Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Mengobrol dengan Gienka



"Aku langsung ke kantor Papa saja ya???? Salam untuk Kak Gienka dan Friddie." Ucap Garviil. Saat ini dia sudah sampai di rumah Mama nya Gienka.


"Iya, aku akan menyampaikannya." Geffie tersenyum sambil melepaskan seat belt nya. Geffie hendak membuka pintu mobil Garviil tetapi lelaki itu menahannya.


"Setidaknya beri aku sebuah kecupan." Ucap Garviil.


Geffie mendekat dan kemudian mendaratkan kecupan manis di bibir Garviil. "Sampai jumpa lusa, kami akan menjemputmu di rumah." Ucap Geffie.


"Oke see you..."


Geffie melambaikan tangannya kemudian turun dari mobil. Garviil memutar mobilnya dan kemudian meninggalkan tempat itu, baru kemudian Geffie masuk ke rumah Mamanya Gienka atau tante nya.


Kebetulan ternyata di depan ada Oma nya. "Oma Sari....!!!" Panggil Geffie kemudian berlari menghampiri ibu dari Om nya itu.


"Geffie sayang..."


Geffie mencium tangan Oma nya lalu memeluknya. "Oma Sari apa kabar????"


"Oma baim dan sehat sekali, kau datang bersama temanmu ya??? Kenapa tidak di suruh mampir dulu..???"


"Dia buru-buru ada urusan jadi tidak bisa mampir, kakak masih disini???" Tanya Geffie.


"Kakakmu ada di belakang bersama dengan Aunty Elea."


"Owh... Ayo antar Geffie masuk Oma."


"Baiklah ayo kita masuk."


Mereka berdua masuk melalui garasi mobil menuju area belakang rumah. Dimana disana ada ruang keluarga dan juga kolam renang. Gienka terlihat sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama Mama nya.


Melihat kedatangan Geffie, Elea berdiri dan tersenyum.menyambut kepknakannya yang sudah lama tidak dia jumpai.


"Aunty El....!!!" Ucap Geffie kemudian memeluk Elea.


"Keponakan Aunty yang cantik akhirnya kau pulang juga. Kau apa kabar sayang???" Tanya Elea.


"Aku baik sekali seperti yang aunty lihat."


Elea tersenyum. "Tadi kakakmu bilang kau pergi ke rumah temanmu, dan akan kesini, jadi aunty sejak tadi menunggumu, apa kau naik taksi kesini???"


"Ah tidak aunty, tadi aku di antar oleh temanku."


"Diantar??? Lalu kemana dia sekarang???"


"Sudah pergi, dia ada urusan jadi tidak bisa mampir."


"Oh sudah pergi ya??? Mengobrol lah dengan kakakmu, Aunty akan membuatkan minum untukmu."


"Thanks Aunty. Kak Friddie ke kantor ya???"


"Iya, dia ke kantor, dia meninggalkan pekerjaannya hampir satu minggu karena ikut ke Boston untuk menemui mu dan merayakan wisuda mu jadi dia sibuk sekali, pagi-pagi sudah berangkat." Elea kemudian meninggalkan ruang tengah dan mengambilkan Geffie minuman.


"Bagaimana??? Kau tadi ke rumah Garviil???" Tanya Gienka.


"Mama nya baik sekali dan menyambut ku dengan ramah, bahkan dia membuatkan kue untukku, dan ini kue nya, aku di suruh membawa nya pulang. Enak sekali, kakak harus mencoba nya." Geffie membongkar paperbag berisikan kue yang di bawakan oleh Mama nya Garviil.


"Kenapa Garviil tidak kau suruh mampir sebentar.???" Tanya Gienka lagi.


"Dia harus ke kantor Papa nya, sudah janji akan kesana jam dua, jadi dia buru-buru, bahkan tadi aku sempat memintanya mengantar ku ke makam Oma nya juga jadi ya dia tidak bisa mampir. Kakak, nanti bagaimana kalau orang di rumah cerita pada Mama dan Papa kalau ada Garviil datang ke rumah. Bukan apa-apa kak, aku masih belum siap untuk membahas Garviil kepada mereka."


Gienka tersenyum menatap adiknya. "Tenang saja, aku sudah memberitahu mereka agar jangan mengatakan apapun pada Papa Iel dan Mamah. Mereka bisa menjaga dengan baik. Waaahh bau nya harum sekali, sini berikan padaku, aku lapar sekali."


Geffie tersenyum dan membuka kotak berisi kue itu membiarkan kakaknya memilih sendiri. Geffie tahu kakaknya sangat suka sekali dengan cokelat. Segala hidangan dengan cokelat kakaknya suka sekali, apalagi kakaknya saat ini sedang hamil dan semakin gila dengan cokelat.


"Ceritakan bagaimana pertemuanmu dengan calon mertuamu itu. " Goda Gienka. "Mumpung Mama dan Oma ada di dapur."


"Mama Garviil sangat baik sekali, dia terlihat sangat menyukai ku, dia mengobrol panjang lebar denganku, orangnya sangat menyenangkan sekali. Garviil bilang, Mama nya tidak pernah seperti ini sebelumnya kepada kekasih-kekasihnya yang dulu, tetapi sikapnya sangat berbeda ketika bertemu denganku. Ya, memang terlihat jelas sekali sih Mama Garviil sangat menyukai ku."


"Itu awal yang baik, artinya kau di terima olehnya, lagipula siapa sih yang akan menolak adikku yang cantik ini.??? Tidak akan ada yang bisa menolak."


"Kakak, kau berlebihan sekali." Geffie menyenggol lengan Gienka. "Diamlah, aunty datang." Ucap Geffie ketika melihat Elea datang membawa minuman untuknya.


"Eh ada kue, dari mana Geff???" Tanya Elea.


"Ah itu aunty, dari Mama nya teman tadi yang memberikannya saat aku ke rumahnya. Aunty coba deh, kue nya enak sekali."


Elea tersenyum dan duduk di sofa kemudian mengambil kue yang di tawarkan oleh Geffie. "Geffie sayang, kau akan disini saja sampai kau pindah ke universitas barumu??? Atau kau akan kembali lagi ke Boston???" Tanya Elea.


"Hanya dua minggu saja Aunty, setelah itu saya akan kembali ke Boston. Ya supaya lebih mudah saja jika perlu mengurus sesuatu, hadi aku memilih untuk stay disana saja, lagipula tinggal beberapa bulan lagi saja, nanti setelah kakak kembali ke Washington Dc, aku akan menyusulnya kesana. Aku tidak mau di repot kan dengan perjalanan dari sini kesana, melelahkan jadi lebih baik stay disana saja."


"Itu dia Aunty, hanya beberapa bulan saja lagi, jadi untukku tidak masalah. Mungkin nanti kalau kakak sudah melahirkan aku juga akan pulang lagi untuk beberapa hari. Aku tidak mah melewatkan untuk.melihat keponakanku yang cantik."


Elea tersenyum. Dia memakan kue yang di bawa oleh Geffie dan memuji kalau kue itu sangat enak sekali. Elea sangat sayang pada Geffie layaknya dia menyayangi Gienka dan Friddie. Tidak ada penghalang di antara ketiga bersaudara itu. Dia melupakan segala permasalahannya di masa lalu dengan Ariel. Dan menjalani hubungan keluarga yang baik mengingat suaminya adalah kakak Ariel. Rasa sayangnya pada Geffie timbul dari perasaan sayang yang juga di berikan oleh Ariel dan Masa pada Friddie. Mereka berdua sempat terlambat memiliki momongan setelah menikah selama beberapa tahun sehingga kedua nya dulu sangat menyayangi Friddie. Dan menganggap Friddie sebagai anak mereka sendiri layaknya Gienka. Elea mencoba bersahabat dengan masalalu nya, dan menjadikannya pelajaran yang luar biasa untuk kehidupannya. Tuhan telah mentakdirkan demikian maka takdir itu harus di jalani dan di jadikan batu loncatan untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Saat ini semua nya sudah berjalan sangat baik, sehingga jangan sampai harus terkotori oleh ingatan masalalu yang menyesakkan dada itu.


"Kakak mau menginap disini???" Tanya Geffie.


"Kakak akan pulang, Kyra sedang di rumah mertua nya, kasihan Amam sendirian. Oma dan Opa sedang ada di Bogor. Kau terserah mau disini atau ikut kakak."


Geffie memandangi Kakak nya dan tersenyum. "Aku ikut kakak saja, tidak apa-apa kan Aunty???? Aku mau tidur dan menemani kakak supaya tidak kesepian."


Elea tersenyum. "Tidak apa-apa sayang, kau pasti juga merindukan kakakmu, jadi pergilah dengan dia." Gumam Elea. Dia tahu Gienka saat ini butuh dukungan dari banyak orang. Gienka sedang hamil dan suami nya sedang bertugas keluar Angkasa selama beberapa bulan. Dan belum kembali. Biasanya dia dan Maysa yang bergantian untuk ke rumah mertua Gienka, bergantian menemani Gienka tidur, takut Gienka membutuhkan sesuatu di malam hari. Mereka bergantian dengan Mertua Gienka juga. Dan kali ini bagus karena Geffie sudah pulang dan bisa menemani kakaknya.


*****


Malam harinya. Geffie duduk di rooftop yang ada di rumah mertuanya Gienka. Dia duduk di temani oleh Gienka tentu nya. Di rooftop ini juga ada kamar dari Gienka. Rooftop yang berada di lantai 4 rumah mewah milik keluarga suami Gienka.


Geffie memandangi kakaknya yang duduk diam. Geffie tahu sebenarnya kakaknya sangat merasa kesepian dan sangat merindukan suami nya. Bukan hal yang mudah melewati masa kehamilan tanpa ada suami yang berada di sampingnya. Dukungan saat inj sangat di butuhkan oleh kakaknya. Dan keluarga mereka bekerja sama dengan sangat baik untuk tidak pernah membiarkan Gienka sendirian dan merasa kesepian. Semua bekerja sama dengan baik untuk.menemani Gienka tidur. Terkadang kedua orang tua nya juga datang kesini, selain itu uncle dan Aunty nya juga datang menginap, tentu nya keluarga mertua kakaknya juga selalu standby untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan Kakaknya dengan sangat baik. Geffie merasa senang sekali memiliki keluarga yang selalu mendukung satu sama lain. Merasa bersyukur di kelilingi oleh orang-orang yang baik.


Gienka menoleh dan memergoki adiknya sedang menatapnya. "Kenapa Dek???" Tanya nya.


"Tidak apa-apa, kakak kenapa diam saja, kangen kak Ky ya???"


Gienka tersenyum. "Tentu saja. aku menunggunya pulang, sebentar lagi dia akan kembali."


"Senang dong??? Kenapa kakak malah diam saja???? Kakak pasti sering melamun seperti ini ya kalau sendirian????" Tanya Geffie dan Gienka hanya tersenyum. "Semua nya akan baik-baik saja, kalian salingencjntai dan kak Ky juga akan bahagia sekali saat pulang nanti jika dia tahu bahwa kakak sedang hamil. Aku terkadang iri dengan kalian berdua. Hubungan kalian begitu manis dan kalian saling mencintai. Kesetiaan Kakak sejak dulu sampai saat ini begitu luar biasa. Aku berharap bisa seperti kakak. Aku juga berharap kelak bisa bertemu dengan laki-laki yang memiliki sikap seperti kak Ky, penuh cinta dan perhatian."


Gienka tersenyum. "Kau sudah mendapatkannya, tinggal menjaga nya saja. Garviil dia sangat baik dan binar di matanya penuh cinta untukmu. Kau pasti bisa melihatnya kan???"


"Iya. " Geffie menganggukkan kepala nya. "Menurut kakak, apa nanti Papa akan setuju jika akh dengan Garviil???"


"Why not???? Papa pasti akan setuju jika kau membawa laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Papa memiliki hati yang luar biasa baik di balik sikap acuh dan super dinginnya itu. Papa selalu mengalah pada kita berdua sejak dulu, saat kita keras kepala dan harus mendapatkan apa yang kita mau. Papa memang akan menolak di awal tapi endingnya dia selalu memberikan apa yang kita mau. Iya kan???"


"Iya, kakak benar sekali. Aku dulu pernah meminta di belikan kuda poni saat kecil, tetapi Papa menolaknya, aku menangis dan akhirnya dia membelikannya walaupun pada akhirnya aku tidak berani mendekati kuda poni itu, hahaha." Geffie tertawa.


"Itulah kenapa kakak bilang bahwa Papa tidak semenyeramkan yang kita bayangkan. Saat kakak dulu mengatakan ingin menikah dengan Kyros, Papa marah sekali tetapi pada akhirnya Papa memberi restu, karena Papa sangat menyayangimu. Jadi kau tidak perlu takut memperkenalkan Garviil, dia laki-laki yang baik, itu bisa terlihat ketika bertemu dengannya, jadi Papa pasti akan menyukai nya "


"Mungkin sekarang belum saatnya, nanti saja kak, aku pasti akan memperkenalkan Garviil pada Papa."


"Ya, carilah waktu yang menurutmu tepat, supaya kau bisa benar-benar siap, dan jangan lupa katakan pada Garviil agar nanti dia bisa menyiapkan mental untuk menghadapi Papa. Hehehe."


"Iya kak.!!!" Geffie tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan.kemajuan hubungan kalian sejauh ini???" Tanya Gienka.


"Garviil menginginkan kami menjalani hubungan yang serius, aku mengatakan iya, tetapi tentu aku harus melihat keseriusannya dulu, sejauh apa dia ingin berkomitmen. Sebum denganku, Garviil pernah gagal dalam menjalin hubungan, bahkan mereka sudah bertunangan dan siap menikah tetapi semua itu gagal."


Gienka mengerutkan dahi nya. "Gagal??? Kenapa gagal??? Apa Garviil berselingkuh, atau kau yanv membuat hubungan mereka gagal???"


"Dih kakak,ana ada yang seperti itu, Garviil yang di khianati oleh tunangannya."


"Apa....?????" Gienka terlonjak. "Garviil di khianati??? Bagaimana bisa.???"


Cerita itupun mengalir dari mulut Geffie, dia menceritakan hubungan Garviil sebelumnya dimana Garviil di khianati begitu kejam oleh tunangannya. Tunangan Garviil berselingkuh hingga hamil lalu mengaku pada Garviil saat mereka dalam perjalanan. Karena pengakuan itu membuat Garviil marah besar hingga terjadi kecelakaan yang mengakibatkan tunangan Garviil di vonis lumpuh. Karena hal itu, Garviil akhirnya memilih bertanggung jawab dan tetap melanjutkan pertunangannya meski dia sudah di khianati. Akan tetapi seiring berjalannya waktu Garviil merasakan bahwa cinta nya pada tunangannya musnah dan benar-benar hilang tetapi dia bertahan untuk tetap bertanggung jawab.


"Lalu apa yang terjadi???" Tanya Gienka penasaran.


"Ternyata tunangannya itu sembuh dari lumpuh nya dan dia bisa berjalan sebenarnya tetapi dia memilih menutupi kesembuhannya itu untuk tetap mengikat Garviil. Dan Garviil saat itu meminta bantuan temannya untuk menjebak tunangannya, dan itu berhasil, tunangan Garviil menjalin hubungan dengan temannya Garviil itu diam-diam, lalu tidak sengaja memergoki nya bisa berjalan. Dia bercerita pada Garviil, dan Garviil bekerja sama dengan adiknya untuk menjebaknya yang kedua kalinya." Ujar Geffie bercerita


"Terus-terus???"


"Vicky, adiknya Garviil.mengajak Bianca atau tunangan Garviil ke cafe, dan pelayan cafe yang sudah bekerja sama dengan Garviil sengaja menumpahkan kopi panas, lalu reflek Bianca berdiri dari kursi roda nya menghindari tumpahan kopi itu, jadilah semuanya terbongkar."


"Astaga..... Dia jahat sekali, berani sekali dia melakukan hal sekeji itu pada Garviil. Kasihan dong Garviil sudah di tipu."


"Bukan hanya Garviil kak, tetapi Bianca menipu keluarga Garviil, itulah kenapa Mama Garviil selama ini tidak menyukai Bianca. Mereka sangat kecewa dan terluka sekali, Garviil di perlakukan seperti itu."


"Ya, tentu saja mereka marah. Kasihan sekali." Gerutu Gienka.


"Tadi Bianca datang ke rumah Garviil untuk mengucapkan bela sungkawa tetapi di usir secara halus oleh Mama nya Garviil. Dan kami sempat bertemu, itu juga pertama kalinya aku melihat seperti apa Bianca itu. Dia sangat cantik sebenarnya."


"Lalu bagaimana???? Apa terjadi sesuatu???"


"Tidak kak, karena Mama Garviil langsung mengajakku masuk. Aku juga tidak mau terlalu sibuk mengurusi masalalu Garviil, itu masalalu nya dan biarkan jadi cerita untuknya, aku juga tidak ada hubungan dengan masalalu nya, aku tidak merasa merebut Garviil atau menghancurkan hubungan mereka, jadi aku bilang pada Garviil bahwa aku tidak akan terpengaruh oleh apapaun tentang Bianca. Aku tidak ada masalah dengannya."


"Itu bagus sekali, kau bersikap sangat dewasa. Kau tidak melakukan kesalahan apapun, hubungan mereka sudah di hancurkan sendiri oleh mantan tunangan Garviil itu. Kakak hanya berpesan, kau jangan pernah mencari musuh, jika kau merasa tidak bersalah ya abaikan saja, kau fokus saja pada dirimu sendiri dan juga hubungan mu." Gumam Gienka.