
Keesokan harinya
Bianca sedang duduk di dalam mobil, dalam perjalanan menuju butik langganannya, dan merenung. Ini semakin lama semakin menakutkan. Keluarganya sudah mulai mempersiapkan semuanya terutama menyangkut gaun pengantinnya. Karena selain hal itu, untuk masalah persiapan pesta seperti dekorasi, gedung, catering, dan lain-lain mereka tidak akan perlu mencemaskannya. Keluarga Victor memiliki beberapa jaringan di perusahaannya seperti restoran dan cafe. Lelaki itu tinggal menjentikkan jarinya dan sebuah pesta yang megah pasti akan disiapkan dengan mudah.
Tetapi perasaan Bianca terasa semakin tidak nyaman. Hari demi hari hubungan mereka merenggang, dan semakin dekat ke hari pernikahan mereka, Victor semakin jarang muncul. Lelaki itu kadang hanya membalas pesan singkatnya sekenanya, tidak pernah mengangkat telepon ketika dia mencoba meneleponnya. Dan lelaki itu tidak datang ke rumahnya lagi minggu kemarin.
Kedua orangtuanya juga sering menanyakan kenapa Victor tidak pernah muncul dan dengan senyum palsunya Bianca menjelaskan bahwa semua baik-baik saja, hanya saja Victor memang sedang sangat sibuk. Tetapi Victor tidak pernah seperti ini sebelumnya, dulu meskipun sibuk, lelaki itu selalu menyempatkan menemuinya meskipun sebentar di akhir pekan.
Bianca tahu bahwa Victor mungkin tidak mencintainya lagi. Sejak dia mengaku pengkhianatannya yang dilakukannya dengan John karena begitu haus perhatian dari Victor, yang membuatnya terjerumus terlalu jauh lalu hamil, cinta itu sudah musnah di mata Victor. Tatapan Victor kepanya sudah berbeda, datar dan tanpa perasaan meskipun laki-laki itu selalu bersikap lembut kepadanya.
Tetapi Bianca bisa dibilang sangat mensyukuri kecelakaan itu, kecelakaan yang membuatnya di diagnosa tidak akan bisa berjalan lagi. Yang membuat Victor sangat menyesal dan pada akhirnya memutuskan untuk bertanggung jawab kepada Bianca.
Ya, Bianca tahu dia memanfaatkan rasa bersalah Victor, tetapi dia mencintai Victor dan tidak bisa membayangkan kalau harus ditinggalkan oleh lelaki itu. Pengkhianatan yang dilakukannya dengan Jhon semata-mata karena pelarian, dia membutuhkan kekasih yang hangat dan penuh kasih sayang, yang selalu ada di dekatnya. Tetapi Victor tidak bisa melakukannya, lelaki itu waktu itu sedang sibuk membangun bisnisnya, sehingga hanya punya waktu sedikit bersamanya. Dan dalam kondisi emosi yang labil, John datang dan semua hal buruk itu pun terjadi. Semua yang Bianca lakukan adalah untuk mengikat Victor supaya bersamanya. Dia bahkan rela bertingkah seperti orang invalid, hanya agar Victor bertahan bersamanya. Kelumpuhan ini adalah satu-satunya pengikatnya dengan Victor, dan Bianca rela kesulitan seperti ini, hanya bisa berjalan ketika dia berada di dalam rumah dan hanya di depan orang-orang yang dipercayanya, semua demi memiliki Victor.
Dia mereemas kedua jemarinya kuat-kuat, Sebentar lagi... desahnya dalam hati. Dia hanya perlu bersabar sebentar lagi dan Victor akan menjadi miliknya sepenuhnya. Dia akan menjadi istri Victor dan lelaki itu tidak akan punya alasan untuk tidak memperhatikannya.
⧫⧫⧫
Butik itu cukup ramai, milik seorang desainer baju pernikahan yang sangat terkenal. Supir Bianca mendorong kursi rodanya memasuki butik itu. Bianca sudah membuat janji dengan Michael atau sering meminta namanya di ubah menjadi Michele, sang perancang sekaligus pemilik butik itu.
"Hi beauty...???" Michael langsung menyapanya ketika supirnya mendorong kursi rodanya memasuki ruangan Michael. Bianca memberikan isyarat kepada supirnya untuk menunggu nya di luar.
"Hi Michele, have you received my message for the description of my wedding dress???" Tanya Bianca. Apakah Michele sudah menerima pesanku untuk deskripsi gaun pengantin nya.
"Already darling.." Michael mengedipkan sebelah matanya
"What a very specific description, you want your dress to be studded with expensive and glittering crystals huh? It's a good thing your fiancé is rich. So you can ask for any dress you want, I will measure your body first, then I will apply it to several designs and then you just have to choose which one." Michael memuji Bianca, sungguh deskripsi yang sangat spesfik, Bianca ingin gaunnya bertaburan dengan kristal yang mahal dan berkilauan. Untung saja tunangan Bianca kaya. Jadi Bianca bisa meminta gaun apapun yang di inginkanny. Michael akan mengukur dulu badan Bianca baru setelah itu dia akan menerapkan ke beberapa desain dan nanti Bianca tinggal memilih yang mana. Michael melirik ke arah pintu. "By the way, your handsome fiancé didn't drive you???" Tanya nya pada Bianca, kemana tunangan Bianca yang tampan itu tidak mengantarnya kesini.
"He's busy." Gumam Bianca sambil lalu. “I want this dress to be the best, Michele, it has to be the most beautiful and the most gorgeous... This will be my first and only wedding." Bianca ingin gaun ini yang terbaik, harus yang paling indah dan paling cantik... Ini akan menjadi pernikahan yang pertama dan satu-satunya untuknya.
"Of course, darling." Michael terkekeh, lalu menyuruh pegawainya untuk mengukur badan Bianca.
Tentu saja mereka kesulitan karena Bianca berada di kursi roda dan tidak bisa berdiri. Bianca sendiri merasa gemas karena sebenarnya dia bisa berdiri, tetapi dia tidak bisa melakukannya, karena semua sandiwara nya bisa ketahuan.
"Maybe we should measure your body when Garviil is able to come with you, dear." Ucap Michael. Mungkin mereka harus mengukur tubuh Bianca kalau Garviil atau Victor sudah bisa datang bersama nya. Michael menatap Bianca dengan menyesal, dia juga laki-laki tapi tubuhnya ramping dan gemulai jadi dia tidak bisa membantu Bianca supaya punya tumpuan untuk berdiri. Sementara itu kebanyakan pegawainya adalah perempuan. "So Garviil can help you to stand." Jadi Victor atau Garviil bisa membantu nya untuk berdiri.
Michael lah yang kemudian memecah suasana, dia berteriak kegirangan dan hampir melompat mendekati lelaki itu. "Oh my gosh! Paul, are you back from New York???" Tanya Michael. Ternyata Paul sudah pulang dari New York.
Lelaki tampan hanya tersenyum tenang, tampak sedikit geli menghadapi kehebohan Michael yang menyambutnya. Dia melirik ke arah Bianca dan menganggukkan kepalanya dengan sopan ke arah Bianca, membuat Bianca menyadari bahwa dia telah terpesona kepada lelaki itu. Memang Victor tampan dan tetap nomor satu baginya, tetapi Victor sangat jarang tersenyum, sedangkan lelaki ini, dia begitu murah senyum dan tampak sangat tulus secerah matahari,
"It looks like you and this lady are having some trouble. Perhaps I can help." Ucap Paul. Dia melihat sepertinya Michael dan nona itu menghadapi masalah. Mungkin dia bisa membantu mereka.
Michael melirik Bianca masih tersenyum lebar. "This is Paul, he's one of the investors in our boutique and salon. Do you mind Bianca if Paul helps you???" Tanya Michael pada Bianca. Memberitahu jika Paul adalah salah satu investor butik dan salon nya. Michael menanyakan pada Bianca apakah dia tidak keberatan kalau Paul membantunya.
Siapa yang tidak keberatan kalau dibantu berdiri oleh lelaki setampan itu??? Bianca berpikir bahwa kadang-kadang berpura-pura lumpuh ada untungnya juga.
"Bianca wants to make a beautiful wedding dress, Paul. We're going to measure her dress." Ucap Michael memberitahu Paul jika Bianca ingin membuat gaun pernikahan yang indah. Mereka sedang akan mengukur gaunnya.
Paul melemparkan pandangan dalam ke arah Bianca. "Too bad you're getting married, I envy that lucky guy." Gumam Paul penuh arti membuat pipi Bianca merona. Mengatakan jika sayang sekali Bianca ternyata sudah akan menikah, Paul merasa iri sekali kepada lelaki beruntung itu.
Michael menepuk pundak Paul sambil tertawa. "Don't you tease Bianca, Paul. She's already got a fiancé and is getting married, maybe you can turn your sights on another girl." Michael mengingatkan Paul agar jangan merayu Bianca. Karena Dia sudah punya tunangan dan akan menikah, mungkin Paul bisa mengalihkan sasarannya kepada gadis lain.
Paul tampak tidak mempedulikan perkataan Michael, dia masih memandang tajam ke arah Bianca. Ia lalu mendekat dan mengulurkan tangannya lembut,
"I'll help you up, excuse me." Bisiknya lembut di dekat telinga Bianca. Paul meminta maaf dan akan membantu Bianca berdiri. "Here, put your hands on my shoulders." Paul meminta Bianca meletakkan tangannya di pundaknya.
Bianca merasakan jantungnya berdebar keras, aroma maskulin itu langsung melingkupinya, membuatnya bergetar.
Dengan tangannya yang kuat, Paul menarik Bianca berdiri, lalu menopang pinggangnya. Tangan Bianca berpegangan erat ke pundak Paul, lalu melingkarkan lengannya di sana, sementara itu dia berakting sekuat tenaga untuk melemaskan kakinya, menumpukan beban tubuhnya di pundak Paul.
"Well wait a minute, we'll measure it." Para pegawai Michael mulai mengukur. Proses itu cukup singkat. Dan kemudian setelah Michael selesai, Paul mendudukkan Bianca lagi di kursi rodanya dengan lembut. Lelaki itu menyelipkan kartu namanya yang bernuansa hitam dan keemasan di jemari Bianca,
"Contact me, anytime. I'll gladly drop all my business for you." Bisiknya pelan, lalu berdiri tegak, mengatakan sesuatu tentang pekerjaan kepada Michael, kemudian melambaikan tangannya dan melangkah pergi. Paul meminta Bianca agar menghubungi nya kapanpun itu. Paul akan dengan senang hati membuang semua urusannya demi Bianca.
Sementara itu Bianca masih menggenggam erat-erat kartu nama di tangannya itu dengan terpesona.
⧫⧫⧫
”