Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Pengintip



Perempuan itu datang lagi malam ini, dan memesan segelas anggur untuk teman menulisnya. Victor mengernyit, dari info yang didapatnya dari Andro, Aire adalah seorang mahasiswi semester akhir. Tetapi sepertinya Aire sedang murung karena beberapa kali perempuan itu hanya menghela napasnya di depan laptopnya, lalu mengawasi layar laptop itu dengan tatapan mata kosong.


Victor merasa seperti pengintip yang memalukan ketika berdiri di depan kaca balkon atas dan mengamati Aire seperti ini, tetapi dia tidak bisa menahan diri. Sudah dua hari ini Aire selalu datang. Setiap pukul sembilan lalu akan mengerjakan tugasnya sampai dini hari sebelum kemudian pulang ketika terang tanah menyentuh langit. Victor tidak bisa menahan ketertarikannya untuk mengintip ke bawah, menanti kedatangan Aire. Dan sejauh ini, perempuan itu tetap datang.


Ada keinginan tertahannya untuk mendekati perempuan itu, tetapi dia menahan diri. Dia takut kalau dia terlalu mengganggu, Aire akan merasa segan dan kemudian tidak akan datang lagi.


"Perempuan itu datang lagi." Andro yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu ruang kerja Victor bergumam sambil tersenyum penuh pengertian, mengamati


Victor. Karena Andro juga berasal dari Indonesia, maka dia terbiasa berbicara dengan Victor menggunakan bahasa itu. Mereka belum tahu jika sebenarnya Aire juga berasal dari Indonesia. "Kau sepertinya sangat tertarik kepadanya."


"Kenapa kau bisa berpikiran begitu?" Victor mundur dari kaca itu dan melangkah menuju kursi kerjanya. Andro adalah tangan kanannya, orang kepercayaannya. Lelaki itu dulu adalah pegawai setia ayahnya, dan orang yang paling dipercaya oleh ayahnya. Dan Ayah Victor sedang mengurus bisnis di Indonesia dan bisnis cafe ini milik Mama Victor. Dan Andro lah yang selalu membantu Victor, memberinya pendapat dari sisi pengalaman, melengkapi apa yang tidak dimiliki oleh Victor.


Karena itulah orang tua Victor menghadiahi Andro cafe ini, tetapi lelaki setengah baya itu menolaknya. Dia hanya ingin tinggal di sebuah apartemen mini di bagian atas cafe dan tetap ingin bekerja menjadi pelayan meskipun Victor dan orang tua nya sudah melarangnya. Tetapi Andro bilang bahwa menjadi pelayan cafe ini bisa membantunya tetap hidup. Dia kesepian dan bercakap-cakap dengan para pelanggan bisa menyembuhkan sepinya, karena itulah keluarga Victor mengizinkan Andro menjadi pelayan di Cafe ini.


Andro meletakkan kopi panas untuk Victor dan tersenyum, "Kau menyapanya malam itu, kau bahkan tidak pernah menyapa pelanggan lain sebelumnya."


Victor tersenyum kecut, rupanya dia terlalu mudah terbaca oleh Andro. "Tetapi bukan berarti aku tertarik kepadanya."


"Oh ya?" Andro mengangkat alisnya, "Sebelumnya kau tidak pernah menginap di cafe ini." Seperti halnya Andro, Victor mempunyai apartemen sendiri di sisi lain di bagian atas cafe ini. Tetapi dia memang jarang memakainya, karena dia selalu pulang ke rumahnya, kawasan hijau dan sejuk di pinggiran kota. "Dan aku hitung, sejak kau menyapa perempuan itu, kau selalu datang kemari setiap malam, tanpa absen."


Victor terkekeh mendengar perkataan Andro. "Aku memang tidak bisa membohongimu ya."


"Aku sudah mengenalmu sejak kecil." Andro tertawa, "Kau tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya dengan perempuan manapun." Andro berdehem, "Begitu juga ketika dengan Bianca."


Victor tertegun ketika nama Bianca disebut. Wajahnya sedikit memucat, dia lalu memalingkan muka dengan murung. “Tetapi pada akhirnya semua akan tetap sama bukan?" gumamnya sedih, "Seberapa besarpun aku tertarik kepada perempuan itu, aku tidak akan pernah bisa memilikinya."


"Kau bisa memilikinya kalau kau mampu mengambil keputusan tegas."


"Tidak." Victor mengernyit seolah kesakitan, "Aku memang bukan orang baik. Tetapi aku masih punya hati."


Tuhan tahu dia sudah tidak mencintai Bianca tunangannya. Tetapi dia masih punya hati. Kesalahannya harus dibayar, meskipun perasaannya yang dikorbankan.


***####


Victor kembali mengunjungi Bianca di rumahnya. Victor baru saja makan malam dengan Bianca. Perempuan itu memasak lagi untuknya. Victor selalu berusaha sebaik mungkin untuk menjaga sikapnya di depan Bianca. Dia harus terlihat bahagia ketika bersama perempuan itu meski sejujur nya tidaklah demikian. Victor tidak tahu apakah hidupnya akan selalu seperti ini selama nya, dan apakah dia nanti bisa menjalani hubungan yang di dasari dengan perasaan terpaksa. Bahkan sampai kapan pun ia tidak akan bisa melupakan pengkhianatan Bianca. Setiap melihat wajah perempuan itu, hati Victor begitu sakit sekali. Selalu tergambarkan bagaimana Bianca mengkhianati nya. Bagaimana Bianca menghancurkan kepercayaan yang dia berikan dan Victor selalu terbayangkan bagaimana hubungan Bianca dan laki-laki itu dulu. Semua itu lah yang merusak dan mengikis perasaan Victor pada Bianca.


Victor dan Bianca saat ini sedang duduk di kursi yang adad di halaman belakang rumah kakak Bianca. Ada taman kecil disini, meski malam, tetapi pencahayaannya cukup bagus sehingga terang. Victor duduk dan menyesap teh yang di buat oleh Bianca.


"Victor????" Suara lembut Bianca menggugah Bianca dari lamunannya, membuat Victor menoleh dan langsung berpura-pura tersenyum lembut.


"Iya sayang???"


Bianca menyelipkan rambut panjangnya yang indah di belakang telinganya, dan tersenyum lembut.


“Kau pucat sekali dan sejak tadi murung??? Kau tidak enak badan ya???” Tanya Bianca.


“Ya!!” Jawab Victor. “Aku memang sedikit tidak enak badan." Itu yang sesungguhnya. Dia sungguh merasa tidak enak badan, dia tidak suka berada di sini, tetapi dia harus. Setiap akhir pekan setelah kesibukan kantornya berakhir, dia harus berada di sini, menghabiskan waktunya bersama Bianca, tunangannya. Tetapi pikirannya mengembara, ke cafe itu, tempat perempuan bernama Aire itu selalu datang dan menulis di sana sampai dini hari.


Victor tidak sabar untuk segera pergi dari sini dan menuju Cherry’s Cafe, mengamati Aire dari kejauhan.


"Pulanglah." Bisik Bianca lembut, penuh pengertian, "Mungkin kau kelelahan dan butuh istirahat."


Bianca selalu seperti itu, begitu lembut dan penuh pengertian. Apapun yang dilakukan Victor dia selalu mengerti. Apalagi yang sebenarnya Victor cari?


Ditatapnya Bianca dengan senyuman lembut, kemudian dia menarik Perempuan itu mendekat dan mengecup keningnya,


"Kau mau kuantar masuk???" Tanya Victor.


"Tidak sayang, pulanglah, aku bisa masuk sendiri." Jawab Bianca tanpa kehilangan senyumnya.


Victor menghela napas, lalu menyentuhkan jemarinya di rambut Bianca dengan lembut, "Terimakasih sayang, sampai ketemu lagi besok ya." Ucap Victor.


Bianca mengangguk, memundurkan kursi rodanya dan memutarnya memasuki rumah. Victor menunggu sampai pintu rumah itu tertutup, lalu melangkah pergi, tanpa menoleh lagi. Dia harus bergegas ke cafe untuk melihat Aire. Dia sangat merindukan perempuan itu dan ingin segera melihat nya. Konyol tetapi inilah yang di rasakan oleh Victor saat ini. Bertemu dan melihat Aire. Jika bisa dia ingin sekali berbicara lagi. Suara Aire yang begitu lembut dan merdu membuat Victor semain merindukannya.