Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Ke rumah Garviil



Gienka keluar dari rumah ya kemudian melempar pandangannya ke halaman rumahnya untuk mencari keberadaan Garfield kemudian melihat ada sebuah mobil berwarna putih yang terparkir di depan gerbang rumahnya Gienka tersenyum lalu dia berjalan keluar. Gienka menghampiri security yang berjaga di rumahnya dan meminta agar membuka pagar.


"Garviil.....!!!!" Teriak Gienka sembari melambaikan tangannya.


Garviil yang di dalam mobil menoleh dan tersenyum melihat Gienka. "Hai kak....!!!" Garviil juga melambaikan tangannya.


"Masuklah....!!!" Teriak Gienka lagi sembari menggerakkan tangannya untuk.menyuruh Garviil masuk.


Garviil melihat pagar rumah di buka oleh security menandakan bahwa dia mendapatkan akses untuk masuk. Garviil pun bersiap dan menyalakan mobilnya. Lalu membawanya masuk ke rumah besar itu.


Garviil memarkir mobilnya di halaman rumah Geffie yang luas itu, dia keluar dan di sambut oleh Gienka kakaknya Geffie. "Selamat pagi kak Gienka..." Sapa Garviil sembari menyalami Gienka.


"Selamat pagi Viil...! Ayo masuk, Geffie sedang berganti pakaian dan bersiap, kalian akan pergi kan??? Ayo.masuk!!!" Ajak Gienka. "Abaikan kekonyolan adikku itu, dia memang sudah tidak waras, bukannya mengajakmu masuk malah melarangmu, dia memang tidak waras. Ayo..!!!"


Garviil tersenyum kemudian mengikuti Gienka. "Wah perut kakak sudah besar, sudah berapa bulan kak???"


"Beberapa minggu lagi akan lahir, hahaha..."


"Kata Geffie, bayi kakak perempuan ya???"


"Iya perempuan"


"Wow, pasti nanti gemoy sekali..."


"Hahaha iya dong, emak bapaknya kan juga gemoy hehehe... Ah iya sayang sekali kau datang di saat Mamah dan Papa Iel tidak ada, mereka baru saja pergi sekitar setengah jam yang lalu."


"Om dan tante tidak ada di rumah???"


"Ya, mereka baru saja pergi ke airport, mereka ke Makassar, untuk menghadiri pernikahan kolega nya Papa Iel yang ada disana. Dan baru saja pergi."


"Oh sayang sekali aku terlambat, padahal aku ingin bertemu dengan mereka."


"Iya, kau sedikit terlambat, duduk lah..!!! Oh iya kau ingin minum apa???" Tanya Gienka.


"Apa saja kak." Garviil kemudian duduk di sofa. Gienka memanggil Art nya dan menyuruh untuk membuatkan minum untuk Garviil. Gienka juga kemudian duduk di sofa.


"Geffie bilang nenekmu meninggal dunia ya???" Tanya Gienka.


"Iya kak."


"Aku turut berduka cita."


Garviil tersenyum. "Terima kasih kak."


"Sama-sama, pasti berat sekali melepas orang yang kita cintai. Oh iya... Kau bagaimana bisa datang kesini??? Geffie bilang dia akan menumpang dengan mobilkyu dan minta di antar ke rumahmu, tapi tiba-tiba kau sudah ada disini saja."


Garviil tersenyum. "Aku datang memang untuk menjemput Gienka kak, dia bilang mau datang ke rumah jadi inisiatif saja."


"Dia konyol sekali, kau datang tapi malah di suruh menunggu di luar. Kau maklumi saja ya???"


"Iya kak, tidak apa-apa, aku maklum, dia mungkin terkejut karena aku tiba-tiba disini."


"Dia konyol.. Nah ini minumannya."


Art datang membawa nampan berisi minuman dan memberikannya pada Garviil. Gienka mempersilahkan Garviil untuk minum sambil menunggu Geffie turun.


Garviil mencuri pandangan di ruang tamu. Dan dia juga melihat bingkai foto yang besar sekali dimana itu adalah foto keluarga Geffie. Ada foto Geffie, Gienka, Kyros dan tentu kedua orang tua Geffie. Garviil ingat sekali dengan wajah Papa nya Geffie, dia pernah melihat nya di artikel bisnis yang pernah di baca nya waktu itu.


Sampai akhirnya Geffie turun dan terkejut karena melihat Garviil masuk ke dalam rumahnya dan sedang mengobrol dengan Gienka. Heffie berlari menghampiri Garviil dan Gienka.


"Kau kenapa disini??? Aku kan memintaku menunggu di luar???" Tanya Geffie.


"Aku yang menyuruhnya masuk, lagipula kau ini kenapa dek??? Masa ada tamu di biarkan menunggu di luar, bukannya di suruh masuk. Kau ini tidak sopan sekali."


"Tapi kak???"


"Sudah diamlah dan duduk, biarkan Garviil menghabiskan minumnya, baru setelah itu kalian bisa pergi."


Garviil tersenyum dan menghabiskan minumannya kemudian berdiri dan mengajak Geffie untuk bisa pergi. Garviil berpamitan pada Gienka kemudian mereka berangkat. Gienka mengantar sampai depan, baru masuk setelah mobil Garviil keluar dari gerbang. Gienka senang sekali karena Garviil terlihat sangat baik dan menyayangi Geffie dan Gafviil juga sangat baik serta humble. Sejak pertama kali melihat Garviil , Gienka langsung bisa menilai bahwa lelaki itu baik sekali dan cocok dengan Geffie yang juga gadis periang.


"Kau ini kenapa masuk???? Aku kan memintaku menunggu di mobil saja." Protes Geffie.


"Kak Gienka yang memanggil ku dan meminta aku masuk, masa aku menolak???"


"Lagipula kenapa kau menjemputku, aku bilang aku ingin datang kesana sendiri, dan aku juga melarangmu untuk menjemput ku."


"Memangnya apa yang salah kalau aku menjemputmu??? Kau pacarku, aku harus menunjukkan perhatianku, lagipula aku juga sangat merindukanmu, kita beberapa hari tidak bertemu kan???"


"Ya tapi kan aku sudah janji akan bertemu denganmu di rumahmu, memang apa salahnya menunggu satu jam untuk bertemu."


Garviil menoleh. "Memangnya kenapa sih???? Kau terlibat tidak suka sekali aku datang, memang apa salahnya aku datang untuk bertemu dengan keluargamu, kita kan sudah memutuskan untuk menjalin hubungan ke tahap yang serius, bukankah tidak ada yang salah kalau aku juga bisa mengenal keluargamu." Ujar Garviil.


"Aku kan sudah bilang kalau Papa dan Mama tidak ada di rumah, lalu bagaimana kau akan bertemu mereka."


"Ya aku sudah tidak masuk kan tadi??? Aku menurutmu, tapi kak Gienka muncul dari dalam dan memanggilku, masa aku menolak saat dia memintaku masuk. Oke aku minta maaf karena aku tiba-tiba menjemputmu. Jangan marah-marah lagi, sorry sorry... Please jangan marah, masa baru bertemu sudah marah-marah sih.???" Garviil meraih jemari Geffie, mengecupnya dan menoleh penuh cinta ke arah kekasihnya itu.


"Iya aku maafkan, jangan di ulangi lagi, kalau ada aa-apa harus di bicarakan jangan mengejutkan aku seperti itu."


"Iya, tidak akan terjadi lagi, aku janji." Garviil melempar senyum.


"Kau nanti ikut ya ke Anyer, kau kembali ke Boston hari selasa kan????" Tanya Geffie.


"Iya aku kembali hari selasa."


Garviil tersenyum. "Ya baiklah, akh akan ikut, aku juga ingin menikmati waktu denganmu, sebelum kita berpisah lagi karena kau akan disini."


Geffie tersenyum, kemudian menyandarkan kepala nya di pundak Garviil. "Aku juga sedih harus berpisah denganmu, kita sudah terbiasa bertemu setiap hari dan sekarang harus terpisah." Gumam Geffie.


"Aku ingin lama disini tapi pekerjaan di Boston sudah menunggu ku."


"Aku tahu kau sibuk, dan kau juga harus kembali, nanti kita bisa bertemu lagi."


"Aku bilang pada Mama kalau kau akan datang ke rumah, dan Mama senang sekali, kau tahu kan dia sangat ingin sekali bertemu denganmu."


"Aku jadi merasa canggung." Gumam Geffie.


"Kenapa harus canggung, Mama orangnya sangat menyenangkan, dia juga bukan calon mertua yang memasang wajah galak pada gadis yang menjadi kekasihnya, Mama bisa jadi teman yang baik untuk mengobrol."


Geffie pun tertawa. "Memangnya aku pernah bilang kalau Mama mu galak. Aku juga tidak pernah berpikir seperti itu. Mamamu memang sangat baik dan juga manis sekali."


"Karena itu anaknya juga baik dan sangat manis sekali. Benar kan????" Garviil mengedipkan matanya.


Sebuah cubitan mendarat di pinggang Garviil. "Kau bukan manis tapi pahit dan juga menyebalkan.." Ucap Geffie kemudian kedua nya tertawa terbahak-bahak.


Garviil mengubah mode mobilnya dari manual ke mode autopilot agar mobilnya bisa berjalan sendiri. Kemudian dia memegang bahu Geffie.


"Aku sangat merindukanmu.." Gumamnya pada Geffie.


"Aku juga.." Geffie tersenyum dengan cantiknya.


Garviil mengerrang menahan perasaannya, lalu disentuhnya dagu Geffie lembut untuk mendongakkan kepalanya, kemudian dikecupnya bibir Geffie lembut.


Lidahnya mendesak masuk kemudian, terasa hangat dan menggoda, tanpa permisi menjelajahi seluruh bagian muIut Geffie, mencecapnya, Ijdah itu lalu menemukan Iidah Geffie yang lembut dan berjalinan di sana. Mulut Garviil meIumat seluruh bagian bibir Geffie, seakan ingin menyerap semua rasanya. Pelukannya mengencang, jemarinya menelusuri permukaan kedua lengan Geffie, bergerak naik turun dengan menggoda. Garviil sangat merindukan Geffie, sehingga dia ingin meluapkan kerinduannya kepada gadis yang sangat dia cintai ini.


Geffie juga sangat merindukan Garviil. Dia jiga merindukan ciuman Garviil. Karena hanya sebatas inj yang bisa mereka lakukan. Geffie selalu menjaga dirinya agar tidak melebihi apa yanv seharusnya. Dan Garviil juga tahu batasannya.


Mereka berdua saling mencecap sati sama lain, merasakan kemanisan dari bibir mereka berdua.


Ketika ciuman itu terlepas, napas mereka berdua sama-sama terengah-engah. Garviil lalu mengecup lembut bibir Geffie, beralih ke pipinya, diberinya hadiah kecupan-kecupan kecil, kemudian ke telinganya, menghembus lembut di sana membuat Geffie memekik kegelian.


"Sudah-sudah." Ucap Geffie sembari terkekeh. "Fokus lagi ke jalan, jangan sampai kita dalam masalah baru hanya karena saling melepaskan rindu."


"Aku sudah mengaktifkan auto pilot nya jadi tidak akan ada masalah."


"Tapi tetap harus fokus ke jalan, bisa gawat kalau ada polisi." Gumam Geffie.


Garviil hanya tersenyum. "Oke baiklah tuan putri." Garviil kembali berfokus pada jalanan. Dia tetap dalam mode auto pilot, dan tangannya menggenggam jemari Geffie. Seolah tidak ingin lepas dan jajb dari gadis ini. Garviil sangat mencintai Geffie, sangat mencintainya. Geffie membawa warna baru dalam kehidupannya, hubungan seperti inilah yang Garviil inginkan, bukan hubungan karena sebuah keterpaksaan yang sebelumnya dia lakukan dengan Bianca.


Bianca????


Garviil sudah tidak pernah tahu lagi kabar dari perempuan ular itu. Setelah kejadian di cafe dengan Vicky itu, Garviol tidak pernah berkomunikasi dengan Bianca dan memblokir kontak nya. Garviil juga tidak ingin mencari tahu. Baginya semua sudah berakhir dan tidak perlu lagi mengingatnya. Persetaan dengan Bianca, Garviil sudah di bohongi, di tipu dan di khianati sedemikian rupa. Bahkan memaafkan saja Garviil tidak akan bisa melakukannya. Terlalu menyakitkan sekali. Saat ini dia hanya ingin berfokus pada Geffie, dan dia ingin nanti Geffie bisa menikah dengannya. Garviil yakin bahwa Geffie adalah pelabuhan terakhirnya.


**


Sementara itu, sebuah mobil berwarna merah berhenti di depan rumah orang tua Garviil. Rumah itu dalam keadaan lengang, Papa Garviil sedang pergi ke kantor, sedangkan Vicky juga sedang pergi keluar untuk sebuah urusan, sementara Garviil pergi untuk menjemput Geffie. Hanya ada Mama Garviil dan asisten rumah tangga nya. Mama Garviil sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan kue, karena dia merasa senang sekali Geffie akan datang ke rumahnya. Dan dia ingin Geffie mencoba kue buatannya. Sehingga sejak tadi dia sibuk sekali di dapur untuk menyiapkan kue dan camilan untuk Geffie. Dia sangat senang sekali Garviil berhubungan dengan Geffie, gadis ith sangat cantik, baik, sopan dan juga menyenangkan. Sangat sesuai dengan kriteria menantu yanv dia impikan selama ini. Garviil bisa melepaskan ikatan dari ular bernama Bianca dan memulai hubungan baru dengan Geffie yang datang sebagai malaikat membawa keceriaan dan kebahagiaan untuk Garviil. Itulah yang membuat Mama Garviil senang dan sangat setuju dengan hubungan Garviil saat ini dk bandingkan dengan hubungan sebelumnya.


Saat sedang sibuk di dapur, terdengar suara bel dari luar. Mama Garviil tersenyum dan bergegas mencuci tangannya di wastafel dapur. Asisten rumah tangga nya hendak pergi untuk membuka pintu, tetapi Mama Garviil melarangnya dan meminta agar segera menyiapkan minuman dan kue nya karena itu pasti Garviil dan Geffie yang sudah datang. Dan Mama Garviil sendiri yang akan menyambutnya. Bergegaslah dia berjalan ke depan dan membuka pintu untuk menyambut Geffie.


Mama Garviil membuka pintu sembari tersenyum lebar menyambut tamu yang dia kira adalah Geffie dan Garviil. Saat membuka pintu, berdirilah seorang gadis membawa buket bunga yang menutupi wajahnya. "Hai Geffie sayang, akhirnya kau datang juga, Mama sudah menunggu....mu... Se...jak...Ta...di.." Suara Mama Garviil tercekat dan terbatas ketika ternyata yang datang bukanlah Geffie, melainkan Bianca.


"Selamat pagi Ma..??? Ini Bianca, Mama sedang menunggu siapa????" Tanya Bianca bingung sembari menengok kanan kiri dan menengok ke belakang seolah mencari orang yang nama nya di sebut oleh Mama nya Garviil.


"Ka...u..???"


Bianca menganggukkan kepala nya dan tersenyum. Bianca kemudian memeluk Mama Garviil. "Maafkan Bianca Ma baru bisa datang, Bianca baru tahu kalau Oma meninggal dunia, Bianca langsung datang kesini. Bianca turut berduka cita atas meninggalnya Oma, inj pasti berat sekali untuk Mama dan keluarga. Maaf ya Ma???" Ucap Bianca dengan masih memanggil Mama Garviil dengan panggilan Mama seperti dulu saat dia masih bertunangan dengan Garviil.


Mama Garviil melepaskan pelukan Bianca dan menatap Bianca dari ujung kepala hingga kaki. Dia melihat Bianca berdiri dengan normal, tidak lumpuh seperti dulu, menandakan bahwa perempuan di depannya inj memang sudah membohongi putra nya. Tatapan sinis dan dingin langsung di arahkan ke Bianca.


Mendapati ekspresi Mama Garviil yang seperti itu, Bianca pun menyadari nya. "Mama, pasti sudah tahu apa yang terjadi, Bianca minta maaf Ma karena sudah membohongi kalian semua, Bianca benar-benar menyesal. Tolong maafkan Bianca..????"


"Terima kasih kau sudah datang." Gumam Mama Garviil dingin.


Bianca kembali tersenyum. "Sama-sama Ma, ini aku membawa bunga untuk Mama, boleh Bianca masuk???" Tanya Bianca.


"Maaf Bianca, aku sedang sibuk."


"Sibuk apa Ma??? Mau Bianca bantu???"


Mama Garviil menggelengkan kepala nya. "Tidak perlu.!!!" Mama Garviil langsung teringat jika Garviil dan Geffie akan segera datang, dia tidak mau mereka bertemu dengan Bianca, dia harus mengusir Bianca segera dari rumahnya. "Aku akan pergi untuk sebuah urusan jadi maaf bukannya mengusir, tetapi 5menit lagi aku akan pergi dan sudah di tunggu, jadi bisakah kau pulang saja???" Mama Garviil mengambil buket pemberian Bianca. "Terima kasih untuk bunga nya."


"Oh jadi Mama mau pergi keluar ya??? Baiklah kalau begitu, tidak apa-apa, Bi akan pulang." Bianca mencoba tersenyum kemudian memeluk Mama Garviil dan berpamitan untuk pulang.


Bianca kemudian berbalik badan dan berjalan ke mobilnya. Bianca kemudian masuk ke dalam mobilnya. Bersamaan dengan itu, ternyata mobil Garviil memasuki halaman rumah.


"Wah, kebetulan Mama ada di luar.." Gumam Garviil. "Dia pasti sudah menunggu kita."


"Itu ada mobil, mungkin Mama menerima tamu." Sahut Geffie yang memang memanggil Mama Garviil dengan panggilan Mama seperti yang Garviil lakukan, karena Mama Garviil yang meminta agar Geffie memanggilnya dengan panggilan Mama.


Mobil Garviil berhenti tepat di belakang mobil berwarna merah yang berhenti di depan rumahnya dan Garviil lekas keluar dengan senyum sumringah. "Mama.....!!!!! Aku sudah pulang membawa menantu Mama...!!!" Teriak Garviil yang tidak sadar bahwa di dalam mobil yang terparkir di depan rumahnya itu ada Bianca.


Garviil berlari ke pintu mobil sebelah kiri dan membukakan pintu untuk Geffie. Geffie keluar dan tersenyum. "Thanks...!!" Ucapnya pada Garviil.


"Sama-sama sayang... Ayo, Mama sudah menunggu kita." Garviil merangkul Geffie dan berjalan menghampiri Mama nya. Tanpa kedua nya duga, Bianca membuka jendela mobilnya dan melihat Garviil merangkul seorang gadis dengan sangat mesra.