
"Kau membuat ini???" Tanya Ciara pada Vicky.
"Ya, maaf aku lancang, tetapi itu terjadi begitu saja. Aku memang suka melukis dan membuat gambar. Kau bisa menyimpannya. Aku permisi." Vicky tersenyum lalu meninggalkan perempuan itu.
Sementara Ciara hanya terdiam memandang kepergian laki-laki yang tadi menabraknya lalu kemudian memberikan sketsa dirinya. Lelaki itu meski terlihat urakan dengan rambut gondrong nya tetapi sangat tampan dan manis apalagi ketika tersenyum. Dan laki-laki ith tampak baik, dia membuat sketsa seseorang bukan untuk koleksi nya tetapi justru di berikan kepada orang itu. Tetapi Ciara segera menggelengkan kepala nya. Dia sadar bahwa dia tidak boleh lagi jatuh cinta pada orang yang salah.
Vicky menjauh dari perempuan yang tidak dia ketahui nama nya itu. Dia hanya memberikan satu saja hasil karya nya pada perempuan itu, tetapi dia masih menyimpan satu karyanya lagi dengan detail wajah perempuan itu. Sedangkan yang dia berikan tadi hanyalah siluet samping saja. Entah kenapa Vicky merasa tertarik untuk melukis perempuan itu, seolah lebih menarik daripada pemandangan laut di depannya.
Vicky akhirnya menghampiri Garviil dan Geffie yang sedang duduk di pantai memandangi matahari yang sedang terbenam. Semburat jingga tampak begitu indah sekali, dan sayang untuk di lewatkan.
"Kau kesini juga Vic???" Ejek Garviil.
"Ini terlalu indah untuk di lewatkan." Gumam Vicky. Dia berharap kakaknya dan juga Geffie tidak melihatnya tadi saat sedang menghampiri perempuan itu. Bisa bahaya jika mereka melihatnya apalagi kalau sampai Geffie malaporkannya pada Tiffany.
Gaffie tampak sibuk dengan ponselnya dan mengabadikan moment matahari terbenam itu. Vicky juga terlihat sibuk dengan buku nya dan dia kembali membuat lukisan dengan pensil dan buku yang di pegang nya. Garviil diam menikmati dan sesekali Geffie mengajak kedua lelaki itu untuk berfoto bersama. Tidak jauh dari mereka juga ada Vineet dan Friddie serta Sanne dan Louis. Mereka juga sedang berbincang sambil menikmati sunset yang indah di depan mereka.
Dan hari pun mulai gelap, mereka semua beranjak dari pantai dan langsung kembali ke cottage. Sampai di cottage, Vicky memilih langsung pergi mandi, dan dia akan Bergantian dengan Garviil. "Vic....!!!" Panggil GarviIl membuat Vicky berbalik badan tidak jadi masuk ke kamar mandi.
"Ya????" Jawab Vicky.
"Kau tadi menghampiri seorang perempuan dan terlihat mengobrol dengannya. Siapa dia???" Tanya Garviil
Vicky terlihat terkejut dengan pertanyaan kakak nya. Ternyata Kakak nya melihat dia sedang menghampiri perempuan itu. "Kau melihatnya????" Tanya Vicky.
"Tentu saja, aku sejak tadi memperhatikan mu. Siapa perempuan itu???? Kau jangan main-main ya??? Untung Geffie tidak melihatnya. Katakan padaku siapa dia???" Garviil mencoba mengorek.
"Bukan siapa-siapa.."
"Kau jangan macam -macam Vic, kau sudah punya Tiffany, dan kau bilang kau akan berubah jadi berhentilah mempermainkan hati perempuan. Aku tidak mau hubunganku dan Geffie terjadi masalah hanya karena kau mempermainkan Tiffany. Aku tidak akan mengampuni mu."
"Bukan siapa-siapa, aku hanya menghampirinya karena ingin minta maaf padanya, tadi saat kau menelepon akj fokus berbicara denganmu dan tidak sengaja menabraknya. Dia tadi langsung pergi, aku belum sempat minta maaf dengan benar, karena tadi aku melihatnya jadi aku menghampirinya dan minta maaf lagi."
Garviil menatap tajam adiknya itu. "Jangan bermain-main denganku Vic, awas saja kalau sampai kau melakukan sesuatu yang menyakiti Tiffany."
"Tidak kak, kenapa kau khawatir sekali. Tidak akan, kau bisa tenang." Vicky tersenyum untuk menenangkan kakak nya. Vicky jiga sebenarnya tidak memiliki pikiran apapun mengenai perempuan yang tadi, dia hanya ingin memberikan lukisan nya saja dan tidak berniat apapun bahkan tidak ada ketertarikan atau naksir dan semacamnya. Dia sangat mencintai Tiffany. Dan jiga keinginan untuk melukis apapun yang di lihatnya itu sudah jadi kebiasaannya termasuk melukis perempuan itu.
Vicky kemudian masuk ke kamar mandi. Garviil hanya memandangi adiknya dalam diam Dia khawatir sekali Vicky akan berbuat seperti sebelum-sebelumnya dimana adiknya itu sangat playboy dan Vicky terkadang bisa memiliki dua sampai tiga kekasih sekaligus. Garviol sangat berharap Adiknya bisa berubah dan bisa menghargai perasaan seorang perempuan dan tidak mempermainkan nya. Apalagi saat ini Vicky sudah memiliki Tiffany yang juga terlihat sangat baik sekali. Terlebih Tiffany juga adalah sahabat baiknya Geffie. Jangan sampai hal itu bisa membuat Geffie menjadi kecewa kepada Vicky jika sampai Vicky melukai hati Tiffany.
Sebagai seorang kakak, Garviil selalu ingin bisa menjadi contoh yang baik untuk adiknya dan dia ingin membuat adiknya menjadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya. Kehidupan Vicky selama ini terlanjut bebas dan sesuka nya. Vicky tidak suka jika kehidupannya terlalu di campuri oleh orang lain, tetapi Vicky juga masih memiliki hati yang baik dan juga gayanya yang penuh candaan terkadang membuat Garviil merasa senang. Adiknya memang jauh berbeda dengannya yang terlihat kaku dan dingin serta serius dalam berbagai hal. Akan tetapi Garviil sendiri mengakui bahwa Vicky punya ketertarikan sendiri di mata banyak perempuan, kemudian hal itu menjadikan adiknya mudah bergaul dengan mereka sehingga timbul perasaan untuk mempermainkan mereka karena biasa nya mereka hanya melihat kepopuleran dan materi yang Vicky miliki. Vicky akan menyanjung mereka tinggi lalu bisa menjatuhkannya dengan sangat keras hingga mengakibatkan luka yang dalam. Garviil hanya khawatir jika ada salah satu di antara perempuan itu yang merasa tersakiti karena di tinggalkan Vicky lalu akan balas dendam yang bisa saja membuat Vicky dalam bahaya. Meski sejauh ini tidak pernah terjadi tetapi Garviil benar-benar khawatir sekali.
****
Satu minggu kemudian........
Garviil dan Vicky sudah sampai di Amerika beberapa hari yang lalu dan mereka langsung menyibukkan diri fi kantor Garviil. Vicky benar-benar menjalankan janji nya dengan baik. Dia membantu Garviil dalam pekerjaannya dan Vicky juga belajar dengan sangat baik. Garviil memberikan pekerjaan yang mudah untuk Vicky sebagai langkah awal. Garviil ingin membuat Vicky merasa lebih nyaman dan bisa menikmati pekerjaan itu dengan baik. Hal itu penting sekali untuk Vicky agar Vicky bisa beradaptasi dan tidak merasa bosan dengan.pekerjaan baru nya.
Vicky tampak serius membaca berkas. Terbuyarkan ketika ponselnya berbunyi. Senyumnya mengembang ketika tahu siapa yang menghubungi nya. "Hay baby..???" Sala Vicky.
"Will you come to my apartment after returning from the office?" Tanya Tiffany. Bertanya apakah Vicky mau datang ke apartemennya.
"You want me to drop by your apartment...." Tanya balik Vicky.
"Yeah, I just finished shopping and I was thinking of making dinner for you, so I wanted you to come. Can you come???" Tiffany menjelaskan jika dia baru selesai berbelanja dan berpikir untuk membuat makan malam untuk Vicky jadi dia mau Vicky datang.
"Of course. I'll be there after work, it's about time to go home." Tentu saja. Dia akan kesana setelah dari kantor, sebentar lagi sudah jam pulang.
"Alright, I'll wait for ya?"
"Yes, I'll be there later."
"Okay, I'm waiting for you, bye." Tiffany mengakhiri panggilannya. Sementara Vicky kembali meletakkan ponselnya di meja. Dia tersenyum karena tidak sabar untuk bertemu dengan Tiffany. Hubungan mereka semakin dekat dan Vicky sudah sangat nyaman sekali dengan Tiffany. Dan Tiffany juga sudah bersedia untuk mengirimkan cv di perusahaan ini bersama dengan Geffie atas rekomendasi dari Garviil. Hal itu tentu bisa membuatnya dan Tiffany bisa bersama setiap hari, berangkat dan pulang kantor bersama. Saat ini Tiffany masih menunggu kembali nya Geffie kesini. Dan Geffie bilang dia akan kembali dalam beberapa hari ke depan setelah berlibur ke Indonesia.
Sementara itu Garviil keluar dari restoran bersama sekretarisnya setelah melakukan meeting dengan Klien. Garviil memilih akan langsung pulang saja dan tidak kali lagi ke kantornya mengingat satu jam lagi sudah jam untuk pulang.
"Send the report tonight to my email, so I can study it and gather all the division heads for a meeting tomorrow afternoon." Ucap Vino pada sekretarisnya. Dia meminta sekretarisnya mengirim laporannya malam ini juga ke email nya supaya dia bisa mempelajarinya dan kumpulkan semua kepala divisi untuk meeting besok siang.
"Okay, I'll go straight home now, you can go back to the office."
Sekretaris Vino menganggukkan kepala kemudian masuk ke dalam mobil perusahaan sedangkan mobil Vino sendiri sudah berada di belakang mobil perusahaan. Tadi dia dan sekretaris nya berangkat bersama tetapi berbeda mobil.
Vino masuk ke mobilnya dan meminta sopirnya agar membawanya pulang ke rumahnya. Sejaka kembali kesini, Vino memilih kembali pulang lagi ke rumah Mama nya sedangkan Vicky memilih tinggal di kamarnya yang ada di cafe. Tentu karena supaya Vicky bisa dekat dengan Tiffany. Sedangkan Garviil memilih pulang karena Geffie tidak ada disini. Tetapi kekasihnya itu akan segera kembali kesini beberapa hari ke depan. Garviil senang sekali.
"Aku baru saja selesai meeting??? Kalau kau sudah bangun, hubungi aku."
Garviil mengirim pesan kepada Geffie. Memberitahu bahwa dia sudah selesai meeting. Ini adalah kebiasaan mereka berdua selalu berbagi kabar ketika selesai, sebelum dan sedang mengerjakan sesuatu. Meski Garviil tahu bahwa saat ini Geffie pasti sedah atau masih tidur mengingat jam di Indonesia adalah kebalikan dari jam disini.
Garviil memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku nya dan berfokus dengan jalanan. Dia sedang malas mengemudi dan. sengaja memanggil supir untuk mengantarnya meeting dan pulang ke rumahnya. Garviil senang sekali Geffie akan segera kembali kesini, dia sudah sangat merindukan kekasihnya itu, dan dia juga sudah berjanji pada Geffie akan mengajaknya ke rumahnya. Karena sebelumnya sama sekali dia belum pernah mengajak Geffie ke rumahnya. Tepatnya rumah milik Mama nya.
Lamunan Garviil terbuyarkan ketika ponselnya berdering, dia merogoh saku nya lagi dan ternyata itu adalah Geffie. Senyum tampan nya menghiasi wajahnya. "Hai sayang??? Kau sudah bangun ya????"
"Iyalah, kalau belum.pasti tidak akan menghubungi mu. Aku sudah bangun setengah jam yang lalu. Kau sudah pulang???"
"Ya, ini dalam perjalanan pulang, alu dengan supir. Tumben, biasanya balik tidur lagi???"
"Tidak bisa, ya sudah aku main ponsel saja. Kau pulang ke cafe???"
"Tidak....!!! Aku pulang ke rumah, V Vicky masih di kantor sepertinya, aku langsung pulang dan tidak kembali ke kantor, malas, dan lelah juga ingin istirahat."
"Tumben malas??? Biasanya paling semangat kalau soal kerjaan."
Garviil tersenyum. "Malas karena penyemangat ku tidak ada disini. Aku ingin kau segera datang, aku benar-benar merindukanmu."
"Aku pasti kesana, tinggal dua hari lagi, jadi bersabarlah...!! Apa kau tahu, aku terbangun karena aku mimpi buruk, dan tidak bisa tidur lagi."
Garviil mengernyit. "Mimpi buruk???? Mimpi apa???"
"Aku tidak mengerti maksudnya apa, aku bermimpi aku sedang menangis histeris ketika ada seseorang b yang tidak kutahu siapa pergi begitu saja menjauh dan meninggalkanku. Aku mengejarnya tetapi dia terus berjalan mengabaikan ku lalu menghilang begitu saja. Aku menangisi nya karena aku tidak ingin di tinggalkan olehnya, tapi sungguh aku tidak tahu siapa orang itu, dia perempuan memakai baju putih, di berjalan membelakangiku, sehingga membuatku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Aneh kan????"
"Sudah jangan terlalu di pikirkan, mungkin hanya mimpi buruk saja, kau pasti tidak berdoa ya sebelum tidur???? Maka nya mimpi buruk."
"Tiba-tiba aku punya firasat buruk." Gumam Geffie.
"Jangan berpikir seperti itu, mimpi hanya bunga tidur jadi jangan terlu di pikirkan. Yang ada kau malah tidak bisa tenang, kadang ketakutan itu bisa menjadi kenyataan jika kita terlalu meyakini nya. Stay positive, semuanya akan baik-baik saja. Tenangkan pikiranmu, lebih baim kau sholat."
"Aku baru selesai melakukannya setelahnya aku bermain ponsel dan membaca pesanmu."
"Baguslah kalau begitu, perasaanmu akan lebih tenang sekarang."
Mereka melanjutkan obrolan mereka cukup lama sampai kemudian tidak sadar Garviil sudah sampai di rumahnya. Garviil memberitahu Geffie bahwa dia sudah sampai rumah dan akan masuk, meminta Geffie untuk mengakhiri panggilannya dan setelah dia mandi, dia akan menghubungi Geffie lagi. Geffie setuju dan panggilan itu di akhiri. Garviil memasukkan lagi ponselnya ke saku nya dan turun dari dalam mobil.
"Garviil.......!!!!!" Teriak seseorang membuat Garviil yanv hendak membuka menekan bel rumahnya pun berbalik bdan dan menengok ke belakang. Wajah Garviil berubah masam ketika mendapati Bianca berada disini. Perempuan itu berjalan menghampiri nya dan tersenyum manis, tetapi senyuman itu tidak lagi membuat Garviil luluh. Ingatan semua pengkhianatan Bianca membuatnya sangat terluka sekali sehingga Garviil tidak akan pernah bisa melupakan semua itu seumur hidupnya.
"Hai...." Bianca mengulurkan tangannya untuk menyalami Garvill.
"Kenapa kau kesini???? Ada perlu apa???"
"Ingin saja, sudah lama kita tidak bertemu." Binca mencoba tersenyum. "Terakhir bertemu adalah di kantormu, dan aku tahu suasana canggung dan tidak enak melanda kita berdua saat itu. Aku minta maaf."
Garviil tidak membalas uluran tangan Bianca. "Biasa saja, aku tidak terlalu memikirkannya karena aku sudah tahu bagaimana sifat licikmu, kau memanfaatkan banyak hal dariku, kau mengkhianatimu untuk laki-laki lain lalu kau hamil dan berusaha untuk mendapatkan rasa kasihan dan tanggung jawabku, kau kecelakaan dan berpura-pura lumpuh agar aku tidak meninggalkanmu lalu setelah kau mendapatkannya, kau melakukan kebusukan selanjutnya dengan mengakhiri hubungan kita lagi hanya karena kau mendapatkan adikku setelah sebelumnya kau tidak bisa memiliki nya dan memanfaatkan ku. Kau sejak awal memang brengseeek Bianca. Sorry jika aku mengatakan ini karena itulah fakta nya"
"Aku minta maaf untuk semua itu Viil."
"Aku tidak terlalu memikirkannya lagi sekarang."
"Apa itu karena kau sudah memiliki pacar baru???" Tanya Bianca.
"Tanpa memiliki nya pun aku tidak memikirkan semua kebusukanmu karena hanya akan meninggalkan kemarahan dan menambah dosa saja. Aku sudah terlalu banyak melakukan dosa, sehingga aku tidak mau menambah dosa hanya untuk membencimu." Ucap Garviil menahan emosi nya.