
Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam, akhirnya Vicky sampai juga di cottage yang di maksud Geffie. Dia sudah di depan dan turun dari mobilnya untuk menanyakan nomor cottage yang di tempati oleh Geffie dan yang lainnya saat ini. Setelah di tunjukkan arahnya, Vicky pun kembali ke mobilnya dan menuju tempat itu.
Vicky mengemudi dengan sangat pelan, toh dia juga sudah sampai disini. Vicky mengemudikan mobilnya sembari melihat kondisi sekeliling. Tempat yang nyaman dan asri sekali. Garviil bilang ini adalah milik dari Papa nya Geffie, yang memang sudah tidak perlu di ragukan lagi, Papa Geffie punya ratusan tempat menarik di tempat yang juga luar biasa menarik untuk di singgahi. Hotel yang semuanya luar biasa, Villa hingga resort dan cottage seperti ini hanya bagian kecil dari usaha Papa nya Geffie.
Vicky sudah melewati beberapa cottage. Dia tinggal belok ke kanan untuk menemukan cottage nomor 15 sampai 20 dimana disana sudah ada Geffie dan Garviil yang menunggu nya.
Vicky melihat pemandangan laut yang bgitu cantik dan dia menghentikan mobilnya sebelum berbelok ke arah kanan. Vicky keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pantai itu. Sudah lama dia tidak ke pantai karena sibuk dengan kegiatannya dan tidak ada salahnya dia berhenti sebentar untuk melihat pantai dengan laut yang biru.
Vicky sampai di pantai dan berjalan dengan santai. Melihat suasana yang asri dan angin pantai membuat rambut gondrong nya berantakan. Tetapi Vicky tidak peduli dan dia tersenyum dengan suasana yang menyenangkan ini.
Ponselnya berdering, Vicky merogoh kantung celana nya dan melihat nama kakaknya muncul. Dia mengangkatnya. "Ya..x Jawabnya langsung.
"Kau dimana??? Kau bilang sudah di depan kok tidak sampai-sampai???" Tanya Garviil.
"Ahhh itu, aku sedang ke pantai, jalan sebentar saja, nanti aku akan kesana."
"Pantai mana???"
"Ini yang ada di sekitar cottage, sebelum belok kanan. Di tengah."
"Kau ini ada-ada saja, di belakang cottage juga langsung pantai."
"Iya??? Hahaha aku tidak tahu, tapi ya sudah terlanjur, aku mau jalan-jalan seben...tar..." Ponsel Vicky terjatuh ketika tidak sadar dan tidak memperhatikan depan, seseorang menabraknya.
"Aoowww.... Sorry... Sorry..." Ucap seorang perempuan yang menabrak Vicky.
Vicky membungkuk untuk mengambil ponselnya yang jatuh dan bersamaan dengan itu perempuan itu juga membungkuk untuk mengambil ponselnya yang juga terjatuh. Mereka saling berhadapan. Vicky langsung membatin bahwa perempuan yang ada di depannya itu sangat cantik sekali. Tetapi perempuan itu langsung meminta maaf, berdiri setelah mendapatkan ponselnya. "Maaf, aku tidak fokus."
"Tidak masalah, aku juga todak fokus berjalan. " Sahut Vicky.
"Aku permisi dulu." Perempuan itu kemudian meninggalkan Vicky dan berjalan begitu saja. Vicky hanya terdiam memandangi perempuan itu.
"Vicky..... Vic...." Panggil Garviil yang masih terhubung di telepon.
Vicky terpana untuk sesaat pada perempuan itu lalu menunduk melihat ponselnya yang ternyata masih terhubung dengan panggilan dari kakaknya. Vicky kembali meletakkan ponselnya di Telinga nya. "Ya.."
"Kok ada suara perempuan???" Tanya Garviil.
"Ah itu tadi kami tidak sengaja bertabrakan. Aku akan segera kesana." Vicky mengakhiri telepon dari kakaknya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Vicky masih memandangi perempuan yang tadi yang ternyata masuk ke sebuah cottage yang Vicky duga adalah perempuan itu mengjnak disana. Vicky kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan pantai. Dia sudah di tunggu kakak nya atau kalau dia tidak segera muncul, kakaknya akan menceramahi nya. Vicky berlari kembali lagi ke mobilnya dan langsung mengendarainga menunj cottage yang di tempati oleh kakaknya.
Vicky akhirnya menemukan cottage Garviil dan kakaknya iti berdiri di depan cottage itu menunggu nya. Vicky keluar dari dalam mobilnya dan tersenyum menghampiri kakaknya. "Hai..." Sapa Vicky.
"Kelayapan saja... Bukannya langsung kesini." Gerutu Garviil.
"Sorry..."
"Hai Vicky..." Geffie keluar dari dalam cottage dan menghampiri nya juga.
"Datang juga, sejak tadi kami menunggumu. Masuk yuk, kita semua sedang berkumpul."
"Ini cottage nya para gadis, bawa saja barangmu nanti, sekarang ayo masuk dan bertemu dengan kakak Geffie dan yang lainnya." Ucal Garviil.
"Oke..."
Mereka bertiga kemudian masuk dan ternyata di dalam memang ada beberapa orang.
"Kak, ini Vicky, adiknya Garviil." Geffie memperkenalkan Vicky pada kakak dan juga sahabatnya. Mereka sedang berkumpul di ruang belakang yang terbubung dengan kolam renang yang menyajikan pemandangan laut yang biru. Vicky menyalami semua nya dan Geffie mempersilahkan Vicky untuk duduk. Mereka sedang berkumpul dan berbincang sembari menunggu sore .
"Vicky, ku dengar kau seorang pelukis.???" Tanya Friddie.
"Ya."
"Akh pernah melihat lukisanmu di apartemen Geffie ketika kemarin aku kesana, dan itu sangat luar biasa sekali...!!!! Geffke juga bilang kau sering mengadakan pameran lukisan di luar negeri."
"Iya, terakhir bulan lalu di New York."
"Aku butuh sekitar 3 lukisan untuk aku pajang di ruangan kerja ku, baik di kantor ataupun di rumah, jika aku memesan lukisan itu padamu, apa kau bisa membuatkannya atau kau punya galeri yang memperlihatkan lukisanmu untuk di jual??"
Vicky tersenyum. "Tentu saja, aku memiliki galeri disini, dan aku juga bisa membuat lukisan sesuai dengan permintaanmu, kau ingin lukisan yang bagaimana???" Tanya Vicky.
"Aku suka lukisan abstrak. And then dimana galery lukisanmu, aku jadi ingin datang."
Vicky tersenyum.kemudian memberikan alamat galeri lukisannya. "Aku akan kembali ke Amerika bersama Garviil besok, dan akan beberapa waktu tinggal disana jadi ya tidak pulang ke Indonesia tetapi tentu tetap akan kembali jika ada waktu luang." Ujar Vicky. Dia memang akan kembali ke Amerika dan mulai membantu bisnis kakaknya disana. Vicky sendiri tidak bisa memastikan kapan dia akan pulang ke Indonesia. Karena selain di Boston dia juga ada beberapa kunjungan ke beberapa tempat
"Beri aku kartu nama mu, aku akan menghubungi mu untuk pembicaraan selanjutnya.". Ucap Friddie. Vicky kemudian memberikan kartu nama nya.
"Kau hubungi saja aku, nanti aku akan membuatkan lukisan untukmu sesuai yang kau inginkan."
"Kau sering ya melakukan pameran lukisan???" Tanya Louis.
"Ya terkadang satu bulan sekali atau dua bulan sekali, tergantung permintaan. Kadang ya dari keinginanku sendiri."
"Kau punya tim khusus???"
"Bukan tim khusus tetapi aku punya partner yang biasa membantuku mengurus semua nya."
"Kau terlihat sangat profesional." Gumam Louis.
"Tentu saja kak, waktu pameran di Boston, semua lukisan nya habis terjual hanya dalam dua hari. Dan bahkan ada yang terjual sampai 10 ribu dollar." Sahut Geffie.
"Hebat dong.." Friddie tersenyum. "Kalian berdua kembar identik tetapi punya perbedaan yang mencolok, Garviil seorang pengusaha dan kau Vicky seorang pelukis yang hebat. Keluarga kalian pasti bangga sekali."