
Beberapa hari kemudian....
Vicky sudah di ijinkan pula g dari rumah sakit, tetapi sebelum kembali ke Boston. Vicky harus ke kantor polisi. Dia pun pergi bersama dengan Garviil dan juga Geffie serta pengacara nya. Garviil memang menghubungi pengacara nya untuk bisa datang kesini agar bisa membantu Vicky untuk menghadapi masalah hukum yang menjerat Devan saat ini. Garviil tidak akan begitu saja memaafkan Devan, lelaki itu harus di hukum. Dan kemarin lusa Devan sendiri sudah mengirim pengacaranya untuk menjenguk Vicky di rumah sakit untuk meminta maaf. Ya, baik Garviil atau Vicky mungkin bisa memberi maaf tetapi tidak untuk membebaskan Devan, proses hukum harus tetap terus berjalan. Devan harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Dan Garviil juga menolak segala hal yang di tawarkan oleh pengacara Devan. Mereka menawarkan membebaskan keluarga Vicky membayar biaya rumah sakit, tetapi tentu sjaa Vicky dan Garviil menolaknya dengan alasan bahwa segala biaya perawatan Vicky sudah di tanggung oleh asuransi. Garviil tidak ingin mengambil resiko dengan menerima nya karena itu bisa saja mempengaruhi proses hukum yang harus di jalani oleh Devan.
Vicky dan Garviil serta pengaara nya juga Ciara sampai di kantor polisi. Garviil meminta pengacaranya agar menemani Vicky sedangkan dia sendiri akan ke ruang kunjungan untuk menemui Devan. Garviil butuh berbicara dengan Devan dan penasaran sekali bagaimanakah Devan sebenarnya.
Garviil menunggu dan tidak lama seorang polisi membawa keluar Devan. Devan tampak terkejut melihat siapa yang menemui nya, dia berpikir bahwa mungkin pengacaranya yang datang tetapi ternyata bukan melainkan Vicky. Tetapi Devan mengernyit karena Vicky yanv di lihatnya saat ini berbeda dengan Vicky yang dia tusuk. Wajahna sama tetapi ada penampilan mencolok yang berbeda. Laki-laki ini potongan rambutnya terlihat lebih rapi.
"Are you surprised?" Gumam Garviil. "I'm Garviil, Vicky's brother. He's my twin Brother."
Ucap Garviil menyadari pertanyaan di benak Devan.
Saudara kembar. Jadi Vicky punya saudara kembar ternyata.
Devan duduk di kursi dan berhadapan dengan Garviil. Meragu tetapi dia tidak ada pilihan lain selain menemui tamu nya ini. Devan terdiam menatap Garviil. Dia sudah mendengar dari pengacara nya tentang penolakan keluarga Vicky untuk berdamai sekaligus menolak tawaran membiayai rumah sakit tempat Vicky di rawat.
"So you are Devan?" Garviil bertanya pada Devan memastikan apakah benar di depannya itu adalah Devan.
"Yes." Jawab Devan singkat.
Garviil tersenyum mengejek. "Why did you do such a stupid thing??? A girl rejected you and you got mad at her and wanted to hurt her with a knife.... Ahhh aren't you the one who was beaten up by my brother at the cafe??? What exactly do you want??? Want revenge with Ciara???" Tatapan Garviil menajam. Garviil mempetanyakan kenapa Devan melakukan hal bodoh seperti itu???? Hanya karena seorang gadis menolakmnya dan Devan marah kepada gadis itu lalu ingin menyakitinya dengan pisau. Garviil juga menayakan apakah Devan juga yang saat itu di pukuli oleh adiknya di cafe. Lalu Sebenarnya apa yang Devan inginkan??? Ingin balas dendam dengan Ciara atau apa. "Gentle men are those who accept their mistakes and become better, not those who degrade women either by words or deeds." Lanjut Garviil lagi, karena laki-laki yang gentle adalah mereka yang mau menerima kesalah dan menjadi lebih baik, bukan mereka yang malah merendahkan perempuan baik dengan ucapan atau perbuatannya.
"None of your business, what happened to your brother was an accident and not intentional." Ucap Devan. Ini Bukan urusan Garviil, yang terjadi pada Vicky adalah kecelakaan dan tidak kesengajaan.
"Okay, but I just want to remind you to leave Ciara alone. Let her enjoy her life, and don't you dare try to be disrespectful to her, or you'll have to deal with me and you'll regret it for the rest of your life if you dare to do something like that to Ciara or Vicky." Gumam Garviil mengancam. Garviil hanya ingin mengingatkan Devan agar jangan lagi mengganggu Ciara. Membiarkan Ciara menikmati hidupnya, dan Devan juga jangan coba-coba untuk bersikap tidak sopan pada Ciara dan Vicky, atau Devan akan berhadap dengannya jika melakukan hal seperti ini ;agi baik pada Ciara ataupun Vicky. Garviil memundurkan kursi nya dan berbalik badan meninggalkan Devan. Setidaknya sudah cukup untuknya bisa bertemu dan melihat Devan.
Garviil kemudian kembali ke ruang tunggu untuk menunggu Vicky yang berada di dalam bersama pengacara nya. Ciara juga sedang menunggu. Garviil kemudian duduk di sebelah Ciara. "Aku sudah bicara dengannya." Gumam Garviil.
"Apa dia mengancammu??" Tanya Ciara.
"Tidak, dia mengatakan itu kecelakaan, dan memang berniat untuk menyakitimu tetapi kau tenanglah, hukumannya saat ini seharusnya bisa membuatnya sadar akan kesalahannya dan tidak melakukan itu lagi."
"Aku sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi."
Garviil tersenyum. "Jangan terus menyalahkan diri, ini kecelakaan, dan bisa terjadi kapan saja. Vicky ataupun aku sama sekali tidak menyalahkanmu, kami justru senang kau baik-baik saja, apalagi kau adalah tamu kami disini, aku harap ini tidak akan mempengaruhi kerjasama kita nantinya."
"Tentu saja tidak akan." Ciara tersenyum.
***
Beberapa minggu kemudian
Vicky sudah semakin sehat dan dia sudah beberapa hari yang lalu kembali beraktivitas di kantor. Garviil tidak mengijinkan Vicky untuk pulang ke Indonesia dan menyuruh Vickyuntuk beristirahat saja di rumah mereka yang ada di Boston sehingga Vicky tidak bisa menghadiri acara resepsi pernikahan kakaknya di Jakarta dan fokus untuk merecovery luka nya.
Sementara hubungan Vicky dan Ciara semakin dekat. Tiada hari tanpa berkomunikasi satu dengan yang lainnya bahkan ketika mereka sedang tidak sibuk mereka akan berbicara melalui panggilan video lalu mengobrol panjang lebar membahas berbagai hal. Vicky tampak sudah merasa nyaman sekali dengan Ciara. Sehingga Vicky semakin yakin bahwa dia pasti bisa untuk meluluhkan hati Ciara dan menjadikan perempuan itu miliknya. Vicky semakin bersemangat dan ingin bisa segera menikah seperti Garviil dan juga Geffie yang setiap hari selalu menebar kebahagiaan. Sungguh Vicky jiga ingin segera menikah tetapi dia harus bisa meluluhkan hati Ciara lebih dulu.
Sementara penyelidikan mengenai Bianca masih terus di lakukan, baik Vicky dan Garviil belum mendapatkan informasi yang lengkap. Tetapi orang-orang mereka sudah menjalankan perintah mereka dengan baik dan menyelidiki siapakah orang yang di minta Bianca untuk membantu nya. Sejauh ini juga belum ada tanda-tanda ada orang mendekat yang mencurigakan. Tetapi baik Vicky dan Garviil akan terus waspada.
Vicky sibuk dengan komputer di depannya, memeriksa pekerjaannya dengan baik sebelum dia pulang. Karena sebentar lagi sudah jam pulang kerja. Sampai kemudian Vicky sudah selesai memeriksa pekerjaannya dn dia akan langsung pulang. Vicky meraih jas nya dan memakainya lalu keluar ruangannya. Dia tidak lupa berpesan pada sekretarisnya untuk mengecek ulang sebelum sekretarisnya itu pulang. Vicky lalu melenggang keluar dari kantor.
Supir sudah menunggu nya di luar. Vicky masih di antar oleh supir karena Garviil belum mengijinkannya untuk mengemudi sendiri. Vicky memilih menuruti kakaknya karena dia tidak ingin berdebat lama dengan kakaknya itu.
★★★
Sampai di rumah, Vicky bergegas ke kamarnya dan akan langsung mandi lalu beristirahat. Luka nya memang belum sepenuhnya sembuh dan Vicky sudah di larang Garviil ke kantor, dan lebih baik beristirahat sampai benar-benar pulih tetapi Vicky menolak. Pekerjaan tidak boleh di tinggalkan terlalu lama apalagi Garviil juga masih dalam masa bulan madu nya.
Vicky duduk di sofa, melepas jas dan juga sepatunya serta melonggarkan dasi nya dan juga melepaskan kancing lengan kemeja nya. Ponselnya berdering, Vicky merogoh kantong celana nya dan tersenyum, rupanya Ciara yang menghubunginya. "Hai...."Vicky melambaikan tangan di depan layar ponselnya menyapa Ciara yang menghubunginya melalui panggilan video.
"Hai..... Kau sepertinya sudah di rumah."
Vicky mengangguk. "Ya, aku di rumah, baru sampai. Kau sendiri sudah bangun???"
"Ya, sudah bangun. Bagaimana harimu di kantor????"
"Aku berangkat sedikit lebih siang, dan pulang lebih awal seperti kemarin, agak tidak nyaman duduk berlama-lama."
"Karena kau belum sembuh sepenuhnya. Sudahlah jangan ke kantor dulu, toh kakakmu besok sudah akan kembali ke sana lan???"
"Iya, kakak akan pulang entah besok entah lusa."
"Nah itu dia, lebih baik jangan ke kantor dulu, pastikan lukamu benar-benar kering. Aku sangat mengkhawatirkan mu."
Vicky melempar senyumnya. "Kalau kau mengkhawatirkan ku seharusnya kau ada disini dan merawatku lagi."
Ciara terkekeh. "Aku pasti akan kesana lagi untuk merampungkan kerja sama kita bulan depan, masih dua minggu lagi, jadi bersabarlah."
"Kalau begitu aku harus banyak beraktifitas agar lukaku lama sembuhnya dan ketika kau ada disini aku bisa di rawat olehmu sampai sembuh."
"Diiiihhhh kok gitu??? Kau ini aneh sekali hahaha." Ciara tertawa begitu juga dengan Vicky. Mereka sudah semakin akrab dan juga semakin dekat. Ciara juga semakin membuka diri, sehingga Vicky sudah mengetahui banyak hal dari Ciara. Vicky telah menciptakan perasaan nyaman pada Ciara dan itu adalah hal yang sangat bagus sekali.
Sementara itu, Ciara sendiri merasa sangat nyaman dengan Vicky. Lelaki itu seperti membawa warna baru di kehidupannya. Tawa dan keceriaan Vicky membuat Ciara semakin terbiasa sehingga rasanya jika dia tidak mengobrol dengan Vicky sehari saja, Ciara merasa sangat hampa. Bersama Vicky dia mengobrol kan berbagai hal hingga membuat Ciara benar-benar nyaman.
Ciara berhasil mendapatkan tempat di hati Vicky seperti rencana awal yang di intruksi kan oleh Bianca. Tetapi Ciara saat ini seperti merasa enggan untuk membantu me.uluskan rencana Bianca. Ciara hanya mengiyakan saja ketika Bianca berbicara dengannya tetapi jauh di dalam hatinya, Ciara enggan untuk menuruti keinginan Bianca.
Di hatinya yang paling dalam. Ciara menemukan ketulusan berteman dengan Vicky. Kejadian oenusukkan itu membuat Ciara sadar bahwa Vicky adalah laki-laki yang baik.Vicky menyelamatkannya dan mengorbankan nyawa untuknya sehingga Ciara berhutang budi pada Vicky. Ciara tidak ingin mengkhianati Vicky dan membalaskan dendam Bianca. Baik vicky, Garviol dan Geffie adalah orang-orang yang sangat baik. Beberapa hari bersama mereka, Ciara menemukan ketulusan dan hati yang begitu baik. Lalu orang-orang seperti mereka kenapa harus mendapatkan hal yang buruk, sama sekali tidak adil. Itulah yang di rasakan oleh Ciara. Sehingga dia akan mengabaikan semua perintah Bianca dan hanya akan mengatakan iya iya saja tanpa melakukannya. Perusahaan Garviil juga perusahaan yang cukup besar dan semua orang di dalamnya sangat kompeten, dan bekerja sama dengan perusahaan Garviil adalah keuntungan yang besar untuk perusahaan Ciara, lalu bagaimana Ciara bisa memanipulasi kerjasama perusahaan mereka dan menghancurkan perusahaan Garviil. Ciara sejak dulu selalu menjunjung tinggi prinsipnya untuk bekerja dengan baik dan tidak menjatuhkan usaha orang lain dengan cara yang licik.