
Beberapa Minggu kemudian
Geffie sudah kembali lagi ke Boston bersama dengan Garviil serta sudah beraktifitas lagi seperti sebelumnya. Dia hanya beberap hai saj adi Washington Dc karena memang kakak Geffie yaitu Gienka harus pulang ke Indonesia. Jadi Geffi juga harum kembali ke Boston, selain itu Geffie juga harus ke kampus begitu juga dengan Garviil yang haruskembali bekerja di kantor.
Ketika ponselnya berbunyi lagi, hampir jam sepuluh malam, Geffie yang sudah berada dalam posisi meringkuk di ranjang dan bersiap tidur mengernyit. Dia sedang tidak enak badan, hari ini adalah hari pertama dia datang bulan dan dia selalu sedikit merasakan nyeri di perut bawahnya ketika sedang haid. Diangkatnya telepon itu,
“Halo???”
“Geffie???” suara Garviil yang dalam terdengar dari seberang sana. “Kenapa kau tidak datang kemari????"
“Oh... maaf Garviil.” Geffie lupa kalau sudah berjanji untuk ke cafe malam ini. “Aku... aku sedang tidak enak badan.”
“Kau sakit????” suara Garviil terdengar cemas. “Kau sakit apa????” Tanya Garviil.
“Tidak...!!!" Geffie bingung, kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya kepada Garviil.
“Aku antar ke dokter ya????”
“Eh tidak usah...” Geffie menelan ludahnya. “Ini sakit perempuan..!!!”
“Sakit perempuan???” Dari suaranya Geffie bisa membayangkan Garviil mengernyit di sana.
“Itu.. sakit perempuan setiap bulan.”
Hening. Tampak Garviil berusaha menelaah kata-kata Geffie, tetapi kemudian dia sadar,
“Oh.”
Tiba-tiba saja Geffie merasa geli karena sekarang Garviil yang salah tingkah.
“Maaf ya. Biasanya ini hanya berlangsung di hari pertama kok, mungkin kita bisa bertemu besok.”
Hening, lalu Garviil bergumam. “Aku ke sana ya????”
“Jangan, aku tidak apa-apa kok.”
“Aku akan kesana.” Garviil bergumam dengan nada keras kepala, lalu menutup telepon.
Ketika pintu apartemennya terbuka, Garviil berdiri di sana sambil membawa kantong kertas makanan dari cafenya. Lelaki itu menatapnya dengan cemas.
“Kau tidak apa-apa???” Tanya Gaviil.
Geffie menggeleng lemah, memundurkan langkahnya dan mempersilahkan Garviil masuk. “Sakit begini hanya bisa disembuhkan kalau berbaring.” Gumam Geffie.
“Kalau begitu duduklah berselonjor di sofa.” Garviil mendahului Geffie duduk di sofa, dan menunggu Geffie datang. Dia mengambil bantal kecil dan meletakkan di pangkuannya. “Sini, berbaringlah di sini."
Sejenak Geffie ragu, tetapi senyuman Garviil tampak begitu menenangkan, dan perutnya sakit. Dia tidak punya siapa-siapa di sini untuk mengeluh. Sambil menghela napas panjang dia duduk di sofa, Garviil langsung menariknya, menjatuhkan tubuh Geffie supaya kepalanya berbaring di bantal di pangkuannya. Rasanya begitu nyaman, meringkuk di pangkuan Garviil dengan jemari ramping lelaki itu mengelus rambutnya pelan.
“Kau sudah makan tadi???” Tanya Garviil.
Geffie menggelengkan kepalanya. “Aku tidak selera makan.”
“Aku bawakan kentang goreng dan sosis dari cafe kalau kau lapar malam-malam.” Jemari Garviil membelai rambut Geffie lembut, membuat Geffie mengantuk.
“Terima kasih Garviil...” suara Geffie melemah, dia menguap.
“Tidurlah, aku akan menungguimu di sini.!!!”
“Terima kasih ya.” Geffie mengulangi ucapan terimakasihnya, lalu menutup matanya, merasakan damai yang menenangkan. Dia memejamkan matanya dan terlelap.
Garviil duduk di sana, mengamati Geffie yang terbaring di pangkuannya. Hasraatnya untuk memiliki perempuan ini begitu besar, tidak pernah dia rasakan sebelumnya pada perempuan manapun. Perempuan ini adalah hasraatnya. Dan setiap kali pula Garviil rela melepaskan apa yang menjadi hasraatnya, demi keharusan untuk memikul sebuah tanggung jawab. Kali ini itu tidak akan terjadi. Garviil akan mempertahankan Geffie di sampingnya. Lelaki itu lalu menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Geffie yang terlelap dengan lembut.
“Aku mencintaimu, Geffie.” Gumamnya.
Geffie bangun di pagi hari dengan badan segar, dia membuka matanya dan menatap ruangan yang temaram. Masih sangat pagi sepertinya di luar, meskipun sinar matahari sudah menembus dengan malu-malu melalui gorden jendela. Sejenak dia merasa bingung, kenapa dia tidur di ruang tamu. Tetapi dia lalu sadar.
Garviil...
Dengan gerakan pelan, Geffie melihat ke atas dan menyadari bahwa kepalanya ada di atas bantal kecil di pangkuan Garviil. Lelaki itu tertidur pulas sambil terduduk, tubuhnya menyandar ke sofa dan kelihatannya sangat lelap. Geffie bergerak perlahan supaya tidak membangunkan Garviil. Tetapi rupanya Garviil terbiasa waspada ketika tidur karena dia langsung membuka matanya.
Mereka bertatapan, di pagi yang temaram dan udara dingin yang menguar sejuk dari jendela. Lalu Garviil tersenyum lembut.
“Selamat pagi!!!!”
Tiba-tiba Geffie merasa malu. Lelaki itu baru bangun dari tidurnya dan tetap terlihat sempurna, sedangkan penampilannya sekarang pasti sudah amburadul.
“Aku baik-baik saja.” Gumam Geffie.
“Sakit perutmu???” Tanya Garviil.
“Sudah mendingan.” Dengan gerakan canggung, Geffie duduk dan menjauh dari Garviil, menyadari bahwa semalaman mereka sudah tidur bersama.
“Izinkan aku membuatkan sarapan untukmu.” Garviil melirik ke arah kantong kertas makanan yang dibawanya dari cafe yang tidak tersentuh. “Mungkin makanan ini masih bisa diselamatkan.”
Garviil kelihatan tidak canggung sama sekali, seolah-olah tempatnya memang di sini. Dia meraih kantong kertas itu, setengah bersenandung melangkah ke dapur Geffie, dan memasak. Geffie sejenak termangu, menatap Garviil yang tampak begitu luwes dan santai memasak di dapur, lelaki itu tampak menikmatinya.
“Aku akan ke kamar mandi dulu ya.????” Gumam Geffie pelan dari sofa.
Garviil yang sedang memasak omelet beraroma harum dari bahan-bahan yang dia temukan di kulkas Geffie, menoleh dan tersenyum lembut. “Silahkan. Ketika kau kembali, makanan sudah siap.”
⧫
Dan Garviil memang benar. Ketika dia selesai mandi, dapur itu beraroma harum dengan telur dan daging asap yang sudah digoreng, serta aroma kopi yang menguar memenuhi ruangan.
“Makanlah!!!!!” Garviil mengedipkan sebelah matanya. “Sarapan spesial dari koki paling tampan di dunia!!!” Gumamnya menggoda.
Ketika kembali rambut Garviil basah dan dia tampak segar. Geffie sudah menyeruput kopinya dan mencicipi sedikit omelet yang luar biasa enaknya itu.
“Suka????” Tanya Garviil lembut.Dia duduk di seberang Geffie di meja makan itu lalu menyesap kopinya yang masih mengepul panas.
Geffie menganggukkan kepalanya. “Aku tidak pernah memakan omelet yang begitu enaknya. Omelet buatanmu memang lezat.” Gumam Geffie sambil tersenyum.
Tatapan Garviil di atas cangkir kopinya tampak begitu intens. “Kalau kau menikah denganku, aku berjanji akan membuatkan sarapan untukmu setiap pagi.”
Hampir saja Geffie tersedak omeletnya, dia mendongak dan menatap Garviil terkejut,
“Apa???”
Garviil terkekeh dan barulah Geffie sadar bahwa Garviil sedang menggodanya. Pipinya langsung memerah karena malu. “Tidak lucu, tahu.” Gumamnya sambil cemberut,
Garviil masih terkekeh, tetapi matanya bersinar dengan serius, “Aku tidak sedang melucu Geffie, bayangan itu ada di benakku. Kau dan aku menikah, lalu hidup bahagia selama-lamanya.”
Geffie merasakan jantungnya berdebar keras akibat kata-kata Garviil. “Bukankah masih terlalu dini membicarakan ini????”
“Ya.” Garviil menganggukkan kepalanya, tidak membantah kata-kata Geffie. “Tetapi aku tahu apa yang kurasakan, perasaan nyaman yang tidak pernah kurasakan sebelumnya kepada siapapun. Aku bisa saja duduk di sini berdua denganmu, tidak melakukan apa-apa dan tidak merasa bosan.” Lelaki itu menyentuh jemari Geffie dari seberang meja dan menggenggamnya sungguh-sungguh. “Beginilah yang kubayangkan akan kulalui bersama istriku nanti. Duduk bersama setiap pagi, mengawali hari dengan bahagia, lalu berpelukan ketika malam tiba.”
Kata-kata Garviil terdengar luar biasa indah sehingga Geffie terpesona. Dia membiarkan tangannya dalam genggaman Garviil dan menghela napas panjang.
“Boleh aku jujur kepadamu. Vicky berkata bahwa orang tua mu memiliki perusahaan besar, tidak hanya mencakup cafe dan restoran, tetapi ternyata kau seorang putri dari milyader. Kenapa Geff kau tidak mengatakan semuanya kepadaku???? Apakah kau tidak mempercayaiku???? Apakah kau berpikir bahwa aku mungkin hanya mengincar hartamu?“ Garviil tiba-tiba merasa terhina. “Kalau kau memang berpikir seperti itu, kau bisa tenang, aku tidak butuh hartamu."
"bukan seperti itu, aku tidak pernah suka membahas kekayaan orang tuaku, karena itu milik mereka bukan milikku. Jadi untuk apa membicarakannya. Dan kau sendiri juga sama, kau tidak hanya punya cafe itu saja kan?? Kau punya perusahaan disini."
Garviil tersenyum. "Ya begitulah.... Tapi untuk apa juga menyombongkan diri."
Geffie menggenggam erat jemari Garviil. “Aku merahasiakannya karena takut kau merasa canggung dan lari dariku. Aku hanya ingin kau memandangku sebagai gadis biasa, bukan sebagai anak dari seorang miliarder yang berkuasa.”
Gerviil tercenung, menerima betapa benarnya kata-kata Geffie. Kalau dari awal Geffie mengatakan bahwa dirinya sangat kaya, mungkin dia akan merasa ngeri untuk lebih dekat.
Kedekatan ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Ada suatu ikatan yang sangat erat di antara mereka, membuat dunia mereka saling tarik menarik. Dan bahkan Geffie bisa membayangkan kata-kata Garviil itu, mereka bersama-sama di pagi hari, memulai hari dengan bahagia dan berakhir di pelukan satu sama lain.
“Apakah kita akan berakhir di sana??? Di impianmu tentang hidup bahagia selama-lamanya?” tanya Geffie lemah.
Garviil tersenyum lebar. “Tentu saja Geffie, Happy Ending, seperti akhir dari setiap novel romantis yang kau baca.”
⧫⧫⧫
Siang harinya.......
“How??” Garviil bertanya cepat ketika Paul memasuki ruangannya. Paul memang sangat tampan, dia adalah sahabat Garviil ketika kuliah disini. Dan Paul adalah pengusaha muda sukses yang kemudian mengembangkan bisnis hiburan mencakup salon, butik, dan bakery serta rumah makan yang kebanyakan dibangunnya bekerjasama dengan Garviil.
"She's fascinated with me of course."Paul terkekeh mengatakn jika Bianca terpesona kepada nya "But not enough to embolden her to make the decision to cancel the wedding." Tetapi belum cukup untuk membuat Bianca berani mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan nya dengan Gaviil.
"You did everything I told you, didn't you???" Garviil bertanya apakah Paul sudah melakukan semua yang dia katakan kepada Paul.
"Of course, perfectly. I visited her at her house, brought her favorite roses, she was surprised that I could know her favorite. Then I told her about cats, as you know Bianca loves cats and has dozens of them at home. And once again she was stunned because I had so much in common with her. Everything was perfect from the dinner, the gentle attitude and one hundred percent attention. I'm sure her heart has already turned, there just hasn't been anything to make her make that important decision. Like you said, you want to prove that she can betray you, right?" Ujar Paul lagi memberitahu jika Tentu saja dia menjalankan semua keinginan Garviil, dengan sempurna. Dia mengunjungi Bianca ke rumahnya, membawakan bunga mawar kesukaannya, Bianca terkejut karena Paul bisa mengetahui kesukaannya. Lalu Paul menceritakan tentang kucing, seperti yang Garviil informasikan bahwa Bianca sangat menyukai kucing dan punya puluhan kucing di rumahnya. Dan sekali lagi perempuan itu terperangah karena Paul mempunyai banyak sekali kesamaan dengan dirinya. Semuanya sempurna mulai dari makan malam, sikap lembut dan perhatian seratus persen. Paul yakin hati Bianca sudah berpaling, hanya saja belum ada sesuatu yang membuatnya mengambil keputusan penting itu. Seperti yang Garviil katakan, bahwa Garviil ingin membuktikan bahwa Bianca mungkin bisa mengkhianatinya lagi atau tidak. Paul menatap Garviil tajam. “She didn't resist when I kissed her and we ended up making out, you're the one who asked me to do it if she didn't resist, and she did enjoy it." Ujar Paul. Memberitahu jika Bianca tidak menolak ketika Paul menciumnya dan mereka berakhir dengan berciinta, Garviil yang memintanya untuk melakukan itu jika Bianca tidak menolak, dan dia memang tidak menolak justru menikmatinya.
Sebuah bukti. Sebuah kenyataan akan pengkhianatan. Garviil sudah menduga bahwa Bianca tidak akan mampu bertahan. Perempuan itu mengatakan sangat mencintainya. Tetapi kalau dia sungguh mencintai, dalam keadaan apapun cinta tidak akan semudah itu tergoda untuk berkhianat. Mungkin sejak awal Bianca tidak mencintainya, mungkin perempuan itu hanyalah terobsesi untuk memilikinya.
"Then maybe it's time I met Bianca." Kalau begitu mungkin ini saatnya Garviil bertemu dengan Bianca.
⧫⧫⧫
Ketika Garviil datang, Bianca sangatlah gugup. Garviil sudah lama sekali tidak berkunjung. Dan Bianca... sudah terlalu sering menghabiskan waktunya bersama Paul hingga sampai di titik dia sudah tidak peduli lagi apakah Garviil akan datang atau tidak.
Tetapi pernikahan mereka sudah dekat, pernikahan itu adalah puncak impian Bianca untuk bisa memiliki Garviil pada akhirnya, dan dia tidak akan mundur. Bianca hanya berharap dia masih bisa menghabiskan waktu bersama Paul, mereguk seluruh perhatian yang tidak didapatkannya dari Garviil sebelumnya, dan semoga saja Garviil tidak akan tahu tentang perselingkuhannya sehingga pernikahan mereka akan berjalan mulus.
“Kemana saja kau selama ini ???.” Bianca memasang wajah merajuk, “Aku sampai berpikir bahwa kau mungkin sudah melupakanku.”
“Aku sangat sibuk Bianca, kuharap kau mengerti.”
Bianca mendesah sedih, “Selalu begini Garviil, apakah nanti di kehidupan perkawinan kita juga akan seperti ini? Kau sibuk dengan pekerjaanmu dan mengabaikan aku?”
Garviil mengangkat bahunya, “Itulah konsekuensi kau menikah denganku, tidak akan berubah meskipun kita menikah. Aku mempunyai tanggung jawab yang besar di perusahaan yang tidak mungkin aku abaikan begitu saja. Kalau kau tidak siap menghadapinya kau bisa mundur.”
“Apa?” wajah Bianca langsung pucat pasi.
Sementara itu Garviil memasang wajah datarnya, “Aku tidak bisa menjadi suami yang perhatian seperti yang kau inginkan, tidak akan pernah bisa. Kalau kau tidak siap menanggung kesedihan karena tidak pernah mendapatkan perhatian dari seorang suami, kau bisa mundur sekarang Bianca agar kau tidak menyesal. Kau tahu, aku tidak pernah memaksamu untuk menikahiku, untuk menjadi isteriku.”
“Teganya kau!” Bianca berteriak, dan berurai air mata, “Kau sengaja melakukannya bukan? Kau sengaja mengabaikanku agar aku merasa tidak kuat dan membatalkan pernikahan ini? Kau ingin aku meninggalkanmu bukan? Agar kau tidak perlu memiliki istri yang lumpuh dan cacat sepertiku. Cacat karena kau!!”
Perkataan Bianca itu membuat wajah Garviil memucat, tetapi dia mengendalikan diri dan berusaha membuat ekspresinya tetap datar.
“Well kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau! Karena aku tetap akan melanjutkan pernikahan ini! Apapun yang terjadi kau tetap akan menjadi suamiku dan aku akan menjadi istrimu!”
Lalu dengan marah Bianca memutar kursi rodanya, memasuki rumah dan meninggalkan Garviil berdiri di teras itu.
⧫⧫⧫
Geffie sedang tidak ada pekerjaan. Dia menghabiskan harinya dengan bermain game ponselnya sampai merasa bosan. Kemudian dia mencari data-data tentang Garviil di internet teutama di sosial media milik Gaviil.. Bahwa kita tinggal memasukkan sebuah nama saja di mesin pencari sosmed, maka dia akan menemukan banyak informasi tentangnya.
Dengan iseng, Geffie membuka mesin pencari di internetnya, dan memasukkan nama lengkap Garviil di sana. Dalam beberapa detik, deretan hasil pencarian muncul.
Geffie menelusurinya dengan sangat tertarik. Dengan tertarik Geffie, Ada postingan foto dari akun Garviil. Tidak banyak karena biasanya pria tidak terlalu terbuka untuk kehidupan pribadinya.
Geffie melihatnya satu persatu dengan sangat tertarik, menelusuri keseharian Garviil dalam bentuk foto. Ternyata Garviil seorang yang cerdas, dan lulusan terbaik kampusnya, ada foto wisuda Garviil dan keluarga nya dan juga beberapa foto lainnya, Geffie kemudian membuka kolom tanda foto, dimana disana biasanya akan muncul foto dari orang-orang terdekat Garviil yang menandai Garviil jika mereka sedang foto bersama Garviil. Geffie melihat satui persatu, hingga di paling bawah dia melihat....
Mata Geffie berkerut pada sebuah foto dari sebuah akun bernama Bianca, ada foto Garviil dengan seorang perempuan dan memeluk perempuan itu dan keduanya tersenyum bahagia, ada juga foto lain dimana Garviil mencium perempuan yang sama. Geffie membuka akun perempuan itu, dan betapa terkejutmnya dia ketika membaca bio di akun itu dimana terdapat gambar cincin dan ada nama akun Garviil disana beseta tanggalnya, menandakan bahwa Garviil sudah bertunangan dengan perempuan itu yang dipacarinya selama empat tahun.
Jantung Geffie berdebar keras, sebuah kejutan lagi.... Garviil sudah bertunangan??? Geffie mengecek foto di akun itu. Dan ada foto perempuan itu sedang memotret rancangan sebuah gaun dan lagi-lagi menandai nama akun Garviil. Dan dari akun itu, dikatakan bahwa tahun ini mereka akan menikah.
Dunia seakan runtuh di bawah kaki Geffie.