
keesokan harinya
Geffie turun untuk sarapan bersama dengan kedua orang tuanya dan juga kakaknya ini sarapan Mari pertama mereka telah kemarin Geffie kembali lagi ke Indonesia dan menyelesaikan pendidikannya dengan baik di Amerika.
"Selamat pagi Mama Papa kakak." Geffie menarik kursi Geffie menarik kursi dan duduk bersebelahan dengan kakaknya.
"Selamat pagi sayang, kau terlambat bangun kami sudah mulai sarapan duluan."
"Hehehe iya semalam aku tidur sedikit larut."
"Oh ya nanti Mama dan Papa harus pergi ke luar kota dan akan kembali besok soalnya Papa harus menghadiri undangan dari kolegalnya Papa dulu orangnya juga datang ke nikahan kakakmu Jadi kami juga harus datang." ucap Maysa
"ke mana???" Tanya Geffie.
"ke Makassar."
"Wah jauh juga ya???"
"Iya itulah. Kenapa kami harus berangkat pagi saya sampai di sana juga siang dan kalau bisa istirahat untuk acaranya malam hari besok pagi kami juga akan langsung pulang."
"Ya sudah kalau begitu."
"kau ditemani oleh kakakmu dan nanti ikutlah dia ke rumah nya. Dan kau harus bertemu dengan Aditya dan juga Cahya serta Kyra, menginap di sana juga tidak apa-apa kalau besok kami pulang kau ikut pulang juga kau pergi ke Anyer lusa kan???"
"Iya lusa, ini Mama dan Papa akan langsung berangkat setelah ini????" Tanya Geffie.
"Iya sayang, Mama sudah menyiapkan sejak semalam."
"Ah ya Tuhan, apa kalian tidak lelah, kan baru kemarin kita sampai disini. Pagi ini sudah akan pergi lagi."
Maysa tersenyum. "Ya kan mau bagaimana, undangannya nanti malam, sekalian kami berangkat pagi, dan nanti bisa istirahat di hotel, malamnya baru acaranya kan.??"
"Kau ikut kakakmu ke rumah nya saja, atau kau bisa ke rumah Friddie."
"Aku akan kesana nanti siang atau sore, aku mau pergi ke rumah teman nanti sebentar."
"
Maysa tersenyum. "Ya sudah pergilah, jangan lupa ke rumah aunty Elea juga Uncle Dan, mereka juga pasti ingin bertemu denganmu."
"Iya Ma, aku sudah membahas itu dengan kakak tadi malam, iya kan kak???"
"Iya." Sahut Gienka.
"Lalu kalau kau akan ke rumah temanmu, kau akan meninggalkan kakakmu disini sendiri???" Tanya Ariel.
"Aku akan ke rumah Mama kok Pa setelah ini, Mama memintaku kesana untuk sebuah urusan, nanti biar Geffie menyusulku disana." Jawab Gienka.
"Ya sudah kau begitu." Gumam Ariel. Mereka kembali melanjutkan sarapan mereka. Setelahnya Masa dan Ariel pun bersiap dan pergi ke bandara untuk pergi ke Makassar untuk menghadiri acara dari kolega dan rekanan bisnis Ariel.
Gienka ke kamar Geffie dan duduk di sebelah adiknya yang sedang bermain ponsel. "Kau ingin pergi ke rumah siapa dek???" Tanya Gienka. "Semalam kau hanya ingin mengatakan akan ke rumah temanmu tapi tidak mengatakan kemana kau akan pergi."
"Aku ingin ke rumah Garviil." Gumam geffie.
"Apa....???? Ke rumah Garviil???" Gienka terlonjak.
"Iya, neneknya meninggal beberapa hari yang lalu kak, aku ingin takziah kesana??? Memangnya kenapa kak???? Tidak boleh ya???"
"Neneknya meninggal??? Kapan???"
"Ya tepat saat aku wisuda kemarin. Kakak tidak suka aku datang kesana???"
"Ya, mumpung aku disini kak, rasanya tidak enak kalau tidak datang, ya meski terlambat tapi kan aku mengenal Mama Garviil, aku merasa tidak enak dengannya."
"Ya baguslah, kau datang kesana, aku akan memberimu tumpangan. Tapi kenapa tidak bawa mobil sendiri???" Gienka menyikut pinggang Geffie.
"Takut Papa mengecek gps di mobilnya. Hehehe... Bisa gawat kalau Papa tahu aku datang ke rumah orang yang tidak dia kenal."
Gienka tertawa. "Owwwhhhhh jadi ini benar-benar backstreet hahaha tapo Garviil ada disini atau di Boston???"
"Dia ada disini dan belum kembali."
"Ow ow ow..... Jadi cerita nya takziah sekaligus ngapel dong???"
"Idihhh kakak.... Mana ada seperti itu, aku hanya ingin mengucapkan bela sungkawa saja kok."
"Kalau iya juga tidak apa-apa... Hahahaha....." Gienka menertawakan adiknya membuat adiknya itu memasang wajah cemberut.
Di tengah obrolan itu, ponsel Geffie berdering dan ternyata Garviil menghubunginya melalui panggilan video. Geffie mengangkatnya. "Hai...!!!" Sapa Geffie.
Kamera ponsel Garviil mengarah ke sebuah rumah, memperlihatkan rumah besar berwarna putih dengan pagar tinggi yang sangat Geffie kenal. "Green Jasmine, jalan Kiwi blok G nomor 33." Ucap Garviil.
Sontak Geffie langsung terlonjak karena itu adalah alamat rumahnya dan kamera Garviil mengarah ke rumahnya, menandakan bahwa laki-laki itu ada di depan rumah nya.
"kau kau ada di depan rumahku??? Bagaimana bisa kau tahu rumahku???" Tanya Geffie sembari beranjak dari tempat tidur kakaknya dan berlari keluar Geffie berlari ke arah balkon depan. "kau??? Bagaimana bisa ada di sini???"
"kau bilang ingin ke rumahku. Jadi aku ya menjemputmu di rumahmu kau di mana. Aku boleh masuk???"
Geffie sampai di balkon depan rumahnya. Dari atas dia melihat mobil berwarna putih dan jendela nya di buka. Memang terlihat jelas ada laki-laki di dalam sedang memegang ponsel dan itu adalah Garviil. "Kenapa kau datang kesini aku kan akan ke rumahmu sendiri.????"
"Ya aku ingin menjemputmu." Ucap Garviil kemudian dia tidak sengaja melihat Geffie yang sedang berdiri di balkon rumahnya. Garviil melambaikan tangannya ke arah Geffie. "Aku boleh masuk tidak????" Tanya nya lagi.
"Jangan jangan..... Aku akan keluar sekarang. Kau tunggu saja disana."
"Kenapa aku tidak boleh masuk???"
"Papa dan Mama tidak ada di rumah, kami tidak boleh sembarangan menerima tamu."
"Tapi kan????"
"Tunggu saja, dalam 5 menit aku akan keluar." Geffie mengakhiri panggilannya dan berlari masuk ke dalam rumahnya. Garviil menggerutkan keningnya atas sikap Geffie. Dia ingin masuk dan bertemu dengan orang tua Geffie tetapi gadis itu justru melarangnya masuk.
"Kakak...!!!" Geffie kembali masuk ke kamar nya.
Gienka yang sedang memakan buah anggur di atas tempat tidur adiknya menoleh. "Kenapa??? Kau seperti di kejar setaan saja, menerima telepon dan langsung pergi keluar. Kenapa???"
"Garviil ada di depan."
Gienka tersenyum. "Ada di depan???? Kenapa tidak kau suruh masuk???"
"Kakak, jangan membuatku dalam masalah.. Bagaimana bisa aku mengajak Garviil masuk, kalau orang disini memberitahu Papa bagaimana lalu Papa mengecek cctv??? Bisa gawat."
Gienka tertawa. "Memangnya kenapa???? Sampai kapan kau akan menyembunyikan ini dari Papa??? Kau sudah lulus dek, sudah waktunya untuk mengenalkan pasangan mu pada Papa dan Mamah. Mereka tidak akan lempar masalah kan nya."
"Tidak kak, bukan sekarang, aku belum siap."
"Ah terserah kau saja..." Gumam Gienka.
"Dia datang untuk menjemputku, aku akan bersiap."
Gienka beranjak dan meninggalkan kamar adiknya membiarkan Geffie bersiap. Sementara dia akan turun dan menemui Garviil. Adiknya memang sudah tidak waraas, membiarkan pria semanis Garviil di luar. Gienka menuruni tangga pelan-pelan sembari memegang perutnya yang membuncit karena kehamilannya dan akan keluar dari rumah untuk menemui Garviil, dia tidak bisa membiarkan Garviil di luar saja, sangat tidak sopan jika melakukannya.