Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
pantai



))Jp


Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam, akhirnya Vicky sampai juga di cottage yang di maksud Geffie. Dia sudah di depan dan turun dari mobilnya untuk menanyakan nomor cottage yang di tempati oleh Geffie dan yang lainnya saat ini. Setelah di tunjukkan arahnya, Vicky pun kembali ke mobilnya dan menuju tempat itu.


Vicky mengemudi dengan sangat pelan, toh dia juga sudah sampai disini. Vicky mengemudikan mobilnya sembari melihat kondisi sekeliling. Tempat yang nyaman dan asri sekali. Garviil bilang ini adalah milik dari Papa nya Geffie, yang memang sudah tidak perlu di ragukan lagi, Papa Geffie punya ratusan tempat menarik di tempat yang juga luar biasa menarik untuk di singgahi. Hotel yang semuanya luar biasa, Villa hingga resort dan cottage seperti ini hanya bagian kecil dari usaha Papa nya Geffie.


Vicky sudah melewati beberapa cottage. Dia tinggal belok ke kanan untuk menemukan cottage nomor 15 sampai 20 dimana disana sudah ada Geffie dan Garviil yang menunggu nya.


Vicky melihat pemandangan laut yang bgitu cantik dan dia menghentikan mobilnya sebelum berbelok ke arah kanan. Vicky keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pantai itu. Sudah lama dia tidak ke pantai karena sibuk dengan kegiatannya dan tidak ada salahnya dia berhenti sebentar untuk melihat pantai dengan laut yang biru.


Vicky sampai di pantai dan berjalan dengan santai. Melihat suasana yang asri dan angin pantai membuat rambut gondrong nya berantakan. Tetapi Vicky tidak peduli dan dia tersenyum dengan suasana yang menyenangkan ini.


Ponselnya berdering, Vicky merogoh kantung celana nya dan melihat nama kakaknya muncul. Dia mengangkatnya. "Ya..x Jawabnya langsung.


"Kau dimana??? Kau bilang sudah di depan kok tidak sampai-sampai???" Tanya Garviil.


"Ahhh itu, aku sedang ke pantai, jalan sebentar saja, nanti aku akan kesana."


"Pantai mana???"


"Ini yang ada di sekitar cottage, sebelum belok kanan. Di tengah."


"Kau ini ada-ada saja, di belakang cottage juga langsung pantai."


"Iya??? Hahaha aku tidak tahu, tapi ya sudah terlanjur, aku mau jalan-jalan seben...tar..." Ponsel Vicky terjatuh ketika tidak sadar dan tidak memperhatikan depan, seseorang menabraknya.


"Aoowww.... Sorry... Sorry..." Ucap seorang perempuan yang menabrak Vicky.


Vicky membungkuk untuk mengambil ponselnya yang jatuh dan bersamaan dengan itu perempuan itu juga membungkuk untuk mengambil ponselnya yang juga terjatuh. Mereka saling berhadapan. Vicky langsung membatin bahwa perempuan yang ada di depannya itu sangat cantik sekali. Tetapi perempuan itu langsung meminta maaf, berdiri setelah mendapatkan ponselnya. "Maaf, aku tidak fokus."


"Tidak masalah, aku juga todak fokus berjalan. " Sahut Vicky.


"Aku permisi dulu." Perempuan itu kemudian meninggalkan Vicky dan berjalan begitu saja. Vicky hanya terdiam memandangi perempuan itu.


"Vicky..... Vic...." Panggil Garviil yang masih terhubung di telepon.


Vicky terpana untuk sesaat pada perempuan itu lalu menunduk melihat ponselnya yang ternyata masih terhubung dengan panggilan dari kakaknya. Vicky kembali meletakkan ponselnya di Telinga nya. "Ya.."


"Kok ada suara perempuan???" Tanya Garviil.


"Ah itu tadi kami tidak sengaja bertabrakan. Aku akan segera kesana." Vicky mengakhiri telepon dari kakaknya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Vicky masih memandangi perempuan yang tadi yang ternyata masuk ke sebuah cottage yang Vicky duga adalah perempuan itu mengjnak disana. Vicky kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan pantai. Dia sudah di tunggu kakak nya atau kalau dia tidak segera muncul, kakaknya akan menceramahi nya. Vicky berlari kembali lagi ke mobilnya dan langsung mengendarainga menunj cottage yang di tempati oleh kakaknya.


Vicky akhirnya menemukan cottage Garviil dan kakaknya iti berdiri di depan cottage itu menunggu nya. Vicky keluar dari dalam mobilnya dan tersenyum menghampiri kakaknya. "Hai..." Sapa Vicky.


"Kelayapan saja... Bukannya langsung kesini." Gerutu Garviil.


"Sorry..."


"Hai Vicky..." Geffie keluar dari dalam cottage dan menghampiri nya juga.


"Hai Geff..."


"Datang juga, sejak tadi kami menunggumu. Masuk yuk, kita semua sedang berkumpul."


"Ini cottage nya para gadis, bawa saja barangmu nanti, sekarang ayo masuk dan bertemu dengan kakak Geffie dan yang lainnya." Ucal Garviil.


"Oke..."


Mereka bertiga kemudian masuk dan ternyata di dalam memang ada beberapa orang.


"Kak, ini Vicky, adiknya Garviil." Geffie memperkenalkan Vicky pada kakak dan juga sahabatnya. Mereka sedang berkumpul di ruang belakang yang terbubung dengan kolam renang yang menyajikan pemandangan laut yang biru. Vicky menyalami semua nya dan Geffie mempersilahkan Vicky untuk duduk. Mereka sedang berkumpul dan berbincang sembari menunggu sore .


"Vicky, ku dengar kau seorang pelukis.???" Tanya Friddie.


"Ya."


"Akh pernah melihat lukisanmu di apartemen Geffie ketika kemarin aku kesana, dan itu sangat luar biasa sekali...!!!! Geffke juga bilang kau sering mengadakan pameran lukisan di luar negeri."


"Iya, terakhir bulan lalu di New York."


"Aku butuh sekitar 3 lukisan untuk aku pajang di ruangan kerja ku, baik di kantor ataupun di rumah, jika aku memesan lukisan itu padamu, apa kau bisa membuatkannya atau kau punya galeri yang memperlihatkan lukisanmu untuk di jual??"


Vicky tersenyum. "Tentu saja, aku memiliki galeri disini, dan aku juga bisa membuat lukisan sesuai dengan permintaanmu, kau ingin lukisan yang bagaimana???" Tanya Vicky.


"Aku suka lukisan abstrak. And then dimana galery lukisanmu, aku jadi ingin datang."


Vicky tersenyum.kemudian memberikan alamat galeri lukisannya. "Aku akan kembali ke Amerika bersama Garviil besok, dan akan beberapa waktu tinggal disana jadi ya tidak pulang ke Indonesia tetapi tentu tetap akan kembali jika ada waktu luang." Ujar Vicky. Dia memang akan kembali ke Amerika dan mulai membantu bisnis kakaknya disana. Vicky sendiri tidak bisa memastikan kapan dia akan pulang ke Indonesia. Karena selain di Boston dia juga ada beberapa kunjungan ke beberapa tempat


"Beri aku kartu nama mu, aku akan menghubungi mu untuk pembicaraan selanjutnya.". Ucap Friddie. Vicky kemudian memberikan kartu nama nya.


"Kau hubungi saja aku, nanti aku akan membuatkan lukisan untukmu sesuai yang kau inginkan."


"Kau sering ya melakukan pameran lukisan???" Tanya Louis.


"Ya terkadang satu bulan sekali atau dua bulan sekali, tergantung permintaan. Kadang ya dari keinginanku sendiri."


"Kau punya tim khusus???"


"Bukan tim khusus tetapi aku punya partner yang biasa membantuku mengurus semua nya."


"Kau terlihat sangat profesional." Gumam Louis.


"Tentu saja kak, waktu pameran di Boston, semua lukisan nya habis terjual hanya dalam dua hari. Dan bahkan ada yang terjual sampai 10 ribu dollar." Sahut Geffie.


"Hebat dong.." Friddie tersenyum. "Kalian berdua kembar identik tetapi punya perbedaan yang mencolok, Garviil seorang pengusaha dan kau Vicky seorang pelukis yang hebat. Keluarga kalian pasti bangga sekali."


))>>(((


Sore harinya, semuanya berkumpul dan keluar dari cottage menuju ke pantai. Mereka Bertelanjang kaki agar bisa langsung merasakan pasir pantai dan bermain air laut. Senja sebentar lagi akan tiba, dan mereka bersiap tetapi memilih jalan-jalan menyusuri lantai lebih dulu.


Vicky berjalan beriringan dengan Garviil dan Geffie. Seperti janji Garviil dan Geffie kalau mereka akan menemani Vicky dan tidak akan berduaan supaya Vicky tidak merasa terasingkan karena tidak membawa kekasihnya.


"Kau tidak menghubungi Tiffany???" Tanya Garviil pada adiknya.


"Dia belum membalas pesanku, mungkin dia masih tidur." Jawab Vicky.


"Nanti kita hubungi dia, aku semalam menghubungi nya, ingin video call tetapi dia sedang bersama keluarga nya. Jadi aku batalkan." Ucap Geffie.


"Aku sangat merindukannya, dan sebenarnya ingin cepat kesana." Gumam Vicky.


Geffie tersenyum. "Aku sudah bicara dengan Tiffany mengenai penawaran Garviil kemarin."


Vicky mengerutkan dahi nya. "Penawaran apa???" Tanya nya penasaran.


"Penawaran tentang pekerjaan, jadi Garviil memintaku agar membuat Cv begitu juga dengan Tiffany dan mengirimnya ke kantornya. Garviil ingin kami bekerja disana. Bagaimana menurutmu Vic???" Tanya Geffie.


"Kalian ingin bekerja di kantor Garviil.??????"


"Ya.. Aku semalam memikirkannya, dan akj rasa tidak ada salahnya juga, meskipun aku hanya akan bekerja beberapa bulan saja sambil menunggu kepindahanku ke Dc."


"Wah bagus dong kalau kau ingin bekerja di kantor Garviil, aku jadi semakin semangat, dan bisa setiap hari berangkat dengan Tiffany."


Garviil tersenyum. "Aku sudah menduga sebelumnya bahwa cara ini efektif untuk membuatmu bersemangat pergi ke kantor. " Sahut Garviiil.


Vicky tertawa. "Hahahahahaha rupanha kau pandai membaca peluang. Hahaha."


"Untuk mendapatkan ikan harus ada umpan menarik supaya ikan itu menghampiri umpannya, kau akan bersemangat ketika ada sesuatu yang menarik dekat denganmu, jadi aku berpikir bahwa yang bisa aku jadikan umpan adalah Tiffany. Seprtinya itu cukup berhasil."


Geffie tertawa. "Kalian lucu sekali hahahahaha...."


"Lalu bagaimana dengan Tiffany???" Tanya Garviil pada kekasihnya.


"Dia sih oke oke saja, dan memang sudah berniat untuk mencari pekerjaan di Boston. Tetapi aku ingin kami berdua tetap melewati prosedur yang ada bukan dengan jalur istimewa ya???? Aku tidak mau nanti orang-orang akan menggunjing kami berdua, and then kalaudi antara kamu ada yang masuk ya pasti yang lain akan cari kerja di. tempat lain, bukan dapat koneksi karena kamu adalah kekasih kalian. Mengerti maksudku kan???"


"Iya sayang, aku mengerti sekali, tenang saja semua akan berjalan sesuai prosedur, jadi jangan khawatir." Ucap Garviil.


"Padahal tidak masalah juga loh Lewat jalur khusus." Cuma Vicky.


"Tapi kami tidak mau yang seperti itu Vic, kami mau bekerja dengan profesional."


"Hehehehe....." Vicky terkekeh. Mereka mengobrol sembari mengobrol sampai kemudian mereka memilih duduk di atas pasir. Geffie membawa sarung pantai dan meletakkannya di atas pasir sebagai alas lalu duduk di atasnya bersama Garviil sedangkan Vicky memilih untuk duduk bersandar di bawah pohon kelapa yang tidak jauh dari tempat kakaknya dan Geffie duduk. Vicky ingin duduk diam dan menikmati waktu tenangnya. Dan dia juga akan membiarkan kakaknya menikmati waktu dengan Geffie serta tidak ingin mengganggu mereka berdua.


Sementara itu, Ciara duduk termenung sendirian di sebuah batang pohon kelapa yang ada di pinggir pantai dan menatap lurus ke arah matahari yang sudah mulai turun dan warna nya perlahan berubah menjadi oranye. Ketenangan seperti inilah yang Ciara sukai. Kesibukan di kantor dan juga permasalahan dengan mantan kekasihnya membuat Ciara butuh kesendirian untung menghilangkan mood nya yang rusak.


Dan pergi ke pantai adalah cara terbaik untuk bisa menyegarkan otaknya dari kekacauan dan kepenatan yang sedang melanda nya saat ini.


Pengkhianatan Devan dan kekerasan yang sering di lakukan lelaki itu padanya membuat Ciara akhirnya menyerah dengan cinta nya pada Devan. Keputusan berat yang harus di ambilnya adalah meninggalkan Devan, mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan selama 3 tahun. Lelaki itu seperti tidak pernah mau mengerti dengan sebuah arti cinta dan ketulusan. Devan selalu saja bermain-main dan menyakiti Ciara dengan kejam. Ciara sering mendapatkan tamparan atau terkadang pukulan ketika dia melakukan kesalahan yang membuat Devan marah atau ketika Ciara tidak melakukan apa yanh di inginkan Devan. Karena terlalu buta dengan cinta nya pada Devan, Ciara tidak pernah melakukan perlawanan ataupun melaporkan Devan atas penganiayaan yang sering di lakukan lelaki itu padanya. Ciara menyimpannya sendiri karena dia sangat mencintai Devan. Bagi Ciara itu tidak masalah, tetapi dia tidak bisa mentolerir sebuah pengkhianatan sehingga ketika dia mendapati Devan bermain api dengannya, Ciara langsung mengakhiri hubungannya itu meski sangat berat sekali. Dalam prinsip Ciara, pengkhianatan sangat tidak bisa di ampuni begitu saja. Dia benar-benar akan marah sekali dan tidak bisa mentolerir pengkhianatan dalam bentuk apapun.


Saat ini Ciara ingin menjalani hidupnya dengan baik dan melupakan segala luka yang mendera nya sebelumnya. Dia ingin terbebas dari luka yang di tinggalkan Devin. Setidaknya dua hari ke depan dia bisa menikmati waktunya dengan baik disini. Jauh dari kebisingan dan di isi dengan udara sejuk dengan angin sepoi-sepoi serta suara deburan ombak yang menenangkan.


Vicky memegang sebuah buku catatan kecil yang selalu di bawa nya kemana-mana dan sering dia gunakan untuk menggambar sesuatu yang sangat menarik menurutnya. Buku catatan serta pensil yang tidak pernah ketinggalan berada dalam saku nya.


Vicky memegang buku dan pensil nya untuk melukiskan pemandangan yang ada di depannya.Pantai, laut, langit, matahari dan gunung yang ada di tengah laut yang membuat semua nya tampak sempurna sekali.


Saat diam dan hendak memulai membuat gambar, Vicky menoleh ke kiri dan mendapati seorang perempuan sedang duduk sendirian memandang lurus ke depan dan siluetnya begitu luar biasa. Vicky mengerutkan dahinya menyadari bahwa perempuan ith adalah perempuan yang sama yang tadi bertabrakan dengannya.


Keindahan laut, gunung, matahari dan langit di depannya seolah tidak lagi menarik dan Vicky terfokus pada perempuan itu. Yang akhirnya membuat Vicky memutuskan untuk melukis perempuan itu. Dan ketika dia fokus memandangi perempuan itu, justru perempuan itu menoleh, sehingga bukan lagi siluet yang di lihat Vicky melainkan wajah cantiknya..


Vicky punya keahlian yang luar biasa untuk melukis atau membuat sketsa, sehingga meski perempuan itu hanya menoleh beberapa detik, Vicky langsung bisa mengingatnya dan langsung menorehkan pensil nya di atas buku kecilnya. Hanya butuh beberapa menit, sketsa itu jadi dan Vicky tersenyum ketika melihatnya. "Sangat cantik..." Gumam Vicky sembari tersenyum.


Kemudian Vicky membuat lagi sketsa perempuan itu versi siluetnya yang tidak kalah cantik. Dengan ahli dan sangat lancar, dalam hitungan beberapa menit lagi-lagi hasilnya sangat bagus sekali. Vicky berdiri dari atas pasir lantai yang tadi dia gunakan untuk duduk. Lalu dengan berani dia mengumpulkan niat untuk memberikan lukisan itu pada perempuan yang tadi di lukisnya. Vicky menyobek buku nya yang berisikan lukisan perempuan itu. Lalu Vicky berjalan meragu untuk mendekati perempuan yang duduk sendirian itu.


Vicky tidak bisa menahan diri dan memilih untuk mendekatinya. Tidak ada hal lain, dia hanya inginemberikan hasil menggambar nya sebagai kenang-kenangan untuk perempuan cantik itu.


"Permisi..." Ucap Vicky pada perempuan itu, yang membuatnya cukup terlonjak.


Ciara mendongak dan melihat siapa yang menegurnya. "Kau??? Kau yang tadi kan???" Tanya Ciara.


Vicky tersenyum dan menganggukkan kepala nya lalu memberikan sesuatu pada Ciara. "Maaf aku lancang sudah membuat ini tanpa seijinmu jadi aku ingin memberikan hasilnya padamu." Vicky memberikan kertas itu pada Ciara.


Ciara mengambilnya dan mengernyit, apa isi dari kertas itu. Lalu Kiara terkejut ketika mendapati itu adalah dia.


))mml


"Kau membuat ini???" Tanya Ciara pada Vicky.


"Ya, maaf aku lancang, tetapi itu terjadi begitu saja. Aku memang suka melukis dan membuat gambar. Kau bisa menyimpannya. Aku permisi." Vicky tersenyum lalu meninggalkan perempuan itu.


Sementara Ciara hanya terdiam memandang kepergian laki-laki yang tadi menabraknya lalu kemudian memberikan sketsa dirinya. Lelaki itu meski terlihat urakan dengan rambut gondrong nya tetapi sangat tampan dan manis apalagi ketika tersenyum. Dan laki-laki ith tampak baik, dia membuat sketsa seseorang bukan untuk koleksi nya tetapi justru di berikan kepada orang itu. Tetapi Ciara segera menggelengkan kepala nya. Dia sadar bahwa dia tidak boleh lagi jatuh cinta pada orang yang salah.


Vicky menjauh dari perempuan yang tidak dia ketahui nama nya itu. Dia hanya memberikan satu saja hasil karya nya pada perempuan itu, tetapi dia masih menyimpan satu karyanya lagi dengan detail wajah perempuan itu. Sedangkan yang dia berikan tadi hanyalah siluet samping saja. Entah kenapa Vicky merasa tertarik untuk melukis perempuan itu, seolah lebih menarik daripada pemandangan laut di depannya.


Vicky akhirnya menghampiri Garviil dan Geffie yang sedang duduk di pantai memandangi matahari yang sedang terbenam. Semburat jingga tampak begitu indah sekali, dan sayang untuk di lewatkan.


"Kau kesini juga Vic???" Ejek Garviil.


"Ini terlalu indah untuk di lewatkan." Gumam Vicky. Dia berharap kakaknya dan juga Geffie tidak melihatnya tadi saat sedang menghampiri perempuan itu. Bisa bahaya jika mereka melihatnya apalagi kalau sampai Geffie malaporkannya pada Tiffany.


Gaffie tampak sibuk dengan ponselnya dan mengabadikan moment matahari terbenam itu. Vicky juga terlihat sibuk dengan buku nya dan dia kembali membuat lukisan dengan pensil dan buku yang di pegang nya. Garviil diam menikmati dan sesekali Geffie mengajak kedua lelaki itu untuk berfoto bersama. Tidak jauh dari mereka juga ada Vineet dan Friddie serta Sanne dan Louis. Mereka juga sedang berbincang sambil menikmati sunset yang indah di depan mereka.


Dan hari pun mulai gelap, mereka semua beranjak dari pantai dan langsung kembali ke cottage. Sampai di cottage, Vicky memilih langsung pergi mandi, dan dia akan Bergantian dengan Garviil. "Vic....!!!" Panggil GarviIl membuat Vicky berbalik badan tidak jadi masuk ke kamar mandi.


"Ya????" Jawab Vicky.


"Kau tadi menghampiri seorang perempuan dan terlihat mengobrol dengannya. Siapa dia???" Tanya Garviil


Vicky terlihat terkejut dengan pertanyaan kakak nya. Ternyata Kakak nya melihat dia sedang menghampiri perempuan itu. "Kau melihatnya????" Tanya Vicky.


"Tentu saja, aku sejak tadi memperhatikan mu. Siapa perempuan itu???? Kau jangan main-main ya??? Untung Geffie tidak melihatnya. Katakan padaku siapa dia???" Garviil mencoba mengorek.


"Bukan siapa-siapa.."


"Kau jangan macam -macam Vic, kau sudah punya Tiffany, dan kau bilang kau akan berubah jadi berhentilah mempermainkan hati perempuan. Aku tidak mau hubunganku dan Geffie terjadi masalah hanya karena kau mempermainkan Tiffany. Aku tidak akan mengampuni mu."


"Bukan siapa-siapa, aku hanya menghampirinya karena ingin minta maaf padanya, tadi saat kau menelepon akj fokus berbicara denganmu dan tidak sengaja menabraknya. Dia tadi langsung pergi, aku belum sempat minta maaf dengan benar, karena tadi aku melihatnya jadi aku menghampirinya dan minta maaf lagi."


Garviil menatap tajam adiknya itu. "Jangan bermain-main denganku Vic, awas saja kalau sampai kau melakukan sesuatu yang menyakiti Tiffany."


"Tidak kak, kenapa kau khawatir sekali. Tidak akan, kau bisa tenang." Vicky tersenyum untuk menenangkan kakak nya. Vicky jiga sebenarnya tidak memiliki pikiran apapun mengenai perempuan yang tadi, dia hanya ingin memberikan lukisan nya saja dan tidak berniat apapun bahkan tidak ada ketertarikan atau naksir dan semacamnya. Dia sangat mencintai Tiffany. Dan jiga keinginan untuk melukis apapun yang di lihatnya itu sudah jadi kebiasaannya termasuk melukis perempuan itu.


Sebagai seorang kakak, Garviil selalu ingin bisa menjadi contoh yang baik untuk adiknya dan dia ingin membuat adiknya menjadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya. Kehidupan Vicky selama ini terlanjut bebas dan sesuka nya. Vicky tidak suka jika kehidupannya terlalu di campuri oleh orang lain, tetapi Vicky juga masih memiliki hati yang baik dan juga gayanya yang penuh candaan terkadang membuat Garviil merasa senang. Adiknya memang jauh berbeda dengannya yang terlihat kaku dan dingin serta serius dalam berbagai hal. Akan tetapi Garviil sendiri mengakui bahwa Vicky punya ketertarikan sendiri di mata banyak perempuan, kemudian hal itu menjadikan adiknya mudah bergaul dengan mereka sehingga timbul perasaan untuk mempermainkan mereka karena biasa nya mereka hanya melihat kepopuleran dan materi yang Vicky miliki. Vicky akan menyanjung mereka tinggi lalu bisa menjatuhkannya dengan sangat keras hingga mengakibatkan luka yang dalam. Garviil hanya khawatir jika ada salah satu di antara perempuan itu yang merasa tersakiti karena di tinggalkan Vicky lalu akan balas dendam yang bisa saja membuat Vicky dalam bahaya. Meski sejauh ini tidak pernah terjadi tetapi Garviil benar-benar khawatir sekali.


****


Satu minggu kemudian........


Garviil dan Vicky sudah sampai di Amerika beberapa hari yang lalu dan mereka langsung menyibukkan diri fi kantor Garviil. Vicky benar-benar menjalankan janji nya dengan baik. Dia membantu Garviil dalam pekerjaannya dan Vicky juga belajar dengan sangat baik. Garviil memberikan pekerjaan yang mudah untuk Vicky sebagai langkah awal. Garviil ingin membuat Vicky merasa lebih nyaman dan bisa menikmati pekerjaan itu dengan baik. Hal itu penting sekali untuk Vicky agar Vicky bisa beradaptasi dan tidak merasa bosan dengan.pekerjaan baru nya.


Vicky tampak serius membaca berkas. Terbuyarkan ketika ponselnya berbunyi. Senyumnya mengembang ketika tahu siapa yang menghubungi nya. "Hay baby..???" Sala Vicky.


"Will you come to my apartment after returning from the office?" Tanya Tiffany. Bertanya apakah Vicky mau datang ke apartemennya.


"You want me to drop by your apartment...." Tanya balik Vicky.


"Yeah, I just finished shopping and I was thinking of making dinner for you, so I wanted you to come. Can you come???" Tiffany menjelaskan jika dia  baru selesai berbelanja dan berpikir untuk membuat makan malam untuk Vicky jadi dia mau Vicky datang.


"Of course. I'll be there after work, it's about time to go home." Tentu saja. Dia akan kesana setelah dari kantor, sebentar lagi sudah jam pulang.


"Alright, I'll wait for ya?"


"Yes, I'll be there later."


"Okay, I'm waiting for you, bye." Tiffany mengakhiri panggilannya. Sementara Vicky kembali meletakkan ponselnya di meja. Dia tersenyum karena tidak sabar untuk bertemu dengan Tiffany. Hubungan mereka semakin dekat dan Vicky sudah sangat nyaman sekali dengan Tiffany. Dan Tiffany juga sudah bersedia untuk mengirimkan cv di perusahaan ini bersama dengan Geffie atas rekomendasi dari Garviil. Hal itu tentu bisa membuatnya dan Tiffany bisa bersama setiap hari, berangkat dan pulang kantor bersama. Saat ini Tiffany masih menunggu kembali nya Geffie kesini. Dan Geffie bilang dia akan kembali dalam beberapa hari ke depan setelah berlibur ke Indonesia.


Sementara itu Garviil keluar dari restoran bersama sekretarisnya setelah melakukan meeting dengan Klien. Garviil memilih akan langsung pulang saja dan tidak kali lagi ke kantornya mengingat satu jam lagi sudah jam untuk pulang.


"Send the report tonight to my email, so I can study it and gather all the division heads for a meeting tomorrow afternoon." Ucap Vino pada sekretarisnya. Dia meminta sekretarisnya mengirim laporannya malam ini juga ke email nya supaya dia bisa mempelajarinya dan kumpulkan semua kepala divisi untuk meeting besok siang.


"Yes, sir."


"Okay, I'll go straight home now, you can go back to the office."


Sekretaris Vino menganggukkan kepala kemudian masuk ke dalam mobil perusahaan sedangkan mobil Vino sendiri sudah berada di belakang mobil perusahaan. Tadi dia dan sekretaris nya berangkat bersama tetapi berbeda mobil.


Vino masuk ke mobilnya dan meminta sopirnya agar membawanya pulang ke rumahnya. Sejaka kembali kesini, Vino memilih kembali pulang lagi ke rumah Mama nya sedangkan Vicky memilih tinggal di kamarnya yang ada di cafe. Tentu karena supaya Vicky bisa dekat dengan Tiffany. Sedangkan Garviil memilih pulang karena Geffie tidak ada disini. Tetapi kekasihnya itu akan segera kembali kesini beberapa hari ke depan. Garviil senang sekali.


"Aku baru saja selesai meeting??? Kalau kau sudah bangun, hubungi aku."


Garviil mengirim pesan kepada Geffie. Memberitahu bahwa dia sudah selesai meeting. Ini adalah kebiasaan mereka berdua selalu berbagi kabar ketika selesai, sebelum dan sedang mengerjakan sesuatu. Meski Garviil tahu bahwa saat ini Geffie pasti sedah atau masih tidur mengingat jam di Indonesia adalah kebalikan dari jam disini.


Garviil memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku nya dan berfokus dengan jalanan. Dia sedang malas mengemudi dan. sengaja memanggil supir untuk mengantarnya meeting dan pulang ke rumahnya. Garviil senang sekali Geffie akan segera kembali kesini, dia sudah sangat merindukan kekasihnya itu, dan dia juga sudah berjanji pada Geffie akan mengajaknya ke rumahnya. Karena sebelumnya sama sekali dia belum pernah mengajak Geffie ke rumahnya. Tepatnya rumah milik Mama nya.


Lamunan Garviil terbuyarkan ketika ponselnya berdering, dia merogoh saku nya lagi dan ternyata itu adalah Geffie. Senyum tampan nya menghiasi wajahnya. "Hai sayang??? Kau sudah bangun ya????"


"Iyalah, kalau belum.pasti tidak akan menghubungi mu. Aku sudah bangun setengah jam yang lalu. Kau sudah pulang???"


"Ya, ini dalam perjalanan pulang, alu dengan supir. Tumben, biasanya balik tidur lagi???"


"Tidak bisa, ya sudah aku main ponsel saja. Kau pulang ke cafe???"


"Tidak....!!! Aku pulang ke rumah, V Vicky masih di kantor sepertinya, aku langsung pulang dan tidak kembali ke kantor, malas, dan lelah juga ingin istirahat."


"Tumben malas??? Biasanya paling semangat kalau soal kerjaan."


Garviil tersenyum. "Malas karena penyemangat ku tidak ada disini. Aku ingin kau segera datang, aku benar-benar merindukanmu."


"Aku pasti kesana, tinggal dua hari lagi, jadi bersabarlah...!! Apa kau tahu, aku terbangun karena aku mimpi buruk, dan tidak bisa tidur lagi."


Garviil mengernyit. "Mimpi buruk???? Mimpi apa???"


"Aku tidak mengerti maksudnya apa, aku bermimpi aku sedang menangis histeris ketika ada seseorang b yang tidak kutahu siapa pergi begitu saja menjauh dan meninggalkanku. Aku mengejarnya tetapi dia terus berjalan mengabaikan ku lalu menghilang begitu saja. Aku menangisi nya karena aku tidak ingin di tinggalkan olehnya, tapi sungguh aku tidak tahu siapa orang itu, dia perempuan memakai baju putih, di berjalan membelakangiku, sehingga membuatku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Aneh kan????"


"Sudah jangan terlalu di pikirkan, mungkin hanya mimpi buruk saja, kau pasti tidak berdoa ya sebelum tidur???? Maka nya mimpi buruk."


"Tiba-tiba aku punya firasat buruk." Gumam Geffie.


"Jangan berpikir seperti itu, mimpi hanya bunga tidur jadi jangan terlu di pikirkan. Yang ada kau malah tidak bisa tenang, kadang ketakutan itu bisa menjadi kenyataan jika kita terlalu meyakini nya. Stay positive, semuanya akan baik-baik saja. Tenangkan pikiranmu, lebih baim kau sholat."


"Aku baru selesai melakukannya setelahnya aku bermain ponsel dan membaca pesanmu."


"Baguslah kalau begitu, perasaanmu akan lebih tenang sekarang."


Mereka melanjutkan obrolan mereka cukup lama sampai kemudian tidak sadar Garviil sudah sampai di rumahnya. Garviil memberitahu Geffie bahwa dia sudah sampai rumah dan akan masuk, meminta Geffie untuk mengakhiri panggilannya dan setelah dia mandi, dia akan menghubungi Geffie lagi. Geffie setuju dan panggilan itu di akhiri. Garviil memasukkan lagi ponselnya ke saku nya dan turun dari dalam mobil.


"Garviil.......!!!!!" Teriak seseorang membuat Garviil yanv hendak membuka menekan bel rumahnya pun berbalik bdan dan menengok ke belakang. Wajah Garviil berubah masam ketika mendapati Bianca berada disini. Perempuan itu berjalan menghampiri nya dan tersenyum manis, tetapi senyuman itu tidak lagi membuat Garviil luluh. Ingatan semua pengkhianatan Bianca membuatnya sangat terluka sekali sehingga Garviil tidak akan pernah bisa melupakan semua itu seumur hidupnya.


"Hai...." Bianca mengulurkan tangannya untuk menyalami Garvill.


"Kenapa kau kesini???? Ada perlu apa???"


"Ingin saja, sudah lama kita tidak bertemu." Binca mencoba tersenyum. "Terakhir bertemu adalah di kantormu, dan aku tahu suasana canggung dan tidak enak melanda kita berdua saat itu. Aku minta maaf."


Garviil menghampiri Vicky lagi. "Vic... Ini sudah malam, kau belum makan sejak siang kan??? Kita makan ya??? Jangan sampai kau sakit."


Vicky menggelengkan kepala nya. "Tidak kak, aku tidak lapar."


"Kau bisa sakit. Laura akan kesini, aku akan meminta dia untuk membeli makanan, kau makan ya???"


Vicky menggelengkan kepala nya. "Kau saja." Gumam Vicky dengan suara lirih.


"Baiklah kalau kau tidak mau makan." Garviil mengambil ponselnya dan mengirim.pesan kepada sekretarisnya agar membawa kotak makanan yang tadi di bawa oleh Vicky. Kotak makanan berisi makanan yang di buat oleh Tiffany. Vicky tadi sempat bercerita padanya bahwa Tiffany ingin dia memakan dan menghabiskannya. Mungkin dengan itu, Vicky mau makan. Garviil sangat khawatir sekali dengan Vicky. Adiknya punya riwayat penyakit Maag, sehingga Vicky tidak boleh terlambat makan. Garviil benar-benar sedih sekali melihat keadaan adiknya seperti ini. Sabar berat sekali tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mendoakan Tiffany.


Vicky kemudian beranjak dari tempat duduknya dan dia masuk, Garviil pun mengikuti nya di belakang. Memastikan adiknya baik-baik saja. Keluarga Tiffany terlihat sedang berbincang satu sama lain. Vicky berjalan mendekati peti jenazaah Tiffany. Berdiri memaku di samping peti itu. Vicky terdiam cukup lama sembari memejamkan matanya. Garviil mencoba memberikan ruang untuk Adiknya itu. Dia membiarkan Vicky berada disana. Garviil kemudian berbincang dengan Papa Tiffany yang menanyakan mengenai cctv di depan kantornya. Garviil menjelaskan jika rekaman sudah di serahkan pada kepolisian dan pengemudi mobil itu dalam pemeriksaan.


"Uncle, take it easy. I will help you with this matter, and it has been confirmed that the driver of the car was under the influence of alcohol." Garviil eminta Papa Tiffany untuk tenang. Dia akan membantu nya mengenai masalah ini, dan sudah di konfirmasi jika pengemudi mobil itu dalam pengaruh alkohol.


"That means he should be severely punished for causing such a serious incident." Pengemudi itu harus mendapatkan hukuman berat karena sudah mengakibatkan kejadian sefatal ini.


"Yes Uncle, I was thinking that too." Garviil juga berpikir seperti itu.


"Vicky looks so down, Uncle knows he loves Tiffany so much, you have to get him through this. None of this is his fault, so don't keep blaming yourself." Papa Tiffany bisa melihat jika Vicky terlihat begitu terpuruk, dia tahu bahwa Vicky sangat mencintai Tiffany, dan meminta Graviil agar bisa menguatkannya melewati ini. Semua ini bukanlah kesalahan Vicky, jadi Vicky jangan terus menyalahkan diri sendiri.


"I'm trying to get her to accept this. Mama also called and expressed her condolences, apologizing for not being here." Garviil sendiri juga sedang berusaha untuk membuat adiknya ikhlas menerima ini. Dan memberitahu Papapa Tiffany jika tadi Mamanya juga menelepon dan mengucapkan duka cita, minta maaf karena tidak berada disini.


Papa Tiffany tersenyum. "Thank you, we know that they are far away so it's very natural that they can't come. How about Aire????" Papa Tiffany mengucapkan terima kasih pada orang tua Garviil, dia tahu bahwa mereka ada jauh disana jadi sangat wajar tidak bisa datang. Papa Tiffany juga menanyakan agaimana dengan Aire atau Geffie.


"Aire will arrive tomorrow morning, I will pick her up at the airport. I haven't told her about this yet, I'm afraid she'll panic, I'll explain tomorrow. The funeral will be tomorrow afternoon, right Uncle?" Garviil menjelaskan jika besok pagi Aire akan sampai, diaa akan menjemputnya di bandara. Garviil belum memberitahu nya mengenai hal ini, takut dia panik, besok dia baru akan menjelaskannya. Garviil ingin memastikan pada Papa Tiffany bahwa pemakaman akan di lakukan besok siang.


"Yes, tomorrow afternoon. It's good that you haven't told Aire yet. She'll cry later, so it's better to tell her when you get here. You and Vicky haven't eaten yet, right? Better eat first." Pemakaman akan di lakukan besok siang. Papa Tiffany memuji Garviil, karena Garviil belum memberitahu Aire. Karena nanti yang ada dia akan menangis, lebih baik di beritahu saat sampai disini saja. Papa Tiffany tahu Garviil dan Vicky belum makan dan meminta Garviil dan Vicky Lebih baik makan dulu.


"Vicky is refusing to eat, but I've contacted my secretary uncle, to bring the food that Tiffany delivered this afternoon. Maybe that will make Vicky want to eat, because Tiffany has asked her to eat and finish the dishes she made especially for Vicky." Gaviil menjelaskan jika Vicky menolak makan, tapi dia sudah menghubungi sekretarisnya agar membawa makanan yang tadi siang di antar oleh Tiffany. Mungkin itu bisa membuat Vicky mau makan, karena Tiffany sudah memintanya untuk makan dan menghabiskan masakan yang di buatnya khusus untuk Vicky.


"That's a very good idea. Don't let the two of you eat too late, you'll get sick. Uncle will be there first?"


"Yes Uncle." Garviil mengangguk dan Papa Tiffany meninggalkannya.


Setelah Papa Tiffany pergi untuk menemui pelayat. Garviil menghampiri Vicky yang masih terdiam di depan peti jenazaah Tiffany. Garviil menyentuh pundak adiknya dan kembali mengajak adiknya untuk duduk. Vicky tentu tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan agar Tiffany bisa pergi dengan tenang. Garviil juga masih menunggu kedatangan dari sekretaris nya kesini.


Sekitar satu jam kemudian, sekretaris Garviil pun datang. Dan menemui Garviil kemudian memberikan apa yang tadi di minta Garviil. Kemudian dia beralih menghampiri keluarga Tiffany untuk mengucapkan bela sungkawa.


"Vic.... ??? Laura membawa makan siangmu tadi yang di buatkan oleh Tiffany. Makanlah, Tiffany memintamu agar menghabiskan nya kan??? Jangan sampai kau sakit."


Vicky menoleh dan menatap Kakaknya. "Makanan itu yangembuat Tiffany jadi seperti ini." Gumamnya.


"Oh ayolah Vic, berhenti bersikap kekanak-kanakan. Kau kenapa menyalahkan makanan???? Semua ini takdir Vic, ini kecelakaan. Lagipula kenapa kau tidak mau memakannya??? Bukankah keinginan terakhir Tiffany adalah kau harus menghabiskan makanan pemberiannya???? Apa kau tega sekali tidak mau melakukan permintaan terakhirnya??? Kau konyol sekali." Ujar Garviil yang tampak kesal dengan adiknya.


Vicky menatap Garviil dalam diam untuk sesaat tetapi kemudian mengambil kotak makanan milik Tiffany itu dari tangan kakaknya. Vicky menunduk dan melihat ke arah kotak makan siang yang belum dia tahu apa isinya karena belum sempat membuka nya. Dengan hati-hatk dia membuka nya dan ternyata isinya adalah tulisan daging dengan sayur yang sebelumnya pernah di masak Tiffany di apartemen. Ada juga roti gandum dan saus alpukat. Garviil benar bahwa permintaan terakhir Tiffany adalah ingin masakannya di makan olehnya, dan Vicky tidak mau mengecewakan Tiffany, dia akan memakan makanan ini agar Tiffany juga merasa senang.


Melihat itu Garviil tersenyum. Usaha nya berhasil untuk membujuk adiknya agar makan. Garviil tidak mau Vicky sakit.


★★★★


Keesokan harinya.


Garviil menjemput Geffie di bandara. Garviil semalam memilih untuk pulang dan beristirahat di rumah. Dan Vicky menolak untuk pulang. Garviil mengerti sekali, kemudian membiarkan adiknya untuk tetap berada bersama keluarga Tiffany. Vicky pasti ingin di samping Tiffany untuk terakhir kali nya. Garvil akhirnya memilih pulang sendiri dan beristirahat selama beberapa jam saja karena memang dini hari tadi dia baru pulang. Lalu pagi ini dia harus menjemput Geffie di bandara.


Garviil tadi sempat membeli makanan cepat saji. Dan dia duduk di dalam mobilnya menikmati sarapannya sembari menunggu Geffie menghubungi nya. Garviil akan langsung menjemput Geffie di depan. Garviil menikmati burger, french fries sebagai sarapannya dan juga Stroberry milk shake faforitnya. Garviil makan dengan lahapnya karena dia memang merasa lapar sekali. Semalam dia hanya makan sedikit saja. Dan perutnya sejak pagi keroncongan.


Sampai akhirnya burgernya sudah habis, Garviil menyeruput setengah dari minumannya lalu terakhir menikmati French fries nya. Di saat itulah polselnya berbunyi dan berasal dari Geffie. "Ya sayang??? Kau sudah keluar???" Tanya Garviil.


"Aku sudah di depan."


"Oke, aku akan keluar dari area parkir, tunggu sebentar."


"Iya. Cepat ya???"


"Iya." Garviil meletakkan kentang goreng nya di atas dashboar mobilnya dan keluar dari parkiran menuju ke arah titik penjemputan. Dan dia langsung melihat Geffie yang sedang berdiri menunggu nya. Garviil menghentikan mobilnya tepat di depan kekasihnya itu. Dia bergegas keluar dan menghampiri Geffie. "Hai..." Garviil memeluk Geffie dan mengecup kening kekasihnya itu.


Geffie mengerutkan dahi nya. "Kau sendiri????"


"Iya. Kenapa???"


"Aku kan sudah meminta Tiffany untuk ikut bersamamu menjemputmu, dia sudah janji padaku."


Garviil terdiam untuk beberapa saat. "Dia tidak bisa menjemputmu." Garviil membawa koper Geffie dan memasukkan nya ke bagasi. "Masuklah, panas!!!" Perintah Garviil pada Geffie.


"Iya." Gumam Geffie kemudian masuk ke dalam mobil Garviil. Setelah memasukkan koper Geffie, Garviil juga masuk ke kemudi mobil dan membawa kekasihnha keluar dari area bandara.


"Aku membeli burger, makan dulu kalau kau belum makan, ada Mango milkshake juga." Garviil menoleh dan melempar senyumnya.


Geffie mengambil mango milkshake yang di belikan Garviil. "Kenapa Tiffany tidak menjemputmu??? Dia sudah janji padaku." Geffie menyeruput mango milkshake itu.


Garviil bingung harus mulai darimana menjelaskanemgenai aoa yang terjadi pada Tiffany sekarang. "Sayang, kita bahas Tiffany nya nanti saja ya???? Sekarang makan dulu, aku sudah membelinya dan patty nya masih hangat, kalau dingin kan jadi tidak enak. Bagaimana semuanya lancar kan???"


"Lancar. Ah iya, tadi saat aku mengaktifkan ponselku banyak sekali pesan masuk, aku belum sempat membuka nya dan aku langsungenghubungimu saja."


"Main ponselnya nanti saja, habiskan dulu makanannya."


Geffie menganggukkan kepala nya dan dia melahap burger yang di belikan oleh Garviil. Lelaki itu menoleh dan melempar senyumnya. Garviil masih ada waktu menuju ke rumah duka tempat Tiffany di semayamkan, dan dia akan langsung membawa Geffie kesana saja, kalau mengantar Geffie ke apartemen dulu itu akan butuh waktu yang lama. Bisa-bisa terlambat menghadiri pemakaman Tiffany.


Geffie terlihat lapar hingga menghabiskan burger itu dengan cepat. "Loh... Mau kemana??? Kok ke arah sini???" Protes Geffie ketika Garviil membelokkan mobilnya ke arah yang beda. Bukan ke arah apartemennya.


"Kau ingin bertemu Tiffany kan??? Dan pasti ingin tahu kenapa dia tidak menjemputmu???"


"Oh ya ini arah rumah Tiffany. Kita akan ke rumahnya???"


Garviil menggelengkan kepala nya. "Tiffany ada di tempat lain tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sayang, telah terjadi sesuatu kemarin siang pada Tiffany." Gumam Garviil.


Geffie menoleh ke arah kekasihnya itu. "Sesuatu???? Apa??? Apa yang terjadi???"


"Aku berharap kau bisa menerima ini. Tiffany kecelakaan dan dia meninggaI di tempat."


Geffie langsung tersedak minumannya dan menoleh ke Garviil dengan pandangan terkejut. "Apa kau bilang????"


"Tiffany sudah meninggalkan kita semua kemarin siang. Dia pergi untuk selama-lama nya dari dunia ini."


"Garviil... Please jangan bercanda tentang kematian itu tidak lucu sama sekali


"


"Tidak sayang, aku berkata yang sebenarnya. Tiffany di tabrak oleh mobil saat menyebrang, dan tabrakan itu sangat keras membuatnya terpental dan langsung meninggaI seketika."


"Kau serius???" Tanya Gefgie memastikan dan Garviil menganggukkan kepala nya. Detik itu juga Geffie menangis histeris. "Tiffany..... Tidak mungkin, kah pasti bohong..."


Garviil mengaktifkan auto pilot mobilnya dan dia langsung memeluk Geffie yang menangis untuk menenangkan kekasihnya ini. "Kau harus mengikhlaskannya..." Gumam Garviil.


"Tapi bagaimana itu bisa terjadi sayan??? Bagaimana bisa Tiffany di tabrak mobil???? Ke ala kau baru memberitahu ku sekarang.?????"


"Ponselmu belum aktif dan akh tidak mau membuatmu terlalu memikirkannya, jadi akh baru memebritahumu."


"Tapi bagaimana itu bisa terjadi???"


Garviil kemudian menjelaskan semuanya pada Geffie. Dan Geffie teriska dalam pelukannya.


"Tiffany sudah janji akan menjemputmu, kenapa dia meninggalkanku tanpa bertemu aku lebih dulu. Dia jahat sekali. Dia bilang aku sahabat terbaiknya tetapi kenapa dia pergi secepat ini. Dan bahkan aku belum sempat bertemu dengannya..... Tiffany kau jahat sekali.....!!!!" Geffie terisak di pelukan Garviil sembari memeukuli dada Garviil. Dia hancur sekali di tinggalkan oleh sahabat baiknya secepat ini. "Kenapa Tiffany jahat sekali....?????"


))