Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Ini lebih dari sekedar Menang Iotre



Setelah berbincang dengan Ariel dan Ariel juga sudah kembali ke apartemen Geffie. Garviil naik ke kamarnya penuh semangat dan saat sampai di dalam, dia melompat kegirangan sekali. Perasaannya begitu luar biasa berbunga karena Ariel sepertinya meluluh dengan memberikannya kesempatan untuk bisa menikahi Geffie. Garviil akan menghubungi orang tua nya nanti dan akan mengatur waktu nya untuk bisa kembali ke Indonesia dan memenuhi keinginan Ariel untuk datang ke rumahnya b ersama dengan kedua orang tua nya.


"Yes yes yes......!!!! Yeaaahhh!!!!" Teriak garviil sembari berjoget penuh kemenangan.


Tanpa di duga ternyata Vicky dan Andro berdiri di depan pintu menyaksikan kekonyolan dari Garviil. "Woe...!!!!" teriak Vicky yang langsung membuat Garviil kicap dan menoleh ke belakang, terkejut dengan kemunculan Vicky dan Andro. Kedua nya pun masuk ke kamar Garviil dan mereka terkekeh menertawakan Garviil. "Kau habis menang lotre???? Dasar toIoI..." Ejek Vicky dan kemudian duduk di sofa bersama Andro.


"Ini lebih dari sekedar memenangkan lotre Vic.... Ahhh.." Garviil tersenyum dna kemudian ikut duduk di sofa.


"Kenapa??? Tadi Andro bilang Papa Geffie kesini dan kau berbicara dengannya."


Garviil menganggu ngantuk kan kepala nya bersemangat. "Aku bicara dengannya dan apa kalian tahu apa yang tadi di katakannya kepadaku???? Dia memintaku datang ke rumahnya bersama Papa dan Mama jika aku memang serius dengan Geffie, bukankah itu maksudnya adalah dia ingin aku dan keluargaku membahas hal yang lebih serius dengan keluarga Geffie. Aku sangat senang sekali."


"Papa Geffie memintaku datang bersama Papa Mama???"


"Ya, kalau aku ingin membuktikan keseriusanku pada Geffie jadi aku harus mendatangi rumahnya, dia akan menungguku. Aku akan mengatur jadwalku minggu depan dan akan pulang ke Indonesia, inj kesempatan yang baik dan aku tidak mau mengecewakan Om Ariel yang sudah memberiku kesempatan ini."


Andro tersenyum. "Wah, bagus kalau begitu. Kau harus memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan jangan mengecewakan nya."


"Ya, itulah kenapa aku akan kembali lagi ke Indonesia."


"Oke congrats my brother, semoga sukses dengan misimu dan kau bisa berbahagia dengan Geffie nanti dan semoga kau bisa segera menikahi nya." Ucap Vicky kemudian memeluk Garviil.


Garviil membalas pelukan sang adik dan menepuk punggungnya. "Thanks....!!!! Kau juga segeralah menemukan pujaan hatimu supaya kau bisa berbahagia lagi."


"Aku sedang berusaha mencari yang terbaik."


"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu..." Kedua kakak beradik itu berpelukan. Garviil pun jiga ingin minat adiknya bisa berbahagia sepeninggal Tiffany. Garviil tahu hati Vicky sedang kosong saat ini fan Vicky butuh temen untuk berbagi.


Kemudian pelukan itu terlepas. Vicky pergi ke kamar mandi dan ingin bersih-bersih badan karena dia baru kembali dari kantor. Vicky sengaja kembali lebih awal karena dia akan menyelesaikan lukisan nya.


Sementara itu. Ariel sampai di apartemen Geffie. Ternyata putrinya itu sudah berganti pakaian dan tampak mulai menurunkan semua buku nya dari rak dan di masukkan ke dalam kotak. Geffie tersenyum melihat Papa nya kembali dengan kantong makanan di tangannya. "Papa...??? Darimana??? Kok lama???" Tanya Geffie.


"Ini makanlah. Pelayan nya bilang kau sangat menyukai nya dan sering memesan ini ketika disana." Ariel menyodorkan kantong makanan itu kepada Geffie.


Geffie mengernyit. "Pelayannya bilang aku menyukainya??? Papa dari mana???"


"Cafe depan. Cafe milik Garviil. Kau sering kesana kan???"


"Papa ke cafe nya Garviil????"


Ariel menganggukkan kepala nya. "Iya, dan Papa bertemu dengannya."


Geffie meletakkan kantong makanan itu dan memandang Ariel. "Papa bertemu Garviil???"


Ariel berjalan hendak masuk ke kamar mandi.. "Iya, dan mengobrol dengannya." Ariel menghilang di dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Geffie tampak bingung sekali dan penasaran apa yang di obrolkan oleh Papa nya dan juga Garviil.


Geffie meraih ponselnya dan langsung mencari kontak Garviil. Panggilan itu langsung di jawab oleh Garviil. "Hai sayang???" sapa Garviil pada Geffie.


"Papa tadi ke cafe??? Kau bertemu dengannya???" Tanya Geffie dengan sura setengah berbisik.


"Iya, aku bertemu Papa mu dan kami bicara." Garviil tersenyum.


"Papa memarahimu???"


"Iya, sedikit, karena aku keceplosan saat aku bilang aku pernah mampir ke rumah untuk menjemputmu."


"Apa???? Kau ini bagaimana??? Kok bisa keceplosan sih??? Aku kan sudah bilang agar itu jadi rahasia."


"Ya namanya kelepasan sayang. Sorry .. Tapi tidak apa kok."


"Papa pasti marah padaku nanti."


"Om Ariel belum sampai disana???" Tanya Garviil.


"Sudah, sekarang di kamar mandi."


"Dia hanya memberiku makanan dari cafe mu lalu masuk ke kamar mandi." Gumam Geffie.


"Om Ariel belum memberitahu mu mengenai pembicaraan kami berdua tadi???"


"Memangnya apa yang kalian bicarakan???"


"Om Ariel menyuruhku pulang ke Indonesia dan..." Belum selesai berbicara, Geffie memotong pembicaraan Garviil.


"Apa lagi sih mau nya Papa??? Kok dia mengusirmu terus. ini malah mengusir ke Indonesia, mau nya Paa apa sih."


"Sayang, aku belum selesai bicara jangan di potong dulu." Protes Garviil. "Om Ariel menyuruhku kembali ke Indonesia minggu depan dan memintaku datang ke rumahmu bersama dengan Papa dan Mamaku."


"Apa....???" Seru Geffie


"Iya, itu tadi yang di minta oleh Om Ariel, jadi minggu depan aku akan kembali ke Indonesia dan memenuhi permintaan Om Ariel, untuk membuktikan jika aku sangat mencintaimu dan jika aku serius padamu."


"Serius Papa menyuruhmu ke rumah???"


"Iya sayang, kenapa aku harus membohongiku. Bagaimana menurutmu???"


Ekspresi Geffie terlihat bingung dan seolah tidak mempercayai apa yang baru saja di dengar nya. Papanya meminta Garviil dan orang tua nya datang, itu artinya Papa nya telah memberi lampu hijau untuk hubungannya dengan Garviil. Geffie senang sekaligus terharu, semua bercampur menjadi satu.


"Baiklah kalau begitu, aku hanya khawatir saja tadi, takut Papa melakukan sesuatu yang menjengkelkan padamu. Tapi kalau memang yang kalian bicarakan hal seperti itu, akh senang sekali. Sudah dulu ya aku mau lanjut beberes."


"Iya. Aku juga senang sekali Om Ariel mau untuk memberiku kesempatan, ya sudah lanjutkan pekerjaanmu, bye, and I love you ."


"I love you too. Bye..." Panggilan berakhir, Geffie meletakkan ponselnya dan tersenyum bahagia sekali karena Garviil mendapatkan kesempatan dari Papa nya. Semoga semua nya berjalan dengan lancar dan baik.


Geffie kembali mengemasi buku-buku nya di rak. Karena besok dia harus segera mengepak semua barangnya itu dan mengirimnya ke Washington dc. Karena lusa adalah hari terakhirnya menempati apartemen ini. Saat sedang mengmbili buku nya tiba-tiba Geffie mengambil pigura berisikan foto nya dengan Tiffany.



Geffie mengambil nya dan mengusapnya dengan sedih. Sudah beberapa bulan sejak kepergian Tiffany dan dia merasa bahwa seperti ada yang hilang di setiap harinya. Tiffany yang selalu bisa membuatnya tertawa dengan kekonyolannya hingga segala perhatian dan tawa Tiffany yang sudah tidak bisa lagi di dengar nya dan di lihatnya. Geffie merindukan semua itu dari sosok Tiffany, sahabatnya yang begitu dekat sekali. Mereka berdua memiliki begitu banyak perbedaan tetapi mereka selalu bisa untuk saling mendukung satu sama lain dan saling menghormati. Kepergian mendadak Tiffany, membuat Geffie semakin kesepian. Sahabatnya telah pergi untuk selama-lamanya nya dari kehidupannya. Persahabatan yang seperti persaudaraan itueninggalkan begitu banyak kenangan yang tidak akan pernah bisa Geffie lakukan. Dan bahkan mereka berdua jiga merencanakan ingin sekali bisa melanjutkan kuliah di kampus yang sama, dimana Tiffany juga ingin kuliah di Washington Dc bersama Geffie. Akan tetapi tentu saat ini itu tidak bisa mereka wujudkan. Hanya Geffie saja yang akan pergi dan tinggal disana.


"Tiffany, aku akan pergi dari Boston, tempat ini meninggalkan begitu banyak kenangan untuk kita berdua, aku akan selalu merindukan tempat ini dan juga dirimu. Kau baik-baik disana ya????" Gumam Geffie dalam hati dan memeluk foto itu. Geffie sangat merindukan Tiffany. Sangat Rindu sekali.


Geffie terlonjak ketika pundaknya di sentuh seseorang. Dia menoleh dan mendapati Papa nya berdiri di belakangnya. Ariel kemudian mengambil figura yang di pegang putrinya dan ternyata itu adalah foto Geffie dan Tiffany. "Kau merindukannya???" Tanya Ariel.


Geffie tersenyum tipis. Lalu mengangguk. "Ya Pa." Gumamnya.


"Sebelum kita kembali, lebih baik kau ke makam Tiffany dulu, tidak ada salahnya berpamitan dengannya. Kau tidak akan lagi tinggal di kota ini jadi alangkah lebih baiknya kau temui dia untuk terakhir kalinya."


"Aku juga berpikir seperti itu Pa, selain itu, aku juga ingin menemui keluarga Tiffany, Papa pasti tahu bahwa hubungan kita selama inj sangat baik dengan mereka, aku jiga ingin berpamitan pada mereka."


"Oke baiklah, besok kita kesana, dan kita bereskan packing nya hari ini juga."


"Iya Pa." Geffie tersenyum. "Papa, boleh aku bertanya sesuatu???"


"Tentu saja, apa yang ingin putri Papa tanyakan???" Ariel berdiri dan mengambil beberapa hiasa di rak atas tempat buku milik Geffie berada dan memasukkannya ke dalam kotak.


"Garviil bilang, Papa menyuruhnya datang ke rumah kita bersama orang tua nya. Kalau boleh tahu kenapa Papa akhirnya memutuskan hal itu???"


Ariel menunduk dan memandang putrinya. "Karena Papa ingin melihat putri Papa bahagia. Apa yang bisa di lakukan seorang ayah jika putrinya sudah mencintai seseorang dan ingin hidup bersama nya. Papa juga melihat keseriusan dari Garviil padamu, sehingga Papa meyakini dia akan bisa menjaga putriku dan membahagiakannya."


"Papa serius???"


"Tentu saja, maafkan Papa jika beberapa hari inj Papa sangat menyebalkan, Papa hanya bingung dengan keadaan dan memikirkan permintaan Garviil untuk menikahi mu adalah sesuatu yang Papa belum pernah bayangkan sebelumnya, maksudnya Papa belum terpikirkan jika kau menikah di usiamu sekarang. Tetapi hati Papa bergolak, dan Papa memikirkan baik buruknya. Ya, sejak awal Papa tahu jika Garviil adalah laki-laki yanv baik dan dia sangat mencintaimu, tetapi kemudian dia mengatakan ingin meminta restuku untuk menikahi mu, Papa sama sekali tidak menduga nya. Papa jadi marah dan merasa tersinggung. Akan tetapi kemudian Lapa memikirkan berbagai pertimbangan, Papa ingin yang terbaik untukmu dan menjauhkan putri Papa dari sesuatu yang mungkin tidak baik, kau dan Garviol sudah dewasa sehingga keinginan untuk melakukan gal yang lebih mungkin bisa saja terjadi, dan Papa tidak mau itu terjadi pada kalian, jalan terbaik nya adalah memang kalian menikah saja, sehingga saat ingin melakukan sesuatu yang lebih jauh, kalian bisa bebas melakukannya dan jauh dari ziina." Ucap Ariel. "Papa tidak mau kalian jatuh dalam keburukan, dan Papa yakin kalian berdua akan bisa saling melengkapi, tetapi pembicaraan mengenai kedepannya akan Papa bahas dengan Garviil dan orang tua nya nanti. Papa masih ingin mengetahui seberapa besar dia memiliki cinta untukmu. Papa harus mengetahui segalanya sebelum memutuskan kelanjutan hubungan kalian."


Geffie tersenyum, lalu berdiri dan memeluk Ariel. "Akj tahu bahwa Papa adalah yang terbaik dan sangat menyayngiku, Papa tidak pernah mau melihat aku menangis, dan selaluenuruti semua keinginanku, Papa adalah yang paling pengertian. Akj sangat mencintai Papa."


Ariel mengusap punggung putrinya. "Papa juga sangat menyayangimu dan mencintai mu sehingga Papa selalu berharap untuk kebaikan hidupmu."


"Thanks Papa...." Geffie memeluk Ariel dengan sangat erat. tanda cinta kasihnya kepada laki-laki yang sangat dia hormati ini. Geffie tahu kalau Papa nya pasti akan mengalah pada akhirnya dan menuruti keinginannya. ariel hanya butuh waktu untuk berpikir. Dna nyatanya itu sangat berhasil sekarang.