
"Mama, mungkin harus maklum, Ciara pasti belum memikirkan hal sejauh itu, dan Mama salah menanyakan itu kepadanya, karena seharusnya Mama bertanya padaku, karena aku yang sudah memiliki gambaran seperti itu."
"Maksudmu??" Tanya Mamanya lagi.
"Ya, ketika aku memutuskan melamar Ciara tadi malam, tentu aku sudah memiliki gambaran tentang hubungan kami akan kami bawa kemana. Dan jika boleh jujur, aku sebenarnya juga tidak ingin berlama-lama, aku ingin bisa segera menikahi Ciara. Tetapi aku tahu bahwa Ciara pasti tidak akan menyetujuinya. Iya kan sayang???? Kalau boleh tahu kau ingin memberiku waktu berapa lama lagi untuk bisa menunggu kesiapanmu???" Tanya Vicky.
"Eh.....aku tidak memiliki target untuk sebuah hubungan. Bukankah yang terpenting adalah kesiapan diri kita, serta seberapa yakin kita untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius seperti sebuah pernikahan,"
"Lalu kalau sekarang aku bertanya apakah kau sudah siap jika aku berniat ingin segera menikahimu????" Tanya Vicky. Kali ini dia ingin mengetahui sejauh apa Ciara akan menyikapi pertanyaan dan juga ajakannya untuk menikah. "Aku ingin bisa segera memiliki seorang istri agar ada yang merawatku, membuat kan ku makanan, seperti halnya yang di lakukan Geffie kepada kakakku. Aku sangat ingin seperti mereka, menjalani kehidupan rumah tangga yang membahagiakan, dan saling melengkapi satu sama lain. Bagaimana menurutmu sayang??"
"Kau ingin kita segera menikah???" Tanya Ciara memastikan.
"Tetapi Vicky, kau nanti jiga pasti akan menjalani rumah tangga seperti Garviil dan geffie." Sela Mama Vicky. "Kau tinggal disini dan Ciara tinggal di Singapura."
"Tidak masalah Mama, aku bisa pindah ke Jakarta, dan membantu Papa disana, sedangkan Ciara tetap di Singapura, tidak terlalu jauh kan??? Perjalanannya pun hanya kurang dari dua jam, seperti halnya dari Boston ke Washington DC. Aku bisa mengunjungi Ciara di Singapura atau Ciara bisa ke Jakarta." Vicky kembali melempar senyumnya. "Tidak akan ada masalah apapun, bahkan aku juga bisa untuk berkarir di Singapura. Kebahagiaan seorang laki-laki itu adalah ketika mereka menikah dan menemukan perempuan tepat yang menjadi istrinya. Dan aku merasa bahwa Ciara adalah perempuan tepat itu. Aku berharap dia bersedia untuk menikah denganku."
Ciara memandangi Vicky mencari keseriusan di mata lelaki itu dan benar, dia menemukannya. Vicky, meskipun dia sering bercanda dan juga penampilan tidak pernah serius, tetapi untuk masalah cinta dan hubungannya, Vicky benar-benar sepenuh hati. Ciara tidak menemukan keraguan disana. Dan dia pasti akan bahagia sekali jika bisa menjalani keseharian bersama dengan Vicky. Hidupnya pasti akan berwarna. Hanya saja, jika dia menikah dengan Vicky, Ciara bingung bagaimana harus menghadapi Bianca. Sementara dia sudah sangat yakin dan mantap dengan keseriusan Vicky. Ciara ingin bahagia bersama Vicky. Hanya itu yang di inginkan nya saat ini. "Vicky, aku rasa ini terlalu buru-buru, aku belum punya jawaban atas pertanyaan dan aja kan mu itu." Gumam Ciara.
"Ciara sayang, kau punya banyak waktu memikirkannya, aku hanya ingin menyampaikan apa yang ada dihatiku saja. Memberitahu mu supaya kau bisa memikirkannya dengan baik. Kalau kau sudah memutuskan dan bahkan sudah memberitahu keseriusan ku pada kedua orang tuamu, kau bisa memberitahu ku agar aku bisa mendatangi mereka dan mengungkapkan niatku secaa langsung pada mereka dan meminta restu mereka. It's so simple baby," Vicky tersenyum. Dan Ciara membalas senyumannya lalu menganggukkan kepala nya, meminta pada Vicky waktu untuk berpikir dan Vicky tidak ke per masalah kan nya.