
"Kita semua akan tinggal di satu cottage???" Tanya Garviil.
"Tidak, nanti kalian para laki-laki akan tinggal di cottage sebelah." Geffie tersenyum. "Papa menyiapkan 2 cottage untuk kita."
Garviil tersenyum. "Apa setiap liburan kau selalu begini???? Maksudku kau tidak perlu mencari tempat menginap karena Papa mu punya banyak tempat. Apa itu benar???"
"Ya begitulah... Kalaupun seandainya kami pergi ke suatu tempat dan disana tidak ada penginapan atau hotel milik Papa, biasanya Papa akan menyuruh sekretaris nya untuk mencarikan. Jadi aku tinggal terima beres saja."
"Enak sekali... Hahaha tapi kenapa kau memilih untuk.kuliah bisnis dan tidak memilih ke hotel management saja. Sedangkan bisnis Papa mu berhubungan dengan itu???"
"Itu benar sekali, aku pun pernah mendiskusikannya dengan Papa dan kak Gienka. Jawaban Papa adalah selagi aku bisa menguasai ilmu bisnis secara keseluruhan itu akan jauh lebih bagus, karena aku akan bisa menghadapi. berbagai tantangan nanti nya, selain itu sebenarnya mendiang Opa punya bisnis lain, karenabisnis Property dan Real estate adalah bisnis milik mendiang Oma yang juga diwariskan pada Papa, keduanya harus di kelola dengan baik. Sehingga baik aku, kak Gienka dan kak Friddie harus bisa menguasai semua hal mengenai bisnis keluarga kami." Ujar Geffie. "Banyak orang yang bilang bahwa kami bertiga sangat beruntung memiliki semua itu dari Oma dan Opa juga orang tua kami dan tinggal meneruskan, tetapi mereka lupa bahwa kami bertiga juga harus berusaha dan tekun serta belajar dengan serius agar apa yang orang tua kami berikan nanti nya bisa kami kelola dengan baik, dan tetap berdiri seperti sebelumnya bahkan jika bisa harus lebih baik lagi dari sebelumnya."
Garviil tersenyum. "Cara berpikir kalian sama denganku.... Aku pun saat ini sedang berusaha membuktikan pada orang tuaku bahwa aku akan dan harus mampu untuk membantu mereka menangani bisnis yang sudah ada."
"Mempertahankan jauh lebih sulit." Gumam Geffie.
"Benar sekali.."
Di tengah obrolan itu, ponsel Garviil berbunyi. Karena terconnect di mobilnya, Garviil pun menjawabnya. "Aku di jalan, kau kenapa menghubungiku???" Tanya Garviil.
"Kau masih di jalan???"
"Iya, tapi sebentar lagi akan sampai, kenapa???"
"Bianca, dia baru saja datang kesini, dan apa kau tahu si nenek sihir itu memaksa masuk dan berbicara melantur."
"Maksudnya????" Tanya Garviil.
"Ya, dia datang dan ingin masuk tapi aku tidak mengijinkannya, dia jiga meminta maaf oke aku bilang memaafkan nya. Tapi tiba-tiba dia menanyakan tentang Geffie. Konyol bukan???"
Garviil menoleh ke arah Geffie yanv ada di sebelahnya. Geffie tentu saja mendengarkan percakapannya dengan Vicky mengingat ponselnya sudah terhubung dengan bluetooth di mobilnya. "Menanyakan tentang Geffie??? Tentang apa???"
"Dia bertanya Geffie itu siapa mu."
"Lalu kau menjawab Apa???"
"Aku tidak mengatakan atau menjelaskan dengan detail, akh hanya meminta nya pergi saja. Mood ku benar-benar rusak karena kedatangannya. Dia benar-benar sudah kehilangan otaaknya. Menyebalkan sekali. Membuatku sangat muak dengannya."
"Baguslah kalau kau tidak mengatakan apapun padanya."
"Aku juga berdebat panjang dengannya. Dia meminta kesempatan agar aku mau kembali dengannya, dia pikir aku jiga sama tidak berootaak sepertinya??? Hahaha Memangnya aku toIoI yang mau kembali dengannya. Tiba-tiba aku merasa menyesal, kenapa aku tidak ikut denganmu saja, kalau aku ikut aku pasti tidak harus berhadapan dengan nenek sihir itu."
"Kalau begitu menyusul saja." Celetuk Geffie. "Aku akan mengirim lokasi nya, kau menyusul kami saja Vic."
"Ah tidak Geff, aku nanti mengganggu kalian disana."
"Mengganggu apa, orang beramai-ramai kok, ada teman yang lainnya."
"Iya, kalau kau tidak ada kegiatan, ya menyusul saja, Geffie benar." Sahut Garviil.
"Setidaknya mood mu bisa membaik." Ucap Geffie. "Ayo Vic, aku kirim lokasi nya sekarang ya????"
Vicky terdiam untuk beberapa saat. "Ya bolehlah, ok ke aku akan bersiap."
Geffie dan Garviil kembali melempar pandangan dan tersenyum. "Nah gitu dong, oke kau bersiaplah, aku kirim lokasi nya dan kami akan menunggumu."
"Ya, aku akan bicara pada Mama. Kalau begitu aku tutup dulu panggilannya." Vicky pun menutup panggilannya. Sementara itu Garviil dan Geffie tersenyum karena merasa senang Vicky akan menyusul mereka sehingga akan lebih ramai.
"Akan semakin ramai." Gumam Geffie.
"Tapi nanti Vicky akan jadi obat nyamuk, kita semua datang berpasangan dan dia sendirian." Ucap Garviil.
Geffie terkekeh. "Kita berdua akan bersama nya, jangan sampai kita berdua meninggalkannya. Hehehe."
"Kenapa dia jadi menyusahkan kita, aku ingin berduaan denganmu dan sekarang kau malah meminta kita untuk bersama nya."
"Diamlah dan jangan memprotes. Vicky juga butuh berkenalan dengan teman baru disini."
Garviil meraih jemari Geffie dan mengecupnya. "Untuk yang tadi aku Monta maaf."
Geffie menoleh. "Maaf??? Untuk apa???"
"Karena Vicky membahas Bianca."
"Kau ini kenapa???? Aku todak merasa terganggu sekali, aku mengerti kalau Vicky memang ingin memberitahu mu jadi ya tidak ada masalah. Aku tidak merasa terganggu. Harus berapa kali aku bilang kalau aku tidak suka sekali mengungkit hubungan kekasihku dengan mantannya, itu masalalu mereka jadi apa yang harus aku Permasalahan. Sudahlah..."
Geffie menyandarkan kepala nya di bahu Garviil. Lelaki ini jadi sahabat dan kekasih yang baik untuknya. Dan dia benar-benar tidak memeprmasalahlan apapun mengenai Bianca. Lagipula Garviil juga tidak akan mungkin untuk Kembali dengan Bianca mengingat luka yang di tinggalkan begitu dalam hingga kepercayaan dan perasaan Garviil sudah benar-benar musnah. Bianca memang cantik tetapi Geffie tahu bahwa Garviil tidak akan pernah bisa tertarik dengan Bianca begitu juga dengan Vicky. Sehingga Bianca bukan orang yang harus Geffie takut untuk hadapi.
Garviil terus mengemudi mengikuti mobil kakak Geffie yang ada di depannya. Mereka sudah melewati jalanan dengan view pantai menandakan mereka akan segera sampai.
Kemudian mobil Friddi berhenti tepat di depan cottage , dan semuanya turun dari mobil. Garviil jug menghentikan mobilnya lalu turun bersama dengan Geffie. Mereka menghampiri Friddie dan yang lainnya.
"Kak, kenalkan ini Garviil. " Ucap Geffie memperkanlakn Garviil pada kakak dan dan sahabatnya. Garviil tersenyum, menyalami mereka bergantian dan memperkenalkan diri dengan sopan.
Garviil menyalami Friddie. "Garviil. Senang bisa bertemu denganmu. Geffie sering berbicara mengenai dirimu, eh panggilan apa yang harus aku katakan untuk memanggilku??? Kakak atau apa???" Tanya Garviil.
"Panggil nama saja, aku rasa kau lebih tua di atasku, kalau kau memanggilku kakak juga rasanya tidak elok, just Friddie " Ucap Friddie dan membalas uluran tangan Garviil. "Senang juga bisa bertemu denganmu, adikku sering membahasmu. Dan dia juga bilang kalau kau sudah bertemu juga dengan kak Gienka."
"Iya, Geffie mengajakku ke rumahnya beberapa bulan yang lalu. Dan kemarin lusa juga bertemu lagi."
"Oh iya Kak Friddie, nanti ada adiknya Garviil yang akan menyusul kesini, dia sedang bete di rumah jadi ingin ikut gabung, tidak apa-apa kan???" Tana Geffie.
"Adiknya Garviil??? Adik kembarnya???" Tanya Friddie memastikan.
"Iya kak...!!"
"Ya tidak masalah, bagus jadi semakin rame. Ini kunci cottage untuk kalian para cewek nomor 20 dan kami ada disini, nomor 19." Friddie memberikan kunci kepada Geffie. "Viil, turunkan barang Geffie dan kita bawa ke kamar mereka!!!"
Garviil menganggukkan kepala nya kemudian dia ke bagasi mobil Friddie dan menurunkan koper milik Geffie, Vineet dan Sanne. Para laki-laki itu membawa nya menuju ke cottage yang akan di tempati oleh para gadis.
Geffie membuka pintu cottage dan masuk. Cottage yang nyaman dan di belakang ada kolam renang yang langsung menghadap ke pemandangan laut yang indah. Sudah lama Geffie tidak datang kesini dan suasana nya selalu menyenangkan untuk melepaskan penat yang mendera. Setelah membawakan koper para gadis, para laki-laki keluar lagi dan merwka juga mengambil koper masing-masing untuk mereka bawa ke cottage mereka.
"Ada 2 kamar disini, kalau kau mau kau bisa memakai kamar utama yang lebih luas, supaya nanti kau bisa berbagi tempat tidur dengan adikmu, atau kau ingin kamar yang double bed??? Sehingga kita bisa berbagi, kau dengan adikmu, lalu aku dengan Louis." Ujar Friddie. "Kalau di cottage para gadis sih ada tiga kamar. Disana sedikit lebih luas, tetapi ya sama saja sih."
Garviil tersenyum. "Terserah saja bagaimana enaknya, yang terpenting kan bisa tidur, itu sudah cukup." Sahut Garviil.
"Oke, kau pakai kamar utama saja, aku dan Louis akan ada di kamar biasa. Kamarnya ada di belakang." Friddie menunjukkan arah kamar yang akan di gunakan Garviil untuk istirahat. Sementara dia akan tidur di kamar yang memiliki double bed bersama Friddie.
Garviil masuk ke kamar yang di tunjukkan oleh Friddie. Garviil meletakkan koper kecilnya di atas meja. Dia tidak ingin membongkar pakaiannya, mengingat dia hanya akan ada disini sampai besok siang saja. Garviil membuka jendela di kamarnya dan dia tersenyum karena view nya langsung menghadap ke arah laut. Dengan air berwarna biru, begitu cantik dan meneduhkan, ada juga kolam renang tepat di bagian belakang cottage ini. Garviil melempar tubuhnya di atas tempat tidur dan berbaring nyalang menatap langit-langit kamarnya. Selain Geffie, ternyata sahabat Geffie terlihat sangat baik sekali. Itulah kesan pertama yang AmGarviil rasakan setelah berkenalan dengan mereka. Friddie juga terlihat humble dan orang yanv menemyenangkan tidak seperti yang Garviil bayangkan sebelumnya.
Di tengah lamunannya ponselnya berbunyi. Garviil merogoh saku nya dan mengambil ponselnya. "Kenapa Vic???" Jawabnya dengan cepat.
"Aku sedang di jalan, baru berangkat dan akan menuju kesana." Ucap Vicky di ujung telepon.
"Oke, ikuti saja sesuai dengan lokasi yang di kirimkan Geffie, aku juga baru sampai. Jalanan lancar, kau akan sampai kurang dari dua setengah jam."
"Oke baiklah...!!!"
"Nanti hubungi aku atau Geffie kalau kau sudah maj sampai di cottage."
"Oke, ya sudah aku akhiri dulu." Vicky menutup panggilannya dan fokus mengemudi.
Garviil tersenyum mencari kontak Geffie dan menghubungi kekasihnya itu, dalam deringan pertama langsung di angkat. "Hai.." Sapa Garviil. Dia melakukan panggilan Video.
"Hai.... Kau sudah ada di kamarmu???"
"Ya, kau sedang apa???"
."Aku merapikan pakaianku. Kau tidak melakukannya???"
"Aku hanya membawa tas kecil, dan aku tidak mah membongkar nya, toh besok aku sudah pulang. Vicky baru saja menghubungi ku, dia baru saja jalan menuju kesini."
"Bagus kalau begitu... Kita akan menunggu nya. Sore ini kita semua akan melihat sunset, jadi kau pulihkan tenaga dulu nanti kita pergi ke lantai bersama-sama."
"Iya sayang....!!!! Aku mencintaimu...."
"Aku juga.... Sudah dulu, aku harus merapikan pakaianku, nanti kau ikut Kakak, dia dan kak Louis pasti akan kesini. Sambil menunggu Vicky dan sore datang. Kita makan siang bersama-sama. Aku baru saja memesan makan siang dari restoran yang ada disini dan akan di antar sebentar lagi.
"Ya sudah rapikan pakaianmu dulu, aku juga mau beristirahat sebentar. Bye..."
Panggilan berakhir dan Garviil meletakkan ponselnya dj sebelahnya lalu karena lelah, dia pun memejamkan matanya dan langsung tidur.
****,
Panas yang terik tetapi di hiasi birunya langit dengan beberapa gumpalan awan berwarna putih, daun kelapa yang bergooyang di terpa angin. Pasir putih lantai dan karang yang di tepi pantai membuat suasana begitu nyaman, serta sejuk dan sangat indah sekali.
Perempuan cantik itu melepas handuk yang melilit pinggangnya dan melemparnya ke pasir, lalu berjalan menuju air dan mulai masuk ke air laut yang hangat. Dengan sinar matahari yang cerah, seolah tidak membuatnya takut kuIktnya menjadi cokeIat. Dia sangat menyukai air dan berenang. Sehingga pantai selalu jadi pilihan terbaik untuknya berlibur dan menikmati ketenangan yang di hadirkan oleh alam.
Wajah cantiknya dan tubuh mungil nya membuatnya semakin terlibat luar biasa. Sangat menyenangkan bisa berada di tempat tenang seperti ini. Dia tidak bisa diam saja di cottage dan ingin jalan-jalan untuk membuat suasana hatinya menjadi baik.
Langkah pelan nya menuju laut. Ombak kecil membuat kakinya langsung basah dan dia terus berjalan menuju laut untuk kemudian berendam dan berenang. Dia tidak peduli dengan kuIitnya akan menjadi geIap tetapi dia tidak akan melewatkan waktu untuk berenang di laut yang biru ini.
Namanya adalah Ciara, dia adalah seorang pimpinan perusahaan muda dan baru menjabat sekitar satu tahun ini karena Papa nya meninggal. Perusaah di bidang import dan eksport. Dia sangat cantik sekali, dan punya kebiasaan berpetualang sehingga dia seperti tidak mempermasalahkan mengenai tubuh dan kulit seperti perempuan pada umumnya. Dia sangat senang sekali bekerja dan sangat cerdas dalam hal kepimpinan. sehingga banyak orang menyebutnya sebagai harimau betina yang mampu menyelesaikan berbagai masalah dengan mudah dan tidak butuh waktu lama, hingga wajar jika orang cukup menghormati nya.
"Ahhhh segar sekali.....!!! Ombak tenang dan kecerahan matahari yang cukup membuat semuanyamenjadi semakin luar biasa. Aaahhh andai saja akh juga menemukan pujaan hatiku disini, itu pasti akan jadi hal yang lebih menyenangkan lagi. Hahahahaha...." Gumam Ciara kemudi. tertawa menertawa kan dirinya sendiri.