
"Devan???? You???" Ciara langsung berdiri berhadapan dengan Devan, laki-laki yang dulu hampir meIecehkannya.
Devan tersenyum dan melambaikan tangannya. "Hay baby...??? We meet again." Devan juga mengedipkan matanya dengan genit membuat Ciara memundurkan langkahnya karena takut. "Why are you sitting alone on such a beautiful beach???? I want to accompany you." Tanya Devan. Kenapa Ciara duduk sendirian di pantai seindah ini? Dan maukah Ciara di temani oleh nya.
"Go away Devan...!!!" Teriak Ciara.
"I'm on vacation here, why are you telling me to leave??" Ucao Devan, dia liburan disini, kenapa Ciara malah menyuruhnya untuk pergi?
Ciara memundurkan langkahnya untuk menjauhi Devan. Ciara tidak menyangka bahwa dia bisa bertemu dengan Devan lagi di tempat seperti ini. Dan sekarang dia sendirian, Vicky tadi masuk ke hutan mencari ranting pohon. Kenapa Devan harus datang di saat seperti ini. Ciara juga tidak tahu tadi Vicky memasuki hutan yang sebelah mana. Dia fokus melihat laut sehingga tidak terlalu memperhatikan ke arah mana Vicky pergi.
"Stay away from me, there are plenty of places here for you to sit, but not where I am." Ciara meminta Devan Menjauh darinya karena ada banyak tempat disini untuk Devan bisa duduk, tetapi bukan di tempatnya.
"Ciara....!!! I'm alone, so are you, we can sit together waiting for the sunset, isn't that so nice??? Why do you look at me like a ghost? I won't hurt you baby?" Devan mengatakan dia sendirian, begitu juga dengan Ciara, sehingga mereka bisa duduk bersama menunggu matahari terbenam, bukankah itu sangat menyenangkan??? Lalu kenapa Ciara melihatnya seperti hantu???? Devan mengatakan bahwa dia tidak akan menyakiti Ciara.
"Devan, please stay away from me, or I will scream." Ciara memohon agar Ciara menjauh lah darinya atau dia akan berteriak.
"You think I'll be scared by your threats? You're threatening like a child, we're adults so you should stop being childish." Devan tertawa, Ciara pikir dia akan takut dengan ancaman nya. Ciara mengancamnya seperti anak kecil, padahal.mereka sudah dewasa jadi seharusnya Ciara berhenti bersikap kekanak-kanakan.
"Stay away from me Devan. I don't want to be disturbed." Ciara meminta Devan menjauhlah darinya. Dia tidak ingin di ganggu.
Devan menyeringai dan terus berusaha mendekati Ciara. Dia seperti harimau kelaparan yang sedang mendekati mangsa nya untuk kemudian di lahapnya sampai habis. Devan mengabaikan ketakutan di mata Ciara, dia terus mendekati nya sampai kemudian dia berhasil memegang kedua bahu Ciara dan mencengkeramnya kuat. "Yeaaahhh... I got you." Ucap Devan bersemangat. Setelah dia berhasil memegang Ciara.
.
Ciara pun langsung berusaha untuk melepaskan pegangan Devan pada bahu nya. Ciara memberontak dan meminta Devan agar menjauh darinya, tetapi lelaki itu justru mencengkeramnya semakin kuat hingga Ciara merengek kesakitan dan Devan tidak memperdulikannya sama sekali.
Ciara semakin jengkel bercampur kesal, dan dia mengambil kesempatan. Ciara mengangkat kaki kanannya dan menggunakan lututnya untuk menyerang area vitaI Devan dengan keras, membuat lelaki itu berteriak dan melepaskan pegangannya. Ciara kemudian berbalik badan dan berlari meninggalkan Devan. Ciara berlari ke arah hutan dan masuk ke sana. Dia harus menjauhi Devan dan kalau bisa dia harus bisa kembali ke tenda nya atau menemukan Vicky. Hutan ini memiliki jalan setapak, sehingga tidak akan tersesat.
Ciara berlari sekuat tenaga, dia menoleh dan mendapati Devan mengejarnya. Ciara benar-benar ketakutan sekali. Dia berusaha lari sekuat tenaga nya. Untungnya hari belum terlalu gelap sehingga suasana masih terang.
Ciara kemudian memilih berbelok dan mencari tempat persembunyian. Sayangnya tidak ada orang yang melewati hutan itu, sehingga Ciara tidak bisa meminta tolong. Ciara tahu bahwa Devan adalah orang yang sama sekali tidak pernah mau menyerah. Itu jadi hal yang mengerikan dari Devan.
Ciara terus berlari sampai kemudian dia mmemilih bersembunyi di balik sebuah pohon. Ciara berharap Devan tidak bisa menemukannya.
Napas Ciara terengaah, dan dia coba menenangkan dirinya sendiri. Devan tidak boleh menemukannya. Ciara sangatbtidka berharap dia berada dalam masalah lagi dengan Devan. Tidak ingin melihat dan berurusan lagi dengan lelaki itu.
Hingga beberapa saat kemudian Ciara terlonjak ketika seseorang memegang pundaknya dari samping. Ciara hendak berteriak, mengira itu adalah Devan tetapi ternyata itu bukan Devan, melainkan Vicky. Melihat Vicky, Ciara langsung menghambur ke pelukan lelaki itu, merasa bersyukur karena dia bisa bersama Vicky lagi. "Vicky..." Ucap Ciara sembari tereengah sekaligus merasa lega.
Vicky terdiam untuk beberapa saat karena terkejut Ciara memeluknya. "Apa kau baik-baik saja????" Akhirnya Vicky bersuara.
Hingga akhirnya terdengar suara laki-laki yang berteriak.memanggil nama Ciara. "Ciara.....!!!! Don't ask me to play hide and seek, I can definitely find it. Ciara..Baby.. Where are you????"
"Devan." Gumam Ciara akhirnya membuat Vicky langsung mengerti bahwa ternyata Ciara saat jni sedang ketakutan karrna keberadaan Devan.
"Oke, relax....!!" Ucap Vicky.
Suara Devan terdengar semakin mendekat. Vicky pun mendorong Ciara pelan ke pohon dan mereka memilih bersembunyi lagi di balik pohon menghindari Devan. Vicky sedang tidak ingin ada keributan tetapi dia harus melindungi Ciara dari lelaki bajiingan itu.
"Ciara.....!!!" Teriak Devan dan lelaki itu terus menyusuri hutan untuk menemukan Ciara.
Sedangkan Ciara masih sangat ketakutan. Vicky mencoba melindungi Ciara, dan dia melihat betapa takutnya Ciara. Ciara mendongak dan berhadapan dengan Vicky. Mereka saling vertatapn. Mata Vicky mengisyaratkan untuk Ciara agar tetap tenang dan semuanya akan baik-baik saja. Mereka berdua memilih diam dan hanya saling bertatapan. Ciara sungguh bisa melihat ketampanan Vicky yang begitu luar biasa jika menatap lelaki ini begitu dekat. Aura Vicky yang dominan dan bau dari tubuh lelaki ini begitu luar biasa. Vicky sangat tampan, itu yang ada di pikiran Ciara saat ini.
Sampai kemudian Devan tampaknya sudah menjauh karena tidak berhasil menemukan Ciara. Vicky kemudian mengajak Ciara untuk kembali ke pantai.
"Kau baik-baik saja kan???" Tanya Vicky.
Ciara menganggukkan kepala nya meskipun terlihat masih ketakutan. Vicky mencoba tersenyum. "Semuanya baik-baik saja, kau jangan khawatir, ada aku bersamamu, kalau dia berani macam-macam, aku yang akan mengurusnya. Ayo kembali ke pantai."
"Bagaimana kalau Devan ada disana????" Ciara meragu. "Lebih baik kita kembali ke tenda saja."
"Barang-barang kita masih ada disana, kita harus mengambilnya. Kalau kau mau kita ke tenda, baiklah kita kembali saja, tetapi kita harus mengambil barang kita disana. Jangan khawatir, aku akan bersamamu, dan tidak akan ada siapapun yang berani menyentuh mu. Ayo...!!!" Vicky merangkul Ciara dan mengajak perempuan itu kembali ke pantai. Ciara memang harus tenang,karena ada Vicky bersama nya.
Mereka kembali lagi ke pantai. Ciara merasa kesal dan kecewa karena kebahagiaan nya harus rusak dengan kehadiran dari Devan. Dia gagal melihat sunset, sangat menyedihkan. Sementara Vicky tampak memunguti barang-barang nya, mengemasi peralatan melukisnya dan meminta Ciara membawa lukisan hasil buatannya. Setelahnya mereka pun kembali lagi ke hutan, menuju ke tenda mereka.
"Vicky, sorry.." Gumam Ciara.
Vicky menoleh dan melempar senyum. "Hanya matahari terbenam, kita bisa melihatnya di lain waktu lagipula kau sedang dalam keadaan tidak baik, aku juga tahu moodmu sudah rusak karena kemunculan si breengsek itu. Sekarang kita kembali dan beristirahat di tenda sekaligus membuat makan malam. Tadi kau yang sudah memasak, jadi malam ini giliranku untuk membuatkanmu makan malam spesial. Boleh kan????"
Ciara juga tersenyum. "Ya, boleh saja. Terima kasih."
"Aku pergi bersamamu, dan sejak awal akan menemanimu serta menjagamu, jadi aku melakukannya. Sepertinya feelingmu sangat kuat ya??? Kau takut pergi kesini sendirian karena takut bertemu Devan, dan ternyata lelaki itu ada disini." Vicky terkekeh.
"Dia ada dimana-mana. Dan merusak liburan ku." Gerutu Ciara.
"Hahaha sudah jangan di pikirkan."