
Vicky melempar senyumnya kepada mamanya. Rasanya dia malas sekali untuk membahas tentang Ciara, tetapi Vicky tahu bahwa dia tidak bisa untuk memberitahu mamanya mengenai apa yang terjadi. Dia akan merahasiakan ini untuk sementara waktu sampai merasa nanti sudah tepat dan memberitahu kepada orang tuanya tentang apa yang dilakukan Ciara dan juga Bianca.
"Dia cantik." Gumam Vicky.
"Apa kau punya fotonya??? Mama ingin sekali melihatnya."
"Minggu depan dia akan ke sini. Jadi mama bisa untuk bertemu dengannya."
"Oh ya??? Jadi minggu depan dia akan ke sini. Baguslah, kalau begitu mama jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya."
Vicky kembali hanya melemparkan senyumnya.
"Mama sangat senang sekali dan mama yakin kau tidak akan salah dalam memilih seorang perempuan seperti halnya ketika kau memilih Tiffany, kau terlihat sangat mencintainya dan mama juga sangat menyukainya, sayangnya Memang kau tidak berjodoh dengannya. Mama berharap kali ini kau akan berjodoh dengan kekasihmu yang saat ini siapa namanya." Tanya Mama Vicky.
"Ciara." Jawab Vicky pelan.
"Iya. Ciara perempuan pimpinan dari perusahaan besar yang ada di Singapura dan perusahaannya menjalin kerjasama dengan perusahaan kita. Mama yakin juga selain cerdas tentunya Dia sangat cantik. Pokoknya kau harus mengajak Mama untuk bertemu dengannya dan jika mama lihat dia memang cocok denganmu maka Mama sarankan Kau tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menikahinya. Kalau kau memang sudah yakin, ya Kau harus menikah dengannya, itu akan lebih baik sebagai bukti keseriusan dan tanggung jawabmu terhadapnya seperti halnya yang dilakukan oleh kakakmu, dia sangat tahu bahwa Geffie masih memiliki perjalanan yang panjang di pendidikannya akan tetapi kakakmu tetap memutuskan untuk menikahinya, karena selain untuk menghindari zina, kakakmu juga memikirkan kebaikannya dan juga Geffie, jadi jika bisa kau juga harus berpikir sepertinya. Kau menikahlah dengan Ciara jika sudah benar-benar merasa yakin."
"Mama menyuruhku untuk menikahi Ciara???" Vicky sedikit terlonjak mendengar ucapan Mama nya.
"Ya tentu saja, kau bilang dulu bahwa kau juga pernah berniat untuk menikahi Tiffany suatu saat nanti, itu menandakan bahwa kau sudah mulai serius dalam menjalani sebuah hubungan, lalu ketika kau sekarang sudah bersama dengan Ciara tentunya kau juga pasti akan serius dalam hubunganmu yang kali ini kan??? Dan kau pasti juga akan memikirkan untuk menikahi Ciara, kau sendiri juga bilang bahwa kau ingin segera menyusul kakakmu. Lalu kenapa ketika Mama mengatakan tadi kau terlihat terkejut ??? Apa kau tidak memiliki keseriusan terhadap Ciara???"
Vicky menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu Ma, hanya saja hubungan ini kan baru dimulai. Aku juga belum memikirkan hal sampai sejauh itu, aku hanya ingin menjalaninya saja lebih dulu."
"Tetapi itu artinya Kau pasti juga akan memikirkan hal ke arah sana kan???"
"Sudahlah, kau ini apa sih, kita ini baru sampai dan kau sudah memberondong putramu dengan pertanyaan dan pernyataanmu begitu detail. Kalau nantinya Vicky sudah merasa yakin, dia pasti akan memberitahu kita kan??? ya biarkan sajalah, sekarang dia menikmati masa pacarannya dengan Ciara, kita harus tetap mendukungnya." Sahut Papa Vicky.
Vicky kembali melempar senyumnya kepada kedua orang tuanya. "Kalian beristirahat saja dulu. Kakak akan pulang sebentar lagi, dia ada meeting penting hari ini."
"Iya kami akan beristirahat."
"Oh ya satu lagi, besok pagi Geffie juga akan sampai di sini."
"Geffie??? Loh kenapa??? Bukankah dia harus kuliah???"
"Iya, tapi tidak setiap hari kuliah Ma. Dan Dia tidak mau melewatkan waktu untuk mengobrol dengan mama dan juga Papa, jadi dia memaksa kakak untuk mengiizinkan datang ke sini. Besok kakak pasti akan menjemputnya di airport, kalau begitu kalian istirahat aja dulu, aku akan menyuruh Maria Untuk mengantarkan minuman kesini."
"Baiklah terima kasih Vicky sayang."
Vicky kemudian beranjak dan meninggalkan kamar kedua orang tuanya, perasaannya semakin tidak karuan. Entah kenapa Mamanya bisa bisanya malah menyuruhnya untuk menikahi Ciara, bahkan untuk saat ini saja Vicky sedang memikirkan upaya untuk menghancurkan Ciara bukan malah menikahinya. perempuan itu sangat kejam sekaligus jahat. Lalu bagaimana dia bisa menikah dengan perempuan seperti itu, bisa-bisa kehidupannya akan hancur.
****
Garviil juga akhirnya sampai di rumahnya, dia masuk dan mendapati adiknya sedang duduk sendirian di ruang tamu. Garviil pun menanyakan keberadaan kedua orang tuanya dan Vicky memberitahu jika mereka sepertinya sedang beristirahat dan ada di kamar mereka. Garviil kemudian memilih untuk ke kamarnya dan akan menemui orang tuanya. Setelah dia mandi dan berganti pakaian untuk saat ini dia akan membiarkan orang tuanya untuk beristirahat lebih dulu.
Tanpa diduga Garviil beranjak dari sofa dan mengejar kakaknya yang sedang menaiki tangga menuju lantai 2, di mana kamar kakaknya berada. Garviil menoleh ke belakang karena adiknya berlari menyusulnya. Vicky kemudian berjalan di samping Garviil menaiki tangga bersamaan dan mengatakan kepada kakaknya itu bahwa dia ingin mengobrol. Garviil pun menganggukkan kepalanya dan menyetujui permintaan adiknya lalu mereka masuk ke dalam kamar Garviil.
"Kenapa Vic??? Ada apa???"
"Aku sudah memikirkan pembalasan dendam yang kejam kepada Ciara dan juga Bianca." Gumam Vicky.
"Memang pembalasan seperti apa yang sudah kau pikirkan dan sudah kau rencanakan itu???" tanya Garviil.
"Tidak ada yang istimewa Kak. Aku hanya ingin menghancurkan hati kedua perempuan itu, menghancurkannya tanpa ampun hingga hubungan persaudaraan mereka berdua juga akan ikut terkena dampaknya lalu mereka akan membenci satu sama lain. Bagaimana menurutmu??? Apa kau setuju???"
"Iya tetapi rencana yang bagaimana, kau tidak menjelaskannya. Kalau aku setuju setuju saja karena mereka memang pantas untuk mendapatkan balasan yang menyakitkan terlebih lagi ini tentang kematian Tiffany, aku tidak bisa begitu saja untuk memberikan maaf kepada Bianca dan aku juga tahu kau pasti sangat terluka, apa lagi dengan fakta, itu jadi Bisakah kau Jelaskan pembalasan dendam seperti apa yang sudah kau rencanakan??? Apa maksudmu mengenai hubunganmu dengan Ciara yang kau menolaknya untuk mengakhirinya???"
"Iya Kak, itu salah satunya, tapi ada hal lain yang sedang aku rencanakan mungkin aku tidak bisa mengatakannya kepada kakak untuk saat ini dan kakak pasti akan tahu nantinya. Seperti apa Rencanaku, hanya saja aku sekarang sedang memikirkan Bagaimana aku akan mengeksekusinya sehingga kedua wanita jahanam itu bisa saling membenci satu sama lain."
"Baiklah lakukan Apapun yang menurutmu itu baik, aku tahu kau adalah target utama Bianca untuk pembalasan dendamnya setelahnya mungkin baru aku dan Geffie. Jadi ku pikir kau punya hak sepenuhnya atas segala rencanamu dan aku akan selalu mendukungmu, kalau kau butuh bantuan Kau bisa mengatakannya padaku, aku akan dengan senang hati membantumu tapi aku juga berharap bahwa kau bisa menjaga dirimu baik-baik serta menjalankan ini dengan penuh keyakinan, tetapi tidak sepenuhnya menggunakan kemaraha, karena berpikir dalam keadaan marah tentu itu bukan yang terbaik. kau harus memikirkan semuanya dengan matang, baik dan juga buruknya, kalau ingin ini semua berhasil dengan baik setidaknya tepiskan dulu kemarahanmu, meskipun tentu balas dendam itu dikarenakan oleh kemarahan tapi kuharap kau bisa membedakannya."
Garviil tersenyum. Ya pembalasan dendam ini sebenarnya adalah pembalasan dendam yang harus dilakukan oleh adiknya dan tentu saja sebagai seorang kakak dia akan mendukung Vicky dengan apapun yang akan dilakukan adiknya itu pada Ciara dan Bianca. Karena apa yang sudah dilakukan Bianca sungguh sangat keterlaluan dan tidak manusiawi. Bianca telah merencanakan untuk membunuh seseorang secara sadar kemudian mengirim seseorang lagi untuk bisa kembali menghancurkan Vicky setelah kematian Tiffany, sehingga tentu Vicky memiliki hak penuh untuk bisa balas dendam pada Bianca serta Ciara. Apapun yang akan dilakukan Vicky, Garviil akan sangat mendukungnya dan Garviil juga tahu bahwa Vicky tidak akan melakukan hal yang bisa membuat seseorang meninggaI, meskipun saat ini Vicky sedang marah besar terhadap bianca tetapi Vicky tidak akan pernah mungkin memikirkan hal untuk membunuh Bianca. Sangat berbeda dengan cara Bianca yang ingin menyingkirkan seseorang lalu mengakhiri hidup orang itu dengan cara yang kejam. Sehingga Garviil juga sangat yakin apa yang sudah direncanakan oleh adiknya saat ini, bahwa apapun yang akan dilakukan Vicky pastilah sudah dipikirkan oleh Vicky dengan baik untuk bisa menghancurkan kehidupan kedua perempuan itu. Menghancurkan secara perlahan tanpa harus mengakhiri hidup mereka seperti apa yang sudah dilakukan oleh Bianca pada Tiffany. dimana Bianca ingin menyingkirkan Tiffany tetapi Bianca memilih untuk membuunuh Tiffany dengan cara yang sangat kejam tetapi Vicky sepertinya memiliki rencana yang lain untuk bisa membuat kedua perempuan itu jera dan meminta ampun kepadanya sehingga Garviil yakin apapun yang sedang direncanakan Vicky saat ini pasti itulah yang menurut Vicky terbaik.
Vicky pun tersenyum, dia sudah mendapatkan restu dari kakaknya sehingga saat ini dia hanya perlu menentukan waktu yang tepat untuk memulai permainannya untuk membalaskan dendamnya pada Bianca dan Ciara. itu tidak akan bisa mengampuni mereka dan dia akan menghancurkan kedua hati perempuan itu hingga keduanya harus menangis di depannya dan juga berlutut untuk meminta maaf atas apa yang sudah mereka lakukan.
****
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Garviil kemudian pergi ke kamar orang tuanya untuk menyapa dan menemui mereka. Sampai di depan kamar kedua orang tuanya, Garviil mengetuk pintunya dan tidak lama pintu itu dibuka dari dalam. Garviil tersenyum ketika melihat mamanya yang membukakan pintu untuknya. Ia pun langsung memeluk mamanya untuk mengeluapkan kerinduannya, sudah lebih sekitar dua minggu dia tidak bertemu mamanya Mama aku minta maaf karena tadi tidak bisa menjemput di airport.
"Tidak apa-apa sayang, kalau sudah menyuruh sopir untuk menjemput kami, lagi pula kau juga sedang sibuk kan??? Bagaimana pekerjaan kamu di kantor sudah beres???"
"Sudah Ma, beres dan sangat lancar sekali." Jawab Garviil. "Papa mana Ma???"
"Papa sedang mandi. Oh ya Adik mu bilang katanya besok Istrimu mau ke sini??? Kenapa tidak kau larang Viil, kan kasihan dia harus datang ke sini nanti kembali lagi ke Washington DC padahal sebenarnya Mama dan Papa juga tidak apa-apa kalau dia tidak menemui kami, karena kami mengerti dia juga punya kesibukan di sana."
"Aku sudah melarang nya Ma, tapi Geffie sendiri yang memaksa, katanya dia sudah merindukan mama lagi dan ingin mengobrol dengan mama, ya mau bagaimana aku Ya iya saja dan aku akan menjemputnya di bandara, aku sendiri juga mau menjemputnya di Dc, rasanya tidak tega aku membiarkannya ke sini sendirian tapi dia bilang tidak apa-apa, dia bisa ke sini sendiri dan memintaku menjemputnya di airport besok pagi."
Mama Garviil kemudian mengajak Putra sulungnya itu untuk masuk ke dalam kamar dan mereka memilih duduk di sofa. Wajah mama Garviil terlihat sangat bahagia sekali bisa datang lagi ke tempat kelahirannya, ini sudah cukup lama dia tidak datang karena memang kesibukan suaminya tapi akhirnya mereka bisa mencari waktu dan saat ini datang ke sini untuk menengok kedua Putra mereka yang memang tinggal di sini. "Tadi mama mengobrol dengan adikmu, mama senang dia bilang katanya kekasihnya minggu depan akan datang ke sini dan Mama ingin sekali bertemu dengan gadis bernama Ciara itu, Dia sangat cantik ya???"
Garviil terdiam, mamanya membahas tentang Ciara tetapi sepertinya Vicky belum memberitahu mamanya tentang Ciara yang adalah sepupu Bianca. Hanya saja itu adalah hal yang bagus karena Garviil sendiri tidak ingin membuat mamanya semakin khawatir apalagi jika Papanya tahu pasti akan lebih marah. Dan memang lebih baik menyembunyikan masalah ini untuk sementara waktu sambil menunggu Vicky mulai untuk melakukan balas dendamnya kepada kedua perempuan itu.
"Iya karena perusahaan kami sudah memutuskan untuk melakukan kerjasama jadi ini adalah penandatanganan kerjasama kami. Itulah kenapa dia minggu depan akan datang, memangnya Vicky memberitahu mama mengenai pacar barunya???"
"sebenarnya sih bukan Vicky yang memberitahu Mama, tetapi istrimu waktu itu, ya waktu awal-awal Vicky berpacaran dengan perempuan bernama Ciara."
"Oh Geffie yang memberitahu mama???"
"Iya, mama jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya, sebenarnya dari awal niat mama jika Mama ke sini, mama inginnya bertemu dengan Tiffany, tapi ya kata sendiri bahwa Tiffany sudah meninggalkan kita lebih dulu, jadi Mama tidak ada kesempatan untuk bertemu dengannya. Dan kali ini Vicky sudah menemukan yang baru dan Gadis itu baik, cantik dan cerdas, tentu Mama akan sangat senang sekali dan berharap hubungan mereka akan berakhir seperti hubunganmu dengan Geffie. berakhir dalam sebuah pernikahan, so, Mama tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan memiliki menantu perempuan, karena kau sendiri sudah menikah dan Vicky nanti juga akan segera menyusulmu. Mama sangat berharap sekali adikmu bisa segera menyusulmu dan juga Geffie. Sekarang katakan pada mama. Bagaimana Ciara itu??? kau sudah bertemu dengannya kan???"
Garviil tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Ya Awalnya dia juga berpikiran sama tentang Ciara, bahwa Ciara itu cantik cerdas dan sangat baik hati tetapi ternyata Ciara bukan gadis yang baik hati, tetapi kebalikan dari itu. Ciara hanya ingin mengerjai Vicky dan menghancurkan Vicky atas perintah Bianca itulah Ciara yang sebenarnya tetapi lagi-lagi Garviil saat ini tidak bisa mengatakan kepada mamanya tentang siapa sebenarnya Ciara itu dan dia juga tentu tidak berharap bahwa Ciara bisa menjadi istri dari Vicky karena Ciara bukanlah perempuan ideal untuk Vicky. Vicky harus mendapatkan gadis yang lebih baik dari Ciara, bahkan jika bisa gadis seperti Tiffany yang memiliki ketulusan yang murni bukan pembohong seperti Ciara.