dia mempermainkan seseorang seperti itu." Ujar Vicky yan tampak kesal sekali. Bianca benar-benar licik dan mempermainkan Garviil selama ini.
****
Malam Harinya....
“Jadi begitu ceritanya.” Garviil bergumam lembut kepada Geffie. Mereka sedang berpelukan di sofa apartemen Geffie, setelah memakan makan malam yang khusus dimasakkan Garviil untuk Geffie. Setelah itu mereka melewatkan malam dengan bersantai dan menonton TV. Garviil bercerita panjang lebar tentang pertemuannya dengan Vicky, pertemuannya dengan Paul, dan kedatangan Vicky bersama Bianca ke tempatnya untuk mengembalikan cincin pertunangannya.
Garviil menunduk lalu mengecup dahi Geffie yang meringkuk di dalam pelukannya dengan lembut. Aku lelaki bebas sekarang Geffie, Lelaki bebas yang bisa kau miliki.”
Geffie menenggelamkan tubuhnya di dada Garviil yang bidang dan memeluknya semakin erat,
“Aku senang bisa memilikimu, aku bahagia Garviil.”
"Tapi kau belum memberiku kejelasan mengenai hubungan ini." Tanya Garviil.
Geffie mendongakkan kepala nya. "Aku rasa memang ini sudah waktu nya untuk aku mengatakan iya, aku mau menjadi kekasihmu." Gumam Geffie sembari tersenyum.
Garviil membalas senyuman Geffie. "Kau serius???"
Geffie menganggukkan kepala nya. "Tentu saja aku serius, apa kau mau aku membatalkan ucapanku yang baru saja???"
"Ah jangan-jangan...... Jadi sekarang kita sudah resmi jadi sepasang kekasih???"
"Ya..."
Garviil langsung memeluk Geffie. "Ahhhhh thank you sayang..... Aku akan selalu menjadi milikmu, sekarang ataupun nanti.” Garviil mendongakkan dagu Geffie, lalu mengecup bibirnya dengan lembut dan intens. “Dan semua impian kita akan terwujud, kau akan menjadi perempuan pertama yang kupuja di pagi hari ketika aku membuka mataku, dan menjadi yang terakhir kupeluk di malam hari ketika aku beranjak tidur.”
“Kau sangat romantis.” Geffie terkekeh ketika Garviil melepaskan kecupannya. “Dan aku suka.”
Garviil tertawa, “Aku tidak pernah seperti ini dengan perempuan manapun. Kau tahu... semua orang menganggapku kaku.” Garviil tersenyum malu. “Bahkan kadang aku merasa iri kepada Vicky yang dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata puitis untuk merayu seseorang.”
Geffie tertawa. “Kau cukup puitis untukku kok. Tetapi membicarakan mengenai memujaku di pagi hari dan memelukku di malam hari, bukankah itu cukup berlebihan??? Kau tidak akan langsung menikahi ku kan????”
Garviil tertawa. "Ya kenapa tidak, besok pun kalau kau meminta aku untuk menikahi mu, aku akan siap."
Geffie mencubit pinggaang Garviil dan tertawa. "Kau ini." Dia memeluk Garviil dengan manja, lalu teringat sesuatu dan dahinya berkerut. "Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya???”
“Mengenai Bianca????” Garviil mengangkat bahunya. “Well aku menganggap info dari Paul perlu di tindak lanjuti. Aku sudah menceritakan kepada Vicky dan dia setuju untuk bersama-sama menemui dokter pribadi Bianca besok.”
“Kalau Bianca memang berbohong, berarti dokter pribadi Bianca ikut membantunya membohongimu.” Gumam Geffie merenung.
Garviil mendesah. "Mau bagaimana lagi, dokter itu adalah dokter pribadi Bianca selama bertahun-tahun. Dia adalah sahabat dekat keluaga kakak iparnya, mungkin persahabatannya itulah yang menjadi alasan utamanya membantu menutupi kebohongan Bianca. Tetapi bagaimanapun juga, aku dan Vicky akan membuatnya bicara.”
"Lakukan apa yang menurutmu benar, dan segera selamatkan Vicky dari Bianca. Aku tidak mau melihat Tiffany khawatir dan terus memikirkan mereka berdua." Ujar Geffie.
"Iya sayang, tenang saja, aku akan segera membereskan ini."
****
Keesokan Harinya.....
Vicky dan Garviil mendatangi rumah sakit untuk bertemu dengan dokter yang dulu menangani Bianca setelah kecelakaan. Dan keduanya pun langsung menanyakan mengenai kelumpuhan Bianca dan meminta dokter itu jujur atau mereka berdua akan melaporkan hal itu dan dokter itu bisa di hukum atas perbuatannya yang sudah membohongi Garviil selama ini. Atas nama apapun, tentu hal seperti itu tidak bisa di benarkan sama sekali.
"From the beginning, I have actually disagreed with this lie." Tanpa diduga dokter pribadi keluarga Bianca langsung mengungkapkan semuanya tanpa menutupi apapun. Dari awal sebenarnya dia sudah tidak setuju dengan kebohongan ini. Tetapi Kakak dan orang tua Bianca memohon kepada nya dan mereka meminta nya agar tidak memberitahukan kepada Garviil bahwa Bianca sudah bisa berjalan. Bianca menangis dan mengatakan bahwa dia akan bunuh diri kalau sampai Garviil meninggalkannya.
Dokter itu mengangkat bahunya dengan menyesal. "I apologize for this lie, I was wrong. But at the time, I saw Bianca as my daughter, and I didn't have the heart to ruin her life." Dokter itu meminta maaf atas kebohongan ini, dia memang bersalah. Tetapi pada waktu itu, dia memandang Bianca seperti putri nya, dan dia tidak tega menghancurkan hidup Bianca.
Vicky dan Garviil saling melempar pandangan. Sekarang semua sudah jelas, Bianca selama ini membohongi mereka dengan berpura-pura lumpuh.
Mereka bisa saja membawa semua bukti ini ke depan Bianca, melemparnya ke mukanya, dan membuatnya malu. Tetapi itu tidak akan membuat Bianca menyesal. Itu tidak akan membuat Bianca membayar setimpal kebohongan yang telah dengan tega dilakukannya dengan kejam.
"Whatever the reason, as a doctor you should not do such a thing, you should not only look at the perspective from Bianca's side but also look at the side of my brother Garviil's life, my brother was lied to for years, and his life was played like this." Ujar Vicky. Apapun alasannya, seharusnya sebagai seorang dokter tidak boleh melakukan hal seperti itu. Dokter seharusnya jangan hanya melihat prespektif dari sisi Bianca tetapi juga harus melihat dari sisi kehidupan Garviil kakaknya. kakak nya telah di bohongi selama bertahun-tahun, dan kehidupannya di permainkan seperti ini. Vicky memasang wajah marah bercampur kecewa.
Dokter itupun sekali lagi meminta maaf pada Garviil.
Garviil pun memaafkan kemudian dia mengajak Vicky untuk pulang. Setidaknya bukti ini sudah cukup untuk mereka bisa melepaskan diri dari Bianca yang licik. Kedua saudara itu, keluar dan berjalan menyusuri koridor.
"Kak, kita harus merencanakan sesuatu untuk menjebak Bianca." Gumam Vicky.
"Iya, tapi merencanakan apa Vic???"
Vicky terdiam untuk beberapa menit, berjalan sambil memikirkan sesuatu. Dia kemudian tersenyum. "Aku punya ide, tetapi tentu ini juga harus melibatkan Andro."
Garviil memandangi adiknya. "Ide apa???" Tanya nya bingung.
Vicky pun kemudian menjelaskan ide nya pada Kakaknya. Dan mereka harus segera melakukannya karena Vicky juga tidak bisa berlama-lama harus menghabiskan waktu dengan Bianca. Garviil meragu dengan ide itu tetapi ada benarnya juga ide adiknya itu.
))))
))))))
Vicky menjemput Bianca untuk makan malam bersama, Bianca sudah berdandan secantik mungkin dan menunggu di kursi rodanya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, dan di mobil Bianca menoleh kepada Vicky dengan tatapan manja,
“Memangnya kita mau ke mana Vicky???” tanyanya mesra.
Vicky tersenyum, matanya mengarah ke jalan di depannya, wajahnya tidak terbaca. “Kita akan makan di salah satu cafe milik Garviil, kau tidak keberatan kan???Makanan di cafe itu sangat enak dan suasananya romantis.”
“Apakah Garviil akan ada di sana???" Bianca mengeryitkan keningnya. Pasti suasana makan malam yang romantis akan rusak kalau Garviil ada di sana.
Vicky melirik sedikit dan tersenyum. “Cafe itu miliknya, mungkin saja dia akan ada di sana, mungkin juga tidak.”
"Kau memang benar." Bianca tersenyum.
Vicky mendorong kursi roda Bianca dan membantu perempuan itu masuk ke dalam mobilnya. Vicky sengaja mengajak Bianca makan malam hari ini untuk bisa membongkar kedok Bianca. Dan dia sudah mengajak Garviil dan Andro untuk bekerja sama dengannya. Mereka sudah mengatur semua nya dengan baik. Dan Garviil sebenarnya menolak usulan ini karena menurut nya terlalu beresiko tetapi Vicky mencoba menjelaskan kepada Kakaknya bahwa ini salah satu cara yang harus mereka tempuh untuk memergoki kebohongan Bianca. Pada akhirnya Garviil pun setuju.
"Malam ini kau sangat cantik sekali sayang???" Puji Vicky pada Bianca yang duduk di sebelahnya.
"Terima kasih, kau juga sangat tampan." Gumam Bianca dengan wajah memerah.
Vicky menoleh dan terrsenyum manis. Meskipun sebenarnya hatinya mengolok-olok Bianca. Perempuan ini sangat licik, seperti ular dan Vicky ingin sekali mengumpatnya karena sudah membohongi Garviil selama ini. Tetapi Vicky harus menahan diri. Karena kalau tidak rencana nya akan gagal.
***
Mereka lalu memasuki Cafe itu, sebuah cafe yang indah dengan tanaman hijau yang memenuhi sekelilingnya. Dindingnya dibatasi oleh kaca bening yang menampilkan pemandangan taman yang luar biasa indahnya. Cafe itu cukup bagus, meskipun Bianca sedikit kecewa.
Bukankah keluarga Garviil dan Vicky memiliki beberapa tempat makan?? Kenapa Vicky malah mengajaknya merayakan pertunangan mereka di cafe biasa seperti ini??? Padahal dia sudah memakai gaun terbagusnya dan berdandan semewah mungkin karena mengira Vicky akan membawanya makan malam di hotel yang mewah. Bianca mengenakan gaun berwarna putih dengan hiasan renda keemasan di kerah dan lengannya. Gaun ini sangat mahal, pesanan khusus, tetapi tentu saja gaun ini sangat pantas dipakai di perayaan pertunangannya dengan Vicky. Bianca melirik cincin di tangannya dengan bahagia. Tapi ya sudahlah gumam Bianca, pergi bersama Vicky saja sudah membuatnya bahagia sekali.
Cafe itu cukup ramai, kelihatan dari luar. Beberapa orang memilih duduk-duduk bergerombol dan bercakap-cakap. Beberapa orang duduk dan menikmati minumannya di bar yang kelihatan dari kaca yang bening. Setelah membantunya turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya, Vicky mendorong kursi roda Bianca dengan hati-hati memasuki cafe.
Mereka memilih meja di sudut yang sepi, Vicky menyingkirkan kursi dan mengatur kursi roda Bianca supaya pas di sana. Dan Androlah yang melangkah mendekati mereka.
“Selamat malam Tuan Vicky, makan malam istimewa yang tuan minta sudah disiapkan.” Dengan sopan Andro menyalakan lilin di tengah meja, menampilkan cahaya temaram yang indah dan sangat romantis. Pipi Bianca memerah karena bahagia dan dia menatap Vicky dengan penuh cinta.
“Kau menyiapkan makan malam istimewa untukku????” bisiknya mesra.
Vicky tersenyum misterius. “Tentu saja sayang, dan aku harap kau akan menyukai setiap detiknya dan akan selalu mengingatnya sebagai hari yang sangat mengesankan sayang.” Ucap Vicky sembari tersenyum manis.
"Aku tidak menyangka kau akan bersikap manis seperti ini."
"Aku seorang seniman, dan selain melukis aku juga harus bisa membuat perempuan memujaku."
Tak lama pelayan membawa makan malam untuk mereka berdua. Makanan pembuka di antar lebih dulu. Dan kedua nya menikmati nya. Dan tiba-tiba ada bunyi piano yang menemani mereka menikmati makan malamnya. Alunan melodi yang lembut membuat suasana semakin romantis. Bianca sejak tadi tersenyum, bahagia sekali dengan cara Vicky memperlakukannya. Sebelumnya Garviil sama sekali tidak pernah memperlakukannya romantis seperti ini.
Vicky terus mencoba bersikap lembut meskipun dia benar-benar muak dengan dirinya sendiri karena harus bersikap romantis pada Bianca. Kecantikan perempuan itu tidaklah sebanding dengan hatinya yang sangat buusuk dan penuh kelicikan.
Makan malam berlangsung romantis dan nikmat, meskipun Vicky tampaknya tidak banyak bicara. Ketika saat terakhir, Vicky menawarkan kepada Bianca.
“Kau mau kopi untuk penutup???” Tanya Vicky.
“Apa????” sebenarnya Bianca sudah kenyang, dan dia tidak menginginkan kopi, karena kopi membuatnya susah tidur di malam hari. Tetapi Vicky tampaknya punya maksud tersendiri.
“Malam kita tidak hanya akan berakhir di makan malam ini Bianca sayang, aku punya rencana supaya kita menghabiskan malam di rumahku.” Vicky mengedipkan matanya. “Dan itu bukan untuk tidur. Jadi kurasa kau butuh kopi.”
Pipi Bianca memerah ketika memahami maksud Vicky. Dia dan Vicky akan bermesraan, batinnya bersemangat. Memang Vicky berbeda dengan Garviil, Garviil sangat dingin. Jangankan bermesraan, lelaki itu jarang menyentuhnya kecuali hanya memegangnya lembut, atau memberinya kecupan di dahi. Padahal Bianca sangat haus akan perhatian laki-laki. Karena itulah dia tidak menolak perhatian yang dilimpahkan Paul kepadanya. Bahkan ketika Paul menciumnya dulu, Bianca tidak menolak dan malahan menikmatinya. Sayangnya Paul masih kalah kalau dibandingkan dengan Vicky, Bianca akhirnya memilih menjauhi Paul karena tidak mau lelaki itu menjadi penghalang hubungannya dengan Vicky.
“Kurasa aku mau secangkir kopi.” Gumamnya malu-malu.
Vicky terkekeh, lalu memberi isyarat kepada Andro. “Dua cangkir kopi.” Gumamnya sambil mengedipkan mata, Andro menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi.
Tak lama kemudian Andro datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang masih mengepul panas.
“Hmm kopi ini aromanya nikmat, Andro dan sangat panas, aku yakin aku akan menikmatinya.” Vicky bergumam ketika Andro mendekat, sementara itu Andro tertawa menanggapinya. Sayangnya karena tertawa dan terlalu memperhatikan Vicky, nampan di piringnya oleng dan gelas kopinya jatuh miring tumpah ke samping ke arah Bianca,
Vicky langsung berteriak memperingatkan, “Bianca! Menyingkir, kopinya sangat panas!” serunya.
Dan dengan gerakan refleks Bianca menyingkir, menghela napas panjang karena lega ketika cairan kopi yang mengepul panas itu tidak mengenai dan melukainya, dia bergidik
membayangkan luka bakar yang akan dideritanya kalau terkena cairan panas itu. Untunglah gerakan refleknya cukup bagus.
Bianca menoleh untuk tersenyum lega kepada Vicky, ketika menyadari bahwa Vicky dan Andro sedang tertegun dan menatapnya dengan tajam.
Bianca menundukkan kepalanya dan kemudian menyadari bahwa dia sudah berbuat kesalahan yang luar biasa fatal... Karena dia terlalu panik menghindari kopi panas itu, tanpa sadar dia sudah melompat berdiri dari kursi rodanya.